Peresmian GOR Kalurahan Margodadi, Fasilitas Baru untuk Masyarakat yang Lebih Sehat dan Aktif

Sleman – Pemerintah Kalurahan Margodadi Kapanewon Seyegan resmi membuka Gedung Olahraga (GOR) bagi warga, dalam rangka mendukung kegiatan olahraga, seni, dan kegiatan sosial masyarakat.

Acara yang diselenggarakan pada Selasa (7/10/2025) ini dihadiri oleh Panewu Seyegan dan jajarannya, Kapolsek Seyegan, Kepala KUA Seyegan, Lurah se-Kapanewon Seyegan, Babinsa/Babinkamtibmas, Ketua KONI Kapanewon Seyegan, BPKal Margodadi, LKK Margodadi, lurah, tokoh masyarakat, dan warga setempat.

Peresmian ditandai dengan pemukulan gong oleh Lurah Margodadi, Djalmo Susilodiprojo didampingi sejumlah tamu undangan. GOR yang baru diresmikan itu diberi nama “Sasana Krida Prodjo”.

Dalam sambutannya, Djalmo menyampaikan bahwa pembangunan GOR ini merupakan salah satu bentuk komitmen kalurahan dalam meningkatkan kualitas hidup warga melalui penyediaan fasilitas umum yang layak dan representatif.

“GOR ini dibangun atas kerja sama pemerintah kalurahan, lembaga masyarakat dan pamong yang lain,” ujarnya.

GOR tersebut dibangun diatas tanah seluas 25 meter kali 40 meter, dengan menelan biaya 3 milyar rupiah. Selain bangunan utama yang berbentuk “dome”, GOR sendiri dilengkapi dengan ruang ganti, toilet, Gudang, fasilitas lapangan voli dan bulutangkis. Tempat parkir sementara ini menggunakan lapangan yang berdekatan dengan GOR. Sebelumnya, GOR Sasana Krida Prodjo ini sudah diuji coba dengan melangsungkan kegiatan Porkal beberapa waktu lalu.

 “Dengan hadirnya GOR ini, kami berharap masyarakat bisa lebih aktif dalam berolahraga, menjaga kesehatan, serta menjadikannya sebagai pusat kegiatan yang positif dan membangun semangat kebersamaan,” ujar Djalmo.

Sebelumnya Panewu Seyegan, Agung Indarta dalam sambutannya menyampaikan dengan GOR yang baru ini dapat meningkatkan prestasi olah raga warga Margodadi.

“GOR sendiri dapat dimanfaatkan oleh masyarakat umum sekaligus menaikkan PAD kalurahan. Sedangkan gamelan sebagai sarana seni budaya dapat meningkatkan potensi Margodadi dalam banyak kegiatan,” ujar Agung.

Sementara itu, Ketua BPKal Margodadi, Ngadiyono berpesan bahwa GOR sendiri sudah lama direncanakan dan sekarang sudah bisa digunakan untuk itu bisa dirawat sebaik baiknya.

“Dengan adanya GOR kalurahan ini, diharapkan tidak hanya meningkatkan kesehatan jasmani masyarakat. Tetapi juga menjadi pusat interaksi sosial dan pengembangan potensi generasi muda,” ujar Ngadiyono. (Sutarto Agus/KIM Seyegan).




Perkuat Tata Kelola Koperasi Simpan Pinjam, Puskopsyah Formes SKD Sleman Studi Banding ke Wonosobo

Sleman – Dalam rangka menguatkan tata kelola koperasi simpan pinjam dan pembiayaan syariah, Puskopsyah Formes SKD Sleman melaksanakan studi banding ke BMT Tamzis Bina Utama di Wonosobo, pada Selasa (7/10/2025).

Rombongan yang berjumlah 38 orang itu, terdiri dari pengurus, pengawas manajemen dan dewan pengawas syariah, serta perwakilan dari BMT-BMT anggota Puskopsyah Formes SKD Sleman.

Ketua Pengurus KSPPS Puskopsyah Formes SKD, Bambang Susanto dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kesediaan BMT Tamzis menerima kunjungan tersebut. “Tujuan utama kami adalah ngangsu kaweruh (mendengarkan ilmunya), belajar dari praktik terbaik BMT Tamzis yang sudah dikenal luas dan memiliki banyak cabang, termasuk di Yogyakarta,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Pengurus BMT Tamzis Bina Utama, Saat Suharto menegaskan bahwa hubungan BMT Tamzis dan Puskopsyah Formes sudah terjalin lama.

“Pada 2006, kami pernah mewakafkan sistem informasi kepada Formes, yang kini menjadi dasar pengembangan layanan digital mereka,” jelas Suharto.

Ia menekankan pentingnya kesederhanaan dan efisiensi dalam bekerja. “Gedung kami lima lantai, tapi tidak pakai lift. Untuk urusan kerja, kami juga tidak menginap di hotel,” tambahnya.

Paparan manajemen disampaikan oleh Sekretaris BMT Tamzis, Budi Santoso yang menekankan pentingnya profesionalisme dan amanah.

“Baitul Maal dan Baitut Tamwil mengelola dua hal berbeda profit dan benefit. Banyak BMT bermasalah karena lemahnya manajemen, terutama di sisi aktiva dan pasiva,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya kaderisasi berjenjang agar kesinambungan organisasi terjaga. “Kami membina kader sejak dari kolektor hingga calon pimpinan cabang dengan pelatihan intensif mencakup manajemen risiko, legal, dan akuntansi syariah,” papar Budi.

Dalam sesi tanya jawab, Edy Ridwan menjelaskan bahwa BMT Tamzis menerapkan sistem bottom-up dalam pengelolaan keuangan.

“Setiap cabang menyusun Rencana Anggaran Belanja dan targetnya sendiri. Kami menerapkan dua sistem penggajian ujrah (tetap) dan syirkah (berbasis kinerja),” terangnya.

Evaluasi kinerja dilakukan dengan sistem KPI kuantitatif dan kualitatif.

Terkait manajemen risiko, Tamzis memandang reputasi tidak hanya soal keuangan, tetapi juga perilaku SDM. “Karyawan yang tidak amanah bisa merusak kepercayaan publik. Karena itu, kami memperkuat sistem hukum dan manajemen sejak awal,” jelasnya.

Dalam pendampingan terhadap BMT di daerah lain seperti Maluku, Tamzis fokus pada perbaikan sistem dan kesejahteraan pegawai. “Hasilnya, gaji karyawan meningkat cukup signifikan,” ungkapnya.

Dewan Pengawas Syariah BMT, Tamzis menambahkan bahwa penerapan nilai syariah kepada SDM dilakukan secara natural. “Tes baca tulis Al-Qur’an tetap ada, tapi penilaian lebih luas pada amaliyah harian dan perilaku,” ujarnya. Setiap cabang rutin mengadakan kegiatan keagamaan seperti tadarus dan kultum.

Kegiatan studi banding ditutup dengan doa bersama dan dilanjutkan wisata ke Telaga Menjer, Kayangan Sky Land, dan Kebun Teh Panama.

Dari kegiatan ini, peserta mengaku mendapatkan banyak pelajaran berharga, khususnya terkait penguatan sistem manajemen, kaderisasi dan pengelolaan risiko. “BMT Tamzis menjadi contoh nyata bagaimana kesederhanaan, profesionalisme, dan nilai syariah dapat berjalan beriringan,” tutur Abdul Latip, Pengawas Puskopsyah Formes SKD. (Arief Hartanto / KIM Kertomandiri Turi)




Menjadi Remaja Optimis untuk Meraih Masa Depan Sukses

Sleman – Setiap orang pasti ingin meraih sukses masa depan.  Kesuksesan tidak datang tiba-tiba, tetapi melalui proses panjang.  Hal itu disampaikan Putri Handayani Tri Rahayu, siswa kelas XII E sekalu peserta Achievement Motivation Training (AMT).

“Saya bisa meraih juara 1 kompetisi catur karena ada tiga hal yakni, fokus, teliti, dan dengan proses Panjang.  Saya mempersiapkan diri sejak dua tahun yang lalu,” kata Putri. 

Selain itu, Putri juga terinspirasi tokoh idolanya yakni Nabi Muhammad SAW, B.J. Habibie, dan orang tuanya. 

“Itulah kunci meraih sukses, fokus dengan tujuan, teliti, mengikuti proses, dan memiliki tokoh idola yang menginspirasi,” kata Ahmad Dwi Nur Khalim, di depan 194 siswa-siswi MAN 4 Sleman, pada Rabu (8/10/2025) di aula setempat. 

Setiap orang pasti juga ingin meraih sukses masa depan, tanpa mengabaikan orang tua.  Namun, penelitian menunjukkan 90 % orang mau meraih sukses dan mau menjadi kebanggaan orang tua. Namun hanya 10 % benar-benar siap untuk meraihnya. 

“Maka jadilah yang 10 % itu, benar-benar siap meraih sukses,” tegas Dwi Nur Khalim.

Ia menyampaikan data survei Tempo bulan Mei 2025, di mana Indonesia adalah negara dengan pengangguran tertinggi.  Data menunjukkan bahwa 728 juta orang menganggur dan mayoritas adalah orang muda. 

Dwi mengutarakan saat ini para remaja banyak yang mengidap penyakit “mudah”, yakni mudah panik, yang kemudian menyebabkan mereka mudah galau. Lalu, mudah marah yang mengakibatkan mereka menjadi pembenci. Mudah jenuh, yang menyebabkan mereka mager (malas bergerak), dan mudah menyerah, mengakibatkan adanya penyesalan.

“Remaja generasi Gen-Z harus memahami keadaan ini dengan harapan mampu mengatasinya.  Remaja harus mandiri tidak banyak bergantung pada orang tua,” tegasnya. 

Menyikapi hal itu, remaja harus optimis dengan fokus pada peluang dan kesempatan.  Optimis dengan mensyukuri apa yang dimiliki, percaya bahwa kesempatan selalu ada, dan menghadapi berbagai masalah dengan sikap positif, selalu ingin belajar, dan selalu ingin lebih baik, imbuhnya. 

Penting pula untuk menuliskan apa yang dicita-citakan, apa yang ditulis akan menjadi motivasi untuk meraihnya hingga menjadi kenyataan. 

“Ketika kita disepelekan, diremehkan oleh orang, hadapi, dan sikapi dengan positif, percaya diri akan sukses.  Optimis akan naik, dan pesimis akan menurun bahkan hilang,” ujar Dwi.

“Hindari pula zona negatif seperti dendam, benci, cemas, marah, keluh kesah, dan insecure. Masuklah ke Zona optimis yang bebas hambatan menuju keberuntungan, dengan percaya diri, Syukur, sabar, fokus, tenang, dan bahagia,” tegasnya.

Dwi membuat rumus D1 + D2 + D3 = D4, yakni Discovery (penemuan), Design (rancang), D3 Doing (melakukan) dan Destiny (Nasib).  

“Tanpa discovery kita bingung arah, tanpa design kita tidak punya rencana, tanpa doing kita tidak akan bergerak, dan tanpa semua itu, destiny tidak akan tercapai,” pesannya. (Edy – KIM Sumber Biwara Moyudan)




Komunitas RAIN Sleman Hadir Teteskan Kepedulian Bagi Penyintas Bencana

Sleman – Hujan selalu membawa pesan tentang kehidupan, pembaruan, dan harapan. Filosofi inilah yang menginspirasi lahirnya Komunitas Relawan Indonesia (RAIN), sebuah gerakan sosial baru yang dibentuk di Hargobinangun, Pakem, Sleman, Selasa (7/10/2025). RAIN hadir dengan semangat meneteskan kebaikan, satu demi satu, hingga mengalir menjadi arus besar kepedulian bagi masyarakat penyintas bencana di berbagai daerah.

Para relawan dari berbagai latar belakang berkumpul untuk meneguhkan komitmen bersama menjadi bagian dari solusi kemanusiaan. Pembentukan RAIN tidak hanya sebatas wadah aksi sosial, tetapi juga ruang pembelajaran dan koordinasi bagi mereka yang ingin memberikan kontribusi nyata dalam penanggulangan bencana.

Pembina Komunitas RAIN, Achmad Lukman menjelaskan bahwa terbentuknya RAIN bertepatan dengan momentum “World Water Day” beberapa waktu lalu dan melihat banyak relawan yang memiliki semangat kemanusiaan tinggi belum memiliki wadah untuk melindungi dan menguatkan mereka agar bisa bergerak lebih efektif, terarah dan berkesinambungan.

“Nama komunitas RAIN terinspirasi dari kata hujan dalam bahasa Inggris, yang mencerminkan filosofi gerakan ini yaitu seperti hujan yang turun tanpa pandang bulu, memberi kehidupan bagi semua makhluk di bumi,” terang Lukman di kantor sekretariatnya yang berlokasi di Wonorejo Pakem.

Pihaknya memilih filosofi hujan karena mencerminkan ketulusan dan kontinuitas. Menurutnya, hujan tak pernah memilih di mana ia jatuh, tetapi selalu memberi kehidupan. Begitu pula relawan yang bertugas menumbuhkan kembali semangat hidup para penyintas bencana di tengah keterpurukannya.

Komunitas RAIN dirancang sebagai jaringan terbuka yang menghubungkan relawan lokal dengan lembaga penanggulangan bencana, baik pemerintah maupun nonpemerintah. Melalui pelatihan dasar kebencanaan, manajemen logistik, dan pendampingan psikososial, RAIN bertekad mencetak relawan tangguh yang mampu bertindak cepat namun tetap berempati terhadap korban.

Sementara itu, salah satu inisiator RAIN, Mak Epoy menambahkan bahwa tujuan lain RAIN yaitu memperhatikan kesejahteraan para relawan. Selama ini, banyak relawan yang berjuang keras membantu orang lain, padahal mereka sendiri kerap berada dalam kondisi terbatas baik secara finansial, tenaga, maupun mental.

“RAIN hadir untuk memberikan dukungan dan empati kepada para relawan, tanpa membeda-bedakan latar belakang, status, maupun kemampuan,” imbuhnya.

Salah satu bentuk nyata kiprah RAIN adalah penyediaan dapur hangat dan segar di lokasi tanggap darurat maupun di setiap kegiatan. Dapur ini menyediakan makanan dan minuman secara cuma-cuma bagi relawan yang bertugas di lapangan, terutama di wilayah yang aksesnya terbatas. Inisiatif kecil namun bermakna ini muncul dari kesadaran bahwa para relawan juga manusia yang membutuhkan makan dan minum.

Kehadiran Komunitas RAIN diharapkan menjadi model gerakan sosial baru yang menggabungkan nilai kemanusiaan, kearifan lokal, dan semangat gotong royong khas Indonesia. Dalam setiap tetes kepedulian, RAIN menegaskan bahwa relawan bukan hanya mereka yang menolong di saat darurat, namun juga mereka yang menumbuhkan harapan di saat dunia terasa kering dari empati. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Bimtek PKK Bimomartani Dorong Sinergi Program Pemberdayaan

Sleman – Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (DPMK) Kabupaten Sleman menyelenggarakan kegiatan bimbingan teknis (bimtek) PKK pada, Selasa (7/10/2025) di Aula Kalurahan Bimomartani, Ngemplak. Kegiatan ini untuk memperkuat kapasitas kelembagaan masyarakat dan mengoptimalkan peran kader Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK).

Acara tersebut diikuti oleh 25 peserta dari berbagai unsur kader PKK setempat dan menghadirkan dua narasumber, yakni Lurah Bimomartani, Tutik Wahyuningsih, Anggota DPRD Sleman, H. Bondan Triyana, dan PKK Pokja 3, Siti Anggraeni.

Kegiatan bimtek PKK merupakan bagian dari program yang bersumber dari Pokok Pikiran (Pokir) DPRD Sleman Tahun 2025. Program tersebut lahir dari hasil koordinasi antara DPMK dan DPRD Kabupaten Sleman dalam menindaklanjuti aspirasi masyarakat yang dihimpun melalui kegiatan reses dan forum musyawarah lainnya.

Lurah Bimomartani, Tutik Wahyuningsih menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat relevan dengan kebutuhan kader PKK untuk terus meningkatkan kemampuan dalam mengelola program-program pemberdayaan di wilayahnya.

“Kader PKK melalui pelatihan ini, diharapkan para kader bisa menguatkan peran mereka sebagai motor penggerak kesejahteraan keluarga di tingkat kalurahan,” tutur Tutik.

Sementara itu, anggota DPRD Sleman, H. Bondan Triyana selaku narasumber menegaskan komitmen legislatif untuk terus memperjuangkan aspirasi masyarakat agar tertuang dalam kebijakan dan kegiatan pembangunan daerah.

“Bimtek PKK ini adalah wujud nyata bagaimana sinergi antara DPRD dan pemerintah daerah dapat menghasilkan kegiatan yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat, khususnya dalam bidang pemberdayaan keluarga,” tandasnya.

“Peran PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) dalam menyambut Indonesia Emas 2045 adalah menciptakan generasi berkualitas sejak dini dengan menuntaskan stunting, memberdayakan ekonomi keluarga, serta menguatkan pendidikan dan keterampilan, yang semuanya sangat penting untuk menjadikan bonus demografi sebagai nilai tambah dan bukan masalah,” sambung Bondan.

Sementara perwakilan Pokja PKK, Siti Anggraeni menyampaikan peran anggota PKK mengenai tanaman sayuran, buah-buahan di pekarangan agar dioptimalkan pemanfaatannya sebagai bentuk ketahanan pangan.

Melalui kegiatan Bimtek PKK ini, diharapkan para peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan teknis, tetapi juga semangat baru untuk terus berkontribusi dalam memperkuat ketahanan keluarga dan menggerakkan pembangunan berbasis masyarakat di Sleman. (Arief Hartanto / KIM Kertomandiri Turi)