Program Sastrawan Masuk Sekolah Pasbuja Kawi Merapi Diterima Antusias di SMP N 1 Tempel

Sleman – Paguyuban Sastra dan Budaya Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi membuat gebrakan baru sebagai upaya pelestarian bahasa dan sastra Jawa melalui program Sastrawan Masuk Sekolah (SMS). Salah satu kegiatan ini berlangsung di SMP Negeri 1 Tempel, Sleman, pada Senin (10/11/2025).
Catarina Lusi Noviyanti, kepala SMP N 1 Tempel, dalam sambutannya menyampaikan terima kasihnya kepada Pasbuja Kawi Merapi yang dengan sukarela membimbing siswanya dalam sastra Jawa.
“Kami menyadari bahwa para siswa saat ini merasa jauh dari hal sastra Jawa, sehingga kami berharap anak-anak nantinya bisa lebih dekat dan memahami budaya dan sastra Jawa,” tuturnya.
Ia berharap agar nantinya Pasbuja bisa memberikan bimbingan yang berkelanjutan. “Pertemuan yang cuma 2 jam kali ini, mungkin baru bisa pengenalan tata cara menulis geguritan, sehingga perlu bimbingan lebih lanjut,” ujar Lusi.
Dari Pasbuja, hadir Nyadi Kasmorejo (Ki Jenggot Kucir), S P Handayani, dan Sugiyanto. Dalam pengantarnya, Sugiyanto menyampaikan terima kasihnya kepada SMP N 1 Tempel yang menerima relawan Pasbuja. Program SMS berawal dari keprihatinan atas kurangnya minat anak-anak terhadap budaya dan sastra Jawa saat ini. Program ini merupakan upaya untuk menumbuhkan keberanian menuangkan buah pikiran dalam bentuk geguritan maupun bentuk sastra Jawa yang lain.
“Output yang diharapkan para siswa nanti berkreasi untuk menulis geguritan, syukur nanti bisa kita buat antologi geguritan,” tandasnya.
Materi geguritan disampaikan oleh Nyadi Kasmorejo. Dalam pemaparannya, ia menyampaikan arti dan tata cara membuat geguritan, yang dalam bahasa Indonesia disebut puisi bebas, rangkaian beberapa kata yang indah. Untuk menulis geguritan diperlukan ide atau gagasan.
“Untuk menemukan ide perlu memilih tema yang pendek, suasana, dan kata kunci,” jelas Nyadi.
Setelah mendapatkan penjelasan, para siswa dibantu S P Handayani langsung praktik membuat geguritan. Hasil praktik cukup menggembirakan.
“Apabila mendapat bimbingan lebih lanjut, para siswa ini bisa menjadi sastrawan potensial,” tutur S P Handayani. (Giek/KIM Moyudan)



