DPRD Sleman Perkuat UMKM melalui Fungsi Legislasi dan Pengawasan Anggaran

Sleman – Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Sleman menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penguatan Kapasitas UMKM di Crystal Lotus Hotel pada Senin (10/11/2025). Kegiatan ini menghadirkan Anggota Komisi B DPRD Sleman, Respati Agus Sasangka, sebagai narasumber untuk menjelaskan peran legislatif dalam mendukung pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah.

Respati menyampaikan bahwa DPRD Sleman secara konsisten menjalankan fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan untuk memperkuat sektor UMKM. Beberapa regulasi seperti Peraturan Daerah tentang UMKM, Ekonomi Kreatif, Pemberdayaan PKL, dan Pengembangan Desa Wisata telah disusun sebagai payung hukum.

“Aturan ini menjadi dasar agar usaha rakyat semakin mandiri. Pemerintah berperan sebagai stimulator, sedangkan penggerak utamanya adalah masyarakat sendiri,” jelasnya.

Dari total APBD Sleman sebesar Rp3,6 triliun, hanya sekitar 30–40 persen yang secara langsung dapat mendorong kegiatan ekonomi rakyat. Sementara itu, perputaran uang di Sleman mencapai Rp12 triliun per tahun.

“Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi daerah harus digerakkan oleh masyarakat, khususnya melalui UMKM,” tegas Respati.

Ia juga menekankan pentingnya kreativitas dan mentalitas tangguh di kalangan pelaku UMKM dalam menghadapi tantangan ekonomi modern. Menurutnya, perubahan zaman menuntut pelaku usaha untuk adaptif dan berpikir kreatif.

“Kreativitas harus menjadi menu utama dalam setiap usaha. Kita harus berani berubah dan bergerak cepat mengikuti perkembangan,” ujarnya.

Respati menyoroti perubahan pola berdagang di era digital, di mana banyak pelaku usaha berhasil tanpa memiliki toko fisik atau produk sendiri, asalkan mampu memanfaatkan media online dengan baik. Menurutnya, keberhasilan usaha lebih ditentukan oleh mental wirausaha daripada modal finansial.

“Modal bisa dicari, tetapi tanpa mental yang kuat, sulit untuk berhasil. Mental tangguh membuat kita berani gagal dan terus berinovasi,” tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, Respati mendorong pelaku UMKM untuk membaca peluang pasar dan membangun jejaring usaha agar dapat naik kelas.

“Kami di DPRD akan terus mengawal kebijakan yang berpihak pada ekonomi rakyat. Bimtek seperti ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat baru untuk berinovasi dan mandiri,” pungkasnya.

Melalui sinergi antara pemerintah daerah, DPRD, dan pelaku usaha, Bimtek yang diselenggarakan Dinas Koperasi dan UKM Sleman diharapkan menjadi penggerak ekonomi kerakyatan yang kuat dan berkelanjutan. (Arief Hartanto/KIM Turi)




Bambu Cendani, Si Eksotis dengan Akar Menjalar yang Dilestarikan di Sleman

Sleman – Sebuah jenis bambu unik bernama Bambu Cendani (Phyllostachys aurea) tumbuh di Kampung Bambu, Padukuhan Jetis, Sumberejo, Tempel, Sleman. Berbeda dengan bambu pada umumnya yang tumbuh berumpun, bambu ini memiliki sistem akar monopodial yang menjalar.

Rohmad, pendiri Kampung Bambu, menjelaskan keunikan tersebut. “Dari satu batang induk, anakan bisa tumbuh hingga 50 cm jauhnya. Bisa jadi bila kita menanam di pekarangan sendiri, anakannya justru muncul di pekarangan tetangga,” ujarnya, Senin (10/11/2025).

Bambu Cendani memiliki batang lurus berwarna hijau muda yang berubah kekuningan seiring waktu, menampilkan kesan elegan. Tingginya dapat mencapai 2–12 meter dengan diameter 2–4 cm. Ruas batangnya berjarak 10–20 cm, dilengkapi daun ramping sepanjang 5–15 cm yang tumbuh pada ranting di bagian tengah.

Menurut Rohmad, bambu ini merupakan jenis bambu pegunungan yang idealnya tumbuh di ketinggian lebih dari meter di atas permukaan laut dengan curah hujan sedang hingga mm per tahun.

“Meski begitu, Bambu Cendani dapat beradaptasi di berbagai jenis tanah asalkan tidak terlalu lembab,” tambahnya.

Selain berfungsi sebagai tanaman hias, bambu ini juga memiliki nilai guna yang beragam. Rebungnya dapat dikonsumsi, sementara batangnya sering dimanfaatkan untuk tongkat, alat pancing, perabotan, dan konstruksi ringan.

Kemudahan dalam budidayanya menjadikan Bambu Cendani sebagai salah satu koleksi unggulan di Kampung Bambu Jetis, sekaligus simbol upaya warga dalam melestarikan keanekaragaman bambu yang semakin langka. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)




PMI Sleman Hadapi Kekurangan Stok Darah

Di tengah tingginya kebutuhan akan stok darah, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sleman terus berupaya memenuhi permintaan darah untuk pasien di rumah sakit. Fahrul Pamastian Mutu, Pengurus Unit Donor Darah (UDD) PMI Sleman, mengungkapkan bahwa hingga 10 November 2025, stok darah untuk golongan A+ dan O+ masih dalam kondisi kurang, sementara golongan B+ dan AB+ tercatat aman.

Kebutuhan darah di Sleman mencapai sekitar kantong per bulan, namun ketersediaan yang berhasil dikumpulkan hanya berkisar – kantong.

“Golongan A+ dan O+ menjadi prioritas kami untuk segera dipenuhi, mengingat permintaannya tinggi dan stok yang tersedia semakin menipis,” ujar Fahrul, Selasa (11/11/2025).

Untuk mengatasi hal ini, PMI Sleman mengoptimalkan dua jalur utama, yaitu donor darah dalam gedung dan melalui Mobil Unit. Mereka juga memanfaatkan layanan WhatsApp Gateway untuk menjangkau pendonor aktif secara berkala. Meski telah menggiatkan kegiatan donor massal dan mengandalkan pendonor tetap, upaya tersebut dinilai belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan yang terus meningkat.

Sebagai bentuk inovasi, PMI Sleman menawarkan Program Pemeriksaan Kesehatan Gratis bagi pendonor yang datang langsung ke kantor UDD, meliputi pengecekan gula darah, kolesterol, asam urat, serta konsultasi dokter. Selain itu, diadakan undian bulanan berhadiah ponsel dan dijalin kerja sama dengan berbagai instansi, kampus, dan komunitas dalam pengadaan Mobil Unit donor darah.

Fahrul menegaskan bahwa UDD PMI Sleman menjamin mutu dan keamanan darah dengan proses pemeriksaan ketat, mulai dari uji IMLTD, konfirmasi golongan darah, skrining antibodi, hingga pengolahan dan penyimpanan sesuai standar Kemenkes.

Masyarakat dapat memantau ketersediaan stok darah melalui Instagram @utdpmikabsleman atau menghubungi layanan informasi di nomor WhatsApp 0851-6549-3242.

Menutup pernyataannya, Fahrul mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menjadikan donor darah sebagai gaya hidup. “Dengan mendonorkan darah, Anda telah membantu menyelamatkan nyawa. Mari datang ke PMI, rutin donor, dan buktikan kepedulian tanpa pamrih,” pesannya. (ESK/KIM DSN)




Donor Darah di Kalasan Catat Kenaikan Signifikan di Hari Pahlawan

Sleman – Kegiatan donor darah yang diselenggarakan Palang Merah Indonesia (PMI) Kapanewon Kalasan, Sleman, pada Senin (10/11/2025) berhasil mencatatkan partisipasi tertinggi dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. Sebanyak 85 orang mendaftar sebagai calon pendonor, dan setelah melalui pemeriksaan kesehatan, 77 kantong darah berhasil terkumpul.

Sidi Nugroho, Ketua PMI Kapanewon Kalasan, mengungkapkan bahwa kegiatan rutin ini tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan stok darah, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat, terutama usia produktif.

“Banyak calon pendonor yang awalnya gagal karena kadar hemoglobin rendah, kelelahan, atau kurang tidur, kini menjadi lebih siap berkat pemahaman yang meningkat,” ujarnya usai acara di Pendopo Kapanewon Kalasan.

Menurut Sidi, edukasi tentang manfaat donor darah terus disosialisasikan baik secara formal dalam berbagai forum maupun secara nonformal. Tujuannya adalah menumbuhkan kesadaran bahwa donor darah tidak hanya bermanfaat bagi penerima, tetapi juga bagi pendonor sendiri.

“Kami ingin donor darah dipandang sebagai sedekah mulia, sekaligus menjadi gaya hidup,” tambahnya.

Kegiatan donor darah pada 10 November 2025 ini merupakan yang terakhir di tahun ini untuk tingkat kapanewon. Rencananya, kegiatan serupa akan dilanjutkan kembali pada Januari atau Februari 2026. Sementara itu, kegiatan donor darah yang diselenggarakan kelompok masyarakat secara mandiri akan tetap berjalan sesuai jadwal masing-masing.

Pemerintah Kapanewon Kalasan dan PMI setempat berkomitmen menjadikan Kalasan sebagai penyuplai stok darah andalan bagi PMI Kabupaten Sleman.

“Kami bersama tim terus menjadikan donor darah sebagai program kerja unggulan,” tegas Sidi Nugroho.

Samino, Panewu Kalasan, yang hadir mendampingi jalannya acara, turut memberikan apresiasi terhadap antusiasme peserta. Ia berharap pada penyelenggaraan berikutnya, setiap pendonor dapat mengajak lebih banyak teman atau kerabat agar hasil yang diperoleh semakin maksimal. (Tri Joko S/KIM Kalasan)




Pasbuja Kawi Merapi Galakkan Gerakan Sastrawan Masuk Sekolah di SDN Delegan 3

Sleman – Gerakan Sastrawan Masuk Sekolah (SMS) yang diusung Paguyuban Penulis Fiksi Dan Nonfiksi Berbahasa Jawa dan Indonesia (Pasbuja) Kawi Merapi kini menyasar SD Negeri Delegan 3 di Polangan, Sumber Harjo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Kegiatan yang berlangsung pada Senin, (10/11/2025) ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan hari ulang tahun ke-7 Pasbuja Kawi Merapi.

Luciana Indarwati, salah satu anggota Pasbuja yang juga mantan editor di salah satu penerbit ternama Yogyakarta, menyampaikan bahwa program ini bertujuan menumbuhkan minat literasi di kalangan pelajar sejak dini.

“Harapannya, minat literasi pada anak tergugah dan tumbuh berkembang dengan baik,” ujarnya di hadapan guru dan siswa. Ia didampingi oleh anggota Pasbuja lainnya, yaitu Erlina Yuliastuti, Kusnadi, dan Ony.

Kepala SDN Delegan 3, Indah Susilawati, menyambut baik inisiatif tersebut. Menurutnya, kegiatan literasi menulis cerita pendek (cerkak) yang dilaksanakan bertepatan dengan Hari Pahlawan ini dapat memotivasi siswa dalam belajar.

“Semoga peringatan Hari Pahlawan memberi semangat belajar anak-anak dalam menulis cerkak,” katanya.

Indah berharap, melalui pendampingan dari Pasbuja, setiap siswa mampu menulis cerkak dengan tema dan latar belakang yang beragam.

“Karya mereka nantinya akan dibukukan sebagai antologi, menjadi pengayaan diri dan kenangan berharga di masa mendatang,” tambahnya.

Erlina Yuliastuti, sebagai pemateri, mengajarkan cara membuat cerkak sederhana bertema pengalaman keseharian, seperti aktivitas dari bangun pagi hingga tiba di sekolah.

“Pengalaman tiap anak pasti berbeda, begitu pula gaya berceritanya. Inilah yang membuat setiap tulisan unik,” jelas Erlina.

Salah satu peserta, Sofia Anggelina Putri Utomo, siswa kelas 4, mengungkapkan kegembiraannya mengikuti program SMS. Dengan antusias, ia menulis cerita bertema “Sastrawan Masuk Sekolah”, berbeda dari teman-temannya.

“Saya senang menulis dan akan terus belajar agar bisa menjadi penulis yang baik,” ucapnya.

Program SMS Pasbuja Kawi Merapi diharapkan tidak hanya menggugah minat menulis, tetapi juga melestarikan budaya literasi di kalangan generasi muda. (Kusnadi/KIM Berbah)