Gerai Koperasi Desa Merah Putih Jogotirto Resmi Dibuka, Jadi Penopang Ekonomi Lokal

Sleman – Lurah Jogotirto, Mitha Mayasari, meresmikan pembukaan gerai Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Jogotirto pada hari Sabtu (22/11/2025). Gerai tersebut menempati dua ruko di komplek Pasar Jogotirto, Jragung, Berbah, Sleman. Gerai tersebut dicat dominasi warna merah dan putih, menyesuaikan dengan nama koperasi.

Acara pembukaan dihadiri oleh Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Berbah Murjiyanto, lurah dan ulu-ulu Jogotirto, pengurus dan anggota KDMP, Badan Permusyawaratan Kalurahan (BPKal) Jogotirto, ketua Kelompok Wanita Tani (KWT), PKK, organisasi kemasyarakatan, serta tamu undangan lain sejumlah 140 orang.

Lurah Jogotirto, Mitha, mengucapkan terima kasih kepada pengurus KDMP yang telah membuktikan progres pergerakan yang positif. Mitha memohon dukungan kepada semua warga Jogotirto untuk ikut serta berpartisipasi atas dibukanya gerai KDMP.

“Koperasi menjadi milik bersama dan untuk kemajuan bersama warga masyarakat Jogotirto,” tutur Mitha.

Ia juga menyampaikan bahwa di awal pembukaan, gerai KDMP menempati ruang yang kecil. Namun, ia berjanji akan membuatkan tempat yang lebih luas dan lebih baik lagi. “Karena Koperasi Desa Merah Putih diharapkan menjadi penopang perputaran ekonomi di wilayah Kelurahan Jogotirto,” tambahnya.

Ketua KDMP Jogotirto, Suatmini, menyampaikan bahwa sebenarnya KDMP diluncurkan serentak secara nasional pada tanggal 15 Juli 2025. Namun, pergerakan masing-masing KDMP kelurahan berbeda, menyesuaikan kemampuan wilayah masing-masing.

KDMP Jogotirto baru bisa membuka gerai kantor, gerai sembako, dan gerai simpan pinjam. Gerai sembako disiapkan untuk memfasilitasi UMKM yang ada di Jogotirto.

“Karena KDMP milik masyarakat Jogotirto dan diusahakan untuk memberikan kesejahteraan warga Jogotirto,” ungkap Suatmini.

Dijelaskan juga, persyaratan untuk menjadi anggota KDMP sangat mudah, yaitu tercatat sebagai warga Kalurahan Jogotirto, mengisi formulir pendaftaran, serta membayar simpanan pokok dan simpanan wajib bulanan . “Siapapun boleh menjadi anggota KDMP Jogotirto,” jelas Suatmini.

Ketua Bidang Usaha KDMP Jogotirto, Sudarmaji, yang merupakan pengusaha properti dan pemilik El Farm budidaya Kambing, menyampaikan bahwa perkembangan KDMP Jogotirto cukup bagus dengan adanya gerai yang diresmikan hari ini, meskipun masih terbatas.

“Yang penting berjalan dulu dan ada gerai yang bisa sebagai awal berjalannya usaha KDMP,” jelas Sudarmaji, menekankan bahwa semua harus disyukuri karena proses usaha harus mandiri, bertahap, dan menyesuaikan kondisi. (Kusnadi/KIM Berbah)




Satpol PP DIY dan Sleman Jadi Narasumber Seminar Jaga Warga Tiyasan Condongcatur

Sleman – Kelompok Jaga Warga Padukuhan Tiyasan, Kalurahan Condongcatur, menggelar seminar bertajuk “Peran Pemuda dan Jaga Warga untuk Masyarakat” dalam upaya memperkuat kolaborasi pemuda dan kelompok Jaga Warga. Kegiatan ini berlangsung di Balai Padukuhan Tiyasan, Sabtu (22/11/2025).

Seminar ini diikuti oleh seluruh pengurus Jaga Warga Padukuhan Tiyasan, pemuda, pengurus kampung, dan tokoh masyarakat Tiyasan. Narasumber yang dihadirkan adalah Anastasia Indah Dwi Wijayanti (Kabid Linmas Satpol PP DIY), Indra Darmawan (Kepala Satpol PP Kabupaten Sleman), dan Reno Candra Sangaji (Lurah Condongcatur).

Kepala Satpol PP Kabupaten Sleman, Indra Darmawan, memaparkan tentang pentingnya memperkuat kerja sama antara penegak hukum daerah, pemuda, dan kelompok Jaga Warga, mengingat tantangan keamanan di tingkat lokal menuntut keterlibatan aktif masyarakat.

“Tantangan keamanan saat ini menuntut keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga ketertiban umum, sehingga partisipasi pemuda menjadi kunci dalam menjaga ketertiban umum di tengah dinamika sosial yang terus berkembang,” ungkap Indra Darmawan.

Sementara itu, Kabid Satlinmas Satpol PP DIY, Anastasia Indah Dwi Wijayanti, menjelaskan tugas dan fungsi Jaga Warga, dasar hukum pembentukannya (Peraturan Gubernur DIY Nomor 41 Tahun 2023), serta strategi pemberdayaan pemuda sebagai mitra strategis.

Ia menjelaskan poin penting dari Jaga Warga adalah prinsip dalam melaksanakan tugas, di mana penyelesaian persoalan di masyarakat tidak semuanya harus masuk ke ranah hukum, tetapi bisa diselesaikan dengan musyawarah mufakat.

“Kelompok Jaga warga mempunyai tugas, di antaranya membantu menyelesaikan konflik sosial yang terjadi di masyarakat, dan juga menyelenggarakan ketentraman dan ketertiban umum di lingkungan masyarakat,” jelas Anastasia Indah Dwi Wijayanti.

Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji, turut memaparkan kebijakan Kalurahan dalam memperkuat kelompok Jaga Warga di 18 padukuhan, termasuk penguatan kapasitas dan pemetaan potensi kerawanan. Ia menyebut Jaga Warga sebagai bagian penting dalam pembangunan sosial berbasis komunitas.

Ia mencontohkan, Tiyasan sebagai padukuhan dengan komposisi warga mayoritas pendatang telah tumbuh menjadi kawasan yang hidup dan berkembang pesat. Keberagaman tersebut menjadi pendorong majunya sektor ekonomi lokal, terlihat dari tumbuhnya berbagai usaha kuliner seperti Sate Ratu, Warung Pengkolan, dan UMKM lainnya.

Seminar yang dipandu oleh Ketua Jaga Warga Tiyasan, Joko Indro Cahyono, ini berlangsung aktif. Sesi tanya jawab turut menyoroti perlunya inovasi sosial dalam menjaga keharmonisan warga, seperti yang disampaikan tokoh masyarakat Sang Kompiang Wirawan.

Inisiatif warga ini diharapkan dapat memperkuat suasana guyub, rukun, dan harmonis, sekaligus menjadikan Tiyasan sebagai contoh padukuhan yang mampu menjadikan keberagaman sebagai modal sosial untuk keamanan dan kemajuan bersama. (Wasana/KIM Depok)




Lurik Tenun Moyudan Bertahan di Era Global Menggunakan Alat Tenun Tradisional

Sleman – Di sudut barat Kabupaten Sleman, tepatnya di Padukuhan Gamplong, Sumberrahayu, Moyudan, terdapat potensi besar dalam peningkatan ekonomi keluarga. Wilayah ini dikenal sebagai desa wisata sekaligus desa kerajinan, dengan nuansa sejuk dan hijau.

Salah satu yang menonjol adalah usaha tenun lurik yang tetap menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Tradisi ini dipertahankan oleh Waludin bersama istrinya, Hariati.

Waludin menuturkan bahwa usahanya tersebut merupakan kelanjutan dari usaha ayahnya yang telah dirintis sejak tahun 1950-an. “Pada awalnya ayah saya memproduksi stagen (kain panjang untuk melilit perut wanita, bagian dari pakaian kebaya),” tutur Waludin, Sabtu (22/11/2025), di tempat usahanya. Seiring perkembangannya, usaha tersebut mulai berinovasi memproduksi kain lurik.

Saat ini, usaha tenun lurik tersebut dibantu oleh 20 orang pekerja. Namun, tidak semua menenun lurik; sebagian juga menenun bahan alam lainnya seperti eceng gondok, lidi, mendong, dan agel.

Proses yang paling rumit dalam tenun lurik, menurut Waludin, adalah proses memasukkan benang ke suri-suri kecil. Sementara tantangan terbesar yang dihadapi adalah kurangnya minat generasi muda untuk menjadi pekerja.

“Pekerja kami sudah banyak yang lansia, sehingga perlu tenaga muda yang lebih energik,” tambahnya.

Untuk pemasaran, Waludin tidak merasa kesulitan. Lokasi Gamplong yang dekat dengan Studio Alam menjadi keuntungan, karena banyak pengunjung yang mampir ke showroom-nya. “Kalau datang langsung ke sini harga relatif lebih murah dibanding dari tengkulak,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengunjung yang datang tidak hanya berbelanja, tetapi juga bisa melihat langsung proses tenun ATBM dan mendapat tambahan pengetahuan cara menenun.

Lebih lanjut, Waludin juga mengutarakan harapan baru tentang tenun lurik seiring dengan adanya instruksi Bupati Sleman yang mengimbau instansi dan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Sleman untuk mengenakan bahan lurik produk lokal.

Sebagai upaya mengikuti perkembangan pasar global, Waludin berusaha meningkatkan pengetahuannya dengan mengikuti berbagai pelatihan yang diselenggarakan oleh paguyuban maupun instansi terkait.

Di akhir pembicaraannya, Waludin mengatakan sebagai bentuk pelestarian budaya tradisional, ia akan terus mempertahankan ATBM. “Budaya tradisional yang adiluhung, salah satunya kain lurik ATBM ini perlu tetap dilestarikan,” pungkasnya. (Giek/KIM Moyudan)




Ragil Jaya Craft Sleman Ubah Limbah Alam Jadi Produk Ekspor Mancanegara

Sleman – Indonesia dikenal memiliki kekayaan alam berlimpah, yang sebagian besar diolah menjadi produk kerajinan unik dan beragam hingga diminati oleh mancanegara. Salah satu pelaku usaha yang mengembangkan potensi ini adalah Ragil Jaya Craft.

Terletak di Padukuhan Gamplong 1, Kalurahan Sumberrahayu, Kapanewon Moyudan, Sleman, Ragil Jaya Craft mengubah bahan alam seperti mendong, lidi, eceng gondok, daun pandan, dan agel (daun gebang) menjadi berbagai produk kerajinan yang unik dan menarik.

Menurut pengelola Ragil Jaya Craft, Waludin, berbagai jenis kerajinan berbahan alam yang diproduksinya antara lain taplak meja, tas, vas bunga, dan berbagai jenis kerajinan lainnya.

“Sementara orang menganggap bahwa eceng gondok sebagai sampah yang tidak berguna, bagi kami dapat bermanfaat,” tutur Waludin di rumahnya, Sabtu (22/11/2025).

Lebih lanjut, Waludin mengatakan bahwa kendala terbesar yang dihadapi adalah ketersediaan bahan baku. “Karena bahan tidak tersedia di sekitaran sini, maka kami harus mendatangkan dari luar daerah,” ungkapnya.

Selain itu, kendala lain yang dihadapi adalah tenaga kerja. Waludin menuturkan adanya kurangnya minat dari generasi muda untuk menggunakan alat tradisional. “Kami selama ini masih tetap menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM),” sambungnya.

Namun, untuk masalah pemasaran tidaklah sulit karena produk kerajinan Ragil Jaya Craft semakin banyak diminati konsumen. “Bahkan produk kami, sudah menembus pasar internasional, diekspor ke Malaysia, Singapura, Korea, Eropa, dan negara-negara lain,” pungkas Waludin. (Giek/KIM Moyudan)




Menguatkan Tauhid dengan Menata Hati dan Introspeksi Diri

Sleman – Ketua Yayasan Bumi Mandiri, Ismail Hermana, mengajak umat Islam untuk senantiasa menata hati dan menguatkan tauhid dalam setiap aspek kehidupan. Pesan ini disampaikan dalam Pengajian Sabtu Pagi bertajuk “Menata Hati, Menguatkan Tauhid” yang digelar di Masjid Baiturrahim, Turi, pada Sabtu (22/11/2025). Kajian tersebut dihadiri oleh ratusan jemaah yang antusias.

Ismail Hermana, yang juga dikenal sebagai Edukator Happy Umrah, menyoroti pentingnya introspeksi diri dan pengakuan akan dosa-dosa yang telah dilakukan manusia. Hal ini termaktub dalam makna mendalam dari Sayidul Istighfar.

“Mungkin baju kita bersih, tapi bisa jadi hati kita belum bersih. Bahkan ketika kita mati, kita dimandikan sampai bersih, dibungkus kain kafan yang bersih, tapi belum tentu rohani kita sudah bersih,” ujar Ismail.

Oleh karena itu, ia menggarisbawahi dua sisi yang harus dilakukan seorang Muslim secara berimbang: banyak memohon ampun kepada Allah SWT, dan di sisi lain, banyak berbuat kebaikan, baik kepada Sang Pencipta maupun kepada sesama makhluk.

Ismail memberikan analogi menarik tentang kehidupan dan dampaknya, seperti sebuah pantulan atau gema. Ia menceritakan kisah seorang ayah yang menjelaskan konsep gema, di mana suara yang dikeluarkan akan diikuti oleh pantulan suara yang sama di lembah.

“Demikianlah kehidupan, apa yang kita lakukan akan memantul, bergema, dan diikuti dengan perbuatan lainnya,” jelasnya. Setiap perbuatan, baik maupun buruk, akan menghasilkan resonansi dalam hidup.

Melakukan kebaikan memang membutuhkan perjuangan, namun kesulitan dalam perjalanan akan terbayar lunas. “Jika mampu melakukannya (kebaikan), akan berbuah kenikmatan,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menggambarkan hidup sebagai sebuah perjalanan spiritual yang sangat ditentukan oleh penutupnya, yakni Husnul Khatimah (akhir yang baik).

“Ibarat buku, yang pada umumnya dinilai dari sampulnya. Begitulah hidup, yang juga ditentukan terutama oleh penutupnya (kematian) dengan Husnul Khatimah,” tuturnya.

Untuk mencapai akhir yang baik, ketaatan perlu dilakukan sedini mungkin dan terus menerus. Senada dengan hal ini, takmir Masjid Baiturrahim, Agus Nugroho Setiawan, yang juga hadir, menyampaikan pesan penting yang harus dijadikan pegangan oleh setiap jemaah.

“Shalatlah di masjid sampai mati, jangan menunggu mati untuk dishalatkan di masjid,” kata Agus Nugroho Setiawan.

Ismail juga mengingatkan bahwa godaan hidup sudah terjadi sejak zaman Nabi Adam AS. Kita semua, katanya, berpotensi banyak salah dan dosa kepada pasangan, anak, orang tua, saudara, teman, dan lainnya. “Oleh karena itu, kita harus banyak memohon ampun kepada Allah antara lain dengan istighfar,” tutup Ismail, menekankan kembali inti dari kajian yang disampaikan.

Pengajian ini menjadi pengingat bagi seluruh jemaah untuk senantiasa membersihkan hati dan menguatkan keimanan sebagai bekal utama di dunia dan akhirat. (Arief Hartanto/KIM Kertomandiri Turi)