Menjaga Indahnya Tinta di Era Digital: Keteguhan Percetakan Amara Books Sleman

Sleman – Di tengah gelombang digitalisasi yang melanda hampir seluruh aspek kehidupan, industri percetakan menghadapi masa-masa sulit. Banyak percetakan kecil harus menutup usaha karena pesanan beralih ke format digital dari majalah, brosur, hingga undangan yang kini banyak dibuat dan disebar secara daring.

Namun, di Sleman, Yogyakarta, tepatnya di pinggiran Selokan Mataram Sinduadi Sleman, Percetakan Amara Books justru menjadi contoh bahwa tidak semua harus tunduk pada arus digital. Pemilik Percetakan Amara Books, Saptadi Bagastawa mengaku masih memegang keyakinan kuat bahwa budaya kertas tidak akan punah.

“Peluang dibalik perubahan jaman masih ada. Produk-produk seperti kalender, kalender meja, undangan eksklusif, setifikat, laporan tahunan, memoar, buku alumni masih diminati dan justru ada sedikit peningkatan,” ujarnya saat ditemui, Selasa (7/10/2025).

“Kami juga sedang mengerjakan pesanan buletin komunitas,” lanjutnya.

Sambil menunjukan lembaran kalender lux yang belum selesai dicetak, Bagas menambahkan, jika percetakan konvensional ini memiliki nilai emosional yang tak tergantikan oleh mesin digital.

“Ada nilai emosional yang tidak tergantikan dari hasil cetak di atas kertas, tekstur kertas, sensasi membalik halaman, bahkan aroma tinta, adalah bagian dari pengalaman manusia yang tidak bisa digantikan layar digital,” tuturnya.

“Kami, mencoba bertahan dan beradaptasi. Menggabungkan desain digital modern dengan kualitas cetak manual yang hangat dan personal. Di tengah dunia yang serba online, kebutuhan menyentuh dan membaca tidak bisa digantikan oleh sekilas swipe,” katanya tetap optimis. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel).




PPDI Cabang Sleman Gelar Pembinaan dan Penguatan Organisasi PPDI

 Sleman – Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Cabang Sleman menggelar pembinaan organisasi Pengurus Kalurahan PPDI (PK PPDI) se-Kapanewon Godean, pada Selasa (7/9/2025) di Pendopo Kapanewon Godean.

Kabag Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Kabupaten Sleman, Ludianta dalam arahannya menyampaikan bahwa sesuai Undang-undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang penyandang disabilitas, pemerintah menjamin hak-hak penyandang disabilitas, yang meliputi aksesibiltas, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, dan partisipasi dalam kehidupan sosial.

“Untuk itu kami dari Dinas Sosial Sleman mendorong pada setiap kalurahan agar bisa memberikan akses bagi penyandang disabilitas,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa PPDI yang merupakan organisasi penyandang disabilitas harus diperkuat dan diberdayakan, agar bisa lebih berdayaguna. “Organisasi ibaratkan sebuah lidi. Apabila cuma satu batang kurang berdaya guna, tetapi apabila menjadi satu ikat lidi, akan menjadi kuat,” kata Ludianta.

Untuk mewujudkan organisasi sasi yang kuat harus didukung dengan SDM yang baik. “Selain itu perlu pengelolaan organisasi yang benar dan keterbukaan atau akuntabilitas,” imbuhnya.

Panewu Godean, Edi Wibowo menyampaikan bahwa Kapawon Godean siap memberikan fasilitas tempat untuk pertemuan PPDI.

“Mangga silahkan kapanewon bisa digunakan untuk pertemuan maupun kegiatan lain bagi disabilitas maupun kelompok-kelompok lainnya,” ujar Edi.

“Kita jangan merasa lemah dan terlena merasa kurang, sebetulnya dibalik sana masih ada yang lebih kurang. Kekurangan tersebut merupakan anugerah dan ketetapan dari yang Maha Kuasa, yang harus diterima,” sambungnya.

Lebih lanjut, Edi menuturkan organisasi merupakan wadah, tinggal bagaimana dan apa yang harus diisikan.

“Ibarat mangkok mangga mau diisi bakso, mi, atau makanan lain silahkan,” pungkasnya.

Sedangkan Ketua PPDI Cabang Slema, Sutrisno dalam sambutannya mengutarakan bahwa PPDI telah menerima bantuan hibah sebesar 300 juta. Dana hibah tersebut digunakan untuk budidaya ikan gurami 1000 ekor untuk Kapanewon Godean, dan penguatan organisasi.

“Untuk itu kami berharap nanti di setiap kalurahan ada pengurus PPDI,” ungkap Sutrisno.

Acara diakhiri dengan pembagian seragam bagi penyandang disabilitas secara simbolis. (Giek / KIM Moyudan)




Hari Pertama Visitasi Penilaian Pengelola Sampah Sleman Berjalan Lancar

Sleman – Tahapan pertama penilaian administrasi kelompok pengelola sampah Kabupaten Sleman melalui website SIOSESTU dan sudah berakhir. Terpilih lima nominator dari setiap kategori, bank sampah, sodakoh sampah dan TPS 3R.

Selanjutnya akan memasuki penilaian tahap kedua visitasi kunjungan lapangan kepada nominator terpilih.

“Untuk visitasi lapangan hari pertama hari ini adalah TPS 3R Purwa Berhati,” ungkap perwakilan Tim Kerja Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman, Dias Oktri Raka S, pada Selasa (7/10/2025) di TPS 3R Purwa Berhati, Kalasan Sleman.

Acara ini juga dihadiri oleh anggota tim penilai dari DLH Sleman, Elizabeth Mustika Dewi dan Edy Triyanto, serta Ketua JPSM Sehati Kabupaten Sleman, Hijrah Purnama Putra.

Andapun aspek penilaian meliputi kelembagaan, operasional, sarana dan prasarana, kemitraan, edukasi komunikasi dan inovasi.

“Nanti setiap aspek penilaian akan langsung di nilai oleh satu tim penilai,” tutur Dias.

Kedatangan tim penilai disambut oleh pengurus TPS 3R Purwa Berhati, Panewu Anom Kalasan, Azwar Effendi, Kepala Jawatan Kemakmuran Kapanewon Kalasan, Gusnav Faiton, serta pengurus Forum Penggiat Sampah ASRI (FPSA) Kapanewon Kalasan, Endah, Anita dan Misdarti.

“Kami pengurus FPSA Kalasan ikut menyemangati teman penggiat sampah yang sedang penilaian,” ungkap Endah mewakili pengurus.

“Kami bersyukur bahwa Kapanewon Kalasan ada dua kelompok yang lolos penilaian administrasi yakni TPS 3R Purwa Berhati dan Sodakoh Sampah Kenanga Segersari. Hari ini mendapatkan penilaian secara langsung,” sambungnya.

Ketua TPS 3R Purwa Berhati, Budi Isro’i menyambut baik kehadiran tim penilai. Sesuai arahan Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman, bahwa tidak diperbolehkan penyambutan yang berlebihan.

“Jadi kita benar-benar tidak menyediakan untuk penyambutan. Namun secara administrasi dan kegiatan kita sudah mempersiapkan seadanya, sesuai kondisi yang sebenarnya,” ucap Budi.

“Komitmen kita adalah mengelola sampah tanpa pembakaran. Kalaupun terpaksa terjadi pembakaran, yang kita bakar adalah bahan organik seperti bekas keranjang sayur dan buah dan ranting-ranting,” tandasnya.

Menurut Budi, TPS 3R Purwa Berhati selalu melakukan terobosan untuk mempermudah dan mengoptimalkan pekerjaan. Bantuan sarana prasarana baik dari dinas atau pihak lain yang tidak mengikat seperti dari kampus ataupun pengusaha yang peduli dengan pengelolaan lingkungan.

“Semua bentuk kerja sama akan kami terima sepanjang tidak merugikan dan memberikan kemanfaatan bersama,” pungkas Budi. (Kusnadi /KIM Berbah)




Pemdes Bokoharjo Fasilitasi Program Sedekah Sampah untuk Pemberdayaan Warga

Sleman – Empat kelompok sedekah sampah menerima sosialisasi pengelolaan sampah dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman, Selasa (7/10/2025) di Taman Pendidikan Al Quran Babussalam, Gumuk, Bokoharjo, Prambanan. Sosialisasi ini merupakan kegiatan PUPM Kapanewon Prambanan usulan tahun 2024.

Kegiatan tersebut dihadiri 38 peserta, termasuk dukuh, ketua RT dan tokoh masyarakat. Kawat Kemakmuran Kapanewon Prambanan, Heri Prasetyani dalam sambutannya menyampaikan bahwa di Kalurahan Bokoharjo sudah terbentuk sejumlah lembaga pengelolaan sampah yang telah beroperasional dengan baik.

“Yang menjadi masalah adalan banyak KPSM pengelola sampah yang belum merasa difasilitasi oleh pemerintah,” ujarnya.

“Ada beberapa kelompok masyarakat yang sudah melaksanakan pemilahan sampah, bahkan sudah menjalankan protap dari sedekah sampah tapi belum dilembagakan. Belum ada nama kelompok dan belum ada SK-nya,” sambung Heri.

Ia menambahkan, uniknya lagi uang hasil penjualan sampah yang dilakukan oleh kelompok tersebut, dikembalikan seluruhnya kepada masyarakat. Salah satunya adalah pembelian bak sampah yang dibagikan kepada setiap Kepala Keluarga.

“Sebagai lembaga, manajemennya perlu diperbaiki. Untuk itu tahun depan, dengan dana PUPM, kapanewon akan memfasilitasi kegiatan out class sebagai kegiatan studi tiru ke KPSM yang sudah maju,” ujar Heri.

Perwakilan DLH Kabupaten Sleman, Sutarno menyampaikan bahwa Kabupaten Sleman masih menghadapi problem sampah yang residunya belum semua bisa ditampung di tiga TPST.

Sejalan dengan itu, berkembangnya kelembagaan pengelola sampah sangat diharapkan. Gerakan pilah sampah dari rumah sesuai dengan Perda Nomor 6 Tahun 2023 belum masif dijalankan oleh masyarakat. Sehingga harapannya KPSM yang ada berfungsi sebagai agen perubahan dimasyarakat.

“Sampah tidak hanya tanggung jawab pemerintah, tapi tanggung jawab kita bersama. Sampah anorganik menjadi tanggung jawab sedekah sampah sedangkan sampah organik selesai di rumah tangga,” imbau Sutarno.

Salah satu praktisi sampah, Sutarto Agus Raharjo selaku narasumber mengajak peserta untuk memposisikan sebagai stakeholder yang mempunyai tugas sebagai fasilitator dan stimulator, untuk pengelolaan sampah di wilayahnya.

Lebih jauh, Sutarto juga mengajak peserta menjadi agen perubahan dalam pengelolaan sampah dengan dua kegiatan besar, yaitu pengurangan sampah dan penanganan sampah.

Dalam materinya, Sutarto menjelaskan secara detail tentang pengurangan sampah dengan metode 3 R (Reduce, Reuse dan Recycle). Ia juga menyinggung penguatan kelembagaan, menjalin kerja sama dengan pemerintah dalam penguatan kapasitas dengan kegiatan pelatihan, bimtek dan hibah sarpras.

“Pengetahuan tentang sampah dimasyarakat sudah cukup, action sudah dijalankan. Kelembagaan yang belum dibentuk,” tandas Sutarto.

Diakhir sosialisasi, Ulu ulu Bokoharjo, Dani Naharboi menjanjikan fasilitasi sarpras dan studi tiru kepada sedekah sampah, untuk menguatkan kelembagaan yang dibentuk. Sehingga kegiatan pengelolaan sampah di Bokoharjo lebih masif. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Gerakan Ayah Sayang Anak, Dorong Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan

Sleman — Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinas P3AP2KB) menggelar talkshow bertema “Gerakan Ayah Sayang Anak (GASA)” di Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Sleman, pada Selasa (7/10). Kegiatan ini bertujuan memperkuat peran keluarga dalam pembangunan sumber daya manusia.

Acara tersebut dihadiri 40 peserta dari unsur kepala dukuh, anggota Badan Permusyawaratan Kalurahan (BPKal), perwakilan PKK, dan Karang Taruna. Hadir sebagai narasumber, Happy Briliant Srikandi dari DPRD Kabupaten Sleman, Diah Niken Andarwati dari Dinas P3AP2KB, dan Theresia Okti Herawati dari TPPKK Kabupaten Sleman.

Dalam sambutannya, Ketua PKK Kalurahan Sardonoharjo, Eisa Rastra Dewi, menyoroti fenomena fatherless atau hilangnya peran ayah dalam keluarga. Ia menjelaskan, Indonesia menempati peringkat ketiga di dunia untuk fenomena ini, di mana banyak anak merasa yatim secara emosional meski memiliki ayah secara biologis.

“Ketidakhadiran ayah dapat menindas peran ibu dan melemahkan keluarga,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya mengisi ‘tangki cinta’ dalam keluarga agar anak tidak mencari kasih sayang di luar rumah.

Happy Briliant Srikandi menjelaskan tiga komponen utama peran ayah, yaitu interaksi, aksesibilitas, dan tanggung jawab. Ia menambahkan, DPRD Sleman mendukung kebijakan pro-ayah, edukasi masyarakat, layanan pendukung, serta kolaborasi antarlembaga untuk memperkuat ketahanan keluarga.

Diah Niken Andarwati menambahkan bahwa kegiatan GASA merupakan respons terhadap data kasus perceraian, kejahatan jalanan, dan fenomena childfree yang meningkat di Sleman.

“Setelah ditelusuri, akar masalahnya adalah lemahnya peran ayah dalam keluarga. Oleh karena itu, kami berupaya mencegah fenomena fatherless,” jelasnya.

Ia juga menyebutkan anak yang tumbuh tanpa figur ayah berisiko mengalami masalah akademik, kesehatan, emosi, hingga krisis identitas.

Senada dengan itu, Theresia Okti Herawati menekankan pentingnya pengasuhan positif. Menurutnya, orang tua harus memahami impian anak, menerima mereka apa adanya, dan selalu hadir dalam setiap tahap perkembangan.

“Dukungan dan keterlibatan orang tua menjadi fondasi penting bagi tumbuh kembang anak,” ungkapnya.

Melalui Gerakan Ayah Sayang Anak, Pemerintah Kabupaten Sleman berharap dapat menumbuhkan kesadaran bahwa pengasuhan adalah tanggung jawab bersama ayah dan ibu demi mewujudkan keluarga yang harmonis dan berdaya. (Andy Ahmad/KIM DSN)