Refleksi 15 Tahun Erupsi Merapi: Wukirsari Belajar Hidup Harmoni dengan Ancaman Bencana

Sleman – Lima belas tahun telah berlalu sejak letusan besar Gunung Merapi mengguncang lereng selatannya pada tahun 2010. Bagi masyarakat Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Cangkringan, kenangan itu tidak pernah benar-benar padam. Erupsi yang meluluhlantakkan empat padukuhan kini menjadi pengingat abadi tentang bagaimana manusia harus hidup berdampingan dengan alam.

Malam 4–5 November 2010 masih terekam jelas dalam ingatan warga. Letusan dahsyat disertai awan panas dan hujan abu menyelimuti wilayah Wukirsari, sementara suara dentuman dan getaran mengguncang tanah. Sungai Gendol menjadi jalur utama luncuran material panas, menebarkan kepanikan di seantero lereng Merapi.

Yudhi Ariyanto, warga Padukuhan Gungan, masih mengingat jelas malam mencekam itu. Saat hendak menolong tetangganya yang lansia, ia menyaksikan gumpalan api jatuh dan melihat lava pijar oranye menyala memenuhi dusunnya.

“Kalau waktu itu saya lanjut menolong tetangga, mungkin saya sudah terjebak awan panas,” kenang Yudhi, yang masih menyimpan trauma setiap kali mendengar suara petir.

Bagi Yudhi dan warga lainnya, malam itu menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya kesiapsiagaan dan pengetahuan mitigasi bencana.

Dampaknya luar biasa. Berdasarkan data BPBD Sleman, total area rusak di Wukirsari mencapai lebih dari 16 km², dengan 341 rumah mengalami kerusakan berat. Pasca-erupsi, warga terdampak direlokasi ke hunian tetap (huntap) di Dongkelsari serta Gondang yang kini menjadi simbol ketangguhan masyarakat lereng Merapi.

Namun dari puing-puing bencana, Wukirsari bangkit. Kini, kalurahan ini dikenal sebagai Desa Siaga Bencana (Destana) yang aktif memperkuat kapasitas warga melalui simulasi, pelatihan, dan pemetaan wilayah rawan bencana.

“Sebagai desa penyangga Merapi, kami terus meningkatkan kapasitas SDM, kelembagaan, serta fasilitas kebencanaan,” jelas Carik Wukirsari, Ruswantoro.

Ia menegaskan bahwa kesiapsiagaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga budaya yang tumbuh dari kesadaran warga sendiri.

Kini, Wukirsari hidup dalam harmoni. Tidak dengan rasa takut, tetapi dengan rasa hormat pada kekuatan alam. Warga belajar menjaga keseimbangan antara kewaspadaan dan ketenangan, antara bertahan dan beradaptasi.

“Kami tidak bisa menghindar dari Merapi, tapi kami bisa belajar hidup berdampingan dengannya,” demikian pesan bijak warga lereng Merapi yang terus menjadi semangat bersama. (Lilik Rudi/KIM “Wara Aji” Cangkringan)




Mantapkan Langkah, Karang Taruna Sardonoharjo Gagas Program “SEJUK” Simbol Kemandirian Pemuda

Sleman – Suasana akrab menyelimuti TBM Angkringan Uye, Senin (3/11/2025) malam, saat Karang Taruna Dharma Satria Nusantara (DSN) Kalurahan Sardonoharjo menggelar rapat pleno pengurus. Pertemuan yang dihadiri perwakilan dari berbagai divisi ini menjadi ajang konsolidasi dan pemantapan arah program kerja Karang Taruna Sardonoharjo untuk periode mendatang.

Setiap divisi memaparkan rencana kegiatan, dengan perhatian khusus tertuju pada program unggulan bertajuk “SEJUK” (Sedekah Jumat Karang Taruna), sebuah inisiatif sosial yang berfokus menumbuhkan semangat berbagi dan kepedulian di tengah masyarakat.

Ketua Karang Taruna Sardonoharjo, Imam Syaiful, menekankan pentingnya pertemuan tersebut sebagai upaya memperkuat sinergi dan kemandirian organisasi kepemudaan.

“Kita tidak hanya memastikan program berjalan, tapi juga menyiapkan langkah jangka panjang agar setiap kegiatan lebih matang dan berkelanjutan. Ke depan, kita harap Karang Taruna mampu mandiri melalui kerja sama dan sponsorship, bukan sekadar bergantung pada bantuan dana,” ujar Imam.

Selain membahas strategi pendanaan dan keberlanjutan kegiatan, rapat juga menetapkan sejumlah agenda kegiatan untuk bulan November. Di antaranya adalah pemotretan anggota Karang Taruna, pelaksanaan program SEJUK, turnamen mini soccer dan badminton, kegiatan edukasi satwa, serta keterlibatan Karang Taruna sebagai event organizer dalam kegiatan dari Daihatsu.

Dengan semangat kolaborasi dan tanggung jawab sosial, Karang Taruna Sardonoharjo menegaskan komitmennya untuk menjadi motor penggerak kegiatan kepemudaan di tingkat kalurahan. Melalui program-program kreatif dan mandiri, mereka berupaya menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat, sejalan dengan visi membangun generasi muda yang produktif, peduli, dan berdaya saing. (Andy Ahmad/KIM DSN Ngaglik)




TP PKK Sleman Gelar Pembinaan ke Condongcatur, Matangkan Persiapan Lomba Tingkat Provinsi

Sleman – Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Sleman untuk yang kedelapan kalinya melakukan Pembinaan dan Monitoring Persiapan Maju Lomba Tingkat Provinsi DIY kepada TP PKK Kalurahan Condongcatur, bertempat di ruang wacanaloka, Senin (3/11/2025).

Pembinaan dari TP PKK Kabupaten Sleman ini dipimpin langsung oleh Parmilah Harda Kiswaya bersama sembilan Pengurus PKK Kabupaten Sleman dan diikuti 20 Pengurus TP PKK Kalurahan Condongcatur, Lurah, serta Carik Condongcatur.

Agenda utama pembinaan kali ini adalah menyaksikan gladi latihan performance Ketua TP PKK Kalurahan Condongcatur, Dewi Nurlaila, dalam membawakan presentasi materi yang akan dipaparkan pada penilaian tingkat Provinsi DIY mendatang.

“Latihan presentasi ini diharapkan nanti saat hari H dapat tampil dengan prima dan efektif,” jelas Dewi.

Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji, memohon doa restu agar TP PKK Kalurahan Condongcatur dapat berjalan dengan baik saat maju lomba administrasi tingkat Provinsi DIY pada 12 November 2025 mendatang.

“Lomba administrasi PKK tingkat provinsi ini untuk meningkatkan kualitas administrasi PKK, mengevaluasi efektivitas dan efisiensi pengelolaan program, serta memotivasi pengurus PKK untuk bekerja lebih baik dalam melayani masyarakat,” ucapnya. (Wasana/KIM Depok)




Wedomartani Luncurkan Buku Toponimi 54 Kampung, Jadi Kalurahan Pertama di DIY yang Inisiasi Arsip Sejarah

Sleman – Pemerintah Kalurahan Wedomartani meluncurkan buku “Toponimi dari Gebang ke Gedongan”, sebuah arsip sejarah penamaan 54 kampung di wilayah tersebut. Acara peluncuran berlangsung di Pendopo Kalurahan Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Senin (3/11/2025), bersamaan dengan Merti Desa dan peringatan Hari Jadi Adeg Kalurahan Wedomartani yang puncaknya akan digelar pada 9 November mendatang.

Lurah Wedomartani, Teguh Budiyanto, menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam penulisan buku ini. Wedomartani yang memiliki 25 padukuhan dan 54 kampung menyimpan banyak sejarah di balik nama yang sudah melekat. Penulisan toponimi ini menjadi sejarah pembukuan cerita tutur yang ada di Kalurahan Wedomartani.

“Harapannya dengan terbitnya buku tersebut membantu generasi muda atau siapa pun untuk mengetahui dan mempelajari adanya sejarah kampung di wilayah Kalurahan Wedomartani,” pungkasnya.

Bupati Sleman, Harda Kiswaya, dalam sambutan yang dibacakan Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman Susmiarto, menyambut baik peluncuran buku toponimi tersebut. Menurutnya, ini menjadi momentum proses literasi rekaman dan dokumentasi sejarah.

“Buku ini menjadi rekaman otentik dengan semangat kearifan lokal yang diwariskan para leluhur dari generasi ke generasi lainnya melalui nama suatu tempat,” ucap Bupati.

Kepala Bidang Pengembangan Kapasitas Lembaga Budaya Dinas Kebudayaan DIY, Agus Suwarto, mengatakan bahwa penerbitan buku toponimi ini menjadi yang pertama di DIY yang diinisiasi oleh kalurahan sendiri. Biasanya penulisan toponimi merupakan program dari dinas kebudayaan baik provinsi maupun kabupaten.

Proses penulisan melibatkan 31 penulis yang didorong oleh rasa memiliki dan tanggung jawab. Menurut Kamituwo Kalurahan Wedomartani, Mujiburokhman, gagasan pembuatan buku ini berawal dari keresahan mengingat banyak narasumber sejarah penamaan dusun yang sudah sepuh atau meninggal.

“Maka kita seolah berlomba dengan waktu. Bila tertunda akan kehilangan narasumber sehingga objektivitas menjadi berkurang,” jelasnya. Ia juga menambahkan, buku ini merupakan uji publik dan terbuka untuk perbaikan bila ditemukan bukti atau sumber baru yang lebih akurat.

Narasumber lain, Wiwien, dosen program studi Sastra Jawa UGM, menyampaikan bahwa penulisan toponimi tidaklah mudah dan memerlukan pendekatan metodologi penulisan cerita lisan. “Penulisan toponimi tidak akan pernah berhasil bila tradisi membaca tidak pernah dilakukan,” tuturnya. (Kusnadi/KIM Berbah)




Pisah Sambut Kapolsek, AKP Subilal Resmi Pimpin Polsek Bulaksumur Gantikan Tjatur Atmoko

Sleman – Acara pisah sambut Kapolsek Bulaksumur digelar di University Club (UC) UGM Yogyakarta, Senin (3/11/2025). Kegiatan tersebut menandai berakhirnya masa tugas Kompol Tjatur Atmoko Sukmo Cahyono dan serah terima jabatan kepada AKP Subilal sebagai Kapolsek Bulaksumur yang baru.

Tjatur Atmoko secara resmi berpindah tugas ke Direktorat Pengamanan Objek Vital (Ditpamobvit) Polda DIY setelah mengabdi selama satu tahun dua bulan di Polsek Bulaksumur. Sementara itu, Subilal sebelumnya menjabat sebagai Kapolsek Moyudan selama sembilan setengah bulan sebelum mendapat amanah baru di wilayah hukum Polsek Bulaksumur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman.

Panewu Depok, Djoko Muljanto, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas dedikasi serta kinerja Tjatur Atmoko selama bertugas. Ia menegaskan bahwa koordinasi antara jajaran kepolisian dan pemerintah kapanewon selama ini telah berjalan baik dan perlu terus ditingkatkan.

“Selama bertugas, Tjatur telah menunjukkan komitmen tinggi dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan dan pelayanan kepada warga. Kami percaya Kapolsek Bulaksumur yang baru, Subilal, akan melanjutkan amanah ini dengan baik dan penuh tanggung jawab,” ujarnya.

Lebih lanjut, Djoko juga mengingatkan makna historis dari nama Bulaksumur yang mengandung filosofi mendalam bagi masyarakat setempat.

“Bulak berarti jalan panjang yang terapit persawahan, sedangkan sumur berarti sumber mata air. Harapannya, wilayah Bulaksumur menjadi daerah yang damai, tenteram, dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakatnya,” jelasnya.

Penjabat Lurah Caturtunggal, Feri Ferdian, turut menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang terjalin antara Polsek Bulaksumur dan pemerintah kalurahan. Ia menilai koordinasi dan komunikasi selama ini berjalan dengan baik, khususnya dalam upaya pengamanan wilayah, seperti saat pengamanan aksi demonstrasi pada akhir Agustus 2025 lalu.

Dalam kesempatan itu, Tjatur Atmoko menyampaikan terima kasih atas dukungan seluruh pihak selama masa jabatannya.

“Saya berterima kasih atas kerja sama yang baik dari jajaran pemerintah dan masyarakat selama bertugas di Polsek Bulaksumur. Mohon maaf atas segala kekurangan, dan mohon doa agar saya dapat menjalankan amanah baru di Ditpamobvit Polda DIY dengan lancar,” ungkapnya.

Sementara Subilal menegaskan kesiapannya untuk melanjutkan tugas menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah Depok Raya. “Kami memohon dukungan dan kerja sama dari seluruh elemen masyarakat agar Polsek Bulaksumur dapat terus memberikan pelayanan terbaik, menjaga keamanan, serta menciptakan situasi yang kondusif di wilayah ini,” tuturnya.

Acara pisah sambut tersebut turut dihadiri Kapolsek Depok Barat Abdul Jalil, Kapolsek Depok Timur Agus Setyo Pambudi, dan Wadanramil 11/Depok Mayor Edi Sutrisno. (Athiful/KIM Depok)