Athiful Khoiri Sabet Juara Lomba Artikel KIM Fest 2025

Sleman – Sekretaris Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) Depok, Athiful Khoiri meraih Juara Lomba Artikel KIM Fest 2025 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Kondisi) RI, melalui tulisannya berjudul “Sekolah Rakyat Strategi Hilirisasi dan Inklusi Pendidikan Untuk Masa Depan”.
Dalam artikelnya, Athiful menegaskan bahwa Sekolah Rakyat (SR) merupakan model pendidikan alternatif yang relevan dan strategis untuk memperkuat akses belajar masyarakat, khususnya kelompok rentan.
“Sekolah Rakyat adalah ekosistem inklusi yang memungkinkan anak-anak dari berbagai latar dapat belajar, berkembang, dan memiliki masa depan,” ujarnya, Kamis (20/11/2025).
Ia bahkan menekankan bahwa Sekolah Rakyat harus dilihat bukan sebagai subsitusi sekolah formal, melainkan sebagai ruang penguatan pendidikan berbasis komunitas. Menurutnya hilirisasi pendidikan yakni upaya pendidikan berkelanjutan masa depan lulusan, menjadi aspek yang harus dibangun serius agar SR tidak berhenti pada kegiatan pembelajaran semata.
Kita harus memastikan bahwa peserta didik memiliki jalur untuk melanjutkan sekolah, mengikuti pelatihan, atau memasuki dunia kerja.
“Di sinilah hilirisasi menjadi penting,” tandas Athiful.
Dalam artikelnya, Ia mengulas pengalaman dan konteks SR di Yogyakarta, daerah yang dikenal sebagai kota pendidikan sekaligus sebagai pusat gerakan kerelawanan. Athiful menilai keberadaan sejumlah SR di Yogyakarta menunjukkan bagaimana masyarakat mampu berkolaborasi untuk menjawab persoalan pendidikan.
Program belajar berbasis minat, kelas pendampingan literasi, serta ruang aman bagi anak-anak, pekerja informal merupakan variasi kegiatan yang menurutnya sangat penting untuk diperkuat.
Athiful juga menyoroti dinamika sosial, ekonomi yang membuat sebagian anak di Yogyakarta masih sulit mengakses pendidikan formal secara penuh, mulai dari faktor ekonomi keluarga, migrasi orang tua perantau, hingga tekanan hidup perkotaan. SR dalam pandangannya hadir sebagai jembatan.
“SR memberi ruang yang fleksibel. Anak-anak bisa belajar tanpa harus bisa terbebani syarat administratif yang rumit. Di sini, pendidikan benar-benar kembali ke inti, yakni memanusiakan manusia,” tulisnya.
Melalui penghargaan di KIM Fest 2025 ini, gagasan Athiful semakin mendapat perhatian luas. Ia berharap pemerintah daerah, kimunitad, dan relawan dapat terus memperkuat jejaring SR di Yogyakarta maupun daerah lain, sehingga pendidikan, benar-benar menjadi hak bersama.
“Kita perlu memastikan tidak ada anak yang tertinggal. Pendidikan harus hadir sedekat mungkin dengan kehidupan mereka,” tegasnya.
Kemenangan ini sekaligus peran aktif KIM Depok Sleman dalam memproduksi gagasan, membuka ruang literasi publik, dan menghadirkan pandangan strategis mengenai isu pendidikan di tingkat lokal dan nasional. (Giek / KIM Moyudan)



