Enam Ribu Peserta Ikuti Jalan Sehat Milad Muhammadiyah ke-113 di Berbah

Berbah – Semangat Milad Muhammadiyah ke-113 membahana di Kapanewon Berbah. Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan Pimpinan Cabang Aisyiah (PCA) Kapanewon Berbah menyelenggarakan jalan sehat yang diikuti sekitar enam ribu peserta pada Minggu pagi, (16/11/2025). Kegiatan ini merupakan puncak dari rangkaian acara peringatan 113 tahun berdirinya Muhammadiyah pada 18 November 1912.

Jalan sehat dimulai dengan keceriaan dan yel-yel di Lapangan Kadisono, Tegaltirto. Ketua PCM Berbah, Ahmad Muhajir Hanifi, menyambut gegap gempita peserta dengan yel khas. Muhajir juga menyampaikan bahwa ratusan doorprize yang disediakan, termasuk hadiah utama seekor sapi sumbangan dari H Midun dari Tlogowono, enam ekor kambing, sepeda, kompor gas, dan meja belajar, seluruhnya berasal dari sponsor. “Tidak ada yang diambilkan dari uang infak pendaftaran,” jelasnya.

Rangkaian kegiatan Milad sebelumnya telah diisi dengan khitanan ceria, pengajian umum, lomba voli, paduan suara, lomba administrasi kemasjidan, dan donor darah.

“Mari kita ber-Muhammadiyah dengan menyenangkan, menyehatkan, mensejahterakan, dan membahagiakan,” ajak Muhajir.

Panewu Berbah, Djaka Sumarsono, dalam sambutannya menegaskan bahwa Muhammadiyah secara nyata telah berjasa besar dalam mendidik bangsa. Hal itu ditunjukkan melalui pendirian lembaga pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, mengintegrasikan nilai Islam dan pengetahuan modern, serta membentuk akhlak mulia. “Hanya ucapan luar biasa dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada semua warga Muhammadiyah Berbah,” pungkasnya, yang disambut riuh ribuan peserta.

Turut hadir dalam acara ini Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Sleman Guntur Yoga Purnawan dan Mbah Wanto.

Menurut keterangan Sih Widiono, salah seorang panitia, kegiatan ini juga disemarakkan oleh para UMKM se-Kapanewon Berbah yang memadati seluruh pinggir lapangan. Acara semakin meriah dengan penampilan seni perwakilan siswa dari PAUD, SD, SMP, dan SMK Muhammadiyah se-Kapanewon Berbah. “Muhammadiyah tidak anti seni, melainkan melihat seni sebagai sarana dakwah,” tuturnya.

Di akhir acara, doorprize utama berupa seekor sapi dimenangkan oleh Nurjannah, warga RT04 RW13 Tegaltirto. (M.A. Sanusi/KIM Berbah)




Jathilan Turonggo Mudho Lestari Budoyo Pukau Warga Maguwoharjo, Hidupkan Ekonomi Lokal

Sleman – Di tengah derasnya arus budaya populer, kesenian tradisional Jathilan membuktikan diri masih memiliki magnet kuat. Pertunjukan Jathilan Turonggo Mudho Lestari Budoyo yang digelar di Lapangan Sarirejo, Maguwoharjo, Depok, Sleman, pada Minggu (16/11/2025) menjadi bukti komitmen anak muda Padukuhan Nayan dalam merawat warisan budaya sekaligus menciptakan ruang perjumpaan lintas generasi.

Penjabat Lurah Maguwoharjo, Muhammad Falak Susanto, menegaskan bahwa Jathilan tetap menjadi bagian penting dari identitas kultural masyarakat Sleman dan memiliki dampak positif bagi perekonomian.

“Setiap digelar pementasan Jathilan, selalu bisa mengumpulkan banyak masyarakat yang jadi penonton, sehingga bisa menghidupkan perekonomian masyarakat,” ujarnya.

Falak menambahkan bahwa UMKM lokal kerap merasakan dampak positif dari meningkatnya kunjungan warga saat gelaran budaya berlangsung. Ia berharap generasi muda terus mencintai dan merawat seni tradisi yang tumbuh dari tanah sendiri.

“Mari kita hidupkan kesenian Jathilan di Kabupaten Sleman untuk menunjukkan jati diri kita melalui budaya,” tambahnya.

Dari sisi komunitas seni, Ketua Kelompok Jathilan Turonggo Mudho Lestari Budoyo, Muhammad Sulton, mengisahkan bagaimana kelompok ini bermula dari kerinduan warga Nayan untuk menghidupkan kembali Jathilan Mataram yang sempat lama vakum. “Para pemuda dan warga kemudian bersepakat menggelar pementasan rutin dalam berbagai kegiatan kampung, mulai dari Merti Dusun, Gelar Budaya, hingga tanggapan pribadi,” ungkap dia.

Kelompok tersebut, lanjutnya, kini berkembang dengan dua segmen, yaitu Jathilan Mataraman dan Jathilan Kreasi, yang melibatkan anggota dari berbagai usia, mulai dari anak-anak, remaja, putri, hingga bapak-bapak. Mereka berlatih secara rutin sebagai bentuk komitmen menjaga kualitas pertunjukan serta memperkuat ikatan sosial antaranggotanya.

“Anak-anak muda butuh aktivitas yang lebih produktif, dan lebih baik mereka punya wadah untuk mengekspresikan diri. Lewat kesenian ini salah satunya,” tuturnya.

Menurutnya, setiap pementasan Jathilan tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menegaskan bahwa tradisi dapat menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda.

“Harapannya, semangat ini terus mengalir dan memantik lebih banyak komunitas untuk menjaga kekayaan budaya lokal agar tetap hidup, relevan, dan dicintai lintas zaman,” pungkasnya. (Athiful/KIM Depok)




Tiga Hal yang Membuat Amal Manusia Bangkrut

Sleman – Forum Koordinasi Pimpinan Ranting Muhammadiyah (FK PRM) Sumbersari kembali menggelar pengajian rutin Ahad Pahing. Kali ini, pengajian berlangsung pada Minggu (15/11/2025) bertempat di Pendopo Kalurahan Sumbersari, Moyudan, Sleman, dengan mengusung tema amal saleh.

Pengajian tersebut menghadirkan Ustadz Imam Triyono sebagai pembicara utama. Di awal tausiahnya, Imam mengutarakan bahwa amal saleh manusia dapat digambarkan sebagai bukit yang bisa longsor apabila tidak dijaga. Selain itu, amal saleh dalam kehidupan juga diibaratkan sebagai tabungan, yang dapat bertambah dan berkurang.

“Untuk menjaga dan mempertahankan amal saleh tersebut tergantung kepada kita sebagai pemiliknya,” tandasnya.

Lebih lanjut, Imam menjelaskan tiga hal utama yang harus dihindari agar amal saleh tidak habis atau bangkrut. Tiga hal tersebut adalah riya (suka pamer), meremehkan orang lain, dan merasa amalnya sudah cukup. Ia menegaskan, riya dapat diartikan menduakan Allah dengan yang lain.

“Sedangkan perbuatan merendahkan orang lain itu larangan Allah, yang ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 11,” sambungnya. Ayat tersebut memiliki arti: “Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka yang diperolok-olokan lebih baik dari mereka yang mengolok-olok.”

Imam pun menambahkan bahwa syarat untuk menghindari bangkrutnya amal saleh adalah dengan melakukan dua hal, yaitu tidak sombong, dan apabila diejek, dibalas dengan doa. (Giek/KIM Moyudan)




Sedekah Sampah Padukuhan Sedogan: Solusi Kreatif Mengubah Limbah Menjadi Berkah Sosial

Sleman – Menghadapi masalah sampah yang mendesak di Kabupaten Sleman, Padukuhan Sedogan, Kalurahan Lumbungrejo, kembali menggiatkan program Sedekah Sampah pada Minggu, (16/11/2025). Gerakan ini menawarkan solusi praktis untuk menekan volume sampah rumah tangga, sekaligus menggabungkan kepedulian lingkungan dengan nilai-nilai spiritual melalui praktik sedekah yang berkelanjutan.

Konsep Sedekah Sampah hadir sebagai upaya memodernisasi nilai kebaikan, mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap sampah, dari sesuatu yang “dibuang” menjadi sesuatu yang bernilai dan dapat “disedekahkan”.

Dukuh Sedogan, Aisyah Putri Wulansari, menyampaikan bahwa program ini mengajak warga melihat sampah sebagai potensi kebaikan. “Masyarakat mengumpulkan sampah bernilai ekonomi seperti botol plastik, kertas, kardus, kaleng, dan besi bekas. Sampah ini dipilah, dikelola, lalu dijual. Hasil penjualannya kemudian disalurkan sebagai dana sedekah untuk berbagai kegiatan sosial seperti santunan anak yatim, lansia, anak difabel, dan program sosial lainnya,” tuturnya.

Aisyah menambahkan bahwa daya tarik utama Sedekah Sampah terletak pada dampak berantai (multiplier effect) yang dihasilkannya. “Sedekah sampah merupakan tindakan sederhana dengan manfaat simultan. Ia memadukan kepedulian lingkungan, tanggung jawab sosial, dan nilai-nilai spiritual. Bahkan sampah pun dapat menjadi sarana untuk berbuat kebaikan dan beribadah,” ungkapnya.

Ketua Sedekah Sampah Padukuhan Sedogan, Rudi Mustofa, menegaskan bahwa program ini berhasil meningkatkan semangat warga dalam memilah sampah. “Rata-rata warga biasanya menjual sampah ke tukang rosok. Namun dengan konsep sedekah, antusiasme warga meningkat. Banyak warga lebih memilih menyedekahkan sampahnya karena dinilai tidak memberatkan namun menjadi ladang ibadah,” jelas Rudi.

Selain mengelola sampah bernilai jual, sampah residu juga ditangani melalui kerja sama dengan TPS3R Kalurahan Lumbungrejo. Rudi menambahkan bahwa pada Desember mendatang, mahasiswa KKN UNY akan membantu pembuatan rocket stove, yaitu alat pembakaran sampah yang efisien, hemat energi, minim asap, dan dapat menggunakan sampah kering sebagai bahan bakar.

Untuk memudahkan warga, kotak sedekah sampah sudah dipasang di Posko Sedekah Sampah Sedogan yang terletak di wilayah RT 004 RW 022. Warga yang memiliki sampah sedikit dapat menyetorkan secara mandiri ke posko. Namun, apabila warga ingin menyedekahkan sampah dalam jumlah banyak, petugas sedekah sampah akan membantu mengambilnya dengan sistem jemput bola menggunakan kendaraan roda tiga hibah dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman.

Selama November dan Desember, kegiatan Sedekah Sampah turut terbantu oleh kehadiran KKN UNY. Ketua tim KKN, Bima, menjelaskan bahwa salah satu program wajib dari universitas adalah pengelolaan sampah berbasis masyarakat. “Karena di Padukuhan Sedogan sudah memiliki pengelolaan sampah mandiri melalui Sedekah Sampah, maka kami mendukung pelaksanaannya dan akan membuatkan rocket stove sebagai media pembakaran sampah yang nantinya bisa dipergunakan oleh kelompok pengelola Sedekah Sampah di Sedogan,” terang Bima.

Dengan sinergi antara warga Padukuhan Sedogan, Pemerintah Kalurahan Lumbungrejo, dan mahasiswa UNY, Sedekah Sampah Padukuhan Sedogan menjadi contoh nyata bahwa pengelolaan sampah dapat dilakukan secara kreatif, berkelanjutan, sekaligus membawa keberkahan bagi masyarakat. (Ais/KIM Senyum Tempel)




TRC Relawan dan Warga Lumbungrejo Tempel Perkuat Mitigasi Bencana

Sleman – Pemerintah Kalurahan Lumbungrejo, Tempel, kembali menegaskan upaya penguatan kesiapsiagaan bencana melalui kegiatan mitigasi terpadu yang digelar pada Minggu pagi (16/11/2025). Kegiatan yang berlangsung di sepanjang Jalan Bibis Sedogan serta wilayah Padukuhan Molodono dan Kopen ini melibatkan Tim Reaksi Cepat (TRC) Relawan, Jogoboyo, dan seluruh jajaran pemerintah kalurahan.

Dipimpin langsung oleh Lurah Lumbungrejo, M Misbah Al Hakim, bersama Ketua TRC Relawan Rohmad Jatmiko dan Jogoboyo Lumbungrejo Nugroho Subagyo, latihan mitigasi ini menitikberatkan pada pemetaan jalur evakuasi, pengecekan titik rawan terkait pohon rawan tumbang, serta simulasi respons cepat saat kondisi darurat.

Lurah Lumbungrejo menegaskan bahwa mitigasi bukan sekadar agenda rutin, melainkan kebutuhan mendesak mengingat potensi bencana di wilayah Tempel yang berdekatan dengan kawasan perbukitan dan aliran sungai.

“Kami ingin memastikan bahwa warga selalu siaga, tidak panik ketika bencana datang, dan mengetahui apa yang harus dilakukan. Mitigasi semacam ini bukan acara seremonial, tetapi latihan nyata untuk menyelamatkan nyawa,” ujarnya.

TRC Relawan Lumbungrejo yang dikenal aktif dalam respons tanggap darurat turut memimpin jalannya pengecekan peralatan dan kesiapan personel. Ketua TRC menekankan pentingnya kerja sama lintas unsur.

“Relawan tidak bisa bekerja sendirian. Sinergi antara pemerintah kalurahan, Jogoboyo, dan warga adalah fondasi utama. Latihan hari ini menunjukkan bahwa Tempel memiliki kekuatan sosial yang siap bergerak kapan pun dibutuhkan,” jelasnya.

Rangkaian kegiatan dimulai dari Jalan Bibis Sedogan, dilanjutkan menyusuri pemukiman di Molodono hingga Kopen. Setiap titik potensial bahaya, baik karena kondisi jalan, pepohonan rawan tumbang, hingga aliran air yang meluap di musim hujan, ditandai dan dicatat untuk disusun ke dalam laporan mitigasi.

Peran Jogoboyo dalam kegiatan ini juga mendapat sorotan. Mereka bertindak sebagai “mata lapangan” untuk mendeteksi potensi gangguan keamanan dan keselamatan selama situasi darurat berlangsung.

“Warga perlu dilindungi tidak hanya dari ancaman bencana, tetapi juga dari kepanikan dan kerentanan sosial yang mungkin muncul saat situasi genting,” kata Jogoboyo Lumbungrejo.

Selain simulasi teknis, kegiatan ini juga menjadi ruang edukasi bagi masyarakat tentang pentingnya kesiapsiagaan mandiri. Warga yang ditemui di sekitar lokasi tampak antusias mengikuti arahan dan memahami prosedur evakuasi. Dengan mitigasi rutin seperti ini, Lumbungrejo menegaskan komitmennya menjadi kalurahan yang tangguh bencana, tidak hanya memiliki relawan andal, tetapi juga masyarakat yang teredukasi. (sbd/KIM Senyum Tempel)