Pemerintah Kapanewon Depok Gelar Validasi Data Keluarga Berisiko Stunting

Sleman – Kapanewon Depok menyelenggarakan pertemuan Validasi dan Verifikasi (Verval) Keluarga Berisiko Stunting Tahun 2025 pada Senin (8/9/2025) di Ruang Anglocita Tama, Komplek Kapanewon Depok. Kegiatan ini diikuti oleh kader dari tiga kalurahan, yaitu Condongcatur, Caturtunggal, dan Maguwoharjo.

Koordinator PKB PLKB Kapanewon Depok, Siti Juwariyah, menyampaikan apresiasi atas dedikasi kader dalam melaksanakan pendataan.

“Kami berterima kasih kepada para kader yang telah menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab,” ujarnya.

Indrawati, PLKB Kapanewon Depok, memaparkan teknis pelaksanaan Verval menggunakan Aplikasi SIGA Mobile. Ia menekankan pentingnya ketelitian dalam penginputan data, khususnya untuk sasaran utama seperti balita, baduta, ibu hamil, dan Pasangan Usia Subur (PUS).

Kegiatan Verval yang berlangsung dari 15 Juni hingga 30 September 2025 sempat tertunda due to pelaksanaan Pemutakhiran Pendataan Keluarga Tahun 2025.

“Alhamdulillah, setelah pemutakhiran selesai, Verval dapat dilanjutkan kembali,” jelas Indrawati.

Data yang akurat dari proses ini diharapkan menjadi dasar efektif bagi upaya pencegahan dan penurunan angka stunting di wilayah Kapanewon Depok. (Tri Suhartati/KIM Depok)




Pentas Seni Jathilan Kudho Karenggo Rayakan HUT ke-25 dengan Semarak

Sleman – Ratusan warga memadati Lapangan Padukuhan Santren, Kalurahan Caturtunggal, pada Minggu (7/9/2025) untuk menyaksikan pentas seni Jathilan Kudho Karenggo dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-25 kelompok seni tersebut. Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh masyarakat, termasuk PJ Lurah Caturtunggal, carik, kamituwa, serta beberapa dukuh setempat.

Dalam sambutannya, Carik Caturtunggal, Aminudin Aziz menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya acara yang mencerminkan kebersamaan dan kekompakan warga.

“Antusiasme masyarakat menjadi kunci suksesnya kegiatan ini,” ujarnya.

Acara dibuka dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ustaz Sugeng, dilanjutkan dengan prosesi pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur dan harapan agar Kudho Karenggo senantiasa diberkahi kerukunan, kesejahteraan, dan kemajuan.

Puncak acara menampilkan pertunjukan jathilan dalam empat babak, yaitu Satrio Mudho Karenggo (Putra), Kirana Asmarani (Putri), Satrio Kencana (Sorengan), dan Prajurit Bhadrika (Legendaris). Kemeriahan semakin terasa dengan kehadiran bintang tamu Om Sasa serta pembagian doorprize kepada para penonton.

Pentas seni ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga wadah pelestarian budaya lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Masyarakat berharap Kudho Karenggo terus berkembang dan menjadi kebanggaan warga Santren serta Kalurahan Caturtunggal. (Oktaviana/KIM Depok)




SAH Banyu Bening Sleman Menyemai Kesadaran Lingkungan Lewat Wayang Kulit

Sleman – Ratusan warga Tempursari berkumpul di pelataran Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman, Minggu (7/9/2025) untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit dengan lakon Banyu Urip yang dibawakan oleh dalang sekaligus akademisi pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Prof. Dr. Junaidi.

Pertunjukan ini menjadi bagian penting dari rangkaian Kenduri Banyu Udan ke-10 SAH Banyu Bening Sleman, sebuah agenda tahunan yang telah dikenal luas sebagai ruang refleksi, edukasi, dan budaya perihal pentingnya mengelola air hujan bagi kehidupan.

Wayang kulit bukan sekadar tontonan, melainkan juga tuntunan. Melalui lakon Banyu Urip, Prof. Junaidi mengajak masyarakat merenungkan kembali filosofi air sebagai sumber kehidupan. Air bukan hanya memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga memiliki makna spiritual, sosial, bahkan kultural.

Founder SAH Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih mengungkapkan bahwa kisah pewayangan yang disajikan dengan humor, simbol, dan nasihat moral tersebut menyentuh kesadaran kolektif warga mengenai betapa krusialnya menjaga kelestarian sumber daya air.

“Nilai-nilai inilah yang menyatu dengan semangat Kenduri Banyu Udan,” ucapnya.

Lakon Banyu Urip sendiri menggambarkan perjuangan tokoh-tokoh wayang dalam mengelola dan menjaga sumber kehidupan. Dalam balutan kisah klasik, terselip pesan yang sangat kontekstual yakni bagaimana manusia modern perlu bijak menggunakan air, tidak mengeksploitasinya secara berlebihan, dan selalu mengingat bahwa air adalah titipan untuk generasi mendatang.

Yang paling penting, pagelaran ini bukan hanya hiburan, melainkan media edukasi yang efektif. Ketika pesan lingkungan disampaikan lewat ceramah atau diskusi, kadang terasa berat. Namun, saat diramu dalam alur pewayangan yang memikat, masyarakat bisa menerima pesan itu dengan lebih ringan sekaligus mendalam. Kehadiran Prof. Junaidi sebagai dalang memberi kekuatan tambahan, karena ia piawai memadukan ilmu pengetahuan, filosofi, dan seni pertunjukan.

Wahyuningsih menambahkan, Kenduri Banyu Udan yang telah memasuki dekade ke-10 semakin meneguhkan dirinya sebagai ruang dialog antara tradisi dan inovasi. Keseimbangan ini menjadi bukti bahwa pelestarian lingkungan tidak bisa dilepaskan dari akar budaya masyarakat.

Bagi warga Sleman, terutama generasi muda, pengalaman menonton wayang kulit di tengah agenda lingkungan adalah sebuah pendidikan holistik. Mereka dapat belajar bahwa menjaga air bukan hanya urusan teknis atau teknologi, melainkan juga bagian dari nilai-nilai budaya yang harus diwariskan. Pesan ini sejalan dengan visi Sekolah Air Hujan Banyu Bening yang menggabungkan sains, seni, dan spiritualitas.

Wayang kulit yang berabad-abad menjadi warisan leluhur kini diperkaya dengan wacana ekologi. Hal ini membuktikan bahwa kearifan lokal tidak hanya layak dilestarikan, tetapi juga relevan untuk menjawab tantangan zaman.

Pertunjukan ini meninggalkan kesan mendalam, bahwa air adalah kehidupan yang harus dijaga bersama. Melalui seni, pesan itu tidak hanya masuk ke akal, tetapi juga meresap ke dalam jiwa. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Warga Salakan Gelar Kirab Mustaka sebagai Simbol Syukur dan Kebersamaan

Sleman – Warga Padukuhan Salakan, Kalurahan Trihanggo, Kabupaten Sleman, menggelar kirab mustaka (mahkota masjid) menuju Masjid Al Mukarom pada Minggu (7/9/2025). Tradisi ini menjadi wujud syukur atas selesainya pembangunan masjid yang dikerjakan secara gotong royong oleh masyarakat setempat.

Mustaka, yang merupakan simbol kemuliaan dan keagungan masjid, diarak dengan iringan Bregada Surengpati, shalawat, serta doa-doa. Prosesi khidmat ini diikuti warga lintas generasi, mencerminkan semangat kebersamaan dan penghormatan terhadap nilai spiritual serta kearifan lokal.

Kepala Padukuhan Salakan, Suyana, menyatakan bahwa kirab mustaka tidak hanya menjadi sarana edukasi bagi generasi muda tentang makna tradisi dan sejarah, tetapi juga memperkuat identitas budaya serta praktik gotong royong.

“Seluruh pembiayaan pembangunan masjid, termasuk mustaka, berasal dari swadaya masyarakat, sumbangan sukarela, dan dukungan warga perantauan,” ujarnya.

Ia menambahkan, kegiatan ini juga merekatkan hubungan sosial warga dan menegaskan peran masjid sebagai pusat ibadah, dakwah, serta pemberdayaan umat ke depan. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




GP Ansor Sleman Teguhkan Solidaritas Lewat Donor Darah

Sleman – Sebagai momentum penting dalam meneguhkan kembali semangat kepedulian sosial dan kebangsaan di tengah masyarakat, puluhan kader Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Sleman yang berasal dari 17 kapanewon mendonorkan darahnya.

Bakti sosial hasil kolaborasi Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Sleman dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sleman dan Pondok Pesantren Pangeran Diponegoro berlangsung di Gedung SMK Diponegoro Sleman, Sabtu (6/9/2025). 

Dalam sambutannya, Pengasuh Pondok Pesantren Pangeran Diponegoro, KH. Muhammad Syakir Ali, menuturkan bahwa donor darah bukan hanya wujud nyata cinta tanah air, melainkan juga amal jariyah yang manfaatnya langsung dirasakan oleh sesama.

Tampak hadir Panewu Depok, Djoko Muljanto didampingi Penjabat Lurah Maguwoharjo, Muhammad Falak Susanto dan Dukuh Sambego, Sarjono yang memantau pelaksanaan bakti sosial donor darah. Pihaknya memberikan dukungan moral sekaligus memastikan kegiatan berjalan lancar sesuai prosedur.

Sebagai pemimpin wilayah, Djoko Muljanto memiliki tanggung jawab untuk mengawal berbagai program kemasyarakatan, termasuk aksi kemanusiaan yang digelar lembaga pendidikan dan organisasi kepemudaan di bawah naungan Nahdlatul Ulama ini.

Sementara itu, Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Sleman, H.M. Najib Yuliantoro, menerangkan bahwa kegiatan donor darah yang termasuk dalam rangkaian Gebyar Maulud Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Diponegoro Sleman ini terdapat 47 pendaftar donor darah. Namun yang lolos skrening hanya 37 pendonor dan memenuhi persyaratan diambil darahnya. Sedangkan dari 10 peserta yang tidak memenuhi syarat dengan alasan memiliki Hemoglobin (Hb) rendah sebanyak 9 orang dan tekanan darahnya rendah sejumlah 1 orang.

Dengan melibatkan Pondok Pesantren Diponegoro sebagai lokasi kegiatan, Pimpinan GP Ansor Sleman mengajak generasi muda untuk memahami bahwa menolong tidak harus dengan hal besar, tetapi bisa dimulai dari langkah sederhana seperti mendonorkan darah.

Tidak kalah penting, kegiatan donor darah juga menjadi sarana mempererat hubungan antara Ansor dengan masyarakat sekitar. Melalui bakti sosial ini menunjukkan bahwa organisasi kepemudaan tidak hanya bergerak dalam ranah ideologi dan kebangsaan, namun juga aktif dalam kerja-kerja kemanusiaan yang manfaatnya langsung dirasakan warga.

“Selain menumbuhkan semangat solidaritas, donor darah juga memiliki manfaat kesehatan bagi pendonor,” ucap H. Najib.

Kegiatan donor darah di PP Diponegoro Sleman membuktikan bahwa gerakan kepemudaan bukan hanya berfokus pada penguatan ideologi dan kebangsaan, tetapi juga hadir nyata dalam isu-isu kemanusiaan. Di tengah derasnya arus individualisme, kegiatan semacam ini merupakan pengingat bahwa solidaritas masih berdenyut di nadi masyarakat. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)