Kunjungan Siswa Papua ke Polsek Ngaglik Tekankan Kesadaran Nasional dan Disiplin Hukum

Sleman — Polsek Ngaglik menerima kunjungan istimewa dari para siswa SMP Marsudirini Muntilan yang berasal dari Papua, Timika. Kunjungan edukatif yang berlangsung pada Rabu (19/11/2025) ini, dipimpin oleh pengasuh sekaligus penanggung jawab rombongan, Mario Kurniawan Broto.

Dalam kunjungan tersebut, Kapolsek Ngaglik, AKP Yuliyanto memberikan pembekalan penting terkait wawasan kebangsaan, kesadaran nasional, dan pemahaman mengenai negara hukum. Para siswa diajak memahami bahwa Indonesia sebagai negara hukum mengikat seluruh warga negara untuk taat pada aturan demi terciptanya kehidupan yang tertib dan harmonis.

“Ketertiban dan keamanan lingkungan itu sangat penting, terutama bagi generasi muda yang akan menjadi penerus bangsa,” ujarnya.

AKP Yuliyanto juga memberikan penyuluhan tegas mengenai bahaya penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan minuman keras, yang menjadi ancaman serius bagi masa depan generasi pelajar.

Kegiatan tersebut berjalan hangat dan interaktif. Para siswa tampak antusias, bahkan turut berdialog langsung dengan Kapolsek mengenai tugas kepolisian, disiplin hukum, serta peran anak muda dalam menjaga keamanan masyarakat.

Kunjungan ini diharapkan dapat memperkuat rasa cinta tanah air dan menanamkan nilai-nilai kedisiplinan sejak dini, terutama bagi pelajar dari berbagai daerah yang sedang menempuh pendidikan jauh dari kampung halaman. (ESK – KIM DSN NGAGLIK)




KORWIL Tempel, Buka SMS di SD N 2 Banyurejo

Sleman – Program Sastrawan Masuk Sekolah (SMS) yang diprakarsai Paguyuban Sastra Budaya Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi Kabupaten Sleman terus berlanjut. Kali ini menyasar di SD Negeri 2 Banurejo, Tempel Sleman. Kegiatan tersebut berlangsung pada Rabu (19/11/2025).

Pada kesempatan tersebut Korwil Tempel, Norhayati menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Pasbuja Kawi Merapi yang dengan sukarela memberikan bimbingan tentang Sastra Jawa.

Ia menuturkan saat ini anak-anak merasa tidak familiar dengan Sastra Jawa bahkan dianggap sulit.

“Semoga dengan kegiatan ini bisa mengubah anggapan tersebut, apalagi Bahasa Jawa merupakan budaya yang sudi luhung dan menjadi ciri khas Daerah Istimewa Yogyakarta,” ungkapnya.

Kepala SD N 2 Banyurejo, Winar Hayanti dalam sambutannya juga menyampaikan hal yang senada dengan Korwil Tempel.

“Kami merasa bangga dan tersanjung dengan kegiatan ini, semoga bisa memberikan warna baru bagi SD kami. Semoga kegiatan ini bisa memberikan semangat baru bagi anak-anak untuk menuangkan buah pikirannya ke dalam Sastra Jawa,” pungkasnya.

Perwakilan Pasbuja Kawi Merapi, Achyadi menyampaikan bahwa sebagai bentuk kepedulian dalam nguri-nguri Sastra jawa, Pasbuja atas rekomendasi Dinas Pendidikan Kabupten Sleman menyelenggarakan program SMS.

“Program ini bertujuan untuk memberikan pemaham tentang Sastra Jawa baik dalam bentuk geguritan, cerita cekak (cerkak), dan tembang Jawa,” jelas Achyadi.

Seorang Wartawan Kedaulatan Rakyat, Fadmi Sustiwi mengupas tuntas tentang materi cerkak. Ia mengungkapkan sebenarnya menulis cerkak hal yang mudah, yang dibutuhkan hanya keberanian.

“Jangan takut salah, karena salah masih bisa diperbaiki, tetapi kalau takut berkarya kita tidak bisa berkembang,” katanya.  

Fadmi pun menguraikan tata cara membuat cerkak. “Dalam membuat cerkak caranya tentukan tema dan tujuan cerita, buat tokoh dan latarnya, susun kerangka alurnya,” Kata Fadmi.

Lebih lanjut, tema adalah ide pokok yang ingin diceritakan. Sedangkan tujuan merupakan amanat atau pesan yang ingin disampaikan. Selanjutnya tokoh (paraga) menciptakan tokoh yang berperan dalam cerkak.

“Tentukan karakter dan sifat tokoh tersebut dari tokoh yang kamu buat. Kemudian tentukan setting (latar) gambarkan tempat, waktu, dan suasana cerita berlangsun,” jelasnya.

“Selanjutnya tulis ke dalam Bahasa Jawa yang ringkes (ringkas), gancaran (gaya bebas), gampang dimangerteni (gampang dipahami, dan sesuaikan gaya bahasanya agar cerita lebih menarik dan mrnyentuh,” sambung Fadmi. (Giek/KIM Moyudan)




CETAR: Prinsip Pelayanan Publik Kapanewon Moyudan

Sleman – Dalam rangka memberikan pelayanan yang prima bagi warganya Pemerintah Kapanewon Moyudan Sleman, memberikan pelayanan yang inovatif. Hal tersebut disampaikan oleh Panuwu Anom Moyudan, Mahmudah Arfiyati, ketika ditemui di kantornya Selasa (18/11/2025).

Mahmudah mengutarakan bahwa pelayanan inovatif tersebut sudah diluncurkan sejak tanggal 28 Agustus 2025 oleh Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa.

Lebih lanjut Mahmudah merinci jenis-jenis pelayanan publik inovatif tersebut, di antaranya PASTAYUDA (Pelayanan Administrasi Tanah Moyudan), sebuah layanan berbasis digital melalui akses barcode untuk mengakses berbagi opsi layanan.

Selanjutnya pelatanan inovatif PAK WILDAN (Pelayanan Administrasi Kependudukan Wilyah Moyudan.)

“Inovasi ini adalah pengurusan adminstrasi yang dapat diantar langsung oleh petugas,” ungkap Mahmudah.

Ia menjelaskan jenis layanan publik lainnya yaitu MATA BERLIAN (Mari Kita Bersama Lindungi Anak dan Perempuan). Jenis pelayanan ini memberikan kesempatan kepada siapapun baik penduduk Moyudan maupun yang ber KTP luar Moyudan, tetapi kejadian kasus kekerasannya terjadi di Wilayah Moyudan.

“Cara mengakses layanannya datang langsung ke kapanewon untuk membuat laporan, dan sudah ada petugas yang siap melayani,” jelasnya.

“Moyudan dalam memberikan pelayanan berprinsip CETAR (Cepat, Efektif, Tepat, Akurat, dan Ramah),” sambung Mahmudah.

Panewu Moyudan, Agung Dwi Maryoto mengungkapkan bahwa iniovasi pelayanan publik tersebut dimaksudkan sebagai upaya memberikan kemudahan pelayanan kepada masyarakat.

“Inovasi tersebut merupakan komitmen kami dalam meningkatkan mutu pelayanan kepada masyarakat. Selain inovasi pelayanan publik Pemerintah Kapanewon Moyudan juga melakukan kerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan BAZNAS Kabupaten Sleman,” kata Agung.

“Adapun bentuk kerja sama dengan UMY yaitu berupa pendidikan gratis bagi warga Moyudan yang kuranga mampu.  Sedang biaya transportasinya ditanggung Baznas,” sambungnya. (Giek/ KIM Moyudan)




Peringati HKN ke-61, Dinkes DIY Gelar Seminar Kesehatan Bahas Upaya Tekan AKI, AKB dan Stunting dan Literasi Kesehatan Remaja

Sleman — Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional HKN ke-61, Dinas Kesehatan DIY menyelenggarakan seminar kesehatan di Gedung Militaire Societeit, pada Selasa (18/11/2025). Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber salah satunya adalah dr Phyowai Ganap dari Departemen Obstetri, dan Ginekologi FKKMK UGM yang membawakan materi berjudul Peran ANC Berkualitas untuk Mendukung Penurunan AKI AKB dan Penurunan Stunting.

Adapun peserta yang hadir dari berbagai unsur termasuk utusan dari Kabupaten Sleman, perangkat OPD Dinas Kesehatan, puskesmas, kader posyandu, serta tamu undangan dari Dinkes kabupaten dan kota perwakilan puskesmas lintas program di Dinkes DIY OPD DIY perwakilan SMA dan SMK se DIY dan unsur terkait lainnya.

Dalam paparannya dr Phyowai menekankan pentingnya memastikan kehamilan dipantau secara rutin dan berkualitas.

“Untuk mendukung upaya penurunan angka kematian ibu AKI angka kematian bayi AKB serta mencegah stunting, ibu hamil dianjurkan melakukan pemeriksaan kehamilan ANC minimal enam kali yakni pada trimester 1 sebanyak 1 kali, trimester 2 sebanyak dua kali dan pada trimester 3 sebanyak tiga kali,” ungkapnya.

Selain pemeriksaan teratur ibu hamil juga perlu mengonsumsi makanan bergizi seimbang serta MMS atau Multiple Micronutrient Supplement yang mengandung beragam vitamin dan mineral penting bagi tumbuh kembang janin dan kesehatan ibu.

Narasumber kedua adalah perwakilan Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) DIY, Legiman yang menyampaikan materi bertema meningkatkan literasi kesehatan remaja di sekolah.

Legiman menjelaskan bahwa literasi kesehatan remaja sangat penting karena masa remaja merupakan fase perkembangan yang menentukan dan dibutuhkan untuk pengambilan keputusan yang tepat. Arus informasi digital yang begitu cepat juga memicu risiko misinformasi yang dapat berdampak pada perilaku dan kesehatan remaja.

Menurut Legiman makna literasi kesehatan remaja mencakup kemampuan untuk mengakses informasi yang lebih valid memahami informasi secara kritis menilai kebenaran dan manfaat informasi mengambil keputusan terkait perilaku sehat mampu berkomunikasi dengan pihak lain seperti tenaga kesehatan serta mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan. (Tri Suhartati KIM Depok)




Pengurangan Risiko Bencana (PRB) KSB TIRTA SEMBADA Tegaltirto Dorong Warga Siaga Hadapi Perubahan Iklim

Sleman — Upaya peningkatan kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman bencana terus diperkuat di tingkat akar rumput. Kelompok Siaga Bencana (KSB) Tirta Sembada Kalurahan Tegaltirto, Kapanewon Berbah menggelar sosialisasi Pengurangan Risiko Bencana (PRB), pada Selasa (18/11/2025). Kegiatan ini menjadi agenda penting  dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.

Kegiatan yang berlangsung di Ruang Pertemuan Kelompok Tani Ternak Andini Mulyo, Padukuhan Semoya, tersebut dihadiri oleh Dukuh Semoya, ketua dan anggota kelompok kandang, serta Ketua dan anggota KSB Tirta Sembada. Acara berlangsung dengan suasana dialogis serta partisipatif.

Dalam sambutannya, Ketua KSB Tirta Sembada, Sumarno menegaskan bahwa pemahaman mengenai PRB bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kewajiban seluruh warga.

 “Pengurangan Risiko Bencana adalah tanggung jawab bersama. Warga harus memahami ancaman, kerentanan, dan langkah mitigasi agar kita mampu menghadapi perubahan iklim yang semakin tidak menentu,” ujarnya.

Sesi inti berfokus pada pemaparan konsep PRB, praktik mitigasi di tingkat rumah tangga dan komunitas, serta langkah-langkah adaptasi yang relevan bagi wilayah Tegaltirto yang memiliki beragam potensi risiko. Peserta juga aktif bertanya mengenai strategi evakuasi, penempatan jalur penyelamatan, hingga pengelolaan lingkungan untuk mengurangi dampak bencana.

Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari pelaksanaan program kerja KSB Tirta Sembada tahun 2025 yang menitikberatkan pada edukasi berkelanjutan, penguatan kapasitas komunitas, dan peningkatan kesiapan menghadapi perubahan iklim.

Dengan terselenggaranya sosialisasi ini, KSB Tirta Sembada berharap masyarakat semakin sadar, tanggap, dan terlatih dalam mengantisipasi risiko bencana, sehingga tercipta lingkungan yang lebih aman dan tangguh di tingkat desa.

(ESK – KIM DSN NGAGLIK)