Dukung Mutu Lembaga PAUD, Paguyuban Condongcatur Gelar Workshop Asesmen Kurikulum Merdeka

Sleman – Paguyuban Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Condongcatur menyelenggarakan Workshop Penyusunan Asesmen PAUD di Ruang Wacana Loka, Jumat (21/11/2025). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan mutu lembaga PAUD dan diikuti oleh anggota Paguyuban PAUD Condongcatur yang terdiri dari 13 Satuan PAUD Sejenis (SPS) se-Kalurahan.

Workshop ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kalurahan Condongcatur dan Ibu PAUD Kalurahan. Kegiatan ini merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas layanan PAUD melalui pemahaman asesmen yang tepat dan sesuai dengan Pembelajaran Mendalam dalam Kurikulum Merdeka.

Kamituwa Condongcatur, Al Thouvik Sofisalam, membuka secara resmi workshop mewakili Pemerintah Kalurahan. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya apresiasi kepada para pendidik PAUD, peningkatan mutu lembaga, validitas data Dapodik (Data Pokok Pendidikan Anak Usia Dini), pemenuhan 8 Standar Nasional PAUD, serta semangat pendidik dalam menciptakan layanan belajar yang aman dan menyenangkan.

“Validitas data Dapodik juga sangat penting untuk memantau dan meningkatkan mutu lembaga PAUD. Dengan data yang akurat, kita dapat mengidentifikasi kebutuhan dan mengembangkan strategi untuk meningkatkan mutu Lembaga,” ungkap Al Thouvik.

Pada momen tersebut, turut dilakukan penyerahan laptop untuk SPS Tunas Bangsa Pringwulung sebagai lembaga yang aktif dalam proses pemutakhiran Dapodik.

Sementara itu, Ketua Paguyuban PAUD Condongcatur, Reni Lestari, menekankan pentingnya pemahaman pembelajaran mendalam dan penyusunan asesmen yang tepat guna mewujudkan PAUD yang berkualitas.

Materi inti disampaikan oleh narasumber dari HIMPAUDI Kabupaten Sleman, Sri Mardiyanti, yang memberikan arahan mengenai prinsip asesmen, teknik pengamatan perkembangan anak, serta praktik asesmen yang relevan dengan Pembelajaran Mendalam pada Kurikulum Merdeka.

“Prinsip asesmen harus berorientasi pada proses dan hasil pembelajaran. Di samping itu, asesmen harus autentik dan relevan dengan kehidupan sehari-hari, serta berkelanjutan dan berkesinambungan,” jelas Sri Mardiyanti.

Ia juga merincikan teknik Pengamatan Perkembangan Anak melalui observasi, wawancara, penilaian portofolio, dan penilaian kemampuan anak didik dalam menyelesaikan proyek.

Dengan terselenggaranya workshop ini, para pendidik diharapkan mampu menerapkan asesmen yang akurat dan bermakna, sehingga perkembangan anak dapat terpantau lebih optimal dan mutu layanan PAUD semakin meningkat.

Menutup kegiatan, Ibu PAUD Kalurahan Condongcatur, Dewi Nurlaila, menyampaikan pesan agar para pendidik tetap semangat belajar dan dimudahkan dalam mempraktikkan ilmu yang diperoleh, agar membawa keberkahan serta menjadikan PAUD Condongcatur semakin baik, maju, dan berkualitas. (Wasana/KIM Depok)




“Teko Susah, Bali Bungah” Jadi Semangat Pelayanan Publik

Sleman – Gelaran Pasar Bela Negara (PBN) edisi ke-16 kembali hadir dengan suasana yang semakin hidup di utara Lapangan Pemda Sleman pada Jumat (21/11/2025). Program rutin yang diinisiasi oleh Badan Kesbangpol Sleman bersama Carya Budhi Chantya ini terus menjadi pusat perhatian karena konsisten mengangkat semangat kebangsaan sekaligus memberdayakan UMKM lokal.

Pada edisi kali ini, PBN menghadirkan Sigit Indarto, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sleman, sebagai narasumber utama dalam sesi talk show. Dalam pemaparannya, Sigit memperkenalkan tagline baru Dinas Sosial Sleman, “Teko Susah, Bali Bungah,” yang mencerminkan komitmen lembaganya untuk memberikan pelayanan yang membawa solusi dan kebahagiaan bagi masyarakat. Tagline ini dipilih sejalan dengan peran dinas sosial yang erat dengan isu pengentasan kemiskinan dan penanganan kebencanaan.

Sigit juga menyoroti sejumlah program strategis yang dimiliki Dinas Sosial sesuai segmen masyarakat, mulai dari kelompok miskin, kelompok rentan, hingga kepemudaan. Salah satu program unggulan adalah PEDAS (Pejuang Ekonomi Muda Sleman) yang menyasar pemuda usia 18–35 tahun dari keluarga miskin atau rentan miskin. Melalui program ini, peserta menerima bantuan modal usaha hingga Rp3 juta untuk mendorong kemandirian ekonomi dan inovasi di kalangan generasi muda.

Dalam kesempatan tersebut, Sigit turut memberikan apresiasi tinggi terhadap keberadaan Pasar Bela Negara. Menurutnya, PBN telah menjadi ruang positif bagi pelaku UMKM dan berbagai kelompok binaan.

“Kami memastikan bahwa ke depan, para pelaku usaha mikro binaan Dinas Sosial Sleman akan ikut bergabung untuk memperluas akses pemasaran dan meningkatkan pengalaman berwirausaha,” kata Sigit.

Selain fokus pada pemberdayaan sosial, Pasar Bela Negara edisi ke-16 juga menarik perhatian kalangan muda. Influencer muda Saviera Ajeng, yang dikenal luas sebagai Mbak Jawa, turut hadir dan membuat liputan khusus bersama DSN TV. Ajeng mempromosikan kekayaan kuliner tradisional yang dijual di PBN—mulai dari apem, cucur, corobikang, besengek tempe benguk, geblek, mie jadul, hingga berbagai jajanan lawas lainnya yang menjadi daya tarik pengunjung.

Tak hanya itu, Sigit Indarto juga menyampaikan bahwa pada 5 Desember 2025, Dinas Sosial Sleman akan berkolaborasi dengan Badan Kesbangpol Sleman dalam rangka peringatan Hari Disabilitas Internasional, yang akan digelar bersamaan dengan agenda Pasar Bela Negara. Kolaborasi ini diharapkan menjadi wujud nyata inklusivitas dan dukungan kepada penyandang disabilitas.

Dengan hadirnya narasumber inspiratif, keikutsertaan komunitas UMKM, serta partisipasi influencer muda, Pasar Bela Negara kembali menunjukkan perannya sebagai ruang kolaboratif yang menggabungkan edukasi kebangsaan, pemberdayaan sosial, dan pelestarian budaya kuliner lokal. (Andy Ahmad/KIM DSN Ngaglik)




Puskesmas Depok II Kumpulkan Kader Posyandu untuk Validasi Data GIKIA dan KIA

Sleman – Puskesmas Depok II menggelar kegiatan Validasi dan Evaluasi Data Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak (GIKIA) yang diikuti oleh 40 kader posyandu dari seluruh wilayah Kalurahan Condongcatur. Kegiatan dilaksanakan di Aula Puskesmas Depok II pada Jumat (21/11/2025), dengan menghadirkan narasumber Winaryanti, pengampu program Gizi Puskesmas Depok II.

Dalam penyampaiannya, Winaryanti menjelaskan alur surveilans gizi mulai dari pengukuran di posyandu, pemantauan pertumbuhan balita, pengolahan data di puskesmas, hingga validasi serta tindak lanjut bagi balita yang terindikasi bermasalah gizi.

Lilis Rohani, yang memberikan pemaparan Evaluasi Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), menekankan pentingnya peran kader dalam proses ini. Ia menyampaikan berbagai capaian penting, seperti cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan, pelayanan nifas, dan indikator KIA lainnya.

Pada kesempatan tersebut, Puskesmas Depok II juga menyampaikan kabar menggembirakan terkait keberhasilan program pencegahan.

“Capaian distribusi Vitamin A tahun ini menunjukkan hasil yang sangat baik, yaitu 100% pada bulan Februari dan Agustus,” ujar Winaryanti.

Melalui kegiatan ini, Puskesmas Depok II berharap kader semakin memahami alur pengumpulan dan validasi data gizi. Tujuannya adalah agar pemantauan tumbuh kembang balita serta pencegahan stunting di wilayah Kalurahan Condongcatur dapat berjalan lebih optimal. (Tri Suhartati/KIM Depok)




SAH Banyu Bening Sleman Latih Calon Transmigran Kelola Air Hujan

Sleman – Puluhan peserta calon transmigran angkatan VI dan VIII tahun 2025 berkumpul di Kantor Balai Besar Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi (BBPPMT) di Jalan Parasamya 16 Sleman, Jumat (21/11/2025). Mereka mengikuti pelatihan pemanfaatan dan pengelolaan air hujan, sebuah agenda yang dirancang untuk membekali para transmigran dengan kemampuan bertahan di lingkungan baru.

Kepala BBPPMT Yogyakarta, Tunggak Santosa, menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan jawaban atas tantangan nyata di daerah transmigrasi, terutama terkait akses air bersih yang tidak selalu tersedia sepanjang tahun. Menurut Santosa, air hujan yang kerap terabaikan memiliki potensi besar untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, pertanian, hingga peternakan. Oleh karena itu, pihaknya berupaya memperkenalkan teknologi sederhana namun efektif yang dapat diterapkan oleh calon transmigran di lokasi tujuan.

“Pelatihan ini menjadi bagian tak terpisahkan dari program pemberdayaan yang disiapkan pemerintah bagi masyarakat yang akan memulai kehidupan di wilayah transmigrasi,” tandasnya.

Pelatihan bagi calon transmigran angkatan VI dan VIII ini terselenggara atas kerja sama BBPPMT Yogyakarta dengan BBPPMT Banjarmasin. Kerja sama ini mendukung program prioritas 5T Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia yang berfokus pada pengembangan kawasan transmigrasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan pemerataan pembangunan.

“Melalui program unggulan 5T (Trans Tuntas, Trans Lokal, Trans Patriot, Trans Karya Nusa, dan Trans Gotong Royong), Kementerian Transmigrasi bermaksud meningkatkan kesejahteraan dan mengembangkan kawasan transmigrasi secara terpadu dan berkelanjutan,” jelas Santosa.

Lebih lanjut, sebanyak 70 calon transmigran yang berasal dari Kabupaten Sidenreng Rappang, Provinsi Sulawesi Selatan, mendapatkan pelatihan pemanfaatan dan pengelolaan air hujan dari pendiri Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih. Pelatihan ini menggunakan konsep 5M (Menampung, Mengolah, Minum, Menabung, dan Mandiri).

Santosa ingin memastikan setiap peserta tidak hanya siap secara fisik dan mental, tetapi juga memiliki keterampilan praktis yang langsung dapat diterapkan. Pemahaman mengenai pengelolaan air hujan diyakini mampu meningkatkan ketahanan keluarga transmigran pada tahap awal penempatan.

Dalam paparan materinya, Wahyuningsih menjelaskan bahwa pengelolaan air hujan bukan hanya soal menampung, tetapi juga memastikan kualitasnya tetap layak digunakan. Calon transmigran menerima penjelasan mendalam mengenai desain bak penampung, pemasangan talang, penggunaan filter sederhana, hingga teknik pemeliharaan. Semua materi dikemas dengan pendekatan praktik langsung yang memudahkan peserta memahami langkah-langkah penerapannya.

“Banyak dari mereka yang mengaku belum pernah mengenal teknik pemanenan air hujan sebelumnya, sehingga pelatihan ini membuka wawasan baru tentang bagaimana mereka dapat menciptakan sumber air alternatif yang hemat biaya dan ramah lingkungan,” ucap Wahyuningsih.

Selain sebagai bekal teknis, pelatihan ini diharapkan dapat menguatkan daya adaptasi calon transmigran ketika menghadapi musim kemarau di daerah tujuan. Wahyuningsih menekankan bahwa pemanenan air hujan dapat mengurangi ketergantungan terhadap sumber air tanah atau pasokan dari pihak luar. Kemandirian dalam pengelolaan air akan berdampak langsung pada keberlanjutan usaha pertanian dan kebutuhan domestik keluarga transmigran.

Sebagai bentuk apresiasi, Direktur Perencanaan Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia, Bambang Widyatmoko, menyerahkan plakat penghargaan kepada Wahyuningsih untuk memperkuat jejaring kemitraan antara pemerintah dengan komunitas lokal yang memiliki kompetensi khusus di bidang lingkungan dan kemandirian sumber daya air. (Adnan Nurtjahjo/KIM Gamping)




SMA Ma’arif 1 Sleman, Sekolah Inklusif yang Menerima Korban Perundungan dan Siswa Bermasalah

Sleman – Di tepi Jalan Bibis, Kalurahan Merdikorejo, berdiri SMA Ma’arif 1 Sleman. Sekolah ini terbilang kecil, hanya memiliki 48 siswa yang terbagi dalam tiga kelas—X, XI, dan XII. Sekitar 80 persen siswanya adalah santri yang berasal dari pondok pesantren di wilayah Tempel.

Kepala Sekolah, Wahyu Herlambang, menjelaskan bahwa jumlah siswa di sekolah ini bersifat fluktuatif. “Setiap kelulusan jumlahnya berkurang, tetapi kemudian bertambah lagi dari siswa pindahan,” ujarnya, Kamis (20/11/2025).

Menurut Wahyu, sebagian besar siswa pindahan yang diterima adalah anak-anak yang mengalami masalah di sekolah mereka sebelumnya. “Orang tuanya sudah kewalahan, kemudian menitipkannya ke sini,” ungkapnya.

Ia menegaskan, dalam kondisi apa pun, pihak sekolah akan menerima dan berupaya membimbing para siswa tersebut.

Banyak dari siswa pindahan ini merupakan korban bullying atau perundungan. Di sekolah kecil ini, mereka mendapatkan perlakuan yang penuh empati. “Kami anggap mereka keluarga,” kata Wahyu.

Ukuran sekolah yang tidak terlalu besar justru mempermudah pengawasan dan menciptakan interaksi yang lebih dekat antara guru dan murid.

Wahyu, yang telah memimpin sekolah ini selama 20 tahun sejak 2006, menjelaskan bahwa sejak awal ia membangun kultur sekolah yang ramah, suportif, dan inklusif. Para siswa lama diorientasikan untuk menerima teman-teman baru mereka dengan hangat.

“Kami ingin menumbuhkan keberanian dan kepercayaan diri mereka kembali,” tambahnya.

Upaya ini membuahkan hasil. “Alhamdulillah, anak-anak korban bullying yang pindah ke sini dapat pulih dan menyelesaikan studi dengan baik,” ujarnya.

Tidak hanya korban perundungan, sekolah ini juga pernah menerima siswa yang terlibat tawuran dan geng pemuda. Wahyu mengenang satu kasus ekstrem.

“Pernah ada anak yang sampai tertangkap polisi karena membawa senjata celurit dan bom Molotov,” ujarnya. Namun, dengan pendekatan pembinaan yang intensif, anak tersebut akhirnya lulus dan berhasil berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

“Yang penting kami berikan kepedulian. Anak-anak ini hanya butuh perhatian, didengar, dan diarahkan,” tutup Wahyu. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)