Lumbungrejo Perkuat Peran “Omah Jaga Warga” untuk Tingkatkan Keamanan Komunitas

Sleman – Pemerintah Kalurahan Lumbungrejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, menggelar Rapat Koordinasi dan Evaluasi untuk program Omah Jaga Warga (OJW), Jumat (19/9). Rapat yang dihadiri oleh Lurah, Babinkantibmas, dan pengurus OJW ini bertujuan mengevaluasi keamanan pasca serangkaian acara besar dan memperkuat peran OJW sebagai ujung tombak ketertiban masyarakat (Trantibmas) di tingkat desa.

Lurah Lumbungrejo, M. Misbah Al Hakim, memberikan apresiasi tinggi kepada para pengurus OJW yang telah berperan aktif dalam menjaga keamanan dan ketertiban selama penyelenggaraan acara-acara di kalurahan, termasuk dalam tugas pengamanan di kawasan Malioboro, Yogyakarta.

“Atas nama pemerintah kalurahan, saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya. Peran OJW tidak hanya krusial dalam mitigasi bencana, tetapi juga vital untuk mencegah kerawanan dan memastikan kegiatan yang melibatkan massa banyak dapat berlangsung dengan aman dan tertib,” ujar Misbah dalam arahan nya.

Sementara itu, Jogoboyo Lumbungrejo Nugroho Subagyo melaporkan bahwa situasi keamanan dan ketertiban di wilayahnya secara umum telah terbina dengan baik.

“Keberhasilan ini tidak lepas dari partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat. Kami menekankan bahwa semua pihak memiliki tanggung jawab bersama untuk menciptakan lingkungan yang kondusif,” jelas Nugroho.

Dalam rapat tersebut, Lurah Misbah juga menginstruksikan agar peran OJW tingkat kalurahan dapat mendorong dan memotivasi pengurus di tingkat padukuhan (dusun). Selain itu, OJW diharapkan dapat lebih aktif dalam menangani keluhan masyarakat, termasuk maraknya kasus pinjol ilegal (pinjaman online atau ‘bank plecit’) yang memberatkan warga, khususnya para pedagang.

“Kepada pengurus OJW, tolong berikan pemahaman dan pencerahan kepada masyarakat mengenai bahaya pinjol ilegal ini. Ini adalah bentuk perlindungan nyata kepada warga,” tambah Misbah.

Kegiatan ditutup dengan apel siaga dan peninjauan ke pos-pos keamanan di seluruh wilayah Kalurahan Lumbungrejo, sebagai bentuk kesiapsiagaan dan komitmen untuk terus menjaga keamanan lingkungan. (Sbd/KIM Tempel)




Cegah Kekerasan pada Perempuan dan Anak, Kalurahan Lumbungrejo Sleman Bangun Jejaring Perlindungan

Sleman – Pemerintah Kalurahan Lumbungrejo, Kabupaten Sleman, bersama Puskesmas Tempel I menggelar penyuluhan pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak, Jumat (19/9/2025). Kegiatan yang diikuti 30 kader kesehatan dan perangkat desa ini merupakan upaya konkret membangun sistem perlindungan dan responsif di tingkat masyarakat.

Penyuluhan menghadirkan narasumber ahli, yaitu Psikolog Sasriyanti, , Bidan Desa Murviana Anisa Putri, dan Penanggung Jawab KTPA Puskesmas Debi Korpriyanti, . Hadirnya beragam pakar ini menunjukkan pendekatan holistik dalam menangani isu kekerasan, mulai dari aspek kesehatan, psikologis, hingga penanganan kasus.

Bidan Desa Lumbungrejo, Murviana Anisa Putri, menekankan pentingnya peran kader sebagai garda terdepan.

“Melalui pelatihan ini, kami berharap dapat membentuk jejaring perlindungan masyarakat yang solid. Kader dan perangkat desa diharapkan memiliki kapasitas untuk mencegah, mendeteksi, dan merespons awal kasus kekerasan terhadap kelompok rentan,” ujarnya.

Kamituwa Lumbungrejo, Suwanto, menyatakan komitmen pemerintah kalurahan.

“Kami berkomitmen untuk terus mengedukasi masyarakat dan memperkuat sistem perlindungan sosial. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan yang aman dan berkeadilan bagi seluruh warga, khususnya perempuan dan anak,” tegas Suwanto.

Kegiatan ini menyoroti faktor-faktor kerentanan kekerasan di wilayah tersebut, seperti budaya patriarki, tekanan ekonomi, dan rendahnya tingkat pendidikan. Materi yang diberikan mencakup pemaparan data kasus, jenis-jenis kekerasan, strategi pencegahan, dampak psikologis pada korban, serta mekanisme pelaporan dan perlindungan.

Inisiatif Lumbungrejo ini sejalan dengan upaya nasional untuk mendorong perlindungan berbasis komunitas. Diharapkan, para kader yang telah dilatih dapat menjadi agen perubahan yang menyebarkan pengetahuan dan kesadaran akan pencegahan kekerasan di tengah masyarakat. (Aiss/KIM Ceria Lumbungrejo)




PAUD di Sleman Kenalkan Mitigasi Bencana Lewat Kunjungan ke Museum Gunung Merapi

Sleman – Sebanyak 36 siswa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Pencarsari, Sardonoharjo, Ngaglik, Kabupaten Sleman, mengikuti kegiatan outing class ke Museum Gunung Merapi pada Jumat (19/9/2025). Kegiatan ini dirancang untuk memberikan pembelajaran kontekstual tentang gunung api dan mitigasi bencana kepada anak-anak sejak dini.

Kepala PAUD Pencarsari, Suharini, menyatakan bahwa kunjungan ini selaras dengan penerapan Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran berbasis proyek dan lingkungan.

“Lokasi kami yang dekat dengan Gunung Merapi menjadi alasan kuat untuk memperkenalkan anak-anak pada realita alam sekitarnya. Mereka tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga mengalami langsung melalui simulasi dan diorama,” ujarnya.

Suharini menambahkan, di era yang sarat dengan teknologi, anak-anak perlu diimbangi dengan pengalaman nyata untuk membangun pemahaman yang utuh.

“Anak-anak zaman now banyak berinteraksi dengan gawai. Oleh karena itu, kami hadirkan pembelajaran langsung agar mereka dapat mengenal, misalnya, seperti apa gunung berapi dan bagaimana sensasi ketika gempa terjadi. Hal ini penting untuk menciptakan memori dan pemahaman yang lebih konkret,” jelasnya.

Selama kunjungan, para peserta didik didampingi oleh guru dan edukator museum. Mereka antusias menjelajahi berbagai koleksi, termasuk sejarah erupsi Merapi, simulasi bencana, serta dokumentasi dampak letusan. Melalui kegiatan interaktif ini, diharapkan anak-anak dapat lebih memahami potensi bahaya dan manfaat dari keberadaan gunung api.

“Harapan kami, anak-anak tidak hanya tahu secara teori, tetapi juga mampu mengenali lingkungan dan potensi risikonya. Dengan demikian, kesadaran kebencanaan dapat tertanam sejak usia dini,” pungkas Suharini.

Kegiatan outing class ini merupakan bagian dari komitmen PAUD Pencarsari dalam mewujudkan proses belajar yang bermakna, kontekstual, dan berorientasi pada pengembangan kesiapsiagaan bencana bagi generasi muda. (Andy Ahmad/KIM DSN Ngaglik)




Kirim 34 Kafilah MTQ, Kapanewon Depok Siap Ukir Prestasi

Sleman – Panewu Depok, Djoko Muljanto, menegaskan bahwa Kafilah Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Kapanewon Depok Tahun 2025 harus menampilkan penampilan terbaik pada ajang MTQ Tingkat Kabupaten Sleman.

Hal itu disampaikan Djoko saat melepas 34 Kafilah MTQ di Gedung Sasana Anglocita Tama, Jum’at (19/9/2025). Ia menekankan pentingnya kesiapan mental, kesehatan, dan kekompakan sebagai modal utama meraih hasil maksimal.

“MTQ bukan hanya kompetisi, melainkan ruang untuk menunjukkan kualitas, kekompakan, serta keterampilan di setiap cabang yang diikuti. Saya berharap seluruh kafilah menampilkan yang terbaik demi mengharumkan nama Kapanewon Depok,” ujarnya.

 Ia juga menyampaikan bahwa dukungan penuh telah dipersiapkan, termasuk fasilitas transportasi. “Apabila diperlukan saat hari H, mobil dinas Panewu Depok siap digunakan untuk mendukung mobilitas kafilah,” tambahnya.

Lebih lanjut, Djoko memberikan pesan khusus agar para peserta menjaga kesehatan secara disiplin menjelang lomba. “Jangan minum es, jangan begadang, cukup istirahat, dan makan makanan bergizi. Jaga mental dan kesehatan agar bisa tampil maksimal,” pesannya.

Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Depok, Abu Hanifah, menegaskan bahwa MTQ bukan hanya arena kompetisi, melainkan juga wadah syiar Al-Qur’an yang harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

“KUA Depok mendukung penuh serta mendoakan agar Kafilah MTQ Kapanewon Depok mampu mengukir prestasi gemilang di tingkat kabupaten. Jangan lupa, MTQ ini adalah wahana syiar. Tampilkan yang terbaik, karena kalian adalah peserta terpilih dari seleksi ketat sebelumnya,” jelasnya.

Ia mengingatkan bahwa semangat MTQ bukanlah hal baru. “Generasi 70-an masih merasakan denyut MTQ yang dulu sering kita dengar melalui Himne MTQ yang diperdengarkan oleh RRI. Semangat itu harus kita hidupkan kembali lewat penampilan kafilah hari ini,” katanya.

Sementara Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Kapanewon Depok, Zaki Gufron, menegaskan bahwa 34 peserta yang dilepas merupakan kafilah terbaik hasil seleksi sebelumnya.

“Kami berharap kafilah ini bertanding secara maksimal dan optimal di setiap cabang lomba. Jangan lupa jaga kesehatan dan tetap solid sebagai satu tim,” ujarnya.

Menurutnya, pelepasan kafilah ini menjadi momentum penting dalam persiapan Kapanewon Depok menghadapi MTQ Tingkat Kabupaten Sleman. Dukungan dari pemerintah, KUA, dan LPTQ menunjukkan keseriusan dalam membina generasi Qur’ani yang tidak hanya berkompetisi, tetapi juga menyebarkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam masyarakat.

“Dengan doa, kerja keras, dan persiapan yang matang, Kafilah MTQ Kapanewon Depok diharapkan mampu meraih hasil terbaik serta membawa pulang prestasi gemilang,” tandas Zaki. (Athiful/KIM Depok)




Sleman Raih Gelar Juara Umum Ganda di PORDA dan PEPARDA DIY 2025, Atlet Diarak Keliling Kota

Sleman – Kabupaten Sleman kembali menorehkan prestasi gemilang dengan menjadi Juara Umum pada Pekan Olahraga Daerah (PORDA) dan Pekan Olahraga Penyandang Disabilitas (PEPARDA) DIY 2025. Untuk merayakan keberhasilan ini, Pemkab Sleman menggelar kirab atlet dan ofisial yang mengarak piala keliling Bumi Sembada pada Sabtu (20/9).

Kirab yang dilakukan menggunakan sepeda motor tersebut start dari Stadion Maguwoharjo dan finish di Pendopo Parasamya, melewati sejumlah kapanewon seperti Ngemplak, Cangkringan, dan Pakem. Kedua piala bergilir kemudian diserahkan secara simbolis oleh Ketua KONI dan Ketua NPC Sleman kepada Bupati Sleman, Harda Kiswaya.

Dalam sambutannya, Harda menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh atlet dan ofisial.

“Prestasi menyandingkan dua piala juara umum ini tidak mudah. Semangat juang atlet Sleman patut diacungi jempol,” ujarnya.

Pada PORDA DIY 2025, Sleman meraih juara umum untuk keempat kalinya secara berturut-turut dengan perolehan 170 emas, 178 perak, dan 203 perunggu. Sementara di PEPARDA, kontingen Sleman mengumpulkan 62 emas, 74 perak, dan 69 perunggu.

Harda berharap prestasi ini menjadi motivasi bagi atlet Sleman untuk terus berprestasi di kancah nasional dan internasional.

“Ini adalah bukti bahwa Sleman tidak hanya unggul dalam olahraga reguler, tetapi juga inklusif dalam olahraga disabilitas,” tandasnya.

Keberhasilan ini memperkuat posisi Sleman sebagai salah satu kabupaten dengan perkembangan olahraga terbaik di Indonesia.