Festival Karawitan Wedomartani Catat Peningkatan Partisipasi, Tumbuhkan Kebanggaan Budaya

Sleman – Sebanyak 21 kelompok karawitan dari Kalurahan Wedomartani, Kapanewon Ngemplak, Sleman, meramaikan festival yang digelar oleh Kalurahan Mandiri Budaya setempat. Jumlah peserta tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2024 lalu yang diikuti oleh tujuh belas kelompok.

Festival bertema “Sengguh Ora Mingkuh” ini berlangsung sejak pagi hingga pukul WIB di Balai Kalurahan Wedomartani pada Sabtu (8/11/2025). Pesertanya terdiri dari beragam kalangan, mulai dari pelajar SD, SMP, SMA, Karang Taruna, hingga kelompok dewasa dan orang tua.

Mujiburochman, selaku Ketua Desa Mandiri Budaya Wedomartani, menjelaskan bahwa festival ini diselenggarakan dalam rangka Merti Desa dan memperingati Hari Jadi Kalurahan Wedomartani ke-79. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kebanggaan warga terhadap kesenian adiluhung karawitan sekaligus menjadi bentuk apresiasi atas semangat warganya dalam melestarikan kebudayaan.

“Panitia tidak memberikan subsidi dalam bentuk uang kepada kelompok peserta, tetapi antusiasme masyarakat sangat tinggi. Mereka mandiri dan bergotong royong secara swadaya sejak latihan hingga pentas, termasuk dalam pengadaan seragam,” ujar Mujiburochman.

Ia menambahkan bahwa rata-rata kelompok menghadirkan pelatih untuk latihan rutin dengan kemampuan dana sendiri.

Sementara itu, Lurah Wedomartani Teguh Budiyanto menyatakan bahwa peningkatan jumlah peserta disebabkan oleh beberapa padukuhan yang mendaftarkan lebih dari satu kelompok.

“Bahkan, satu padukuhan ada yang mengirimkan tiga kelompok, yaitu dari pemuda, PKK, dan campuran,” jelasnya. Masing-masing kelompok diberikan waktu tampil maksimal dua puluh menit dengan membawakan empat gending pilihan.

Usai penampilan, seluruh peserta menerima Piagam Penghargaan yang diberikan secara bergiliran oleh Lurah, Tim Monev, Ketua Desa Mandiri Budaya, dan Panitia. (Tri Joko S/KIM Kalasan)




Menenun Asa dan Kemandirian Lewat Anyaman

Sleman – Dari sebuah sekolah nonformal di sudut Dusun Kemusuh, Desa Banyurejo, Sleman, kreativitas anyaman mengalir deras. Sekolah Abadira, nama tempat itu, aktif mengajarkan keterampilan menganyam berbagai bahan, mulai dari rotan, bambu, hingga janur. Dari tangan-tangan terampil para pesertanya, lahir beragam karya kreatif bernilai jual, seperti mebel, tas, topi, dan aneka hiasan rumah.

Susilo Joko Pramono, sang pendiri Sekolah Abadira, ditemui pada MInggu (9/11/2025) sedang sibuk menyelesaikan anyaman sofa rotan. Ia meyakini bahwa keterampilan ini, jika ditekuni dengan serius, bukan hanya sekadar pelestarian budaya tetapi juga bisa menjadi jalan menuju kemandirian ekonomi.

“Keterampilan menganyam bila ditekuni dengan sungguh-sungguh, selain melestarikan budaya juga jalan menuju kemandirian ekonomi,” ujarnya.

Lulusan Universitas Gadjah Mada ini percaya bahwa tren gaya hidup alami masih membuka peluang luas bagi para pengrajin anyam yang kreatif.

“Mebel tradisional rotan masih disukai, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, dan itu membutuhkan tenaga-tenaga terlatih untuk pemeliharaannya,” tambah Susilo.

Dengan semangat membara, pria ini aktif membawa keterampilan anyamannya ke ruang publik. Ia kerap tampil dalam berbagai pameran, pertemuan kampus, hingga demo langsung di jalan Malioboro, berupaya menarik minat generasi muda untuk kembali mencintai keterampilan warisan leluhur.

Sekolahnya terbuka untuk semua kalangan tanpa memandang usia atau latar belakang, dari anak-anak, remaja, ibu rumah tangga, hingga lansia. Tidak ada syarat domisili atau ijazah. Siapa pun yang ingin belajar, akan disambut dengan tangan terbuka. Tujuannya sederhana: mencetak pribadi yang terampil dan percaya diri melalui kekayaan keterampilan tradisional. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)




Semangat Sehat Lansia: Ibu-Ibu Padukuhan Kendal Nikmati Senam Bersama di Bukit Klangon

Sleman – Udara sejuk pagi hari di kawasan lereng Gunung Merapi menyambut keceriaan puluhan ibu-ibu lansia dari Padukuhan Kendal, Kalurahan Bangunkerto, Kapanewon Turi, Sleman. Mereka memadati Bukit Klangon, Cangkringan, untuk mengikuti senam sehat bersama pada Minggu (9/11/2025). Kegiatan yang berlangsung sekitar pukul WIB ini diwarnai semangat dan kebersamaan, dikoordinir oleh Mei Lisayani dan Siti Inayah dari PKK dan kelompok lansia setempat.

Para peserta yang mengenakan seragam olahraga berwarna biru tampak antusias mengikuti setiap gerakan senam. Wahyuningsih memandu senam dengan iringan musik penuh keceriaan di salah satu pendopo Bukit Klangon. Di tengah udara pegunungan yang segar dan latar megahnya Gunung Merapi, suasana senam pun berlangsung meriah dan penuh tawa.

Agus Dwi S, selaku Dukuh Kendal, dalam sambutannya menyatakan kegiatan ini merupakan upaya meningkatkan kesehatan jasmani warga, khususnya lansia, sekaligus mempererat silaturahmi. “Senam bersama ini bukan sekadar olahraga, tetapi juga sarana kebersamaan. Kita ingin para lansia tetap sehat, aktif, dan bahagia. Semangat mereka patut kita apresiasi. Sebagai bonus, kita ajak mereka beranjangsana, menikmati keindahan alam, sekaligus sebagai pelepas penat dari berbagai beban rumah tangga,” ujar Agus.

Selain untuk olahraga, acara ini juga bertujuan mengajak masyarakat mencintai alam dan mengenal potensi wisata lokal. Pemilihan Bukit Klangon dinilai tepat karena udaranya sejuk dan aksesnya tidak terlalu jauh dari Bangunkerto, sehingga cocok untuk kegiatan luar ruangan.

Usai senam, para peserta menikmati waktu santai dengan berbincang, menikmati bekal bersama, dan berfoto di beberapa spot panorama Merapi. Keceriaan para lansia terpancar jelas meski usia tak lagi muda.

Salah satu peserta, Siti Mutmainah, mengungkapkan kegembiraannya bisa berolahraga di tempat wisata alam.

“Biasanya kami senam di padukuhan. Hari ini berbeda, suasananya sejuk sekali. Badan jadi segar, hati juga senang,” tuturnya sambil tersenyum.

Kegiatan senam sehat rutin dilaksanakan setiap Rabu sore di Padukuhan Kendal, sementara kegiatan di luar lokasi diagendakan minimal tiga kali setahun. Pada momen tertentu seperti Hari Lansia atau hari besar nasional, lokasi senam berganti-ganti. Beberapa bulan sebelumnya, para lansia berolahraga di sebuah pemandian air panas di wilayah Tempuran, Kabupaten Magelang.

Program ini diinisiasi bersama kader kesehatan dan perangkat padukuhan untuk mendukung gaya hidup sehat di kalangan lansia. Selain manfaat fisik, kegiatan ini juga diharapkan memperkuat rasa kebersamaan. Beberapa peserta bahkan membawa hasil olahan rumah tangga seperti jajanan tradisional dan pepes ikan asin untuk dinikmati bersama selepas senam, menambah keakraban sekaligus menghemat biaya.

“Kita ingin ibu-ibu lansia tetap produktif dan bahagia. Dengan tubuh yang sehat dan pikiran yang gembira, kehidupan di masa tua akan lebih bermakna,” tambah Agus.

Meski sempat menemui kendala karena bus yang disewa tidak bisa mencapai lokasi tepat, semangat peserta tidak surut. Mereka berjalan kaki sekitar 1,2 kilometer dan hampir semua peserta mampu menempuh perjalanan pulang-pergi dengan baik. (Arief Hartanto/KIM Kertomandiri Turi)




Anak-Anak Sedogan Sleman Rayakan Hari Pahlawan dengan Warna Warni Edukatif

Sleman – Kegiatan “Warna Warni Hari Pahlawan” berlangsung meriah pada Sabtu (8/11/2025), di Gedung PAUD Padukuhan Sedogan. Acara yang digagas oleh KKN UNY ini diikuti oleh 42 anak Padukuhan Sedogan dari usia PAUD hingga SMP. Rangkaian kegiatan meliputi menonton film pahlawan, mewarnai, dan menggambar, seluruhnya dikemas sebagai bentuk peringatan Hari Pahlawan dengan pendekatan edukatif dan menyenangkan.

Anis Martha, salah satu penanggung jawab kegiatan, menyatakan bahwa Hari Pahlawan merupakan momentum penting untuk menanamkan nilai nasionalisme kepada generasi muda. Ia menyampaikan bahwa melalui film, kegiatan mewarnai, dan menggambar bertema kepahlawanan, anak-anak dapat belajar dengan cara yang lebih ringan dan mudah dipahami. Anis berharap kegiatan ini mampu menumbuhkan rasa cinta tanah air, menghargai jasa para pahlawan, serta memperkuat kreativitas dan ekspresi seni anak-anak.

Kemeriahan kegiatan tampak sejak film mulai diputar. Tawa kecil dan sorakan riang memenuhi ruangan, menunjukkan betapa anak-anak menikmati setiap adegan. Setelah sesi menonton bersama, suasana berubah menjadi lebih tenang, tetapi tetap hangat ketika kegiatan mewarnai dan menggambar dimulai. Anak-anak memilih warna favorit, menggambar sesuai imajinasi, dan saling menunjukkan hasil karya dengan rasa bangga. Kertas-kertas penuh warna cerah menghiasi ruangan dan mencerminkan kebahagiaan mereka pagi itu.

Melihat antusiasme tersebut, Martha dan Rizka merasa sangat bersyukur. Mereka menilai seluruh persiapan yang dilakukan terbayar lunas dengan senyum anak-anak Sedogan. “Kegiatan ini bukan sekadar program kerja, tetapi pengalaman berharga bagi kami dan merupakan kesan khusus selama kami kuliah kerja nyata di Padukuhan Sedogan yang mengajarkan arti kebersamaan, kepedulian, dan kebahagiaan sederhana yang tulus,” ungkap Anis.

Dukuh Sedogan Aisyah Putri Wulansari memberikan apresiasi penuh terhadap kegiatan ini.

“Kegiatan edukatif seperti ini sangat penting bagi anak-anak di era sekarang. Pendidikan karakter akan lebih mudah diterima anak-anak melalui metode yang menyenangkan, seperti menonton film dan kegiatan seni visual seperti ini,” tutur Aisyah.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dihadirkan oleh mahasiswa KKN sebagai bentuk kontribusi nyata bagi masyarakat.

Kegiatan ini memiliki beberapa tujuan utama, yaitu menumbuhkan rasa cinta tanah air, mengajarkan semangat perjuangan, mengenalkan jasa para pahlawan, serta mendorong kreativitas anak melalui seni visual. Tujuan-tujuan ini terlihat tercapai dari antusiasme peserta selama acara berlangsung.

Reina Shakila, salah satu peserta berusia TK, menyampaikan kegembiraannya dengan polos. Ia berharap kegiatan serupa dapat berlangsung lagi. Ungkapan sederhana itu menjadi penutup manis kegiatan yang sarat makna ini.

“Nena senang sekali. Nena berharap besok ada lagi,” ucapnya dengan penuh keceriaan.

Kegiatan “Warna Warni Hari Pahlawan” menjadi bukti bahwa mengenalkan nilai kepahlawanan dapat dilakukan dengan cara yang hangat, kreatif, dan dekat dengan dunia anak-anak. (Ais-KIM Senyum Tempel)




Pentingnya Menjaga Lisan dan Ketaatan Istri dalam Keluarga, Pesan Tugiyo Abdullah di Sleman

Sleman – Tugiyo Abdullah, pengasuh Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Al Wahab Condongcatur, menyampaikan pentingnya menjaga lisan dan ketaatan dalam menjalani kehidupan berumah tangga. Pesan tersebut disampaikan dalam Pengajian Malam Ahad Kliwon di Masjid Baitul Hasanah, Padukuhan Penen, Sabtu (8/11/2025).

Dalam tausiyahnya, Tugiyo menekankan bahwa menjaga lisan adalah hal fundamental. Mengutip hadits Rasulullah SAW, ia mengingatkan, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam.”

Ia juga menyoroti pentingnya menjaga ketaatan dalam hubungan suami istri sebagai bentuk syukur dan tanggung jawab.

Tugiyo menjelaskan bahwa peran istri meliputi menjaga kehormatan diri, bersyukur kepada suami, serta menjalankan peran sebagai istri dan ibu dengan penuh tanggung jawab. Tugas-tugas ini termasuk bersolek untuk suami, menyiapkan makanan untuk keluarga, dan merawat suami serta anak-anak.

Selain itu, Tugiyo juga mengingatkan kewajiban suami untuk menafkahi lahir dan batin, mempergauli istri dengan kasih sayang, serta mendidik keluarga. Ia berpesan agar tidak meninggalkan salat, karena manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah SWT.

Tugiyo, yang dikenal sebagai spesialis ahli fikih wanita, merinci empat hal penting bagi istri, yaitu taat kepada suami, bijak dalam mengelola keuangan, menjaga penampilan di hadapan suami, serta mendidik anak secara islami. Ia berharap agar setiap wanita yang mendengarkan tausiyahnya dapat menjalankan peran mereka dengan baik dalam keluarga. (Endarwati/KIM Donoharjo)