Hadiri Pisah Sambut Kalapas II B Sleman, Bupati Sleman Ajak Semua Pihak Perkuat Sinergi dan Kolaborasi

Sleman – Bupati Sleman, Harda Kiswaya menghadiri acara pisah sambut Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) II B Kabupaten Sleman, Kamis (9/10) di Pendopo Parasamya malam.

Kalapas II B Sleman sebelumnya dipimpin oleh Kelik Sulistyanto, sedangkan posisi Kalapas II B Sleman selanjutnya akan dipimpin oleh Lamarta Surbakti.

Harda menyampaikan apresiasi setinggi-tinggi kepada Kelik Sulistyanto yang telah mengemban amanah sebagai Kepala Lapas Kelas II B Sleman yang selama ketugasannya menunjukkan dedikasi, integritas, dan komitmen tinggi dalam mengelola Lapas, khususnya dalam menciptakan suasana kondusif di Kabupaten Sleman.

“Selama masa kepemimpinan Bapak Kelik, sinergi dan kolaborasi antara Lapas Sleman dengan Pemkab Sleman khususnya dalam menjaga keamanan, ketertiban, serta menjalankan program pembinaan bagi Warga Binaan Pemasyarakatan, telah terjalin dengan sangat baik,” ujar Harda

Lebih lanjut, Harda menyampaikan selamat datang dan harapan kepada Kalapas II B Sleman yang baru yakni Lamarta Surbakti untuk selalu menjalin dan meningkatkan kolaborasi, sinergi dan kerja sama yang telah terjalin baik selama ini, tidak hanya dapat dilanjutkan, namun juga diperkuat dan semakin ditingkatkan.

“Tugas ini adalah tugas mulia yang membutuhkan sentuhan hati, kolaborasi antar instansi, dan dukungan penuh dari seluruh elemen masyarakat,” kata Harda

Di akhir sambutan, Harda berpesan bahwa pergantian pimpinan dalam sebuah organisasi, termasuk di jajaran Kementerian Hukum dan HAM, adalah sebuah keniscayaan, sebuah dinamika alamiah yang kita yakini sebagai bagian dari upaya peningkatan kinerja, penyegaran, dan pengembangan karir.

“Kepada seluruh jajaran pegawai Lapas Kelas II B Sleman, saya berpesan agar memberikan dukungan penuh kepada Kepala Lapas yang baru. Jadikan pergantian pimpinan ini sebagai momentum untuk memperbarui semangat kerja, meningkatkan profesionalisme, dan menjaga integritas institusi,” pungkas Harda

Mantan Kalapas II B Sleman, Kelik Sulistyanto menyampaikan permohonan apabila selama beliau bertugas terdapat khilaf maupun salah paham dalam bertutur dan bertindak. Ia juga mohon doa restu agar dapat menunaikan amanah dan tugas di tempat yang baru dengan baik.

Kemudian Kalapas II B Sleman yang baru, Lamarta Surbakti memohon dukungan untuk melanjutkan estafet dalam memajukan Lapas II B Sleman yang sudah dibangun dengan baik.




Bupati Sleman Dorong Sinergi Pemerintah dan Serikat Buruh Wujudkan Hubungan Industrial Harmonis

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat ekosistem ketenagakerjaan yang adil, insklusif, dan berkelanjutan. Hal tersebut disampaikan Bupati Sleman Harda Kiswaya dalam Forum Dialog Serikat Pekerja/Serikat Buruh bersama Bupati Sleman yang digelar kamis (9/10) di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman.

Dalam kegiatan tersebut, Bupati Sleman didampingi oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker), Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPKP), Kepala BPJS Ketenagakerjaan, perwakilan dari BPJS Kesehatan, Plt. Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) dan perwakilan dari OPD terkait. Kehadiran para pejabat ini menunjukkan sinergi lintas sektor dalam mendukung kesejahteraan pekerja dan iklim ketenagakerjaan yang kondusif di Sleman.
Dalam sambutannya, Bupati menyampaikan apresiasi kepada seluruh pekerja di Sleman atas konstribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Menurutnya, pembangunan daerah tidak akan berjalan tanpa peran dan kerja keras para buruh.

“Kami memandang serikat pekerja bukan sebagai oposisi, melainkan mitra strategis yang setara dalam mewujudkan keadilan sosial dan stabilitas industri,” Ujar Bupati.
Bupati menekankan pentingnya semangat musyawarah dan kekeluargaan dalam menyelesaikan perbedaan pandangan di dunia industri. Ia berharap setiap keputusan yang diambil dapat menjadi win-win solutions tanpa mengganggu stabilitas daerah maupun iklim investasi yang sudah kondusif.

“Stabilitas adalah kunci bagi keberlangsungan pekerjaan dan kesejahteraan kita semua,” tambahnya.

Pemerintah Kabupaten Sleman juga terus berupaya memperluas kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan bagi pekerja informal serta mengoptimalkan pelatihan vokasi dan sertifikasi kompetensi bagi tenaga kerja lokal.

Melalui forum ini, Bupati bersinergi dengan pemerintah, perusahaan, dan buruh untuk berdiskusi dan beraspirasi dalam merumuskan kebijakan ketenagakerjaan yang lebih adil, meningkatkan kesejahteraan pekerja, serta menjaga keharmonisan hubungan industrial di Kabupaten Sleman.

“Mari kita wujudkan Sleman yang maju, adil makmur, lestari, dan berkeadaban,” tutup Bupati dalam sambutannya.

Forum Dialog Serikat Pekerja/Serikat Buruh ini dihadiri 55 perwakilan Pengurus Unit Kerja Serikat Pekerja/Serikat Buruh dan afiliasi yg ada di kabupaten Sleman.




Kunjungi Sleman, Titiek Soeharto Dukung Akselerasi Hilirasi Produk Olahan Susu

Sleman – Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto atau lebih dikenal Titiek Soeharto, melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Sleman pada Kamis (9/10). Salah satunya, menghadiri kegiatan bimbingan teknis akselerasi ekspor hilirasi produk olahan susu di Bumi Naraya Farm, Girikerto Turi Sleman.

Kunjungan ini merupakan upaya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui akselerasi ekspor produk olahan susu khususnya di Kabupaten Sleman.

Dalam kunjungan ini, Titiek Soeharto didampingi oleh Bupati Sleman Harda Kiswaya, serta perwakilan Dinas Pertanian, Peternakan dan Perikanan Kabupaten Sleman, dan sejumlah petani dan peternak olahan susu kambing.

Dalam sambutannya, Titiek Soeharto mengatakan bahwa Pemerintah terus melakukan upaya besar untuk memperkuat daya saing produk pertanian, perikanan, dan peternakan di pasar global. Salah satunya, melalui akselerasi hilirasi termasuk di Jogja yang memiliki potensi besar.

Ia juga mengungkapkan dalam menghadapi era perdagangan bebas dan digitalisasi saat ini, terdapat peluang besar yang harus dimanfaatkan bersama.

“Pelaku usaha dituntut untuk memiliki pengetahuan dan kemampuan ekspor yang kuat, yang mencakup pemenuhan standar mutu, pengemasan, perizinan, hingga sertifikasi internasional,” ungkapnya.

Bimbingan teknis ini menurutnya menjadi jawaban atas tantangan yang dihadapi para pelaku usaha juga para petani dan peternak khususnya di wilayah Sleman.

“Komisi IV DPR RI terus mendorong agar kegiatan semacam ini diperluas dan berlanjutan. Tujuannya adalah agar para petani, peternak, nelayan, dan pelaku UMKM tidak hanya mampu memproduksi, tetapi juga siap berdagang dan berdaya saing secara global,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Sleman Harda Kiswaya mengatakan bahwa kunjungan yang dilakukan oleh Ketua Komisi IV DPR RI beserta jajarannya memberikan kesempatan Pemkab Sleman untuk berdiskusi mengenai upaya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui akselerasi ekspor produk olahan susu khususnya di Kabupaten Sleman.

Terlebih, Harda menyebut Kabupaten Sleman merupakan daerah yang memiliki potensi besar dalam pengembangan pertanian dan peternakan.

Dalam mendukung potensi tersebut, Harda juga menjelaskan bahwa Pemkab Sleman melalui Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan melakukan peningkatan kompetensi peternak melalui pelatihan teknis maupun manajerial. Hal tersebut dilakukan untuk mendorong pemasaran hasil produksi peternakan sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan peternak.

Selain itu, dalam kesempatan tersebut juga dilakukan seremonial pelepasan ekspor salak dan peletakan batu pertama pembangunan gedung produksi olahan susu oleh Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto didampingi Bupati Sleman Harda Kiswaya.




Badan Kesbangpol Kabupaten Belitung Kunjungi Pasar Bela Negara Sleman

Sleman – Pasar Bela Negara yang digelar oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Sleman pada Jumat (10/10/2025) mendapat kunjungan istimewa dari Badan Kesbangpol Kabupaten Belitung. Rombongan dari Belitung hadir dalam formasi lengkap, terdiri dari Kepala Badan, Sekretaris, serta para Kepala Bidang dan pejabat terkait.

Kunjungan tersebut menjadi ajang berbagi pengalaman dan inspirasi dalam upaya menumbuhkan semangat nasionalisme di masyarakat melalui kegiatan ekonomi kerakyatan. Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten Belitung, Robert Harison, dalam sesi talk show yang dipandu oleh Bobby Tinampi dan Lina Syafira, mengungkapkan rasa kagumnya terhadap Kabupaten Sleman.

“Di Sleman ini istimewa sekali, satu-satunya kabupaten di Indonesia yang memiliki banyak perguruan tinggi dengan kualitas yang sudah mendunia. Dari situlah indeks pembangunan manusianya meningkat. Kami datang ke sini untuk belajar dan menimba pengalaman,” ujar Robert Harison.

Rombongan dari Belitung juga mengaku terkesan dengan konsep Pasar Bela Negara yang memadukan kegiatan ekonomi, budaya, dan edukasi kebangsaan. Mereka disuguhi beragam kuliner tradisional lokal yang sebagian besar belum pernah mereka temui sebelumnya.

 “Ini luar biasa. Jarang sekali kami menemukan pasar seperti ini, di mana pengunjung bisa berinteraksi langsung dengan pelaku usaha dan produsen lokal,” imbuh salah satu pejabat dari Kesbangpol Belitung.

Sementara itu, Kader Bela Negara dari Kesbangpol Sleman, Sunardi menjelaskan bahwa Pasar Bela Negara tidak sekadar menjadi ruang transaksi jual beli, melainkan juga sarana pembinaan nilai-nilai kebangsaan.

 “Melalui Pasar Bela Negara ini, kami ingin menumbuhkan cinta tanah air dengan mencintai produk lokal. Ini menjadi media sosialisasi bela negara secara nyata,” terang Sunardi.

Ia menambahkan, nilai-nilai bela negara tidak hanya mencakup kesiapan fisik, tetapi juga semangat setia kepada bangsa dan negara, menjunjung ideologi Pancasila, serta rela berkorban demi kepentingan nasional.

Ke depan, Kesbangpol Sleman berencana mengembangkan kegiatan outbound Bela Negara yang melibatkan pelajar, sekaligus memperkenalkan baris-berbaris (PBB) sebagai bagian dari pembentukan karakter nasionalis dan patriotis.

“Setelah kami mengikuti diklat Bela Negara di Kementerian Pertahanan RI, kami ingin menghadirkan aksi nyata di tengah masyarakat. Pasar Bela Negara ini adalah salah satu bentuk aktualisasi dari semangat itu,” tutup Sunardi.

Kesuksesan penyelenggaraan Pasar Bela Negara ini juga tak lepas dari dukungan Carya Budhi Chantya, lembaga yang selama ini menjadi mitra aktif dan konsisten membantu pelaksanaan kegiatan. Melalui kolaborasi ini, Kesbangpol Sleman mampu menghadirkan program yang tidak hanya edukatif dan inspiratif, tetapi juga berdampak langsung bagi masyarakat.

Kegiatan Pasar Bela Negara kini menjadi salah satu inovasi unggulan Kesbangpol Sleman dalam menginternalisasikan nilai-nilai bela negara secara kreatif dan membumi di tengah kehidupan sosial warga. (Andy Ahmad – KIM DSN NGAGLIK)




Harmoni Terencana Sanggar Widya Pramana Banyuraden Jelang Pementasan

Sleman – Persiapan matang diperlukan para Cantrik Sanggar Budaya Widya Pramana Banyuraden sebelum menggelar pertunjukan seni dalam festival The Local Market di Urban Forest Cipete, Jakarta Selatan yang akan dihelat bulan November 2025.

Gladi karawitan yang dipimpin oleh Dalang Muda, Ki Damar Asmoro Sejati berlangsung di Pendhapa Kekandhangan Banyuraden, Gamping, Sleman, Kamis malam (9/10/2025). Mereka akan menampilkan seni tradisional dan kontemporer yang menggambarkan kekayaan budaya lokal. Diantaranya tarian daerah, musik tradisional, serta pagelaran wayang kulit yang disuguhkan dengan fokus pada pelestarian budaya nusantara, sekaligus melibatkan interaksi penonton melalui workshop singkat.

Menurut Ki Damar pertunjukan di The Local Market menjadi ajang merayakan dan mengenalkan budaya lokal kepada generasi muda, serta memberikan ruang bagi seniman lokal untuk tampil dalam skala lebih luas.

“Pementasan yang kesekian kalinya ini juga merupakan perwujudan dari komitmen Sanggar Budaya Widya Pramana dalam melestarikan budaya adiluhung secara mandiri dan bertanggung jawab,” ungkapnya.

Selain itu, gelaran tersebut bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan ajang memperkenalkan kekayaan budaya Jawa kepada publik urban yang semakin haus akan pengalaman lokal yang autentik. Karenanya, bagi Sanggar Widya Pramana setiap detail latihan mulai dari pemilihan gending hingga tata busana dan tata panggung disusun dengan penuh perhitungan. Mereka sadar, tampil di ruang publik metropolitan membutuhkan kesiapan teknis sekaligus kesiapan mental agar pesan budaya yang disampaikan benar-benar berkesan.

Senada hal tersebut, Aryo Tejo selaku Ketua Sanggar Widya Pramana mengatakan bahwa setiap pementasan harus membawa ruh kesenian yang hidup, bukan sekadar formalitas. Pihaknya ingin menunjukkan bahwa karawitan bukan seni yang kuno atau statis, namun seni yang tumbuh dan dapat berdialog dengan zaman.

“Latihan yang kami lakukan bukan hanya untuk menjaga tempo dan harmoni, tapi juga untuk mengasah rasa musikal dan kebersamaan antar cantrik,” tandasnya.

Sanggar Widya Pramana yang telah teregistrasi sejak 11 Maret 2019 di Kundha Kabudayan Sleman dengan nomor registrasi menyiapkan format pementasan yang interaktif, memungkinkan pengunjung menikmati karawitan secara langsung sekaligus memahami maknanya. Beberapa sesi bahkan dirancang agar pengunjung festival bisa mencoba memainkan alat musik tradisional guna menjembatani interaksi antara seniman dan masyarakat.

Aryo menekankan, persiapan matang ini menjadi sarana pembelajaran bagi generasi muda anggota sanggar. Sebagian di antara mereka ada yang baru pertama kali tampil di luar daerah, apalagi di kota besar seperti Jakarta. Melalui proses latihan dan koordinasi yang intensif, para cantrik belajar disiplin, bertanggung jawab, serta memahami pentingnya menjaga nama baik sanggar dan daerah asalnya.

Di tangan Sanggar Widya Pramana, persiapan bukan sekadar rutinitas menjelang pentas, melainkan wujud penghormatan terhadap tradisi yang diwariskan turun-temurun. Di tengah rimbunnya Urban Forest Cipete, denting gamelan akan berpadu dengan gemericik kehidupan urban dan menghadirkan pesan sederhana namun mendalam bahwa kebudayaan hidup karena dirawat dengan kesungguhan dan cinta. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)