UGM dan Kalurahan Caturtunggal Kolaborasi Wujudkan Ketahanan Pangan Melalui Rerasan Pangan

Sleman — Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Pemerintah Kalurahan Caturtunggal menggelar kegiatan rerasan pangan di Pendopo Puspadenta Kalurahan Caturtunggal, Rabu (8/10/2025).

Kegiatan ini dihadiri oleh Sekretaris Universitas Gadjah Mada, Andi Sandi Antonius Tabusassa Tonralipu, para dosen, PJ Lurah Caturtunggal, dukuh se-Kalurahan Caturtunggal, BPKal kelompok wanita tani (KWT), LKK, dan perwakilan masyarakat.

Kegiatan rerasan pangan merupakan tindak lanjut dari surat kerja sama UGM dengan Pemerintah Kalurahan Caturtunggal sebagai bentuk implementasi tridharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

 Melalui kegiatan ini, UGM memperkenalkan inovasi pertanian terbaru berupa varietas padi Gamagora (Gadjah Mada Gogo Rancang). Varietas unggul ketujuh hasil penelitian UGM yang mampu tumbuh di lahan basah maupun kering, tahan hama, serta memiliki waktu panen yang lebih cepat.

Dalam sambutannya, Pj. Lurah Caturtunggal, Feri Ferdian menyampaikan harapan agar kegiatan ini menjadi pintu kolaborasi yang lebih erat antara UGM dan masyarakat Kalurahan Caturtunggal.

“Kalurahan memiliki kewajiban mengalokasikan 20 persen dana desa untuk ketahanan pangan. Dengan pendampingan dari UGM, dana ini bisa benar-benar dimanfaatkan untuk meningkatkan ketahanan pangan dan menurunkan angka stunting. Kami juga berharap hadirnya UGM dapat menumbuhkan semangat anak muda untuk menjadi petani milenial,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Universitas Gadjah Mada, Andi Sandi Antonius Tabusassa Tonralipu menegaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah agar ilmu pengetahuan tidak hanya berhenti di ranah akademik.

“Kami ingin ilmu yang dihasilkan dari kampus bisa diketahui, digunakan, dan memberi dampak nyata bagi masyarakat,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, UGM juga bekerja sama dengan BUMN Agrinas untuk mengembangkan padi Gamagora di berbagai wilayah. Selain isu pangan, UGM turut menyoroti pentingnya pengelolaan sampah yang baik sebagai bagian dari ekosistem pertanian berkelanjutan.

Salah satu dosen UGM dan tim peneliti, Adrianto Ansari menjelaskan bahwa Gamagora merupakan hasil persilangan varietas padi unggul raja lele dengan ketahanan tinggi terhadap perubahan cuaca dan hama.

“Ketahanan pangan bukan hanya soal ketersediaan, tapi juga keamanan. Di tengah isu beras impor, kita perlu memperkuat kemampuan lahan lokal yang memang potensial,” ungkapnya.

Menutup acara, salah satu perwakilan peneliti muda UGM, Rizki Kirana menambahkan pesan reflektif, “Tanah tidak akan hidup jika tidak ditinggali, dan ilmu tidak akan tumbuh bila tidak bersentuhan dengan masyarakat,” ungkap Rizki.

Kegiatan rerasan pangan diharapkan menjadi langkah awal menuju kolaborasi berkelanjutan antara akademisi dan masyarakat dalam mewujudkan kemandirian pangan serta kesejahteraan warga Kalurahan Caturtunggal. (Oktaviana / KIM Depok)




Kelompok Jaga Warga Condongcatur Dikukuhkan: Bupati Sleman Bangga dan Beri Apresiasi

 Sleman – Sebanyak 18 Kelompok Jaga warga tingkat Padukuhan di Kalurahan Condongcatur resmi dikukuhkan oleh Lurah Condongcatur, pada Rabu (8/10/2025), di Pendopo Kalurahan Condongcatur.

Acara ini dihadiri Bupati Sleman, Kepala Satpol PP DIY, Kepala Satpol PP Sleman, Kepala Dinas PMK Sleman, Panewu Depok dan jajaranya, Danramil 11 Depok, Kapolsek Depok Timur, Lurah Condongcatur beserta jajaranya, BPKal Condongcatur dan Ketua LKK Condongcatur.

Pengukuhan ini merupakan realisasi dari Peraturan Gubernur (Pergub) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 41 Tahun 2023 tentang Kelompok Jaga Warga dan Omah Jaga Warga.

Disaksikan para tamu undangan, Lurah Condongcatur membacakan naskah pengukuhan Kelompok Jaga Warga Padukuhan se-Kalurahan Condongcatur, dan secara simbolis menyerahan SK Lurah, Buku Saku Jaga Warga, dan ATK, kepada 18 Jaga Warga Padukuhan.

Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji melaporkan bahwa dari 18 padukuhan di Kalurahan Condongcatur sudah terbentuk Kelompok Jaga Warga, yang setiap kelompoknya beranggotakan 25 orang. Hari ini, Kelompok Jaga Warga tersebut dikukuhkan berdasarkan SK Lurah Condongcatur nomor 116/ tentang Pembentukan Pengurus Kelompok Jaga Warga tingkat Padukuhan Kalurahan Condongcatur periode 2025 – 2028.

“Kedepan seluruh Kelompok Jaga Warga Padukuhan akan mendapatkan pembinaan dari Satpol PP DIY dan Satpol PP Kabupaten Sleman yang dikoordinasikan oleh Jagabaya Kalurahan Condongcatur, karena telah menjadi lembaga resmi baru. Mulai tahun 2026, Pemerintah Kalurahan Condongcatur akan mengalokasikan anggaran melalui APBKal sebagai bantuan stimulan operasional kegiatan Jaga Warga. Semoga semangat Jaga Warga menjadi kekuatan bersama untuk menjaga keamanan, ketertiban, dan keharmonisan masyarakat Condongcatur yang guyub rukun,” ujarnya.

Bupati Sleman, Harda Kiswaya pada kesempatan itu mengatakan, Jaga Warga diharapkan bukan sekedar formalitas sebagai realisasi Pergub DIY. Namun para pengurus Jaga Warga dapat mengaplikasikannya dengan menumbuhkan nilai luhur yang ada di masyarakat dan mengoptimalkan pranata sosial.

“Ada ungkapan peribahasa jawa ‘Rukun Agawe Santosa, Crah Agawe Bubrah’. Sebuah  makna agar kita berusaha menciptakan kedamaian dan kerukunan dalam hidup bermasyarakat, dan budaya Jawa sangat menekankan kerukunan, bahkan kerukunan sebagai ciri dan kekhasan orang Jawa. Maka Kelompok Jaga Warga ini dapat mengambil dan menerapkan filosofis tersebut dalam menjalankan peranya dimasyarakat,” tuturnya.

Ia pada saat terjadi Aksi Masa Demontrasi besar di Mapolda DIY beberapa waktu sangat terlihat peran dari Jaga Warga khususnya Jaga Condongcatur yang ikut hadir dan mengawal Gubernur DIY, Sri Sultan HB X saat menemui para demonstran.

“Saya sanggat bangga dan mengapreasi teman teman Jaga Warga Condongcatur yang bersama-sama petugas keamanan ikut mengawal dan berperan dalam menenangkan massa yang sangat banyak dalam situasi yang sedang memanas. Saat itu saya bahkan didampingi dan kawal oleh jaga warga saat akan kembali masuk Mapolda,” kata Harda.

“Di tenggah kerumunan massa dan terbukti para demontran sangat menghormati keberadaan kelompok jaga warga ini. Mari kita jaga Sleman yang kita cintai ini jangan sampai terjadi konfik sosial. Kelompok jaga warga diharapkan dapat terus menumbuhkan kebersamaan dan gotong royong antar warga,” pungkasnya

Sementara itu Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DIY, Bagas Senoadji menyampaikan tujuan Kelompok Jaga Warga sesuai Pergub DIY Nomor 41 tahun 2023 adalah untuk membangun daerah yang berbasis keistimewaan dan menguatkan rasa persatuan dan kesatuan.

Kemudian mewujudkan keamanan dan ketertiban, mewujudkan keamanan, ketertiban umum, ketenteraman, dan kesejahteraan masyarakat dan menumbuhkan kembali nilai luhur yang ada di masyarakat, serta mendukung keistimewaan Yogyakarta dengan mengedepankan prakarsa masyarakat yang didukung dengan koordinasi dan kolaborasi pemerintah daerah dengan para pemangku kepentingan.

“Dalam implementasinya, Jaga Warga berfungsi sebagai relawan masyarakat yang dibentuk di setiap padukuhan untuk mendukung keamanan, ketentraman, ketertiban, dan kesejahteraan masyarakat dengan mengoptimalkan pranata sosial yang sudah ada di masyarakat untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Sehingga Jaga Warga diharapkan dapat mendukung terciptanya ketentraman dan ketertiban umum di tengah kehidupan bermasyarakat,” jelas Bagas.

Acara kemudian ditutup dengan sesi foto bersama. Masing-masing Kelompok Jaga Warga didampingi bapak dan ibu dukuhnya. (Wasana / KIM Depok)




Tegakkan Peraturan Bupati Sleman Nomor 50 Tahun 2024, Kapanewon Tempel Gelar Penertiban Reklame Ilegal

Sleman – Dalam rangka menegakkan Peraturan Bupati Sleman Nomor 50 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Reklame, Pemerintah Kapanewon Tempel bersama Satpol PP Kabupaten Sleman, dan Pemerintah Kalurahan Merdikorejo melaksanakan kegiatan penertiban reklame ilegal di wilayah Kapanewon Tempel, pada Kamis (9/10/2025).

Penertiban ini menyasar berbagai jenis reklame, mulai dari spanduk, baliho, hingga banner komersial yang dipasang tanpa izin atau melanggar ketentuan lokasi dan masa berlaku. Beberapa titik strategis seperti Jalan Magelang–Yogyakarta, area sekitar Pasar Tempel, dan Kalurahan Merdikorejo menjadi fokus utama kegiatan tersebut.

Panewu Tempel, Dakiri menjelaskan bahwa kegiatan itu merupakan bentuk nyata komitmen pemerintah dalam menjaga ketertiban umum, serta memperindah wajah kawasan Tempel.

“Kami menindak reklame yang tidak sesuai dengan ketentuan Perbup Nomor 50 Tahun 2024. Penertiban ini tidak hanya untuk menegakkan aturan, tetapi juga untuk menjaga ketertiban, keamanan, dan keindahan lingkungan,” ujarnya.

Dari hasil kegiatan, puluhan reklame ilegal berhasil diturunkan. Sebagian di antaranya sudah rusak dan membahayakan pengguna jalan.

Perwakilan Satpol PP Kabupaten Sleman, Sigit Prasetyo menegaskan bahwa pihaknya mendukung penuh langkah Kapanewon Tempel dalam menertibkan reklame tanpa izin.

“Kami selalu siap berkolaborasi dengan pemerintah kapanewon. Reklame yang melanggar ketentuan tidak hanya menyalahi aturan, tetapi juga dapat mengganggu keselamatan dan estetika kota. Kami harap pelaku usaha lebih tertib dan mengurus perizinan sesuai prosedur,” jelasnya.

Sementara itu, Lurah Merdikorejo, Agus Prasetyo mengapresiasi langkah tegas pemerintah kapanewon.

“Kami di tingkat kalurahan siap mendukung kegiatan ini. Selain menjaga kerapian lingkungan, penertiban juga menumbuhkan kesadaran masyarakat agar lebih tertib dan menghormati aturan yang berlaku,” tutur Agus.

Kegiatan penertiban ini rencananya akan dilaksanakan secara berkelanjutan dan menyeluruh di seluruh wilayah Kapanewon Tempel. Pemerintah mengimbau kepada seluruh pelaku usaha dan masyarakat agar memasang reklame sesuai ketentuan izin dan lokasi yang ditetapkan.

“Kami berharap masyarakat ikut berperan menjaga keindahan dan ketertiban lingkungan dengan tidak memasang reklame sembarangan,” pungkas Panewu Tempel, Dakiri.

“Mari bersama wujudkan Tempel yang indah, tertib, dan beretika dalam beriklan. Cerdas Pasang Reklame, Taat Aturan, untuk Indahkan Tempel,” tegasnya. (SBD / KIM Tempel)




Peringati Hari Tani Nasional, Gapoktan Makaryo Lakukan Gerakan Tanam Pohon Kelapa

Sleman – Gabungan Kelompok Tani Manungaling Kelompok Tani Argomulyo atau yang biasa disebut Gapoktan Makaryo, melaksanakan kegiatan gerakan tanam pohon kelapa, pada Rabu (9/10/2025). Kegiatan ini berlangsung di Padukuhan Gadingan, Kalurahan Argomulyo, Kapanewon Cangkringan.

Gerakan tersebut didukung oleh Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman, dengan memberikan bantuan bibit kelapa sebanyak 500 batang kepada 25 kelompok Tani se-Kaluraha Argomulyo.

Adapun tamu yang hadir yaitu Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, Panewu Cangkringan, Perwakilan Kapolsek, Koramil Cangkringan, Lurah beserta Pamong Kalurahan Argomulyo, Pengurus Kelompok Tani se-Kalurahan Argomulyo, BPKal, dan tokoh masyarakat.

Lurah Argomulyo, Danang Hendri Bintoro memberikan sambutan ucapan selamat datang dan terima kasih kepada seluruh tamu undangan yang sudah hadir. Ia menyampaikan bahwa sebelum terkena dampak erupsi merapi 2010, Kawasan Gadingan merupakan penghasil kelapa yang cukup banyak.

“Tidak hanya dipanen dalam bentuk buah kelapa tua, kelapa muda, namun juga ada warga yang memanen dalam bentuk nira serta mengolah menjadi gula merah. Harapan Pemerintah Kalurahan Argomulyo semoga dengan gerakan ini populasi pohon kelapa di Argomulyo bisa meningkat lagi, bisa menghidupkan lahan kosong yang belum termanfaatkan serta memberikan tambahan penghasilan bagi warga,” ujarnya.

Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, Susmiarto mengatakan dengan penanaman bibit kelapa ini akan sangat berguna dalam hal meghijaukan kawasan terdampak erupsi yang sampai saat ini belum tergarap.

“Dengan menanam pohon kita sudah ikut bersedakah kepada masyarakat luas dengan ketersediaan udara bersih, serta tabungan ketersediaa air bersih demi masa depan. Semoga tanaman kelapa ini nantinya bisa bertumbuh dengan baik dan memberikan anfaat yang luas bagi warga masyarakat,” kata Susmiarto.

Kegiatan selanjutnya yaitu penanaman secara simbolis dengan tujuh bibit kelapa oleh Sekretaris Daerah, Panewu Cangkringan, Lurah Argomulyo, Kepala Dinas Pertanian Pangan Dan Perikanan, kepala UPT BP4 Wil 6, PPL Argomulyo, dan Koramil Cangkringan. (Marmansyah / Kim Wara Aji Cangkringan)




Keluarga Peduli, Jiwa Pulih: Mahasiswa Psikologi Universitas Mercu Buana dan Warga Tempel Belajar Bareng Penyakit Kejiwaan

Sleman – Dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental, mahasiswa Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta bekerja sama dengan tokoh masyarakat Pondokrejo, Kapanewon Tempel menggelar kegiatan belajar bareng tentang penyakit kejiwaan, pada Rabu (8/10/2025). Kegiatan yang mengusung tema ‘Keluarga Peduli, Jiwa Pulih’ itu berlangsung di Balai Padukuhan Glagah Ombo, Kalurahan Pondokrejo, Kapanewon Tempel.

Acara ini diikuti oleh puluhan warga dari berbagai kalangan, mulai dari perangkat kalurahan, kader kesehatan, hingga perwakilan karang taruna. Program tersebut berlangsung hangat dan interaktif, dengan menghadirkan para mahasiswa psikologi sebagai narasumber sekaligus fasilitator dalam sesi diskusi dan simulasi edukatif.

Dalam sambutannya, Panewu Tempel, Dakiri menyampaikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa yang peduli terhadap isu kejiwaan di masyarakat. “Kesehatan mental sering kali terabaikan, padahal dampaknya sangat luas. Kegiatan seperti ini menjadi penting agar keluarga memahami tanda-tanda gangguan kejiwaan dan mampu memberikan dukungan yang tepat,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan mahasiswa Psikologi Universitas Mercu Buana, Rizky Amalia menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari pengabdian masyarakat dan penelitian kampus dalam bidang psikologi klinis.

“Kami ingin mengajak masyarakat memahami bahwa gangguan kejiwaan bukan aib, melainkan kondisi yang bisa diobati dan dipulihkan dengan dukungan keluarga dan lingkungan,” terangnya.

Acara diisi dengan berbagai kegiatan menarik seperti penyuluhan interaktif, role play tentang penanganan awal gangguan kecemasan dan depresi, serta sesi tanya jawab terbuka antara peserta dengan mahasiswa. Para peserta tampak antusias menyampaikan berbagai pengalaman dan pertanyaan seputar kesehatan mental yang sering dijumpai di lingkungan mereka.

Salah satu tokoh masyarakat setempat, Basyori menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini sangat bermanfaat untuk mengurangi stigma negatif terhadap penderita gangguan jiwa.

“Sering kali orang dengan gangguan kejiwaan justru dijauhi. Padahal mereka butuh dukungan kita. Dengan ilmu yang dibagikan mahasiswa, masyarakat jadi lebih paham cara menyikapi,” ujarnya.

Di akhir kegiatan, para peserta diajak membuat komitmen bersama untuk menjadi keluarga peduli kesehatan mental di lingkungannya masing-masing. Para mahasiswa juga membagikan booklet edukatif berisi informasi mengenai tanda-tanda gangguan kejiwaan dan langkah-langkah penanganan awal sebelum mendapatkan pertolongan profesional.

Kegiatan ini pun diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk membangun masyarakat yang lebih peduli, empatik, dan sadar pentingnya kesehatan jiwa. (SBD / KIM Tempel)