Puskesmas Ngaglik 2 Tekankan Pentingnya Penanganan Pertama Luka Psikologis

Sleman – Luka psikologis akibat kekerasan fisik maupun psikis seperti KDRT, bullying, atau kejadian traumatis lainnya dapat memengaruhi kondisi fisik, emosional, dan mental seseorang. Meski demikian, pemulihan dapat berlangsung lebih baik apabila individu mendapatkan dukungan sosial dari keluarga, teman, komunitas, serta tenaga profesional.
Hal tersebut disampaikan psikolog Puskesmas Ngaglik 2, Amalia dalam kegiatan bertema Penanganan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP) di Aula Kapanewon Ngaglik, Rabu (26/11/25).
Kegiatan yang dibuka Panewu Ngaglik itu dihadiri Kapolsek, Danramil, Babinsa, Babinkamtibmas, Kamituwa, kader pendamping KDRT, serta Forum Anak se-Kapanewon Ngaglik. Kegiatan ini digelar sebagai upaya memperkuat pemahaman masyarakat mengenai pentingnya penanganan awal bagi korban kekerasan atau individu yang mengalami krisis psikologis.
Amalia menjelaskan bahwa luka psikologis muncul akibat tekanan atau kejadian luar biasa yang menimbulkan rasa tidak nyaman berlebihan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
“First aider atau penolong pertama bisa siapa saja, termasuk kita. Siapa pun yang pertama berada di dekat korban, dapat membantu memberikan dukungan awal,” ujarnya.
Dalam paparannya, terdapat beberapa tujuan utama P3LP, yaitu memberikan perhatian kepada individu yang mengalami krisis, memenuhi kebutuhan dasar berupa rasa aman, membantu korban menghadapi krisis dan mengurangi ketidaknyamanan.
P3LP juga bertujuan untuk mencegah kondisi psikologis memburuk sebelum ditangani psikolog atau psikiater serta memberikan informasi tentang pentingnya kesehatan jiwa.
“Trauma pada anak maupun orang dewasa dapat dikenali melalui enam emosi dasar: bahagia, sedih, jijik, marah, takut, dan terkejut. Penggunaan media gambar atau boneka dapat membantu seseorang, khususnya anak, mengidentifikasi emosi yang sedang dirasakan,” tandasnya.
Menurut Amalia, remaja berada pada fase peralihan sehingga perubahan pikiran, perasaan, dan perilakunya memerlukan perhatian khusus. Orang tua diimbau untuk menerapkan mendengarkan aktif, yakni mengamati pesan komunikasi dengan seluruh indera, bukan hanya telinga.
Amalia juga mengajak orang tua membangun kebiasaan komunikasi sejak dini melalui percakapan sehari-hari.
“Interaksi rutin, baik langsung maupun melalui video call, dinilai efektif mempererat hubungan emosional. Jika komunikasi sudah terbangun sejak kecil, anak remaja tidak perlu mencari tempat lain hanya untuk bercerita,” tuturnya.
(Endarwati/KIM Donoharjo)



