Sleman – Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) kembali menunjukkan komitmen dalam mendorong inovasi berbasis keberlanjutan. Dua mahasiswinya, Marlita Wulansari dan Anisa Rahmawati, memperkenalkan G-Waqf, sebuah platform digital wakaf hijau yang dirancang untuk memperluas partisipasi publik dalam mendukung program dan proyek ramah lingkungan.
Ketua Tim Pengembang G-Waqf, Marlita Wulansari, menjelaskan bahwa gagasan ini lahir dari keprihatinan terhadap perubahan iklim yang semakin nyata. Menurutnya, diperlukan instrumen baru yang dapat menjembatani kepedulian masyarakat dengan aksi nyata pelestarian lingkungan.
“G-Waqf kami hadirkan sebagai ruang edukasi, partisipasi, sekaligus pengelolaan dana wakaf hijau yang akuntabel dan transparan. Harapannya, masyarakat bisa lebih mudah, fleksibel, dan terpercaya dalam berkontribusi menjaga kelestarian bumi,” ujarnya, di Ruang Seminar FMIPA UNY, Selasa (30/9/2025).
Marlita menambahkan bahwa potensi wakaf uang di Indonesia sesungguhnya sangat besar, namun realisasinya masih jauh di bawah harapan.
“Melalui pendekatan digital yang transparan, G-Waqf diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan publik sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa wakaf juga dapat diarahkan untuk mendukung keberlanjutan lingkungan,” tuturnya.
Sementara Anggota Tim, Anisa Rahmawati, menilai bahwa pengembangan G-Waqf memiliki posisi strategis dan mendesak. “Hal ini sejalan dengan Asta Cita Pemerintahan Prabowo-Gibran yang mendorong kemandirian energi dan ekonomi hijau, sekaligus memperkuat harmoni kehidupan dengan alam,” ujarnya.
Anisa menambahkan, arah pengembangan G-Waqf juga selaras dengan visi Indonesia Emas 2045 serta tujuan Sustainable Development Goals (SDGs).
“Kami melihat G-Waqf dapat menjadi bagian dari upaya mewujudkan ketahanan energi, pangan, dan lingkungan hidup yang berkualitas, sekaligus mendukung agenda global terkait air bersih, energi terjangkau, dan penanganan perubahan iklim,” jelasnya.
Anisa menegaskan bahwa inisiatif ini juga sejalan dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menggemakan keberlanjutan lingkungan melalui penguatan instrumen filantropi Islam, khususnya wakaf yang manfaatnya bersifat abadi di masyarakat.
Pengembangan inovasi ini dilakukan di bawah bimbingan tiga dosen UNY, yaitu Tsania Nur Diyana, Benni Setiawan, dan Indra Febrianto. Menurut Tsania, G-Waqf merupakan wujud nyata semangat mahasiswa dalam menghadirkan solusi kreatif untuk tantangan global.
“Inovasi ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai filantropi Islam dapat dikontekstualisasikan dengan isu perubahan iklim. G-Waqf bukan hanya langkah kreatif, tetapi juga berpotensi memberi manfaat luas sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam pembangunan berkelanjutan,” ungkapnya.
Dengan jumlah pengguna internet di Indonesia yang telah melampaui 220 juta jiwa, Tsania optimistis G-Waqf dapat menjangkau masyarakat luas.
“Kami berharap inovasi ini berkembang menjadi gerakan nasional bahkan global, sehingga praktik wakaf hijau semakin dikenal sebagai instrumen ekonomi dan ekologi berkelanjutan,” tandasnya.
Tsania mengatakan, bahwa kehadiran G-Waqf ini menegaskan bahwa wakaf tidak lagi terbatas pada praktik tradisional, melainkan dapat bertransformasi menjadi instrumen dinamis yang relevan dengan tantangan zaman.
“Lebih jauh, inovasi ini menjadi bukti bahwa mahasiswa UNY mampu memadukan ilmu pengetahuan, nilai keagamaan, dan kepedulian lingkungan untuk menghadirkan kontribusi nyata bagi masa depan bumi,” ungkap dia. (Athiful/KIM Depok)