Perkuat Profesionalitas dan Tata Kelola, Satkorcab Banser Sleman Tertibkan Kartu Tanda Anggota

Sleman – Di tengah perkembangan organisasi yang semakin dinamis, Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dituntut untuk memiliki sistem administrasi yang tertib dan akuntabel. Salah satu fondasi penting dalam mewujudkan tata kelola organisasi yang rapi adalah pendataan keanggotaan yang terstruktur melalui Kartu Tanda Anggota (KTA).

Pendataan keanggotaan Banser yang dilakukan Satuan Koordinasi Cabang (Satkorcab) Banser Kabupaten Sleman di Pondok Pesantren Assalimiyah Mlangi, Minggu (16/11/2025), meliputi proses verifikasi, pemetaan kompetensi, serta dokumentasi status kaderisasi.

Kepala Satkorcab Banser Kabupaten Sleman, Jalal Machali, menekankan bahwa lewat pendataan ini, pimpinan dapat mengetahui anggota aktif, potensi kader yang memiliki keahlian tertentu, hingga anggota yang membutuhkan penguatan kapasitas.

“Data yang terkelola baik akan menjadi dasar penting untuk merancang pelatihan, penugasan, maupun strategi pengembangan sumber daya manusia Banser secara terarah,” ujarnya.

Guna memastikan jumlah anggota Banser yang aktif di jajaran Satuan Koordinasi Rayon Banser Kapanewon Gamping, Jalal menginstruksikan Kepala Sekretariat dan Markas Banser Kabupaten Sleman, Ahmad Nur Sa’bani, melakukan pendataan dan pemotretan sebagai dasar pembuatan KTA Banser.

KTA Banser merupakan identitas resmi yang menegaskan status keanggotaan seseorang di dalam organisasi, termasuk bukti legalitas yang menunjukkan bahwa seorang kader telah melalui proses kaderisasi dan terdaftar secara sah di struktur resmi.

Selain sebagai identitas, kartu keanggotaan memudahkan pendataan dan administrasi berbagai tingkatan, mulai dari ranting hingga pusat. Administrasi yang rapi hanya dapat terwujud jika setiap anggota memiliki nomor identitas yang jelas dan tercatat dalam sistem.

Harapannya, pengurus dapat lebih mudah melakukan verifikasi anggota aktif, kebutuhan pelatihan, hingga pemetaan kompetensi kader.

“Hal ini penting untuk membangun organisasi yang tertib, modern, dan efisien,” jelas Sa’bani.

Dalam kegiatan pengamanan, kemanusiaan, ataupun kolaborasi lintas sektor, KTA menjadi bukti formal yang mempermudah koordinasi dan meningkatkan kepercayaan mitra kerja. Dengan identitas yang jelas, anggota Banser dapat menjalankan tugas lapangan dengan lebih profesional dan diakui secara resmi.

Lebih jauh, keberadaan kartu anggota menjadi bentuk kebanggaan tersendiri bagi setiap kader. Selain sebagai identitas, ia simbol pengabdian, loyalitas, dan komitmen terhadap organisasi. Dengan memiliki KTA, anggota menunjukkan keseriusan dalam mengikuti aturan organisasi serta kesiapan untuk terlibat aktif dalam kegiatan Banser.

“KTA pada akhirnya membangun rasa memiliki sekaligus memperkuat soliditas antaranggota di seluruh wilayah,” pungkas Sa’bani menutup keterangannya. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




17 Kapanewon Meriahkan Gelar Macapat Sleman 2025, Kuatkan Identitas Budaya Jawa

Sleman – Tradisi sastra lisan Jawa kembali mendapat panggung kehormatan di Kabupaten Sleman melalui Gelar Macapat 2025. Acara ini diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman bekerja sama dengan Paguyuban SMSS (Sekar Manunggal Sleman Sembada) pada Senin malam (17/11/2025) di Gedung Kesenian Denggung.

Gelaran ini menghadirkan penyaji macapat dari 17 kapanewon. Setiap kapanewon mengirimkan tiga paraga (pemain) lengkap dengan busana adat surjan atau kejawen jangkep. Acara ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kecintaan masyarakat, terutama generasi muda terhadap macapat, sebuah warisan adiluhung yang sarat nilai moral, pitutur luhur, dan filosofi kehidupan.

Pada kesempatan tersebut, peserta mendapatkan pemaparan mendalam dari narasumber Indriyani Voluntiri Aziz, perwakilan MGMP Bahasa Jawa SMP Kabupaten Sleman. Ia menegaskan bahwa macapat bukan hanya karya sastra, tetapi juga wahana pelestarian bahasa ibu dan nilai budaya.

Menurutnya, pemahaman terhadap guru gatra, guru lagu, hingga konteks filosofi tembang merupakan fondasi penting agar tradisi ini tetap hidup. “Macapat itu seperti bibit unggul. Jika diberi ruang tumbuh, ia akan menjadi patuladhan atau contoh yang baik,” paparnya. Indriyani menilai bahwa ketika seseorang mulai akrab dengan macapat, tradisi itu akan tumbuh menjadi “tunas budaya” yang menguatkan identitas Jawa.

Indriyani juga menekankan pentingnya kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan komunitas budaya dalam pelestarian ini. Keluarga menjadi lingkungan pertama dalam pembiasaan bahasa Jawa, sementara sekolah memperkuat pemahaman siswa melalui pembelajaran berjenjang, misalnya: Kinanti untuk kelas 7, Pangkur untuk kelas 8, dan Dhandhanggula untuk kelas 9.

“Tidak mudah mengajarkan macapat jika siswa tidak terbiasa mendengar atau menggunakan bahasa Jawa. Karena itu, kolaborasi keluarga, sekolah, dan masyarakat adalah kunci,” tegasnya.

Komunitas macapat di berbagai kalurahan juga dinilai berperan besar melalui latihan rutin, pentas, dan gelaran budaya yang memperkuat pembiasaan.

Dalam materi bertajuk “Menapa Macapat Hits Tumrap Lare?” (Apakah Macapat Populer di Kalangan Anak Muda?), Indriyani menjelaskan bahwa kedekatan emosi melalui bahasa ibu menjadi alasan utama macapat kembali diminati generasi muda. Kosakata khas Jawa seperti wakul, ketel, atau wijik yang sering muncul dalam tembang menjadi jembatan antara kehidupan modern dan budaya leluhur. “Bahasa adalah pintu kebudayaan. Saat anak-anak memakai bahasa Jawa, meski sederhana, mereka sedang membuka jalan memahami sastra dan identitas Jawa,” terangnya.

Materi ditutup dengan ajakan pelestarian: “Witing tresna jalaran saka kulina. Dimulai dari sering membaca dan mendendangkan macapat, lama-lama tumbuh rasa cinta,” pesannya.

Sesepuh SMSS, Panggih HM, menyampaikan apresiasi atas semangat para pelaku budaya Sleman. “Macapat bukan sekadar tembang, tetapi jati diri. Lewat acara ini kita tidak hanya nguri-uri tradisi, tetapi juga nyawiji antar generasi,” ujarnya. Ia berharap gelaran ini menjadi ruang temu antargenerasi sekaligus ajang regenerasi bagi pelajar.

Kepala Bidang Sejarah, Bahasa, Sastra, dan Permuseuman Kundha Kabudayan Sleman, Joko Dwi Haryadi, menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga kesinambungan pelestarian budaya Jawa. “Gelar Macapat ini bukan hanya panggung seni, tetapi ruang perjumpaan nilai. Ketika 17 kapanewon hadir bersama malam ini, itu bukti bahwa Sleman memiliki kekuatan budaya yang luar biasa,” ungkapnya. Ia menambahkan, pihaknya berkomitmen agar macapat tetap hidup di sekolah, di komunitas, dan di rumah.

Dengan dukungan penuh komunitas macapat dan karawitan se-Sleman, Gelar Macapat 2025 berlangsung meriah sekaligus khidmat. Iringan karawitan dari Kapanewon Berbah memberikan nuansa musikal yang memperkaya suasana panggung. Acara ini menegaskan bahwa macapat tidak hanya bertahan, tetapi terus berkembang dan semakin relevan di tengah perubahan zaman. (SBD/KIM Senyum Tempel




Tingkatkan Literasi Anak Sejak Dini, Kalurahan Mororejo Gelar Lomba Mewarnai dalam Rangka Hari Pahlawan

Sleman – Dalam rangka meningkatkan literasi untuk anak TK sekaligus memperingati Hari Pahlawan, Pemerintah Kalurahan Mororejo menyelenggarakan lomba mewarnai gambar. Lomba ini dilaksanakan pada Minggu (16/11/2025) di Balai Kalurahan setempat, dan diikuti oleh anak-anak dari empat TK yang ada di Mororejo, yakni TK ABA Kragan, TK ABA Plumbon, TK ABA Durensawit, dan KBTK Putra Handayani.

Kegiatan dihadiri oleh Sekretaris Perpusda Sleman Rini Puspitasari, Lurah Mororejo Jaka Ristanta beserta perangkat Kalurahan, Ketua TP PKK Mororejo, Babinkamtibmas, Babinsa, serta para ibu guru pendamping dan anak-anak peserta lomba.

Dalam sambutannya, Lurah Mororejo Jaka Ristanta mengucapkan terima kasih atas antusiasme anak-anak dan orang tua untuk mengikuti lomba. Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini dimaksudkan untuk mengenalkan adanya pojok baca atau perpustakaan di Kalurahan Mororejo. “Harapannya, pojok baca ini bisa meningkatkan literasi dan minat baca pada anak-anak sejak dini,” ujar Jaka Ristanta. Ia juga berharap Perpusda Sleman berkenan mendukung lagi dengan memberi tambahan buku-buku koleksi.

Sekretaris Perpusda Sleman, Rini Puspitasari, mengapresiasi anak-anak sebagai generasi penerus yang mau mengenang jasa-jasa para pahlawan dengan kebahagiaan menuangkannya dalam lomba mewarnai.

Ia juga menekankan fungsi perpustakaan yang lebih inklusif. “Pojok baca atau perpustakaan saat ini bukan hanya tempat menyimpan dan membaca buku saja, tapi lebih bersifat inklusif sosial yang bisa pula digunakan untuk kegiatan lomba dan belajar mewarnai, menyanyi, pelatihan keterampilan bisnis, dan kegiatan lainnya yang bisa berdampak pada kesejahteraan masyarakat,” jelas Rini.

Lomba ini tidak dikenakan biaya pendaftaran, dan semua peserta mendapatkan fasilitas makan minum, buku cerita, puluhan doorprize, games, serta mendengarkan dongeng dari Bunda Sulastri, juara 3 dongeng tingkat DIY.

Setelah games dan pembagian doorprize, kegiatan diisi dongeng oleh Bunda Sulastri yang menyampaikan tema tentang kepahlawanan. Siapa pahlawan masa kini? Ia menjelaskan bahwa pahlawan masa kini adalah siapa saja yang berjasa dan memberi dampak positif bagi orang banyak. Pahlawan tidak selalu harus memegang senjata turun ke medan perang seperti pahlawan zaman dahulu, tetapi melalui tindakan nyata, kepedulian, dan kontribusi bagi kemajuan bangsa.

Bunda Sulastri memberikan beberapa contoh pahlawan masa kini. “Pahlawan masa kini itu seperti tenaga medis yang menyelamatkan nyawa, guru-guru yang membentuk karakter generasi penerus, relawan sosial yang membantu korban bencana, penegak hukum seperti polisi dan tentara yang menjaga keamanan dan ketertiban, serta ilmuwan yang menciptakan teknologi berguna bagi banyak orang,” ujarnya.

Acara diakhiri dengan pengumuman dan penyerahan hadiah bagi juara lomba. Anak-anak yang mendapat juara maupun yang tidak, tetap sama-sama gembira tanpa beban. (Sulistiyono/KIM Seyegan)




Kontingen Gungan Juara Turnamen E-Sport PES PORKAL Wukirsari 2025

Sleman – Turnamen E-Sport PES Wukirsari 2025 yang digelar di Aula Utama Balai Kalurahan Wukirsari pada Minggu (16/11/2025) berlangsung meriah. Sebanyak 36 peserta dari berbagai padukuhan berpartisipasi dalam ajang yang menjadi bagian dari Pekan Olahraga Kalurahan (PORKAL) Wukirsari Tahun 2025 tersebut.

Meskipun setiap padukuhan hanya diperbolehkan mengirimkan dua atlet terbaik, hal itu tidak mengurangi ketatnya persaingan. Sejak pertandingan dimulai, atmosfer kompetisi langsung terasa panas. Aksi pressing ketat, serangan cepat, hingga gol-gol dramatis mewarnai jalannya turnamen.

Setelah melalui sederet laga intens, kontingen dari Padukuhan Gungan, yang diwakili oleh Yoan Nessa Bagaskara, berhasil keluar sebagai juara pertama. Posisi kedua ditempati Edvan Vio Fradhastya dari Padukuhan Cancangan, sementara Padukuhan Tanjung harus puas di posisi ketiga. Adapun gelar Top Score diraih oleh Edvan Vio Fradhastya, atlet dari Padukuhan Cancangan, yang tampil impresif sejak babak awal.

Selain pertandingan utama, panitia juga mengadakan mini-kompetisi khusus bagi penonton. Delapan peserta terpilih ikut serta dan berhasil menciptakan suasana yang tak kalah seru dari laga para atlet e-sport. Sorakan penonton terus menggema, terutama ketika beberapa peserta mini-kompetisi mencetak gol spektakuler.

Ketua Panitia PORKAL 2025, Arifin Hartanta, menegaskan bahwa penyelenggaraan turnamen e-sport ini merupakan bagian dari upaya menghadirkan ragam cabang olahraga yang relevan bagi generasi muda.

“Kami ingin memberikan ruang positif bagi pemuda Wukirsari, termasuk mereka yang memiliki minat di bidang e-sport,” jelas Arifin. Ia menambahkan, kegiatan ini tidak hanya soal kompetisi, tetapi juga memperkuat kebersamaan warga antar-padukuhan.

Sementara itu, Yoan Nessa, atlet dari Padukuhan Gungan yang meraih juara, mengungkapkan rasa bangganya atas pencapaian tersebut.

“Pertandingannya sangat ketat, semua lawan kuat. Kami bersyukur bisa membawa pulang gelar juara,” katanya seusai pertandingan.

Turnamen ini bertujuan memperluas wadah pembinaan bakat e-sport di tingkat kalurahan serta menumbuhkan sportivitas di kalangan generasi muda. Selain itu, kegiatan tersebut memberikan manfaat sosial berupa meningkatnya interaksi warga dan terciptanya ruang rekreasi yang sehat dan positif.

Dengan antusiasme tinggi dari peserta maupun penonton, turnamen e-sport diperkirakan akan kembali menjadi salah satu agenda yang paling ditunggu dalam PORKAL Wukirsari tahun mendatang. (Lilik Rudi/KIM “Wara Aji” Cangkringan)




Kolaborasi KWT Lestari dan Posyandu Tanjung II Dukung Program Garpu Ceting Cegah Stunting

Sleman – Upaya pencegahan stunting di wilayah Karangasem, Padukuhan Gempol, kembali mendapat dukungan nyata melalui kolaborasi apik antara Kelompok Wanita Tani (KWT) Lestari Gempol dan Posyandu Tanjung II. Sinergi ini diwujudkan dalam penyediaan bahan sayuran segar untuk mendukung Program Garpu Ceting (Gerakan Peduli Cegah Stunting).

Sebagai bentuk peran serta dalam pemenuhan gizi balita, KWT Lestari memasok aneka sayuran yang dibutuhkan untuk Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbahan mentah. Langkah ini menjadi kontribusi penting dalam memastikan balita mendapatkan asupan makanan sehat dan bergizi sebagai upaya mencegah terjadinya stunting.

Pada kegiatan yang dilaksanakan pada 17 November 2025 ini, KWT Lestari memasok sayur sawi hasil panen anggota untuk memenuhi kebutuhan Posyandu Tanjung II dalam penyediaan PMT bagi balita. Menariknya, pasokan sayuran diberikan dengan harga yang sangat terjangkau. Bahkan di beberapa kesempatan, KWT Lestari memberikan bahan sayuran secara gratis sebagai bentuk kepedulian terhadap program zero stunting di Karangasem.

“Kami berkomitmen mendukung upaya Posyandu dalam menyediakan bahan makanan berkualitas. Kadang kami juga memberi secara free sebagai wujud kepedulian untuk mewujudkan zero stunting di Karangasem,” ungkap Ketua KWT Lestari, Sri Asmoroning, Senin (17/11/2025)

Kolaborasi ini diharapkan terus berjalan secara berkelanjutan demi menjaga kesehatan dan tumbuh kembang balita di wilayah Karangasem, Padukuhan Gempol. Semangat gotong royong ini sekaligus menjadi contoh nyata sinergi antar lembaga masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan warga. (Tri Suhartati/KIM Depok)