Asosiasi LPK Nusantara Berdaya Gelar Rakornas, Siapkan SDM Unggul Dukung Target 500 Ribu Pekerja Migran

Sleman – Asosiasi Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Nusantara Berdaya menyelenggarakan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) bertema “Bersinergi, Berdaya, dan Tumbuh Bersama untuk Indonesia Gemilang.” Acara yang berlangsung pada Sabtu–Minggu, 15–16 November 2025, di Hotel Sahid Raya ini dihadiri 43 anggota LPK, 7 Sending Organizer (SO), dan 2 Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI).

Ketua Asosiasi LPK Nusantara Berdaya, Fitri Istiantoro, menegaskan bahwa Rakornas ini merupakan momentum penting dalam memperkuat kolaborasi antar-lembaga guna menyiapkan tenaga kerja produktif.

“Ini merupakan langkah awal dari kolaborasi sinergi kita semua untuk bersama-sama membangun tenaga-tenaga kerja produktif untuk kebutuhan dalam negeri dan luar negeri. Kami mengundang semua pihak untuk bergabung dalam asosiasi ini, berkolaborasi, dan saling membantu meningkatkan produktivitas tenaga kerja—kita latih, kita berdayakan, menjadi manusia yang unggul,” ungkapnya.

Dukungan pemerintah turut hadir melalui pemaparan Muhammad Arfian, Staf Khusus Menteri Ketenagakerjaan RI bidang Pemagangan Luar Negeri. Ia menjelaskan arah besar kebijakan Presiden Prabowo yang menargetkan pengiriman 500 ribu tenaga kerja ke luar negeri. “Ini tantangan besar bagi kita. Saya berharap melalui Rakornas ini, Asosiasi LPK Nusantara Berdaya dapat menyiapkan rencana kerja 2026 dan menjadi asosiasi yang disegani serta dijadikan rujukan, sehingga makin banyak LPK yang bergabung,” ujarnya.

Selama dua hari pelaksanaan, peserta mengikuti rangkaian materi strategis, di antaranya adalah pembahasan mengenai kesuksesan program Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) ke Jepang yang profesional dan terampil, pemberdayaan purna pekerja migran agar menjadi individu unggul dan produktif, sidang komisi dan sidang pleno penyusunan arah program kerja, sesi berbagi praktik baik oleh LPK yang menangani penempatan ke Jepang, Jerman, dan Australia, serta pemaparan Program Sahabat Migran Indonesia.

Rakornas ini menghasilkan komitmen bersama untuk memperkuat kualitas pelatihan, memperluas jejaring internasional, dan meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia di kancah global. Melalui semangat sinergi dan pemberdayaan, Asosiasi LPK Nusantara Berdaya menegaskan tekadnya untuk turut membangun sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Gemilang. (Andy Ahmad/KIM DSN)




PSC SES Sleman Gelar Bimtek, Puluhan Ambulans Non-Faskes Perkuat Tatalaksana Kegawatdaruratan

Sleman – Unit Pelaksana Teknis Daerah Public Service Centre Sleman Emergency Service (UPTD PSC SES) Dinas Kesehatan Sleman menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kapasitas Tatalaksana Kegawatdaruratan bagi Tim Ambulans Non-Faskes Tahun 2025. Kegiatan ini merupakan langkah strategis Pemerintah Kabupaten Sleman untuk meningkatkan mutu pelayanan kegawatdaruratan di seluruh wilayah.

Kegiatan yang diikuti puluhan penyedia layanan ambulans dari berbagai organisasi masyarakat, lembaga sosial, hingga komunitas kemanusiaan ini diselenggarakan pada Sabtu, 15 November 2025, bertempat di Ruang Rapat Sembada, Sekretariat Daerah Sleman. Beberapa layanan yang hadir antara lain Ambulans LAZISNU Seyegan, AmbulansMU PCM Turi, Ambulans Emergency SAR DIY, hingga Panda Ambulans Jogja.

Kepala UPTD PSC SES Sleman, Dharmawan Lingga Artama, menegaskan bahwa Bimtek ini bertujuan untuk menguatkan kemampuan teknis tim ambulans non-fasilitas kesehatan (non-faskes) dalam menghadapi situasi darurat dan meningkatkan kapasitas pelayanan kegawatdaruratan medis.

Materi inti pelatihan diawali dengan Kegawatdaruratan Neurologi Saraf yang disampaikan oleh Eni Nurhidayati. Peserta antusias mengikuti penjelasan teknis mengenai tata laksana kasus stroke, kejang, hingga penurunan kesadaran dalam kondisi pra-fasilitas. Sesi kedua diisi oleh Ahkob Krisnanto, dengan topik Kegawatdaruratan Trauma Abdomen.

Sesi vital terkait regulasi dan sistem disampaikan oleh Kudiayana. Ia memaparkan tentang Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT). Ia menegaskan, SPGDT adalah sistem yang menjamin masyarakat akan pelayanan kegawatdaruratan medis, meningkatkan akses dan mutu pelayanan, mempercepat respons, serta menyelamatkan jiwa dan mencegah kecacatan. Dalam paparannya, ditekankan pula perbedaan fungsi dan kelengkapan medis yang wajib ada pada Ambulans Transport dan Ambulans Gawat Darurat.

Pada sesi akhir, panitia mengadakan perumusan dan deklarasi Garda Sleman, yaitu jejaring relawan ambulans non-faskes yang diharapkan berperan aktif dalam koordinasi SPGDT di tingkat kabupaten.

Dharmawan Lingga Artama dalam penjelasan penutupnya mengatakan, kegiatan ini bukan sekadar pelatihan, melainkan upaya membangun jejaring komunikasi antar-ambulans agar setiap kasus kegawatdaruratan dapat ditangani secara cepat, tepat, dan terkoordinasi. “Kami berharap seluruh peserta dapat menerapkan pengetahuan ini di lapangan sehingga keselamatan masyarakat dapat lebih terjamin,” ujarnya.

Irwan Susanto, salah satu peserta Bimtek dari AmbulanMu PCM Turi, menilai pelatihan ini penting mengingat tingginya angka kegawatdaruratan sehari-hari, potensi bencana, serta belum meratanya sumber daya fasilitas kesehatan. Dengan adanya Bimtek ini, UPTD PSC SES Sleman berharap seluruh layanan ambulans non-faskes dapat menjalankan standar pelayanan yang selaras dengan ketentuan nasional, mulai dari kesiapan armada hingga koordinasi dengan rumah sakit rujukan. (Arief Hartanto/KIM Turi0




Dosen UGM: Sisa Usia Adalah Modal Utama, Amal Harus Istiqamah Agar Husnul Khotimah

Sleman – Nur Hadi, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada (UGM), menyampaikan tausiah bertema “Memaksimalkan Sisa Umur untuk Beramal Sholeh dan Beribadah” pada Pengajian Rohis (Rohaniawan Islam) Fisipol UGM Angkatan 1989. Pengajian berlangsung pada Minggu (16/11/2025) di Aula Mushala Fisipol UGM.

Dalam ceramahnya, Nur Hadi menekankan bahwa usia merupakan modal utama manusia untuk beramal. Ia mengutip pesan Hasan Al-Bashri untuk menguatkan kesadaran akan waktu. “Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari. Jika satu hari hilang, maka hilang pula bagian dari dirimu,” ujarnya, menegaskan bahwa manusia sesungguhnya tidak memiliki apa-apa selain waktu yang terus berkurang.

Nur Hadi menjelaskan bahwa amal saleh dalam syariat harus memenuhi tiga unsur: niat yang baik, cara yang sesuai syariat, dan memberikan manfaat. Ia juga mengingatkan bahwa urusan ibadah dan muamalah seharusnya bersifat saling melengkapi, bukan dijadikan bahan saling mengkritik. “Jika ada kekurangan pada salah satunya, itu bukan untuk diserang, tapi untuk dinasehati dan diperbaiki,” ungkapnya.

Mengutip tafsir Ibnu Katsir, ia menjelaskan bahwa sumpah Allah dalam Surat Al-‘Ashr merupakan penegasan pentingnya waktu sebagai ladang amal manusia. Ia menyebut kerugian terbesar adalah hilangnya kesempatan beramal seiring berkurangnya umur. Jalan keselamatan yang disebut dalam surat tersebut, yaitu iman, amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan kesabaran, menjadi kunci keluar dari kerugian hidup.

Terkait dengan akhir kehidupan, Nur Hadi mengingatkan bahwa amal sangat ditentukan oleh penutup usia seseorang. Oleh karena itu, pembiasaan amal kecil tapi istiqamah sangat penting. “Teori probabilitas mengajarkan bahwa jika kebiasaan kita baik, kemungkinan akhir kita juga baik,” ujarnya, merujuk pada anjuran pentingnya amal yang berkesinambungan.

Di akhir tausiah, Nur Hadi menyampaikan tujuh pesan utama sebagai strategi memaksimalkan usia. Strategi tersebut meliputi menyadari kefanaan dan tidak menunda amal, mengutamakan amal prioritas menjelang usia senja (amal harian, amal modal, dan amal jariyah), serta strategi mengelola waktu melalui muhasabah harian. Selain itu, ia berpesan agar umat menata niat, memperbaiki hati, serta menambah bekal akhirat lewat membaca surat-surat tentang akhirat seperti Al-Waqi’ah dan memperbanyak doa memohon husnul khotimah. (Endarwati/KIM Donoharjo)




Turba Satkorcab Banser Sleman Perkuat Soliditas Kader Gamping: Penjaga Keamanan dan Kemanusiaan

Sleman – Satuan Koordinasi Cabang (Satkorcab) Banser Kabupaten Sleman menggelar kegiatan turun ke bawah (turba) di Satuan Koordinasi Rayon (Satkoryon) Banser Kapanewon Gamping. Acara yang berlangsung di Pondok Pesantren Assalimiyah, Pundung, Nogotirto, Minggu (16/11/2025), ini menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali makna pengabdian kader.

Turba dipimpin oleh Kepala Satkorcab Banser Kabupaten Sleman, Jalal Machali, bersama jajarannya, dengan tujuan menyamakan langkah, memperkuat kedisiplinan, dan merawat soliditas keluarga besar Banser di tingkat akar rumput.

Jalal mengatakan bahwa program ini berfungsi sebagai ajang silaturahmi antara pengurus cabang dengan kader di tingkat kapanewon dan kalurahan dalam upaya memperkuat komando, kedisiplinan, dan militansi kader Banser. “Di saat ini, Banser harus tetap menjadi barisan yang kokoh, siap menjaga keamanan kegiatan masyarakat, dan tanggap terhadap situasi sosial maupun kebencanaan,” tandasnya.

Ia berharap kehadiran Satkorcab di Gamping mampu memberikan penyegaran, motivasi, dan penguatan nilai-nilai dasar ke-Banser-an, seperti keikhlasan, ketaatan, solidaritas, serta rasa cinta tanah air. Ia menegaskan, Banser bukan sekadar pasukan keamanan, tetapi sekaligus pasukan kemanusiaan yang bergerak tanpa pamrih.

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Assalimiyah, Nurharis, menyambut baik kegiatan turba ini sebagai momentum untuk memperkokoh silaturahmi, menyatukan hati, serta memantapkan komitmen pengabdian kepada umat, bangsa, dan negara. “Semoga Allah SWT senantiasa menjaga langkah-langkah kita dan memberikan keberkahan pada setiap ikhtiar,” ucapnya.

Nurharis pun menyampaikan terima kasih kepada Banser Gamping yang selama ini aktif membantu masyarakat, pesantren, dan pemerintah setempat. Harapannya, turba ini semakin menguatkan langkah anggota Banser dalam mengabdi, melayani, dan menjaga marwah organisasi Gerakan Pemuda Ansor dan Nahdlatul Ulama.

Pada kesempatan ini, Kepala Biro Pendidikan dan Latihan Satkorcab Sleman, Toyong Angga, bersama Kepala Satuan Khusus Protokoler, Budi Raharjo, melakukan peningkatan kapasitas 50 anggota Satkoryon Banser Gamping. Materi yang diberikan mengenai tugas dan fungsi Banser sebagai garda terdepan dalam menjaga keamanan, ketertiban, dan nilai-nilai kebangsaan, termasuk penghayatan Nawa Prasetya Banser.

“Pemahaman yang baik tentang tugas Banser membantu setiap kader menjalankan perannya secara tepat, disiplin, dan terarah sehingga kehadiran mereka benar-benar membawa manfaat bagi masyarakat luas,” ujar Angga. Dengan pengetahuan ini, setiap Banser diharapkan dapat menjaga marwah organisasi dan semakin solid dalam bergerak. (Adnan Nurtjahjo/KIM Gamping)




Setengah Abad BK3S DIY: GKR Hemas Tegaskan Pengabdian Sosial Berkelanjutan di Tengah Tantangan Kompleks

Sleman – Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BK3S) DIY merayakan ulang tahun emasnya yang ke-50 dengan mengusung tema “Bersama Menginspirasi Kesejahteraan Sosial yang Berkelanjutan.” Lembaga sosial yang didirikan pada 2 Agustus 1975 ini menggelar perayaan di Hall A–B Lantai 2 Plaza Ambarrukmo, Depok, Sleman, pada Sabtu, 15 November 2025.

Perayaan dihadiri oleh Ketua Umum BK3S DIY GKR Hemas, Paniradyapati Kaistimewan, Forkompinda DIY, Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemda DIY, termasuk Kepala Dinas Sosial DIY, serta perwakilan dinas sosial dari Kabupaten Sleman, Bantul, Kulon Progo, dan Gunungkidul. Turut hadir Keluarga Pendiri dan Perintis BK3S DIY serta mitra perusahaan pendukung acara.

Sekretaris Umum dan Ketua Panitia Pelaksana, Sugiyanto, melaporkan rangkaian acara berlangsung dari pagi hingga malam. Kegiatan dimulai dengan doa bersama, dilanjutkan dengan pemberian penghargaan kepada perintis, pendiri, mitra, serta pengurus dan karyawan dengan masa pengabdian 20 tahun dan kelipatannya.

“Tujuan dan dampak Peringatan HUT 50 tahun BK3S adalah untuk memberikan penghormatan kepada perintis, pendiri dan pemimpin BK3S DIY, di samping itu sebagai siar keberadaan BK3S agar lebih dimengerti dan dimanfaatkan pihak-pihak yang berkepentingan,” ungkap Sugiyanto.

Peringatan usia emas ini juga ditandai dengan peluncuran Lembaga Pelatihan Kerja (LPK-BK3S), peluncuran penerbitan Journal of Society Bridge, dan penerbitan buku berjudul Jejak Pengabdian dari Masa ke Masa BK3S DIY (1975–2025). Acara dimeriahkan pula dengan Expo & Show Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) yang menampilkan produk-produk kreatif LKS binaan, serta Night Talk Show bertema “Sociopreneurship”.

Ketua Umum BK3S DIY, GKR Hemas, dalam sambutannya menyampaikan bahwa BK3S telah memberikan kontribusi signifikan dalam memperkuat kapasitas lembaga kesejahteraan sosial di seluruh DIY, sejalan dengan visi meningkatkan kualitas pelayanan yang profesional, inklusif, dan berkelanjutan.

“Memasuki usia emasnya, BK3S DIY dihadapkan pada tantangan sosial yang semakin kompleks, mulai dari ketimpangan sosial, isu kesehatan mental, dinamika ekonomi keluarga, hingga penanganan kelompok rentan yang membutuhkan pendekatan multidisiplin,” tutur GKR Hemas. Ia berharap BK3S semakin memperkuat peran sebagai rumah koordinasi yang ngemong, mengayomi, dan mendorong kolaborasi lintas sektor.

“Saya bangga dengan program inovasi BK3S seperti Lembaga Pelatihan Kerja (LPK-BK3S) yang di hari ini kita launching, penerbitan Journal of Society Bridge dan penerbitan buku berjudul Jejak Pengabdian Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial DIY,” tutup GKR Hemas.

Sementara itu, salah satu Panitia dan Pengurus BK3S DIY yang juga menjabat Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji, menjelaskan bahwa penyelenggaraan HUT ke-50 di pusat perbelanjaan (Plaza Ambarrukmo) merupakan strategi untuk memperluas akses publik terhadap produk hasil kreativitas LKS se-DIY. “Ini merupakan bentuk kerja sama sekaligus ruang untuk menampilkan unit usaha dari berbagai LKS yang dapat lebih mudah diakses masyarakat umum yang sedang berkunjung atau berbelanja di Mal ini,” ujarnya.

BK3S DIY saat ini membina 365 LKS yang bergerak dalam berbagai pelayanan kesejahteraan sosial, termasuk panti asuhan, panti lansia, serta pelayanan anak terlantar dan yatim. Melalui momentum emas ini, BK3S DIY bertekad untuk terus memperkuat kolaborasi dan menjadi inspirasi utama dalam membangun kesejahteraan sosial yang inklusif dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat Yogyakarta. (Wasana/KIM Depok)