Kepala SMA Ma’arief 1 Sleman Berikan Layanan Antar Jemput bagi Siswanya Agar Tidak Putus Sekolah

Sleman – Ada yang berbeda dari SMA Ma’arief 1 Sleman, Tempel. Kepala SMA Ma’arief 1 Sleman, Wahyu Herlambang menjemput peserta didiknya untuk berangkat sekolah. Ia bahkan mengantar siswa-siswinya pulang menggunakan mobil merahnya.

Pagi itu, Senin (24/11/2025), Herlambang baru saja menurunkan beberapa muridnya tepat di gerbang sekolah. Ia kemudian bergegas menuju ke Pondok Pesantren Al Amin untuk menjemput trip kedua menuju ke Asrama Putri Santriwati.

“Jemput antar ini sudah saya lakukan selama lima tahun. Dulu saya menjemput juga murid laki-laki. Tapi kini ada kendaraan pick-up yang khusus untuk mereka,” jelas Herlambang sambil mengemudikan mobil pribadinya, sebuah Kijang tua tahun 1991.

Mobil tersebut digunalan Herlambang sehari-hari untuk menyusuri Jalan Bibis, menuju ke selatan menyeberang traffic light Tempel. Kemudian menuju ke Padukuhan Plotengan, Kalurahan Pondokrejo, lokasi tempat para santriwati tinggal.

“Mereka umumnya dari keluarga yang kurang mampu. Oleh orang tuanya dititipkan ke pondok untuk pendidikan agama tanpa bayar. Oleh pondok yang bekerja sama dengan SMA Ma’arief dikirim untuk dididik mata pelajaran umum,” tuturnya.

“Pondok menanggung selain biaya hidup, juga biaya sekolah dengan tarif yang lebih ringan daripada siswa regular. Kami semua, murid dan guru bukan orang yang berlebih. Total gaji 16 orang guru dan dua orang tata-usaha, semuanya sekitar enam juta rupiah per bulah. Silahkan dihitung sendiri berapa gaji seorang guru di sini. Saya tidak sampai hati mengurangi gaji mereka yang sudah sangat kecil itu. Saya cukup dari tunjangan sertifikasi,” ungkapnya.

“Kami sudah sampai di lokasi dan murid-murid itu satu persatu masuk ke mobil. Jadi pagi ini sekitar 18 murid perempuan telah dijemput dari dua lokasi, dan nanti sore mengantar mereka pulang,” tandas Herlambang. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)




KSB Merapi Rescue Mantapkan Sistem Barak Inklusi di Lereng Merapi

Sleman — Kelompok Siaga Bencana (KSB) Merapi Rescue Kalurahan Umbulharjo menggelar workshop fasilitasi sistem barak inklusi di Kandang Kuning Bendosari, Senin (24/11/2025). Kegiatan ini berlangsung sejak pagi dan dihadiri anggota KSB, pemerintah kalurahan, serta sejumlah lembaga penanggulangan bencana.

Acara dibuka dengan menyanyikan Indonesia Raya dan Mars KSB, kemudian dilanjutkan sambutan Lurah Umbulharjo.

Ketua KSB Merapi Rescue, Sriyono menegaskan bahwa penguatan sistem barak inklusi merupakan kebutuhan mendesak di kawasan rawan erupsi Merapi.

“Pengungsian harus mampu melindungi semua warga tanpa terkecuali. Barak inklusi memastikan difabel, lansia, ibu hamil, anak-anak, dan kelompok rentan lainnya mendapatkan layanan yang aman, manusiawi, dan layak. Ini standar yang wajib kami terapkan,” ujarnya.

Sejumlah lembaga memberikan tanggapan, antara lain Dinas Sosial DIY, Dinas Sosial Sleman, Bappeda Sleman, serta Yakkum Emergency Unit (YEU) yang selama ini fokus pada respons kemanusiaan dan peningkatan kapasitas komunitas dalam kebencanaan.

Para penanggap menyoroti pentingnya standardisasi layanan, penguatan koordinasi lintas sektor, dan pemutakhiran data kerentanan masyarakat.

Pemerintah Kalurahan Umbulharjo dan Kalurahan Wukirsari sebagai kalurahan penyangga turut aktif dalam sesi diskusi, membahas kesiapan wilayah menghadapi kemungkinan eskalasi aktivitas Merapi.

Workshop ini mempertegas komitmen berbagai pihak untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dan memastikan barak pengungsian yang lebih inklusif, aman, dan responsif bagi warga lereng Merapi. (ESK – KIM DSN NGAGLIK)




Diklat Tingkat Lanjut/Mahir I bagi Ustaz dan Ustazah TKA-TPA se-Kapanewon Seyegan Berlangsung Sukses

Sleman – Badan Koordinasi (Badko) TKA–TPA Kapanewon Seyegan sukses menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan tingkat lanjut/mahir 1 bagi para ustaz dan ustazah Taman Kanak-Kanak Al-Qur’an (TKA) dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA). Kegiatan ini berlangsung di Ruang Puntadewa lantai II Kantor Kapanewon Seyegan, Minggu (23/11/2025). Total peserta mencapai 64 ustaz dan ustazah dari berbagai TPQ di wilayah Seyegan.

Pelatihan tingkat lanjut ini bertujuan memperkuat kompetensi para pendidik Al-Qur’an, khususnya dalam aspek tahsin, metodologi pembelajaran, manajemen kelas, evaluasi kemampuan santri, serta pendalaman metode pembelajaran Al-Qur’an sesuai standar Badko.

Yunan Purwanto mewakili Ketua Badko Kapanewon Seyegan dalam sambutannya menyampaikan bahwa diklat tingkat lanjut/mahir I ini merupakan pendidikan berjenjang dari pendidikan dasar. Di samping itu, ustaz dan ustazah juga dibekali dengan kegiatan peningkatan kapasitas dengan program sahadah I yang sudah berlangsung sampai angkatan ke V.

Ketua Badko TKA–TPA Kabupaten Sleman, H. Mujiono dalam sambutannya menyampaikan pentingnya peningkatan profesionalisme sebagai bentuk kompetensi guru Al-Qur’an dalam menghadapi tantangan pendidikan masa kini.

“Guru Al-Qur’an bukan hanya mengajar cara membaca, tetapi membimbing akhlak dan karakter. Diklat ini menjadi langkah penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan Al-Qur’an di Sleman,” ujarnya.

Mujiono juga menyoroti tentang kemajuan teknologi yang pesat sehingga menjadi tantangan yang berat bagi guru untuk mengajarkan Al Qur’an dengan semenarik mungkin.

Kawat Sosial Kapanewon Seyegan, Subagyo Rahayu mengapresiasi semangat para ustaz dan ustazah dalam mengikuti kegiatan ini. Ia menegaskan bahwa pemerintah kapanewon mendukung penuh program penguatan kapasitas pendidik Al-Qur’an.

“Kami menyambut baik program Badko sebagai upaya membangun generasi Qur’ani yang unggul dan berakhlak,” ungkapnya.

Kapanewon juga menjadi mitra yang responsif terhadap kegiatan Badko dengan selalu memfasilitasi tempat untuk kegiatan seperti diklat yang sedang berlangsung. Diakhir sambutannya, Subagyo secara resmi membuka diklat tingkat lanjut/mahir I, yang ditandai dengan penyerahan Buku Pedoman Pengelolaan dan Kurikulum Implementatif TKA-TPA DIY dan Buku Pedoman Kerja Badko TKA-TPA Propinsi DIY. Proses penyerahan dilakukan Ketua Badko TKA -TPA Kabupaten Sleman kepada Kawat Sosial Kapanewon Seyegan.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, Badko Kapanewon Seyegan berharap mutu pendidikan Al-Qur’an di tingkat lokal dapat terus meningkat, sekaligus memperkuat peran ustaz dan ustazah sebagai pendidik utama dalam pembinaan generasi Qur’ani. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Pasbuja Kawi Merapi Gelar Progam SMS di SMP N 3 Tempel, Berharap Munculkan Sastrawan Jawa Milenial

Sleman – Program Sastrawan Masuk Sekolah (SMS) merupakan terobosan baru bagi Paguyuban Sastra Budaya Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi Kabupaten Sleman. Program tersebut telah menyasar beberapa sekolah di Sleman, baik SD maupun SMP.

Kali ini, program SMS berlangsung di SMP Negeri 3 Tempel, pada Senin (24/11/2025). Dalam kesempatan tersebut Pasbuja Kawi Merapi menerjunkan tiga mentornya, yaitu Achyadi, Wiyana, dan S.P Handayani, serta didampingi Sugiyanto dan Dwi Ony Raharjo.

Kepala SMP N 3 Tempel, Dwi Utami saat memberikan sambutan menyampaikan, merasa bangga atas perhatian Pasbuja untuk memberikan bimbingan masalah sastra Jawa di sekolahnya.

“Mungkin selama ini bahasa Jawa yang merupakan bahasa ibu dan ciri khas DIY banyak ditinggalkan oleh anak-anak. Maka kami tetap berkeinginan untuk menumbuhkan sastrawan-sastrawan milenial, dari sekolah ini,” ujarnya.

Mangga kami serahkan sepenuhnya. Anak-anak kami untuk dibimbing dalam dunia sastra baik geguritan maupun cerkak,” sambung Dwi.

Salah satu anggota Pasbuja Kawi Merapi, Achyadi selaku pemateri menyampaikan tentang geguritan. Achyadi mengajak para siswa untuk tidak takut untuk menulis.

“Sebetulnya kegiatan sastra sudah setiap hari kalian lakukan, tetapi tentu masuk kategori geguritan,” kata Achyadi.

Ia menjelaskan bahwa geguritan merupakan karya sastra, dari rangkaian kata yang indah sebagai ekpresi perasaan.

“Perasaan senang, sedih, atau sesuatu yang kita lihat di sekitar kita,” tandasnya.

Anggota Pasbuja Kawi Merapi lainnya, Wiyana menjelaskan cara menulis cerita cekak (cerkak). Dalam membuat cerkak yang harus diperhatikan yaitu tema, latar, tokoh, dan karakter dari pelaku.

“Buatlah kerangka dari tema tersebut, buatlah cerita yang pendek sesuai dengan peran dari tokoh tersebut,” jelasnya.

Selanjutnya, narasumber ketiga, S.P Handayani yang juga menjadi salah satu anggota Pasbuja Kawi Merapi, dalam kesempatan itu menambahkan bahwa yang harus diperhatikan dalam menulis cerkak yaitu siapa, apa di mana, kapan, dan bagaimana.

Siapa maksudnya siapa pelakunya, siapa yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Apa peristiwa kejadian atau masalahnya.  

“Sedangkan di mana dan kapan merupakan latar dari cerkak, dan bagaiman kejadiannya kita ceritakan. Dari kerangka tersebut bisa dilengkapi dengan mengapa, yang mencakup alasan atau penyebab sebuah kejadian,” pungkasnya.  (Giek/ KIM Moyudan)




Merayakan 270 Tahun Ambarketawang Lewat Kader Posyandu Berprestasi

Sleman – Perayaan Hari Ulang Tahun ke-270 Kalurahan Ambarketawang tahun ini menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali komitmen pelayanan publik berbasis masyarakat. Salah satu agenda yang paling menarik perhatian adalah Lomba Kader Posyandu Berprestasi 2025 se-Kalurahan Ambarketawang, yang bukan hanya menjadi ajang kompetisi, namun juga ruang untuk mengapresiasi kiprah para kader kesehatan yang selama ini menjadi ujung tombak pelayanan di tingkat padukuhan.

Lurah Ambarketawang, Sumaryanto mengungkapkan lomba ini hadir sebagai bentuk penguatan peran kader posyandu dalam menjaga kesehatan ibu dan anak, khususnya di wilayah Kalurahan Ambarketawang yang memiliki jumlah penduduk cukup padat.

Melalui kegiatan ini, pemerintah kalurahan ingin memastikan bahwa pelayanan kesehatan dasar berjalan optimal, sekaligus memberikan ruang pembelajaran bagi para kader untuk saling berbagi praktik terbaik dalam mengelola posyandu di masing-masing wilayah.

Atas nama Pemerintah Kalurahan Ambarketawang, Sumaryanto menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh kader posyandu yang selama ini telah mengabdikan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk melayani masyarakat. Kader posyandu adalah garda terdepan dalam upaya peningkatan kesehatan ibu dan anak, pemantauan gizi balita, serta edukasi kesehatan di tingkat padukuhan.

“Dedikasi panjenengan semua sangat berarti bagi keberlanjutan pembangunan kesehatan di Ambarketawang,” ucapnya, Minggu (23/11/2025).

Lomba ini juga menilai kreativitas dan inovasi para kader dalam menjawab tantangan kesehatan masyarakat masa kini. Mulai dari pengelolaan administrasi, pengembangan program gizi balita, edukasi keluarga, hingga kemampuan membuat media kesehatan yang menarik, semuanya menjadi aspek penting yang dinilai. Hal ini menunjukkan bahwa peran kader posyandu kini semakin kompleks dan membutuhkan kompetensi yang terus berkembang.

Selain itu, kegiatan ini menjadi sarana membangun jejaring dan semangat kolaboratif antar-posyandu di Ambarketawang. Selama proses penilaian, para kader dapat bertukar pengalaman mengenai strategi menghadapi permasalahan kesehatan lokal seperti stunting, imunisasi, dan pemantauan kesehatan lansia. Dengan demikian, lomba ini tidak hanya melahirkan pemenang, tetapi juga memupuk budaya saling belajar antar komunitas.

Melalui kegiatan ini, Sumaryanto berharap setiap kader dapat menampilkan inovasi, kreativitas, serta praktik terbaik dalam mengelola posyandu. Hasil dari lomba ini harus menjadi inspirasi untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan, memperkuat semangat gotong royong, dan memperluas dampak kebaikan di masyarakat.

Setelah dilakukan penilaian oleh dewan juri, diputuskan Aprilia Dwi Astuti dari posyandu Mustika Bunda Mejing Wetan meraih Juara I, Nur Fitrayati dari posyandu Puspa Indah Bodeh sebagai Juara II, Marlena dari posyandu GKP Mejing Lor sebagai Juara III, Mei Wulansari dari posyandu Tirtosari Patukan (Juara Harapan I), Supraptinah dari posyandu Matahari 2 Mejing Lor (Juara Harapan II), serta Bunga Hendrijanuarti dari posyandu Melati Depok (Juara Harapan III). Seluruh pemenang mendapatkan trophy, piagam penghargaan dan uang pembinaan yang diberikan oleh Sumaryanto selaku Lurah Ambarketawang.

Momentum HUT ke-270 Kalurahan Ambarketawang ini memberikan pesan bahwa pembangunan kesehatan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran aktif warga. Lomba kader posyandu menjadi simbol partisipasi masyarakat dalam memajukan daerah mereka sendiri, sekaligus mengingatkan bahwa kesehatan adalah fondasi utama untuk membangun Ambarketawang yang lebih kuat dan berdaya saing.

Melalui ajang ini, Ambarketawang meneguhkan diri sebagai kalurahan yang peduli kualitas hidup warganya, selaras dengan semangat hari jadi ke-270, yakni membangun komunitas yang sehat, mandiri, dan penuh gotong royong. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)