Guru Besar UGM Dorong Penguatan Nilai Toleransi di Lingkungan Pendidikan

Sleman – Dalam kehidupan berbangsa yang majemuk seperti Indonesia, kerukunan bukanlah sesuatu yang datang begitu saja. Ia tumbuh dari kesadaran, dialog, dan saling pengertian yang terus dipupuk.
Di tengah dinamika sosial yang kian kompleks, upaya menanamkan nilai-nilai kerukunan sejak dini menjadi semakin penting, terutama di lingkungan pendidikan yang melahirkan generasi masa depan bangsa.
Nilai-nilai itu ditekankan Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM), Amir Husni, dalam kegiatan “FKUB Sapa Pelajar SMK Negeri 2 Depok Sleman”, pada Kamis (23/10/2025).
Dalam forum yang diikuti para siswa dan guru itu, anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Sleman tersebut mengajak para pelajar memahami makna sejati dari kerukunan dan peran penting setiap individu dalam menjaganya.
Amir menegaskan bahwa FKUB merupakan singkatan dari Forum “Kerukunan” Umat Beragama, bukan Forum “Komunikasi” Umat Beragama.
“Perbedaan istilah itu penting, karena yang ingin kita bangun bukan sekadar komunikasi, tetapi kerukunan yang bermakna, yaitu hubungan yang dilandasi toleransi, saling menghormati, dan kerjasama antarumat beragama,” ujarnya.
Ia menambahkan, bahwa kerukunan adalah wujud nyata dari nilai Pancasila dan UUD 1945 dalam kehidupan masyarakat yang plural.
Dalam pemaparannya, Amir juga menjelaskan peran strategis FKUB Sleman yang tidak hanya berdialog dengan pemuka agama, tetapi juga menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat dalam bentuk rekomendasi kepada Bupati Sleman.
“Semua itu dilakukan untuk memastikan kebijakan daerah tetap berpihak pada semangat kebersamaan dan keadilan antarumat beragama,” tambahnya.
Lebih jauh, Amir menyinggung peran penting Panewu di setiap Kapanewon. Menurutnya, Panewu memiliki tanggung jawab dalam memelihara ketenteraman dan ketertiban umum, termasuk memfasilitasi terwujudnya kerukunan umat beragama.
“Panewu menjadi garda depan dalam menumbuhkan keharmonisan, saling pengertian, dan saling percaya di tingkat masyarakat,” jelasnya.
Menutup paparannya, Amir Husni berpesan agar SMK Negeri 2 Depok Sleman bisa menjadi teladan dalam merawat kerukunan.
Ia mendorong sekolah untuk mengembangkan kurikulum yang inklusif, mengadakan kegiatan yang menumbuhkan empati dan kerja sama lintas perbedaan, serta membangun kepemimpinan yang menghargai keberagaman.
“Kerukunan bukan hanya tanggung jawab tokoh agama atau pemerintah, tapi juga para pelajar yang akan menjadi pemimpin masa depan,” katanya.
Melalui semangat itu, FKUB Sleman ingin memastikan bahwa benih-benih kerukunan tumbuh subur sejak di ruang kelas, karena dari sanalah Indonesia yang damai dan berkeadaban dimulai. (Athiful/KIM Depok)



