Tertibkan Administrasi, Lumbungrejo Sleman Sosialisasikan Pemanfaatan Tanah Kalurahan untuk Lembaga Pendidikan

Sleman – Kalurahan Lumbungrejo melaksanakan kegiatan Sosialisasi Pemanfaatan Tanah Kalurahan di Aula Lantai II Kalurahan Lumbungrejo pada Jumat (7/11/2025) pukul WIB. Kegiatan ini merupakan bagian dari proses penataan administrasi pemanfaatan Tanah Kas Desa, terutama yang digunakan oleh tiga lembaga pendidikan, yaitu SD Negeri Klegung 3 Kopen, SD Muhammadiyah Gendol 4, dan PAUD SPS Mawar Molodono.

Ketiga lembaga pendidikan tersebut berdiri di atas Tanah Kalurahan, sehingga perlu melengkapi proses perizinan sesuai ketentuan Pergub DIY Nomor 24 Tahun 2024 tentang Pemanfaatan Tanah Kalurahan. Sosialisasi ini menjadi langkah penting sebelum pengajuan izin gubernur melalui DPTR Sleman dan DPTR DIY.

Acara ini dihadiri oleh Panewu Tempel Dakiri, Kawat Praja Kapanewon Tempel, Lurah Lumbungrejo, seluruh Pamong Kalurahan, BPKal Lumbungrejo, tokoh masyarakat setempat, serta perwakilan dari lembaga pendidikan terkait.

Dalam paparannya, Jagabaya Lumbungrejo Nugroho Subagyo, selaku penyelenggara kegiatan, menjelaskan secara rinci mengenai tahapan awal perizinan pemanfaatan Tanah Kas Desa. Beliau menegaskan bahwa tiap lembaga yang menempati tanah kalurahan wajib mengirimkan surat permohonan kepada Lurah Lumbungrejo yang berisi maksud dan tujuan penggunaan tanah, dengan melampirkan proposal pemanfaatan tanah, data lokasi lahan, serta site plan penggunaan atau bangunan yang berdiri di atasnya.

“Siapa saja yang akan menggunakan tanah kalurahan harus mengajukan permohonan kepada Gubernur DIY dengan terlebih dahulu mengirim surat permohonan kepada Lurah beserta persyaratan tersebut. Pemohon yang dimaksud bisa lembaga, instansi pemerintah, pihak ketiga, maupun pihak swasta,” jelasnya.

Lurah Lumbungrejo dalam sambutannya berharap proses perizinan berjalan lancar dan memberikan manfaat langsung bagi kelancaran kegiatan pendidikan di Lumbungrejo. “Semoga proses perizinan ke DPTR Sleman dan DPTR DIY dapat berjalan tanpa kendala. Setelah terbit izin gubernur, semoga lembaga pendidikan dapat memanfaatkan tanah kalurahan dengan optimal sehingga kegiatan belajar mengajar berlangsung baik,” ungkapnya.

Dukungan serupa juga disampaikan oleh Panewu Tempel, yang menegaskan komitmennya dalam membantu mempercepat proses rekomendasi. “Kami tidak akan mempersulit. Apabila berkas sudah lengkap, rekomendasi kepada Bupati akan segera saya tanda tangani. Kami mendukung penuh agar prosesnya segera berjalan,” tegas Panewu.

Salah satu peserta sosialisasi, Suhartinah, selaku Ketua Pengelola PAUD SPS Mawar Padukuhan Molodono, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai bahwa sosialisasi pemanfaatan tanah kalurahan ini memberikan pemahaman yang sangat penting bagi lembaga yang berdiri di atas Tanah Kas Desa.

“Dengan adanya sosialisasi ini kami dapat mengetahui prosedur yang harus kami lakukan dan segera kami kerjakan. Kegiatan ini juga sangat bermanfaat bagi kami selaku masyarakat yang menggunakan tanah kalurahan agar bisa mengantisipasi sedini mungkin hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari, dan kami dapat melakukan kegiatan belajar mengajar dengan tenang tanpa rasa khawatir,” ujarnya. (Ais/KIM Senyum Tempel)




Pasbuja Sleman Tanamkan Cinta Sastra Jawa Lewat Geguritan di SMPN 2 Ngaglik

Sleman — Pembelajaran sastra Jawa kini tak lagi sebatas hafalan atau teori yang membosankan. Di SMP Negeri 2 Ngaglik, Sleman, Jumat (7/11/2025), suasana terasa berbeda ketika sastrawan dari Paguyuban Sastra Budaya Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi Kabupaten Sleman hadir untuk mengajarkan para siswa membuat geguritan (puisi Jawa).

Menurut Indriyani Voluntiri Azis, Guru Bahasa Jawa SMP Negeri 2 Ngaglik sekaligus Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Basa Jawa tingkat SMP Kabupaten Sleman, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mengenalkan nilai-nilai luhur bahasa dan budaya Jawa sejak dini melalui pendekatan kreatif dan menyenangkan.

Indriyani mewakili Kepala SMP Negeri 2 Ngaglik menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan tersebut. Ia menilai bahwa pembelajaran sastra Jawa semacam ini mendukung penguasaan bahasa daerah, sekaligus menumbuhkan karakter luhur peserta didik.

“Anak-anak tidak sekadar belajar bahasa, tapi juga belajar mengenai kesantunan, unggah-ungguh, dan cara berpikir halus sebagaimana diajarkan dalam budaya Jawa,” ujarnya.

Pihaknya berharap kegiatan sastrawan masuk sekolah ini dapat dilakukan secara berkelanjutan agar nilai-nilai budaya dapat meresap dalam keseharian para siswa. Selain itu, guna memberikan wadah bagi siswa untuk menunjukkan potensi dan bakat mereka di bidang sastra, pihak SMPN 2 Ngaglik akan menerbitkan antologi geguritan dari hasil pelatihan.

“Melalui karya sastra siswa, nilai-nilai luhur, kearifan lokal, serta keindahan bahasa Jawa dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya,” tandas Indriyani.

Lebih lanjut, suasana kelas berubah menjadi ruang ekspresi yang penuh makna ketika sastrawan dari Pasbuja yang terdiri dari Budi Sardjono, Suhartoyo, R. Toto Sugiharto, dan Adnan Iman Nurtjahjo hadir untuk membimbing 100 siswa kelas VIII menulis geguritan. Forum ini bukan sekadar latihan menulis puisi, namun juga sarana menumbuhkan rasa cinta terhadap bahasa dan nilai-nilai luhur budaya Jawa.

Mengawali pembelajaran, Budi Sardjono mengajak siswa untuk mengamati lingkungan sekitar sebagai sumber inspirasi. Mereka diminta menulis geguritan bertema keseharian, seperti hubungan dengan orang tua, persahabatan di sekolah, hingga keindahan alam. Pendekatan ini membuat siswa merasa dekat dengan materi.

Sementara itu, Suhartoyo mengupas materi perihal cara mudah menulis geguritan, meliputi penentuan tema, judul, kata kunci, pilihan kata (diksi), penggunaan majas, hingga rima. “Banyak sekali tema untuk membuat geguritan. Jadi, sebisa mungkin memilih tema yang benar-benar menarik,” ucapnya di hadapan ratusan siswa yang menyimak presentasinya.

Lewat kegiatan ini, semangat untuk menjaga sastra dan budaya Jawa tetap hidup pun tumbuh di kalangan generasi muda. Dari bait-bait geguritan sederhana yang lahir di ruang kelas, terpatri harapan besar bahwa sastra Jawa akan terus hidup, dibaca, dan dicintai oleh anak-anak bangsa di masa depan. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Atasi Konflik Pertanian, Pelopor Perdamaian Sleman Gelar Sarasehan di Turi

Sleman — Pelopor Perdamaian (PORDAM) Sleman mengadakan Sarasehan Penanganan Konflik Pertanian di Aula Kapanewon Turi pada Jumat (7/11/2025). Kegiatan ini menghadirkan relawan PORDAM, PPL Pertanian, dan perwakilan masyarakat dari berbagai padukuhan.

Ketua PORDAM Sleman, Suwanto, membuka kegiatan dengan menegaskan bahwa PORDAM yang dibina oleh Dinas Sosial DIY dan Dinas Sosial Sleman bertugas melakukan pencegahan, deteksi dini, serta mediasi awal terhadap potensi konflik sosial, termasuk konflik terkait pertanian dan sumber daya alam. Ia menekankan pentingnya dialog dan kolaborasi lintas sektor sebagai kunci menjaga harmoni masyarakat.

PPL Pertanian Turi, Ananta, memaparkan tantangan sektor pertanian, mulai dari alih fungsi lahan, penurunan kesuburan tanah, hingga konflik perebutan air antara petani dan pelaku perikanan. Ia menjelaskan bahwa konflik pertanian di Turi terbagi dalam aspek teknis, sosial, dan ekonomi. Komoditas salak juga menjadi perhatian karena memiliki peluang ekspor yang besar, namun memerlukan peningkatan kualitas.

Forum turut membahas upaya pemenuhan gizi masyarakat melalui program ternak ayam skala rumah tangga. Tantangan regenerasi petani menjadi isu utama, dan PPL merencanakan kolaborasi dengan KUA untuk mendampingi pasangan muda yang berminat terjun ke dunia pertanian.

Dalam sesi diskusi, warga mengangkat persoalan hewan peliharaan, khususnya ayam, yang merusak tanaman. Solusi yang disarankan adalah penerapan sistem kandang serta penegakan kesepakatan lokal terkait hewan yang dibiarkan berkeliaran. Isu terkait anggota kelompok yang belum masuk RDKK juga menjadi perhatian untuk ditindaklanjuti.

Pertemuan ditutup dengan seruan memperkuat kerja sama antara PORDAM, PPL, dan masyarakat demi menciptakan ketahanan sosial serta menekan potensi konflik pertanian di wilayah Turi.

“Melalui peran aktif PORDAM, kami berharap dapat menekan potensi konflik dan memperkuat harmoni di tengah masyarakat pertanian Turi,” ujar Suwanto. (ESK/KIM DSN Ngaglik)




Pasar Bela Negara Edisi Ke-14 di Sleman: Perkuat Nasionalisme Melalui Cinta Produk Lokal

Sleman – Pasar Bela Negara edisi ke-14 yang digelar di utara Lapangan Pemda Sleman kembali menghadirkan suasana berbeda. Kegiatan yang diinisiasi oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Sleman bekerja sama dengan Carya Budhi Chantya – Lembaga Pendamping UMK, kali ini menghadirkan gelar wicara inspiratif bersama Ketua DPRD Kabupaten Sleman Gustan Ganda dan Kepala Badan Kesbangpol Sleman Samsul Bakri, dengan Boby Tinampi dan Lina Syafira sebagai pemandu acara, Jumat (7/11/2025).

Dalam gelar wicara tersebut, kedua narasumber menekankan bahwa bela negara harus dimaknai secara luas, tidak hanya sebatas pertahanan fisik, tetapi juga melalui nasionalisme ekonomi.

“Dasar dari bela negara adalah nasionalisme. Pasar Bela Negara menjadi wujud nyata nasionalisme melalui kecintaan terhadap produk lokal. Dengan mengenal dan membeli produk daerah sendiri, kita memperkuat rasa memiliki dan kemandirian bangsa,” ujar Samsul Bakri.

Ketua DPRD Sleman Gustan Ganda turut memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan kegiatan yang rutin digelar setiap Jumat pagi ini. Ia menilai, konsep Pasar Bela Negara yang menggabungkan semangat kebangsaan dan pemberdayaan ekonomi rakyat sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

“Dengan pemaknaan yang luas, Pasar Bela Negara sangat mungkin mendapat dukungan pendanaan dari APBD melalui Bakesbangpol. Saya juga akan membantu melobi agar ada alokasi anggaran tambahan, terutama untuk sarana kegiatan seperti tenda dan fasilitas pendukung lainnya,” ungkap Gustan Ganda.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyoroti pentingnya pembinaan pelaku usaha mikro. Menurutnya, istilah UMK (Usaha Mikro Kecil) lebih mencerminkan prinsip keadilan, mengingat pelaku usaha di Sleman mayoritas merupakan usaha mikro.

“Pelaku usaha menengah seharusnya sudah bisa mandiri, sementara yang mikro perlu lebih banyak diberdayakan,” tambahnya.

Gelar wicara ini juga menegaskan bahwa saat ini bukan lagi masa kegiatan yang bersifat normatif, tetapi harus aplikatif dan berorientasi hasil nyata. Pasar Bela Negara menjadi contoh konkret bagaimana nilai-nilai bela negara diterapkan melalui pemberdayaan ekonomi dan pelestarian budaya lokal.

Menambah semarak suasana, edisi kali ini juga dihadiri oleh anak-anak SD Ngebelgede 1 yang mengikuti kegiatan Outbound Bela Negara bersama Sunardi, Kader Bela Negara dari Kementerian Pertahanan RI. Kegiatan edukatif tersebut menjadi ajang menanamkan semangat cinta tanah air sejak usia dini.

Dengan semangat gotong royong dan nasionalisme yang kuat, Pasar Bela Negara terus tumbuh sebagai wadah pembinaan dan pemberdayaan masyarakat Sleman. Bukan sekadar pasar, tetapi juga gerakan nyata bela negara melalui ekonomi kerakyatan. (Andy Ahmad/KIM DSN)




Gerakan Cegah Stunting: Kapanewon Tempel Serahkan Ayam Indukan dan Bibit Tanaman untuk 34 Keluarga Rentan Stunting

Sleman – Upaya percepatan penurunan angka stunting di wilayah Tempel terus dilakukan secara terpadu lintas sektor. Pada Jumat (7/11/2025), Kapanewon Tempel melaksanakan kegiatan penyerahan bantuan ayam indukan dan bibit tanaman kepada 34 keluarga stunting dan rentan stunting di halaman kantor Kapanewon Tempel.

Kegiatan ini dipimpin oleh PLKB Kapanewon Tempel sebagai leading sector, dengan dukungan dari unsur Kapanewon, TNI, POLRI, dan Kalurahan yang tergabung dalam gerakan bersama pencegahan stunting di tingkat lokal.

Dalam sambutannya, Panewu Tempel, Dakiri menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata kolaborasi antarinstansi untuk menekan angka stunting di wilayah Tempel.

“Pencegahan stunting tidak cukup hanya dengan intervensi kesehatan, tetapi juga perlu dukungan ekonomi keluarga dan ketersediaan sumber pangan bergizi. Melalui bantuan ayam indukan dan bibit tanaman ini, kami ingin membantu keluarga penerima agar lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan gizi anak,” jelasnya.

Sementara itu, PLKB Kapanewon Tempel, Edi Santoso, menuturkan bahwa program ini merupakan bagian dari strategi pemberdayaan keluarga berisiko stunting.

“Ayam indukan bisa menjadi sumber protein hewani, sementara bibit tanaman seperti sayuran dan cabai dapat memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Kami berharap keluarga penerima bisa mengembangkan bantuan ini agar manfaatnya berkelanjutan,” ujarnya.

Bantuan ayam indukan yang diberikan terdiri atas satu pasang ayam jantan dan betina untuk masing-masing keluarga, disertai bibit tanaman produktif yang mudah dirawat di pekarangan. Program ini juga sejalan dengan gerakan Pemanfaatan Pekarangan Rumah untuk ketahanan pangan dan gizi yang digalakkan oleh Pemerintah Kabupaten Sleman.

Salah satu penerima bantuan, Rini, warga Kalurahan Margorejo mengungkapkan rasa terima kasihnya atas perhatian pemerintah terhadap keluarga rentan stunting.

“Kami sangat bersyukur mendapat bantuan ini. Ayam dan bibitnya akan kami pelihara sebaik mungkin agar bisa membantu kebutuhan gizi anak-anak kami,” ucapnya dengan senyum bahagia.

Kegiatan berlangsung dengan lancar dan penuh semangat kebersamaan. Melalui langkah sederhana namun bermakna ini, Kapanewon Tempel berharap dapat memperkuat ketahanan pangan keluarga serta menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya gizi seimbang dan kemandirian pangan dalam upaya mencegah stunting.

(SBD KIM Tempel)