Lazisnu DIY dan Pegadaian Syariah Gelar Seminar Literasi Haji di Sleman

Sleman – Seminar literasi haji yang digelar di Aula Pre Function Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Sabtu (8/11/2025) menghadirkan suasana penuh makna. Kegiatan hasil kerja sama antara Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama (Lazisnu) Daerah Istimewa Yogyakarta dan Pegadaian Syariah tersebut menghadirkan narasumber Edy Musoffa selaku pembimbing haji dan umrah bersertifikat yang menyoroti pentingnya memahami ibadah haji bukan hanya dari sisi ritual, tetapi juga dari aspek literasi keuangan syariah.

Ratusan peserta yang hadir dari berbagai kalangan tampak antusias menyimak pemaparan yang dikemas dengan bahasa ringan namun penuh nilai spiritual dan edukatif. Dalam paparannya, Edy Musoffa menegaskan bahwa literasi haji merupakan bagian dari literasi keagamaan yang harus dikuasai umat Islam di era modern.

Menurutnya, ibadah haji tidak bisa hanya dilihat sebagai perjalanan fisik menuju tanah suci, melainkan perjalanan kesadaran menuju kedewasaan spiritual dan finansial.

“Menunaikan haji adalah puncak ibadah, namun kesiapan finansial yang halal dan berkah menjadi bagian dari ibadah itu sendiri,” ujar Edy.

Selain menyampaikan teori, Edy Musoffa juga mengajak peserta merenungi makna simbolik dari setiap tahapan ibadah haji. Ia mengatakan, ketika umat memahami hakikat ibadah haji secara utuh, maka literasi haji bukan hanya tentang keuangan dan ritual, namun juga tentang pendidikan karakter yang menguatkan moral dan sosial masyarakat.

Forum ini menjadi wadah penting bagi masyarakat untuk memperdalam pengetahuan tentang tata cara menjalani ibadah haji secara benar. Sekaligus menjelaskan bahwa banyak calon jamaah haji terjebak dalam pemahaman sempit yang menganggap urusan biaya semata sebagai hambatan utama. Padahal, melalui perencanaan yang matang dan pemanfaatan instrumen keuangan syariah seperti tabungan haji dan produk Pegadaian Syariah, umat dapat menyiapkan perjalanan suci dengan cara yang aman dan sesuai prinsip syariat.

“Kolaborasi dengan Pegadaian Syariah diharapkan mampu membangun kesadaran umat akan pentingnya menyiapkan ibadah besar seperti haji secara bertanggung jawab,” tandas Edy Musoffa.

Melalui seminar ini, peserta didorong untuk menabung dan berinvestasi dalam kebaikan, dengan niat memperkuat iman dan kemandirian ekonomi keluarga. Literasi keuangan yang baik akan menuntun umat agar tidak terjerat praktik riba dan tetap istiqamah dalam mencari ridha Allah SWT. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Koperasi Asal Kalimantan Tengah Dalami Ilmu Pangan di Halo Bumdes Farm Sleman

Sleman — Halo Bumdes Farm yang dikelola oleh BUMKal Oerip Soemohardjo, Kalurahan Sardonoharjo, Kecamatan Ngaglik, Sleman kembali menjadi pusat perhatian. Kali ini, tempat tersebut menjadi tujuan kunjungan studi dan pelatihan dari Koperasi Konsumen Seberang Jaya Sejati Mitra PT Andalan Sukses Makmur yang berasal dari Kumai Seberang, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

Pelatihan yang berlangsung selama dua hari, 7–8 November 2025, diikuti oleh 25 peserta dan diselenggarakan di kompleks Halo Bumdes Farm, Plumbon, Sardonoharjo. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya penguatan kapasitas koperasi dalam bidang budidaya unggas, ikan, dan ruminansia, dengan pendekatan praktik langsung di lapangan.

Lurah Sardonoharjo, Harjuno Wiwoho, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada BUMKal Oerip Soemohardjo sebagai mitra pelatihan.

“Kami sangat terbuka untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman. Terima kasih sudah mempercayakan kunjungan ke Bumkal Oerip Soemohardjo. Semoga sinergi ini membawa manfaat bagi kedua daerah,” ujarnya.

Sementara itu, Farid Hadi Rahman, selaku Manajer Halo Bumdes Farm, menjelaskan bahwa Halo Bumdes Farm hadir sebagai wujud nyata dari pemanfaatan potensi aset pertanian desa.

“Kami berkomitmen untuk mendukung ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi desa. Melalui sinergi antara pemerintah desa, masyarakat, dan pelaku usaha lokal, BUMKal Oerip Soemohardjo menjadi motor penggerak ekonomi yang berkelanjutan,” jelasnya.

Pada hari kedua, peserta pelatihan melanjutkan kunjungan lapangan ke beberapa lokasi di wilayah Sardonoharjo, antara lain peternakan bebek di Mriyunan, peternakan mentok di Tegalmindi, dan peternakan kambing di Dayakan.

Menutup kegiatan, Ahmad Subandi, Ketua Rombongan Koperasi Seberang Jaya Sejati, menyampaikan kesan mendalamnya.

“Penyambutannya luar biasa. Semoga silaturahmi ini terus terjaga. Ilmu yang kami dapatkan sangat bermanfaat dan akan kami terapkan di kampung kami. Kami siap menjalin kerja sama lanjutan melalui MOU pelatihan,” ujarnya dalam malam keakraban penutupan.

Kunjungan ini semakin menegaskan posisi BUMKal Oerip Soemohardjo dan Halo Bumdes Farm sebagai salah satu model pembelajaran desa mandiri berbasis pangan dan ekonomi lokal di Indonesia. (Andy Ahmad/KIM DSN Ngaglik)




Perkuat Kinerja, Panewu Anom Moyudan Serahkan SK Kepengurusan KIM Sumber Biwara

Sleman – Panewu Anom Moyudan, Mahmudah Arfiyati, menyerahkan Surat Keputusan (SK) Panewu Moyudan nomor 044/ tentang Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Kapanewon Moyudan Periode 2025-2029 di Ruang Abhinaya, Jumat (7/11/2025) sore.

Dalam sambutannya, Mahmudah Arfiyati menegaskan bahwa Kapanewon Moyudan memiliki banyak potensi alam, pertanian, seni, tradisi, budaya, hingga UMK yang bisa diwartakan ke publik. Ia mendorong agar potensi tersebut dieksplor dengan harapan dapat meningkatkan ekonomi masyarakat.

“Jangan hanya hal-hal yang bersifat seremonial, banyak potensi di Moyudan yang bisa dieksplor dengan harapan bisa meningkatkan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Ia juga memberikan apresiasi kepada pegiat KIM yang selama ini telah mewartakan berbagai kegiatan di Moyudan dan menekankan pentingnya sinergitas antara pemerintah kapanewon dengan masyarakat, terutama dalam penyampaian program-program kepada publik.

Ketua KIM Sumber Biwara Moyudan, Sugiyanto, menegaskan pentingnya peran pengurus dalam mewartakan berbagai potensi di wilayah kapanewon. Ia mendorong seluruh pengurus untuk aktif serta membangun komunikasi dengan berbagai pihak untuk memperoleh dan mewartakan informasi.

“Kami menyampaikan terima kasih atas dukungan Pemkap Moyudan untuk KIM yang akan mengikuti kompetisi,” tegas Sugiyanto, yang juga sepakat untuk membentuk tim guna mengikuti kompetisi pembuatan video yang mengangkat potensi di Moyudan. (Edy/KIM Sumber Biwara Moyudan)




HIDIMU Sleman Gelar Pelatihan Digital Marketing, Dorong Kemandirian Ekonomi Difabel

Sleman — Himpunan Difabel Muhammadiyah (HIDIMU) Sleman menunjukkan komitmennya dalam memberdayakan anggotanya melalui Pelatihan Digital Marketing yang digelar pada Sabtu (8/11/2025) di Masjid Agung Beran Sleman. Kegiatan yang diikuti 50 peserta ini merupakan bagian dari program rutin Majelis Pemberdayaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman yang diselenggarakan setiap tiga bulan sekali.

PDM Sleman, Ardani AS, membuka acara secara resmi didampingi Ketua MPKS Sleman, Wahyu Purwantoro. Dalam sambutannya, Ardani menegaskan bahwa kemampuan digital menjadi keharusan di era modern ini, terlebih bagi para pelaku usaha yang ingin berkembang.

“Perkembangan teknologi menuntut kita untuk terus beradaptasi. Arus informasi dan transaksi kini sangat cepat, sehingga peningkatan kualitas layanan dan usaha harus diimbangi dengan kemampuan digital. Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali mereka sendiri yang berusaha mengubahnya,” ungkap Ardani.

Pelatihan menghadirkan dua narasumber, yakni Endah Wening dari Lembaga Pengembangan UMK PDM Sleman dan Rahmadi. Endah menyoroti pentingnya digital marketing sebagai solusi efisien dan terjangkau bagi pelaku usaha kecil.

“Melalui strategi digital yang tepat, kita bisa menjangkau pasar lebih luas dengan biaya yang jauh lebih hemat,” jelasnya.

Sementara itu, Rahmadi menambahkan data menarik bahwa pelaku bisnis yang memanfaatkan pemasaran digital mampu meningkatkan pendapatan hingga 2,8 kali lipat dibandingkan mereka yang hanya mengandalkan metode konvensional. Menurutnya, peluang ini harus dimanfaatkan agar pelaku UMK, termasuk kalangan difabel, bisa lebih kompetitif dan mandiri.

Tak hanya fokus pada aspek teknis, pelatihan ini juga mengusung nilai-nilai pemberdayaan. Slogan “Badan Sehat, Usaha Kuat, Hasil Bermanfaat” digaungkan sebagai semangat untuk menyeimbangkan kesehatan, kerja keras, dan kebermanfaatan sosial. Hal tersebut disampaikan oleh Bisron Irfani, salah satu panitia kegiatan, yang berharap pelatihan ini mampu menumbuhkan motivasi peserta untuk terus berkembang.

Ketua MPKS Sleman, Wahyu Purwantoro, menutup kegiatan dengan menyampaikan apresiasi dan rencana ke depan. Ia berharap pelatihan serupa dapat dilakukan secara lebih inklusif. “Kami berencana mengadakan pelatihan JBI atau kursus bahasa isyarat bagi penyandang disabilitas netra, agar semakin banyak saudara kita dari kalangan difabel bisa ikut berpartisipasi aktif,” ujarnya.

Melalui semangat inovasi dan kolaborasi, HIDIMU Sleman berharap kegiatan ini menjadi langkah nyata untuk menciptakan pelaku usaha difabel yang tangguh, adaptif, serta mampu bersaing di era ekonomi digital yang terus berkembang pesat. (Arief Hartanto/KIM Kertomandiri)




Bedah Buku “Bawa Mereka Pulang” Ungkap Peran Sipil dalam Misi Perdamaian Dunia

Sleman – Kisah nyata pembebasan 10 ABK Indonesia di kawasan konflik Mindanao, Filipina, didiskusikan melalui bedah buku “Bawa Mereka Pulang” di Plaza Ruang Literasi Kaliurang (RLK) Bondosari, Hargobinangun, Pakem, Sleman, Jumat (7/11/2025) sore.

Hadir sebagai pembicara Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, Ketua Komisi XIII DPR RI Aditya Willy, penulis buku Fenty Effendy, pelaku sejarah Ahmad Baidowi, dan jurnalis senior Saut Hutabarat, dengan moderator host Metro TV Valentinus Resa.

Aditya Willy, Ketua Komisi XIII DPR RI sekaligus pemilik RLK, mengemukakan bahwa bedah buku merupakan acara rutin yang diselenggarakan setiap bulan di RLK dengan tema dan pembicara yang berbeda-beda. Ia menilai, buku “Bawa Mereka Pulang” seharusnya menjadi buku wajib bagi mahasiswa jurusan hubungan internasional karena memuat cara berdiplomasi di dunia internasional.

Fenty Effendy sebagai penulis buku merasa lega telah diterbitkannya buku nonfiksi ini, yang ditulis berdasarkan fakta, bukan karangan imajinasi. Peristiwa kemanusiaan terbesar ini terjadi pada tahun 2016, di mana 10 ABK yang membawa batubara disandera kelompok Abu Sayyaf selama 36 hari. Surya Paloh selaku inisiator memerintahkan “bawa mereka pulang” melalui Yayasan Sukma Bangsa miliknya, mengirim negosiator ulung Ahmad Baidowi untuk menjalankan misi kemanusiaan tersebut.

Proses negosiasi yang ulet dan panjang akhirnya berhasil membawa 10 ABK pulang selamat dengan negosiasi akhir berupa pertukaran 10 ABK dengan 30 anak Mindanao yang mendapat beasiswa di Sekolah Yayasan Sukma Bangsa di Aceh. “Peristiwa besar tidak akan menjadi apa-apa jika tidak ditulis dan dibicarakan,” pungkasnya.

Ahmad Baidowi selaku pelaku negosiator mengungkapkan bahwa selama ini namanya memang tidak ingin ditonjolkan. Ia terketuk hatinya untuk terjun di dunia kemanusiaan saat melihat liputan siaran langsung gempa dan tsunami Aceh. Berlatar belakang seorang pendidik, ia mendirikan sekolah di tenda-tenda pengungsian, yang menjadi sekolah pertama di Indonesia di tengah tenda pengungsian.

Ada tiga kunci keberhasilan menjadi seorang negosiator perdamaian. Pertama, memiliki literasi, pengetahuan, dan latar belakang objek sengketa. Kedua, menguasai manajemen konflik. Ketiga, bisa membuat proposal perdamaian, permohonan, dan negosiasi.

Menanggapi hal tersebut, Saut Hutabarat selaku jurnalis senior menyatakan salut atas keberanian dan pengorbanannya. Ia menekankan bahwa jika media melakukan aksi nyata dan kerja kemanusiaan dengan tulus, hasilnya menjadi luar biasa dan bisa menjadi bahan rujukan.

Pada akhir diskusi, Lestari Moerdijat selaku Ketua Yayasan Sukma Bangsa dan Wakil Ketua MPR RI, menyebutkan beberapa pelajaran yang bisa dipetik. Pertama, inisiator dan negosiator penyelamatan dan perdamaian dunia bisa berasal dari warga sipil dan politikus partai, tidak harus dari pemerintah atau TNI. Kedua, setiap warga memiliki hak untuk melakukan perdamaian dunia. Ketiga, keberhasilan tercapai karena adanya kepemimpinan yang kuat dari Surya Paloh yang menyatukan semua elemen. Keempat, negosiasi bisa dilakukan dengan pendekatan pendidikan.

Buku “Bawa Mereka Pulang” bukan buku klarifikasi, tetapi lebih menunjukkan peran sipil dalam menjaga peradaban dunia. (Sulistyono/KIM Seyegan)