Sosok di Balik Dapur Warga Sleman: Kisah Pedagang Sayur Keliling Bermotor

Sleman – Setiap pagi, di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, deru motor-motor yang membawa sayuran segar sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Para pedagang sayur keliling bermotor, atau yang akrab disapa eyek, memainkan peran vital dalam roda perekonomian dan memenuhi kebutuhan dapur masyarakat pedesaan hingga pemukiman semi-urban.

Salah satunya adalah Nanang (43), seorang pedagang dari Tegal Domban, Margorejo, Tempel, Sleman. Pagi itu, Senin (29/9/2025), ia terlihat sibuk memilah dagangan terakhirnya di Pasar Tempel sebelum memulai rutenya.

“Sore jam lima saya sudah kulakan di Pasar Muntilan, lalu saya pilah-pilah di rumah. Subuh tadi kulakan lagi di Pasar Tempel untuk melengkapi seperti tempe, tahu, atau jajanan yang baru keluar,” tutur Nanang.

Pekerjaannya dimulai sejak sore hari sebelumnya dan baru berakhir sekitar pukul 11:00 siang. Dalam kesehariannya, para eyek menyisir berbagai wilayah, bahkan hingga ke daerah kaki Gunung Merapi di Kaliurang atau bagian selatan Sleman.

Meskipun sering dianggap pekerjaan informal, keberadaan mereka memiliki arti penting dalam rantai distribusi hasil pertanian. Para eyek ini menghubungkan secara langsung antara petani dengan konsumen rumah tangga, mayoritas ibu-ibu yang membutuhkan bahan segar tanpa harus repot pergi ke pasar. (Sadhono Hadi / KIM Senyum Tempel)




Pekan Olahraga Catur Usia Dini Moyudan Lahirkan Bibit Atlet Berbakat

Sleman – Pekan Olahraga Catur Usia Dini tingkat Kapanewon Moyudan sukses digelar dengan antusiasme tinggi di Kantor Korwil Kapanewon, Selasa (30/9/2025). Ajang tahunan ini diikuti oleh 29 peserta tingkat Sekolah Dasar (SD), terdiri dari 16 peserta putra dan 13 peserta putri.

Ketua Wasit POR Catur Moyudan, Ilham Agus Prasetyo, yang juga merupakan Pengurus Percasi Sleman, mengapresiasi tingginya minat peserta. Menurutnya, antusiasme ini menjadi motivasi kuat untuk mengembangkan program pembinaan yang berkelanjutan.

“Minat anak-anak terhadap catur sangat tinggi. Harapannya, ke depan mereka bisa menjadi atlet muda yang profesional,” ujarnya.

Pertandingan berlangsung selama lima babak, baik untuk kategori putra maupun putri, dengan menjunjung tinggi sportivitas. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pembinaan olahraga usia dini di Kapanewon Moyudan.

Ilham menambahkan, diperlukan program pelatihan dan pembinaan yang terstruktur di setiap kalurahan maupun tingkat kapanewon untuk menghasilkan atlet-atlet catur muda berbakat. Melalui kegiatan ini, diharapkan akan lahir talenta-talenta muda yang mampu mengharumkan nama Moyudan di tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional. (Ilham Agus/KIM Seyegan)




Bangkitkan Ekonomi Kerakyatan, UMKM Balecatur Gelar Pasar Jajanan Ndeso

Sleman – Pasar Jajanan Ndeso yang digelar Forum UMKM Kalurahan Balecatur di Resto Kandang Ingkung, Gamping, Sleman, berhasil menarik minat masyarakat pada Senin (29/9/2025). Acara ini tak hanya menjadi ajang jual beli, tetapi juga ruang kebersamaan yang membangkitkan ekonomi kerakyatan berbasis kearifan lokal.

Ketua Forum UMKM Balecatur, Lukman Johanuddin, mengatakan bahwa pasar ini menjadi panggung bagi pelaku usaha mikro untuk memperluas jaringan dan meningkatkan kepercayaan diri. “Banyak pelaku usaha kecil yang selama ini hanya berjualan di pasar tradisional, kini mendapatkan wadah promosi yang lebih luas,” ujarnya.

Pasar yang dihelat sebulan sekali ini menghadirkan suasana tradisional kental dengan jajanan tempo dulu, minuman tradisional, dekorasi bambu, dan iringan musik gamelan. Uniknya, pengunjung harus menukarkan uang mereka dengan koin bambu beraksara Jawa senilai untuk setiap transaksi.

Selain membangkitkan nostalgia, pasar ini juga menjadi media edukasi bagi generasi muda tentang pangan lokal yang sehat dan alami.

“Edukasi semacam ini penting untuk membentuk kesadaran konsumsi lokal yang berkelanjutan,” kata Lukman.

Promosi melalui media sosial seperti Instagram, Facebook, dan TikTok juga menjadi kunci kesuksesan. Hal ini diakui oleh salah satu penjaga stan, Suranto, yang melihat banyak wisatawan domestik tertarik datang setelah melihat promosi di media sosial.

Suranto juga merasakan dampak ekonomi yang positif, dengan perputaran uang yang cukup besar selama tiga hari penyelenggaraan. Keberadaan pasar ini juga turut menguntungkan pihak-pihak pendukung lain, seperti penyedia bahan baku dan pengelola lokasi.

Pasar Jajanan Ndeso diharapkan dapat menjaga tradisi kuliner tradisional di tengah gempuran makanan modern.

“Keberadaan pasar ini menjadi pengingat bahwa makanan tradisional lebih sehat, ramah lingkungan, dan mengikat kebersamaan sosial,” pungkas Lukman. (Adnan Nurtjahjo / KIM Pararta Guna Gamping)




Panen Raya Padi Organik di Seyegan, Bukti Pertanian Ramah Lingkungan Hasil Sekolah Lapang

Sleman – Kelompok Tani (Poktan) Dadi Rukun di Padukuhan Kurahan III, Kalurahan Margodadi, Seyegan, sukses menggelar panen raya padi organik, Senin (29/9/2025). Panen yang dilakukan di lahan seluas 2 hektare ini menjadi bukti keberhasilan para petani yang berkomitmen pada pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Hasil panen yang mencapai 9,44 ton per hektare menjadi prestasi membanggakan, mengingat rata-rata hasil ubin panen organik di wilayah lain hanya sekitar 6,5 ton per hektare.

Ketua Poktan Dadi Rukun, Suparjiyo, menjelaskan bahwa panen ini merupakan hasil dari program Sekolah Lapang (SL) Budidaya Padi Organik yang didanai oleh Peningkatan Pendapatan Petani Melalui Inovasi (PUPM) Kalurahan Margodadi 2025.

“Selama 22 Maret hingga 30 Agustus 2025, 25 peserta mengikuti pelatihan pembuatan pupuk organik dan teknik budidaya,” ujarnya.

Lurah Margodadi, Jalmo Susilodiprojo, mengapresiasi komitmen petani yang menjaga kelestarian lingkungan dan kesehatan masyarakat dengan mengurangi penggunaan bahan kimia sintetis.

“Padi organik ini menjadi solusi jangka panjang untuk menjaga kesuburan tanah dan meningkatkan kesejahteraan petani,” kata Jalmo.

Panewu Seyegan, Agung Indarta, juga memberikan apresiasi dan berharap program ini tidak berhenti pada sekolah lapang saja.

“Kami berharap Poktan bisa menjalin kerja sama dengan pihak luar untuk pendanaan, pemasaran, dan pemanfaatan teknologi tepat guna,” tuturnya.

Nunung Nur Komariyah dari Dinas Pertanian Kabupaten Sleman menambahkan bahwa meskipun belum 100% organik, petani telah menyerap ilmu budidaya padi organik dengan baik. Sementara itu, Kepala BP4 Wilayah III Seyegan, Nurhayati, berpesan agar petani melanjutkan budidaya padi organik dan mengembalikan jerami ke lahan untuk menjaga unsur hara. Nurhayati juga menyebut bahwa Bulog siap menyerap gabah dari petani. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Cegah Stunting, TPK Padukuhan Gempol Gencarkan Pendampingan Bumil hingga Baduta

Sleman – Tim Pendamping Keluarga (TPK) 1 Padukuhan Gempol, Kalurahan Condongcatur, mengintensifkan upaya pencegahan stunting melalui pendampingan kepada ibu hamil, ibu nifas, balita di bawah dua tahun (baduta), serta calon pengantin. Kegiatan yang dilaksanakan pada Senin (29/9/2025) ini merupakan bagian dari Pekan Pendampingan Genting (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting).

Bidan Evy Ernawati, anggota TPK Tim 1, menjelaskan bahwa pendampingan rutin ini bertujuan untuk memantau kesehatan sasaran dan memberikan edukasi gizi seimbang.

“Melalui pendampingan, kita bisa melakukan deteksi dini sehingga masalah kesehatan dapat segera ditangani,” ungkap Evy.

Evy, yang juga seorang dosen di Stikes Guna Bangsa Yogyakarta, menambahkan bahwa kegiatan ini juga menekankan pentingnya peran keluarga dan masyarakat dalam menjaga tumbuh kembang anak.

Pada bulan September, setiap tim TPK ditargetkan melakukan minimal enam pendampingan. Hasil dari pendampingan tersebut wajib diinput ke dalam sistem data paling lambat pada minggu keempat. Dengan sinergi antara kader PKK, kader KB, dan bidan yang tergabung dalam TPK, diharapkan kesadaran masyarakat meningkat dan angka stunting dapat ditekan sejak dini di wilayah Condongcatur. (Tri Suhartati/KIM Depok)