Dinas PMK Sleman Awasi Dana Desa di Margorejo, Pastikan Akuntabilitas Anggaran Tepat Sasaran

Sleman – Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (DPMK) Kabupaten Sleman melaksanakan monitoring dan evaluasi (monev) pengelolaan Dana Desa (DD) dan Bantuan Keuangan Khusus (BKK) di Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, pada Selasa (25/11/2025). Monev ini merupakan bagian dari upaya DPMK untuk memperkuat tata kelola anggaran agar semakin transparan dan akuntabel.

Kegiatan digelar di Ruang Rapat 2 Kalurahan Margorejo dan dihadiri oleh jajaran pamong kalurahan, meliputi Carik, seluruh Kasi dan Kaur, Pendamping Desa, serta perwakilan Badan Permusyawaratan Kalurahan (BPKal). Tim monev DPMK dipimpin oleh Kepala Bidang Administrasi, Keuangan, dan Aset Kalurahan, Yohanes Purnama Kristiawan, didampingi oleh Ratnaningsih, Amalia Puren Fauziah, dan Tutik Tri Handayani.

Dalam sambutannya, Carik Margorejo, Aryanto Wibowo, menegaskan kesiapan pemerintah kalurahan untuk mendukung penuh proses monev.

“Kami siap membuka seluruh dokumen dan data yang diperlukan. Monev ini bukan sekadar pemeriksaan, tetapi bagian dari komitmen bersama untuk memastikan tata kelola Dana Desa dan BKK berjalan transparan, akuntabel, dan manfaatnya benar-benar dirasakan warga,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan DPMK Sleman, Yohanes Purnama Kristiawan, menekankan bahwa monev merupakan instrumen penting untuk menjaga kualitas penyelenggaraan pemerintahan kalurahan.

“Monitoring dan evaluasi ini kami lakukan bukan untuk mencari kesalahan, tetapi memastikan bahwa pengelolaan keuangan desa sesuai regulasi dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Kami ingin mendampingi kalurahan agar tata kelolanya semakin kuat dan tepat sasaran,” jelas Yohanes.

Ia juga mengapresiasi kesiapan Margorejo dalam mendukung proses pemeriksaan, seraya menambahkan, “Kesiapan dokumen dan keterbukaan pemerintah kalurahan sangat membantu memperlancar monev.”

Proses monev meliputi pemeriksaan dokumen perencanaan, penatausahaan, Surat Pertanggung Jawaban (SPJ) kegiatan, serta verifikasi langsung pelaksanaan program yang dibiayai DD dan BKK. DPMK menekankan pentingnya akuntabilitas, ketertiban administrasi, serta efektivitas realisasi program.

Kunjungan DPMK ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperkuat tata kelola pemerintahan desa, mendorong transparansi, dan memastikan bahwa anggaran desa benar-benar digunakan untuk pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Margorejo. (Sbd/KIM Senyum Tempel)




Perkuat Layanan Terintegrasi, Bimtek di Sleman Bahas Transformasi dan Kewenangan Posyandu

Sleman – Upaya modernisasi layanan dasar masyarakat di Kabupaten Sleman dibahas mendalam dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kapasitas Tim Penggerak (TP) Posyandu hari kedua. Acara yang berlangsung Selasa (25/11/2025) di Ruang Pertemuan Kalurahan Margorejo, Tempel, ini menyoroti transformasi Posyandu dan penguatan kewenangan Puskesmas.

Bimtek tersebut menghadirkan tiga narasumber, yaitu Aris Wibawa, Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Tempel, Sartika Pratiwi Fatmaningrum dari Puskesmas Tempel 1, serta Agus Wasiso Wibowo, dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK) Kabupaten Sleman.

Mengawali kegiatan, Carik Margorejo, Aryanto Wibowo, menyampaikan komitmen kalurahan dalam mendukung penguatan Posyandu dan Puskesmas melalui monitoring dan evaluasi berkala.

“Kami di Kalurahan Margorejo siap melakukan monitoring dan evaluasi secara rutin untuk memastikan setiap kegiatan Posyandu berjalan sesuai standar. Bukan hanya menilai, tetapi memastikan bahwa pelayanan betul-betul dirasakan manfaatnya oleh warga,” ujar Aryanto.

Ia menambahkan bahwa peran pemerintah kalurahan sangat krusial dalam keberlanjutan program. “Transformasi tidak akan berhasil tanpa koordinasi yang kuat. Kalurahan berkewajiban memastikan kegiatan berjalan konsisten, terukur, dan berkelanjutan,” tegasnya.

Dalam sesi materi, Aris Wibawa menegaskan bahwa transformasi Posyandu kini melibatkan lima bidang lintas sektor, yaitu Pendidikan, Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat, Ketertiban Umum (Trantibum), dan Sosial. Pendekatan ini mengacu pada dokumen TP Posyandu Sleman 2025.

“Posyandu bukan hanya meja pelayanan, tetapi pusat kegiatan keluarga yang memadukan banyak sektor,” kata Aris, menjelaskan bahwa Posyandu akan menjadi titik integrasi layanan keluarga yang lebih luas.

Narasumber kedua, Sartika Pratiwi Fatmaningrum, menekankan bahwa Puskesmas tetap menjadi pengendali utama layanan kesehatan primer. Ia menjabarkan enam kewenangan standar Puskesmas, mulai dari kesehatan ibu dan anak, imunisasi, gizi, hingga pengendalian penyakit.

“Setiap intervensi di Posyandu harus sesuai standar. Tantangannya adalah memastikan partisipasi warga tetap tinggi dan keluarga tidak hanya datang, tetapi mengikuti saran tenaga kesehatan,” jelasnya.

Penutup materi disampaikan Agus Wasiso Wibowo, yang menekankan pentingnya penguatan kelembagaan Posyandu. Ia menyebut bahwa keberhasilan transformasi sangat bergantung pada kesiapan organisasi dan kader di lapangan.

“Kelembagaan yang kuat adalah syarat mutlak. Posyandu ke depan harus menjadi pusat layanan keluarga yang terintegrasi dan berkelanjutan,” ungkap Agus.

Dengan dukungan pemerintah kalurahan, keterlibatan lintas sektor, dan penguatan mandat Puskesmas, transformasi Posyandu di Sleman ditargetkan menghasilkan layanan dasar yang lebih efektif, modern, dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Bimtek ini menjadi momentum penting penyelarasan dan peningkatan kapasitas menuju keluarga Sleman yang sehat, mandiri, dan sejahtera. (Sbd/KIM Senyum Tempel)




Lawan Arus Globalisasi, Sanggar Tari Larasanti Sleman Komitmen Lestarikan Budaya Lokal

Sleman – Di tengah derasnya arus globalisasi, Sanggar Tari Larasanti yang berlokasi di Jowahan, Sumberagung, Moyudan, Sleman, tetap memegang teguh komitmen untuk melestarikan budaya lokal melalui seni tari dan teater. Sanggar ini telah menjadi rumah bagi seni budaya lokal selama bertahun-tahun.

Sanggar Tari Larasanti dikelola oleh dua bersaudara, Welas Suprapti dan Wusanti. Didirikan sejak 1 Juni 2000, sanggar ini kini memiliki sekitar 120 siswa yang terbagi ke dalam kelompok anak, remaja, dewasa, dan kelas unsur. Meskipun disibukkan dengan profesi sebagai pendidik di sekolah formal, keduanya tetap konsisten meluangkan waktu untuk membina generasi muda dalam bidang seni.

Wusanti, salah satu pengelola sanggar, menuturkan bahwa Sanggar Tari Larasanti telah melalui perjalanan panjang membina anak bangsa.

“Bahkan sekarang ada anak didik saya dari Sanggar ini sudah mempunyai anak,” kata Wusanti saat ditemui di sanggarnya, Senin (24/11/2025).

Welas Suprapti menambahkan, sanggar ini menyediakan pendidikan seni tari yang meliputi tari klasik, tari tradisional, maupun tari modern. Selain itu, mereka juga mendidik seni teater.

“Namun, kami tetap berkomitmen untuk mempertahankan budaya lokal. Untuk tari modern lebih mudah karena tidak ada pakemnya. Sedangkan untuk tari klasik atau tari tradisional ada aturan yang harus dilakukan,” tambah Welas.

Ia menegaskan konsistensi sanggar dalam melestarikan budaya adiluhung.

“Kami tetap konsisten untuk melestarikan budaya lokal, sebagai upaya mempertahankan budaya yang adiluhung,” ujar Wusanti.

Peserta didik sanggar ini memiliki jangkauan yang luas, tidak hanya dari wilayah Moyudan, tetapi juga dari Godean, Gamping, Seyegan, bahkan ada yang berasal dari Kulon Progo. Salah satu siswa senior, Firda, mengaku telah bergabung sejak bangku SMP. Kini, meskipun telah lulus SMK, ia tetap aktif berlatih dan dipercaya menjadi pelatih tari kelompok anak.

Ketika ditanya mengenai motivasinya, Firda menjawab bahwa melestarikan budaya adalah panggilan jiwa generasi muda. “Siapa lagi yang mau melanjutkan dan mempertahankan budaya bangsa, kalau bukan kita generasi muda,” tegasnya. (Giek/KIM Moyudan)




Tingkatkan Kualitas Layanan Publik, Kalurahan Sardonoharjo Susun Standar Pelayanan Baru

Sleman – Pemerintah Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, menggelar Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan dan Penetapan Standar Pelayanan pada Selasa (25/11/2025). Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Lantai II Kalurahan Sardonoharjo ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kualitas dan akuntabilitas layanan publik di tingkat lokal.

Acara tersebut dihadiri oleh berbagai unsur kelembagaan di kalurahan, mulai dari perangkat kalurahan, perwakilan RT/RW, PKK, Karang Taruna, hingga lembaga kemasyarakatan lainnya.

Lurah Sardonoharjo, Harjuno Wiwoho, dalam sambutannya menegaskan bahwa penyusunan standar pelayanan merupakan komitmen mutlak untuk menghadirkan layanan yang lebih baik.

“Penyusunan standar pelayanan merupakan komitmen pemerintah kalurahan untuk menghadirkan layanan yang lebih jelas, terukur, dan mudah diakses oleh masyarakat,” tegas Harjuno.

FGD kemudian dilanjutkan dengan sesi pemaparan teknis. Zuli Susanto, selaku Tata Laksana dan Umum, menjelaskan prosedur layanan administrasi kependudukan agar lebih efektif dan sesuai dengan regulasi terbaru.

Sementara itu, Kamituwo, Bayu Kristiyanto, memaparkan standar pelayanan terkait urusan nikah, talak, dan cerai—layanan krusial yang membutuhkan kejelasan alur maupun batas waktu pelayanan yang pasti bagi warga.

Setelah sesi pemaparan, peserta FGD mengikuti sesi tanya jawab yang berlangsung aktif dan produktif. Para perwakilan lembaga masyarakat memberikan masukan serta pengalaman lapangan yang dinilai penting untuk menyempurnakan draf standar pelayanan yang akan ditetapkan.

Kegiatan diakhiri dengan penandatanganan berita acara yang melibatkan unsur Badan Permusyawaratan Kalurahan (BPKAL), perwakilan RT/RW, PKK, Karang Taruna, dan lembaga kemasyarakatan lainnya. Penandatanganan ini menjadi bentuk pengesahan bersama atas kesepakatan standar pelayanan yang telah dibahas.

Dengan terselenggaranya FGD ini, Pemerintah Kalurahan Sardonoharjo menegaskan komitmennya untuk terus memperbaiki kualitas layanan publik serta memastikan masyarakat mendapatkan kepastian dan kemudahan dalam setiap proses pelayanan. (ESK/KIM DSN)




Kajian AKRAB di Sleman Bahas ‘The Power of Presence’, Kunci Hidup Tenang di Era Distraksi

Sleman – Kajian AKRAB (Aqidah Kokoh Relasi Aman, Batin Tenang) kembali digelar di Omah Katentreman, Turi, Sleman, pada Selasa (25/11/2025). Kajian yang diikuti puluhan peserta laki-laki (ikhwan) ini mengangkat tema yang relevan dengan kehidupan modern, yaitu “The Power of Presence — Hadir Penuh, Hidup Lebih Bermakna.”

Perwakilan panitia, Nanda, menjelaskan bahwa tema ini diangkat dari fenomena umum masyarakat modern: hadir secara fisik namun hati dan pikiran tidak menyertai. Hal ini menyebabkan kualitas interaksi dan ibadah sering terganggu.

“Di tengah dunia yang bising dan serba cepat, kehadiran menjadi hadiah paling mahal — bukan hanya untuk orang lain, tapi juga untuk jiwa kita sendiri,” ujar Nanda. Ia menambahkan bahwa perubahan hidup yang signifikan sering berawal dari momen-momen kecil yang dihadiri sepenuhnya.

Hadir sebagai pemateri, Ade Wijaya mengulas pentingnya hadir sepenuhnya—lahir dan batin—dalam setiap aktivitas, mulai dari interaksi sosial hingga ibadah. Ia menekankan bahwa hadir dengan kesadaran penuh mampu memperbaiki hubungan, menumbuhkan empati, memperkuat ikatan keluarga, serta menghidupkan kembali kekhusyukan ibadah yang sering tergerus kesibukan.

Ade mengajak jamaah meneladani para sahabat dan ulama yang menjaga ‘hadirnya hati’ dalam dakwah dan kehidupan sehari-hari. Menurutnya, fokus dan kesadaran penuh merupakan titik awal perubahan besar. Oleh karena itu, pembahasan dikemas secara aplikatif, mulai dari cara mendengarkan dengan penuh perhatian hingga menghadirkan hati saat berdoa dan berdzikir.

Ia berharap kajian khusus laki-laki ini menjadi ruang refleksi dan penguatan spiritual. Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum bagi peserta untuk kembali menemukan ketenangan dan makna hidup di tengah derasnya distraksi kehidupan.

“Semoga setiap langkah menuju majelis ilmu ini menjadi jalan bagi hadirnya hati kita dalam menempuh kebaikan,” pungkas Ade. (Sbd/KIM Senyum Tempel)