Catur Kabupaten Sleman Raih 7 Emas dan Jadi Juara Umum PORDA XVII DIY 2025

Sleman – Kontingen atlet catur Kabupaten Sleman mencetak prestasi gemilang pada Pekan Olahraga Daerah (PORDA) XVII Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 2025, yang berlangsung pada 2 hingga 7 September 2025 di BMT Dana Insani, Gunungkidul. Tim catur Kabupaten Sleman berhasil keluar sebagai juara umum dengan mengoleksi total 14 medali terdiri dari tujuh emas, dua perak, dan lima perunggu.

Dari total 12 medali emas yang diperebutkan di cabang olahraga catur, Sleman sukses merebut lebih dari setengahnya. Capaian ini sekaligus melampaui target awal kontingen yang hanya menargetkan lima medali emas.

Berikut daftar peraih medali dari kontingen Sleman, medali emas diraih oleh Kenny Horashino Bach untuk kategori Perorangan Catur Standar, Shafira Devi Herfesa dengan ketegori Perorangan Catur Standar dan Catur Kilat, Muhammad Kahfi Maulana kateogir Perorangan Catur Cepat dan Catur Kilat, Tim Beregu Putra ketegori Catur Cepat, dan Tim Beregu Putri kategori Catur Kilat.

Kemudian medali perak diraih oleh Chavi Alisha Egbert Dawan ketegori Perorangan Catur Standar, dan Syifa Aliyya untuk kategori Perorangan Catur Cepat.

Sedangkan medali perunggu diraih oleh Anna Wening kategori Perorangan Catur Cepat, Awang Putra Sembada kategori Perorangan Catur Kilat, Zhendy Afriansyah kategori Perorangan Catur Cepat, Tim Beregu Putri kategori Catur Standar, dan Tim Beregu Putri ketegori Catur Cepat.

Official kontingen Sleman, Ilham Agus Prasetyo menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh atlet yang telah berjuang keras mengharumkan nama daerah.

“Keberhasilan ini bukan semata-mata hasil dari bakat individu, melainkan buah dari kerja kolektif yang panjang. Semua sudah bekerja keras dan hasil ini sudah melebihi target kami,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Umum Pengda Percasi DIY, Jumariyanto, mengungkapkan kepuasannya atas kelancaran seluruh pertandingan catur yang digelar selama PORDA.

“Positifnya, di PORDA kali ini banyak daerah yang sudah memainkan pecatur-pecatur muda yang berkualitas. Artinya, pembinaan dan pembibitan di masing-masing daerah sudah sangat bagus dan tinggal dimaksimalkan untuk ke level nasional,” jelasnya.

Dengan raihan ini, Kabupaten Sleman menegaskan dominasinya di cabang olahraga catur dan membuka peluang lebih besar untuk bersaing di ajang yang lebih tinggi di tingkat nasional. (Ilham Agus / KIM Seyegan)




GKR Bendara Dorong Pemanfaatan Air Hujan Untuk Kesehatan di Sleman

Sleman – Pemanfaatan air hujan sebagai air minum alternatif kembali mendapatkan dukungan moral dari salah satu tokoh penting Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara. Putri bungsu Sri Sultan Hamengkubuwono X tersebut memberikan apresiasi khusus terhadap Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman yang konsisten mengembangkan budaya memanfaatkan air hujan sebagai sumber kehidupan sekaligus sarana meningkatkan kesehatan masyarakat.

Dalam kunjungannya di sekolah non formal yang berlokasi di Tempursari, Sleman, Rabu (10/9/2025) GKR Bendara menegaskan bahwa pemanfaatan air hujan bukan sekadar upaya menjaga ketersediaan air, namun sebagai bentuk kearifan lokal yang relevan di tengah tantangan perubahan iklim. Menurutnya, air hujan yang ditampung dan diolah secara baik dapat menjadi alternatif air minum yang tidak hanya layak konsumsi, tetapi juga menyehatkan tubuh.

“Air hujan adalah anugerah dari Sang Pencipta. Jangan sampai kita menyia-nyiakannya,” ungkapnya.

SAH Banyu Bening Sleman sendiri sudah lebih dari satu dekade mempelopori gerakan pemanenan air hujan. Lembaga ini tidak hanya menampung air hujan, tetapi juga mengedukasi masyarakat mengenai cara pengolahan sederhana agar air benar-benar aman diminum. Dukungan GKR Bendara memberi semangat baru bagi komunitas yang dipimpin oleh Sri Wahyuningsih sebagai aktivis lingkungan tersebut.

Selain mendukung gerakan ini, putri kelima Sri Sultan Hamengkubuwono X tersebut pun menilai bahwa kebiasaan meminum air hujan yang sehat bisa menjadi gaya hidup baru masyarakat perkotaan yang selama ini sangat bergantung pada air tanah dan air kemasan.

“Ketergantungan pada air tanah justru mempercepat penurunan muka tanah dan dapat memicu bencana ekologis di masa depan,” sambungnya.

Bagi warga Sleman, kehadiran tokoh Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat memberi legitimasi moral terhadap gerakan lokal yang berakar dari kebutuhan masyarakat sendiri. Apalagi, SAH Banyu Bening selama ini dikenal aktif menyelenggarakan edukasi publik, mulai dari seminar, lokakarya, hingga praktik langsung memanen air hujan. Dukungan GKR Bendara diharapkan memperluas jangkauan kampanye mereka hingga level nasional.

Menariknya, pengalaman para warga yang telah rutin mengonsumsi air hujan menunjukkan manfaat nyata. Banyak yang merasakan tubuhnya lebih segar, pencernaan lebih baik, hingga berkurangnya keluhan kesehatan ringan setelah meninggalkan kebiasaan minum air kemasan. Fakta-fakta ini semakin memperkuat argumen bahwa air hujan bukan hanya layak minum, tetapi menyehatkan tubuh.

Lebih lanjut, GKR Bendara mendorong agar sekolah air hujan terus melakukan inovasi dalam metode filtrasi dan pengolahan. Ia menambahkan, tantangan terbesar di masa depan adalah menjaga kualitas air hujan di tengah polusi udara dan perubahan cuaca ekstrem. Karenanya, diperlukan jalinan kerjasama dengan pihak akademisi, pemerintah, hingga sektor swasta.

Dukungan GKR Bendara membuat gerakan ini tidak hanya terlihat sebagai eksperimen komunitas, melainkan sebagai gerakan peradaban menuju masa depan berkelanjutan. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Kalurahan Condongcatur Komitmen Wujudkan Desa Peduli TBC

Sleman – Kalurahan Condongcatur menggelar kegiatan Sosialisasi Desa Peduli TBC, Kamis (11/9/2025) di Ruang Wacana Loka Kompleks Kalurahan Condongcatur. Acara ini diikuti oleh berbagai unsur masyarakat, perangkat kalurahan, Danramil, kader kesehatan, BPKal, PKK, KIM Depok, Bhabinkamtibmas, serta perwakilan lintas sektor lainnya.

Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji dalam sambutannya menyampaikan bahwa pihak kalurahan siap memberantas kasus Tuberkulosis (TB) di wilayahnya. Meski menghadapi tantangan besar, terutama karena tingginya mobilitas penduduk dan banyaknya mahasiswa maupun warga kos.

“Pemerintah Kalurahan Condongcatur berkomitmen menjadi kalurahan yang peduli terhadap penanganan TB,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Depok II, dr. Trisni Nur Andayani dalam paparannya menjelaskan bahwa program Desa Peduli TB diharapkan mampu menekan angka kasus TB melalui kolaborasi lintas sektor.

“Karena itu, pentingnya keterlibatan semua pihak, mulai dari tenaga kesehatan, kader TB, pemerintah kalurahan, Babinsa, Bhabinkamtibmas, tokoh masyarakat, hingga tokoh agama, agar pemberantasan TB dapat berjalan optimal dari tingkat bawah,” tandasnya.

Perwakilan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Hanida Yulianti selaku narasumber menegaskan bahwa TB merupakan penyakit yang bisa diobati dan dicegah, asalkan penderita menjalani pengobatan secara rutin di Puskesmas.

“Selain itu, dukungan lingkungan sekitar juga sangat penting untuk membantu kesembuhan pasien serta memutus rantai penularan,” kata Hanida.

Kegiatan ini pun menjadi komitmen pemerintah setempat dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pada kesempatan itu, dilakukan proses penandatanganan komitmen Kalurahan Condongcatur sebagai Kalurahan Peduli TB, yang menunjukkan keseriusan seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menekan kasus TB.

Melalui kegiatan sosialisasi ini, diharapkan kesadaran masyarakat semakin meningkat. Sehingga Kalurahan Condongcatur benar-benar mampu mewujudkan cita-cita sebagai Desa Peduli TB dan menuju wilayah bebas TB di masa mendatang. (Tri Suhartati KIM Depok)




Posyandu Era Baru, Ujung Tombak Pelayanan Publik Terpadu Tingkat Kalurahan

Sleman – Kapanewon Seyegan menggelar bimtek kelembagaan posyandu era baru pada, Rabu (10/9/2025) di aula lantai II Kapanewon Seyegan.  Acara tersebut dihadiri oleh 70 peserta dari unsur Kawat Sosial Kapanewon Seyegan, lurah, carik dan Kamituwo se-Kapanewon Seyegan, ibu Lurah se-Kapanewon Seyegan, dan perwakilan kader posyandu se-Kapanewon Seyegan.

Sebelumnya, posyandu era baru (new posyandu) merupakan salah satu transformasi perluasan pelayanan kesehatan yang ditetapkan berdasarkan Permendagri Nomor 13 Tahun 2024 tentang Pos Pelayanan Terpadu.

Layanan kesehatan dalam posyandu era baru mencakup enam Standar Pelayanan Minimal (SPM). Transformasi ini mewajibkan seluruh posyandu untuk mengimplementasikan enam bidang SPM tersebut secara holistik dan integratif dari siklus kehidupan masyarakat.

Penggerak Swadaya Masyarakat Dinas PMK Kabupaten Sleman, Ratna Panca Yulianti sekaligus narasumber menitik beratkan pada implementasi enam SPM. Ratna menyampaikan bahwa pasca Permendagri terbit, terdapat tiga tranformasi kebijakan yaitu transformasi kelembagaan, transformasi layanan dan transformasi pembinaan.

“Transformasi utama adalah perluasan fungsi posyandu yang semula fokus pada kesehatan ibu dan anak, kini menjadi pusat pelayanan publik terpadu meliputi enam bidang Standar Pelayanan Minimal (SPM),” jelas Ratna.

Adapun enam bidang SPM dalam posyandu era baru yang dimaksud ialah pertama kesehatan meliputi pelayanan kesehatan ibu, bayi, balita, anak usia pra sekolah, usia sekolah, remaja, dewasa, dan lansia, serta penyuluhan kesehatan dan konsultasi gizi.

Kedua, pendidikan menjangkau aspek pendidikan masyarakat, terutama di tingkat dasar dan relevan untuk siklus hidup. Ketiga, pekerjaan umum meliputi penanganan kebutuhan terkait pekerjaan umum seperti sanitasi, MCK, dan sarana air bersih di tingkat RT/Dusun.

Keempat, perumahan rakyat yaitu mengatasi keluhan dan kebutuhan masyarakat terkait perumahan dan permukiman. Kelima, sosial mencakup berbagai layanan sosial untuk masyarakat. Keenam, ketenteraman, ketertiban umum, dan perlindungan masyarakat (Trantibum Linmas).

Ratna juga menambahkan tujuan dan manfaat dari pelayanan holistik dan integratif yaitu posyandu menjadi pusat pelayanan publik yang menyeluruh dan terpadu.

“Sinergitas dari semua komponen yang ada di kalurahan yang perlu ditingkatkan dalam pelayanan yang lebih dekat, cepat dan sesuai dengan kebutuhan,” uajrnya.

Dalam pelaksanaannya, posyandu era baru ini juga mengedepankan pendekatan partisipatif dan gotong royong berbasis potensi lokal. Hal ini bermuara pada peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Dengan demikian, sinergitas posyandu dan kalurahan menjadi kunci keberhasilan dalam mewujudkan layanan kesehatan masyarakat yang efektif dan berkelanjutan. Pemerintah kalurahan berperan strategis dalam mendukung penguatan kelembagaan posyandu, mulai dari penyediaan anggaran, pembinaan kader, integrasi data kesehatan, hingga penyelenggaraan kegiatan edukatif dan promotif. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Peresmian Academy Mororejo: Sekolah Bola Voli Gratis

Sleman – Pemerintah Kalurahan Mororejo, Tempel resmi meluncurkan sekolah bola voli gratis bernama Academy Mororejo, pada Rabu (10/9/2025). Peresmina berlangsung di Lapangan Bola Voli padukuhan Domban, Mororejo, Tempel, bersamaan dengan bergulirnya event tahunan Mororejo Fest 2025.

Hadir dalam kegiatan ini Lurah Mororejo, Jaka Ristanta, Panewu Tempel, Dakiri, Kapolsek Tempel, Gunawan Setyabudi, Danramil 04 Tempel, Kapten Infantri Edi Widodo dan sejumlah tamu undangan.

Dalam sambutannya Panewu Tempel memberikan apresiasi dan dukungan atas peluncuran sekolah bola voli ini. Ia pun berharap sekolah tersebut dapat memunculkan bibit atlet berkualitas.

“Academy Mororejo ini semoga dapat menjadi wadah pembinaan dan pencetakan atlet bola voli berkualitas baik ditingkat lokal maupun nasional. Melalui atlet atlet berprestasi yang akan dilahirkan dari sekolah ini harapan nya dapat mengharumkan nama Kalurahan Mororejo. Untuk itu apresiasi setinggi-tingginya kepada pemerintah Kalurahan Mororejo atas diluncurkannya sekolah bola voli ini dan dari pemerintah Kapanewon Tempel akan selalu memberikan dukungannya,” ungkap Dakiri.

Lurah Mororejo, Jaka Ristanta menjelaskan bahwa sekolah bola voli ini diinisiasi oleh Pemerintah Kalurahan Mororejo untuk dapat memberikan kontribusi bagi munculnya calon atlet atlet muda.

 “Dalam Academy Mororejo ini seluruh siswa dari kelas 3 SD hingga SMA akan dibina secara gratis karena sasaran sekolah bola voli ini membidik siswa dari kalangan pelajar. Mereka nantinya akan diklasifikasikan pemula, remaja, junior dan senior. Pembinaan usia dini ini mengarah pada program jangka panjang,” ujar Jaka.

“Hasil pembinaan atlet di Academy ini diharapkan dapat tembus sebagai atlet nasional. Karena pembinaan olahraga khususnya cabang bola voli tak semudah membalikkan telapak tangan kami datangkan dua pelatih handal yang akan melatih dua kali dalam seminggu dan sudah mulai dilaksanakan sejak 3 Nopember 2024 yang lalu dan tanpa dipungut biaya. Mereka akan melatih dan membina sesuai dengan modul yang sudah disusun sehingga jelas teknik dan target yang dicapai dalam latihan,” sambungnya.

Peluncuran Sekolah Bola Voli Academy Mororejo ditandai dengan pelepasan balon dipimpin Lurah Mororejo. Dilanjutkan dengan pertandingan ekshibisi antara tim putra dan putri Academy Mororejo melawan tim Voly Jago Sinduadi, Mlati, Sleman. (sbd Kim Tempel)