Warga Condongcatur Pasang Spanduk Dukungan untuk Jogja yang Aman dan Damai

Sleman – Warga Condongcatur menunjukkan komitmennya menjaga keamanan dan kedamaian Daerah Istimewa Yogyakarta dengan memasang spanduk-spanduk dukungan di berbagai titik pada Senin (1/9/2025). Inisiatif yang muncul secara spontan dari masyarakat ini terlihat di Padukuhan Sanggrahan, Manukan, Kentungan, Pondok, Ngropoh, Gandok, Pringwulung, dan lainnya.

Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji, menyampaikan apresiasi atas peran serta masyarakat.

“Kami bangga dengan semangat warga Condongcatur yang selalu menjaga kebersamaan dan mengutamakan kedamaian. Jaga warga bersama masyarakat siap mendukung terciptanya Jogja yang aman, damai, dan harmonis,” ungkapnya.

Keberadaan Jaga Warga yang telah terbentuk sejak Oktober 2019 di 18 padukuhan semakin memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan. Lurah juga mengimbau warga untuk tidak mudah terprovokasi dan bersama-sama menciptakan suasana yang kondusif, adem ayem, serta terkendali. (Wasana/KIM Depok)




Ujian Seleksi Pamong Kalurahan Caturtunggal Resmi Dimulai

Sleman – Panitia Pengangkatan Pamong Kalurahan Caturtunggal membuka secara resmi rangkaian Ujian Seleksi Pamong yang berlangsung di Ruang Rapat DRPM Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Senin (1/9/2025). Seleksi ini diikuti peserta yang telah lolos tahap administrasi untuk mengisi formasi pamong di kalurahan setempat.

Pj Lurah Caturtunggal, Feri Ferdian, menyampaikan apresiasi atas antusiasme peserta. “Semoga seleksi ini dapat menghasilkan pamong yang kompeten sesuai kebutuhan pemerintah kalurahan,” ujarnya.

Direktur DRPM UNY, Prof. Dr. Didik Prasetyo, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut kerja sama antara UNY dan Kalurahan Caturtunggal, sekaligus wujud regenerasi pemerintahan desa untuk meningkatkan pelayanan masyarakat.

Rangkaian ujian meliputi tes psikologi, praktik komputer, tes akademik berbasis CAT, wawancara, dan praktik pidato. Panitia berharap seluruh proses berlangsung tertib dan sukses guna menghasilkan calon pamong terbaik.

Seleksi ini menjadi bagian penting dari proses regenerasi dan penguatan tata kelola pemerintahan di tingkat desa. (Oktaviana/KIM Depok)




Peternakan Domba Sleman Terapkan Manajemen Pakan Modern untuk Efisiensi Biaya

Sleman – “Berkah Padi 33 Farm” di Dusun Temulawak, Kalurahan Triharjo, Sleman menerapkan sistem manajemen pakan modern untuk mengoptimalkan perawatan lebih dari 300 ekor domba. Pemilik kandang, Rubiyanta, menekankan bahwa pakan merupakan komponen biaya tertinggi dalam peternakan, sehingga memerlukan perencanaan yang matang.

“Pakan sehat untuk domba tidak hanya rumput hijau, tetapi harus mengandung nutrisi seimbang seperti rumput segar, hijauan bernutrisi, serat, serta tambahan kleci, pongkol, polar, katul, bungkil kopra, dan tanaman leguminosa seperti Indigofera,” jelas Rubiyanta, Sabtu (31/8/2025).

Untuk mengatasi fluktuasi harga bahan pakan, peternakan ini menggunakan pencatatan komputerisasi dan aplikasi khusus buatan sendiri yang memungkinkan perhitungan biaya pakan per ekor per hari secara akurat. Disiplin pencatatan ini membantu menetapkan harga pokok yang realistis untuk setiap domba.

Dengan pendekatan modern tersebut, Berkah Padi 33 Farm tidak hanya meningkatkan efisiensi biaya, tetapi juga memastikan ternak tumbuh optimal dengan gizi terpenuhi. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)




FKKUB Wedomartani Jadi Contoh Kerukunan Umat Beragama di Sleman

Sleman – Forum Koordinasi Kerukunan Umat Beragama (FKKUB) Kalurahan Wedomartani, Kapanewon Ngemplak, menjadi contoh positif dalam menjaga kerukunan dan perdamaian antarumat beragama. Keberhasilan forum yang digagas para pemuka agama setempat ini dibahas dalam Sarasehan Refleksi Kemerdekaan yang digelar di Kediaman Mujiburochman, Krandon, pada Minggu (31/8/2025).

Wiratno, pengurus FKUB Kabupaten Sleman, menekankan pentingnya implementasi Tri Kerukunan Umat Beragama, yaitu kerukunan intern umat beragama, kerukunan antarumat beragama, dan kerukunan antara tokoh agama dengan pemerintah. “Kerukunan akan terbangun dengan kesediaan menerima perbedaan dan menghormati kekhusukan ibadah masing-masing,” ujarnya.

KH. Abdul Muhaimin, salah satu inisiator FKKUB, menambahkan bahwa keteguhan hati dalam merawat kerukunan menjadi kunci ketentraman dan keberlangsungan pembangunan. “Saya apresiasi FKKUB Wedomartani yang dapat menjadi contoh bagi wilayah lain,” katanya.

Mujiburochman, Kamituwa Kalurahan Wedomartani, menyatakan bahwa FKKUB mendapat dukungan penuh dari pemerintah kalurahan, termasuk dalam penyelenggaraan sarasehan yang dihadiri perwakilan Islam, Hindu, Buddha, Katolik, dan Kristen ini.

Ketua FKKUB Wedomartani, Santosa, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan lanjutan dari Orasi Kebangsaan bulan Juli lalu dan bagian dari komitmen menjaga kerukunan melalui dialog lintas agama. (Tri Joko S – KIM Kalasan)




Komunitas Seroja Sleman Dorong Kesadaran Kolektif Kelola Sampah

Sebuah kajian bertema “Sehatku dengan Cinta Lingkungan Pada Pengolahan Sampah Yang Berkah” digelar Komunitas Sehat Rohani Jasmani (Seroja) di Pendhapa Kekandhangan, Banyuraden, Sleman, Minggu (31/8/2025).

Kajian yang dipandu Duta Green Nasyiah, Liza Uswatun Husna Lubis ini tidak hanya menjadi ruang renungan spiritual, namun juga mendorong kesadaran kolektif bahwa pengelolaan sampah adalah jalan menuju hidup sehat sekaligus ladang keberkahan.

Dalam kajian tersebut, pengelolaan sampah dipandang bukan hanya sebagai upaya teknis, tetapi juga bernilai ibadah. Dengan mengutip ajaran agama, disampaikan bahwa menjaga kebersihan adalah bagian dari keimanan. Sampah yang selama ini dianggap masalah justru bisa menjadi berkah jika dikelola secara bijak, misalnya melalui bank sampah, pengomposan, maupun daur ulang.

“Cinta lingkungan bukan sekadar jargon, melainkan wujud nyata dalam keseharian, seperti memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan memanfaatkan kembali barang bekas agar bernilai guna,” ucap Liza.

Peserta diajak merenung bahwa setiap botol plastik, sisa dapur, maupun kertas bekas memiliki potensi ekonomi. Ditampilkan pula kisah sukses kelompok warga yang mampu menambah pendapatan keluarga melalui hasil olahan sampah organik menjadi pupuk kompos dan sampah anorganik menjadi kerajinan tangan. Hal ini membuktikan bahwa sampah tidak selamanya identik dengan kotor dan merugikan.

Lebih jauh, Liza menekankan pentingnya pola hidup sehat yang dimulai dari lingkungan bersih. Sampah yang menumpuk dan tak terkelola dapat memicu berbagai penyakit, mulai dari diare, demam berdarah, hingga infeksi kulit. Karena itu, menyintai lingkungan berarti pula menjaga kesehatan diri dan keluarga.

Sampah merupakan tanggung jawab bersama. Jika dikelola dengan cinta lingkungan, maka sampah bukan lagi sumber masalah, melainkan berkah yang membawa kesehatan, kebersihan, bahkan tambahan rezeki. Liza berharap pesan ini dapat tertanam dalam hati setiap peserta untuk diamalkan di kehidupan sehari-hari.

Kajian ini menjadi bukti bahwa pendekatan spiritual dan sosial dapat berjalan beriringan dalam mengatasi masalah lingkungan. Melalui kolaborasi warga, tokoh agama, dan komunitas peduli lingkungan maka pengelolaan sampah bisa menjadi gerakan yang berkelanjutan.

“Tidak cuma menjaga kebersihan, inisiatif ini menegaskan bahwa kesehatan dan keberkahan bisa tumbuh dari cinta terhadap lingkungan,” ujarnya.

Sampah yang dikelola dengan cinta membuat lingkungan lebih sehat, sekaligus menjadi amal jariyah bagi siapa saja yang terlibat. Dengan langkah sederhana memilah dan mengolah sampah, Komunitas Seroja sedang menapaki jalan ibadah yang mendatangkan kesehatan dunia sekaligus pahala akhirat. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)