Peningkatan Kapasitas Kader Stunting Kalurahan Condongcatur di Desa Wisata Dolan Ndeso

Sleman – Pemerintah Kalurahan Condongcatur menyelenggarakan kegiatan peningkatan kapasitas kader stunting sebagai bagian dari program reformasi kalurahan kloter 2. Kegiatan ini berlangsung pada Selasa (25/11/2025), di Desa Wisata Dolan Ndeso, Banjarsari, Kulonprog, dan diikuti oleh perangkat kalurahan serta kader kesehatan dari seluruh Posyandu di Kalurahan Condongcatur.

Peserta kegiatan terdiri atas Carik, Kamituwa beserta staf, Ketua TP PKK Condongcatur Ketua Pokja 4, Penanggung Jawab KB Kapanewon Depok, perwakilan Puskesmas Depok II serta para kader posyandu yang selama ini aktif dalam pelayanan kesehatan masyarakat di Condongcatur.

Kamituwa Kalurahan Condongcatur, Althovik Sofisalam menyampaikan apresiasi kepada seluruh kader atas dedikasi mereka dalam mendukung percepatan penanganan stunting di wilayah masing-masing.

“Peningkatan kapasitas seperti ini menjadi sarana penting untuk memperkuat pemahaman keterampilan serta kualitas pelaporan, sehingga program pencegahan stunting dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Kegiatan pelatihan berfokus pada pemantapan pengetahuan tentang tumbuh kembang balita, penguatan pemahaman gizi seimbang, peningkatan kemampuan pelaporan kegiatan posyandu, serta penguatan koordinasi antarwilayah.

Perwakilan Puskesmas Depok II, Dwi Anisa Purnamasari menyampaikan penjelasan komprehensif mengenai stunting meliputi faktor risiko, dampak jangka panjang serta langkah langkah pencegahannya bagi sasaran keluarga.

Sementara itu Koordinator PKB Kapanewon Depok, Siti Juwariyah menegaskan bahwa penanganan stunting merupakan tanggung jawab bersama. Di wilayah Kalurahan Condongcatur terdapat 13 Tim Pendamping Keluarga TPK yang secara aktif memantau sasaran mulai dari calon pengantin, ibu hamil, ibu nifas, hingga baduta. S

“Seluruh kegiatan tersebut dijalankan sebagai langkah berkelanjutan dalam upaya pencegahan stunting,” ungkapnya.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini Pemerintah Kalurahan Condongcatur berharap kualitas pelayanan kader posyandu semakin meningkat. Sehingga dapat memperkuat upaya penurunan stunting secara menyeluruh dan berkesinambungan di wilayah Condongcatur. (Tri Suhartati KIM Depok)




KMP Sardonoharjo Dukung Penyaluran BLT Kesra Tiga Kalurahan di Ngaglik, Layani 1.300 Penerima Bantuan

Sleman — Penyaluran Bantuan Langsung Tunai Sementara (BLTS) Kesejahteraan Rakyat bagi warga penerima dari tiga kalurahan di Kapanewon Ngaglik yaitu Sinduharjo, Minomartani, dan Sukoharjo, berlangsung tertib di Aula Kalurahan Sardonoharjo pada Rabu (26/11/2025). Proses penyaluran dilakukan bekerja sama dengan PT Pos Indonesia, serta didukung tim verifikator dari TPKS dan TKSK.

Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Sardonoharjo mengambil peran aktif dalam kegiatan ini dengan menyediakan layanan penjualan sembako untuk membantu para penerima manfaat memenuhi kebutuhan pokok mereka.

Ketua KDMP, Mukijo menyampaikan bahwa koperasi menyiapkan berbagai bahan pangan seperti beras, minyak goreng, gula, dan kebutuhan pokok lainnya.

Tingginya jumlah penerima membuat antusiasme masyarakat sangat besar. Seluruh stok sembako yang disediakan KDMP habis sebelum pukul WIB, termasuk beras lokal hasil pertanian warga Sardonoharjo dan telur dari peternak Lanjaran.

“Alhamdulillah kegiatan penyaluran BLTS berjalan lancar. Karena banyaknya warga yang hadir, stok sembako habis lebih cepat. InsyaAllah besok, Kamis 27 November 2025, koperasi akan melanjutkan pelayanan dengan persiapan yang lebih lengkap,” kata Mukijo.

Ia menjelaskan bahwa sebagian besar komoditas seperti beras, gula, dan minyak disuplai dari Bulog, ditambah produk pertanian dan peternakan lokal dari warga Sardonoharjo.

PT Pos Indonesia diwakilkan Wenny memastikan bahwa bantuan yang disalurkan berupa BLT Kesra senilai .

Pemerintah Kalurahan Sardonoharjo melalui Kamituwo Bayu Kristiyanto mengapresiasi kerja sama antara KDMP, PT Pos, TPKS, TKSK, serta seluruh pihak yang terlibat sehingga proses pelayanan kepada penerima dapat berjalan aman, tertib, dan kondusif. (ESK – KIM DSN NGAGLIK)




Badan Bahasa Siapkan 26 Juta Buku Literasi Lewat Uji Keterbacaan di Sleman

Sleman – Nuansa serius namun antusias menyelimuti Hotel Sahid Raya Yogyakarta pada Rabu (26/11/2025). Sejak pukul WIB, Balai Bahasa Provinsi DIY menjadi tuan rumah pelaksanaan Uji Keterbacaan Buku Bacaan Literasi Tahun 2025, sebuah agenda krusial yang diprakarsai oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Di mana, Kabupaten Sleman menjadi wilayah kedua yang dipercaya menjalankan uji coba ini, setelah sebelumnya dilakukan di Cilegon. Kegiatan ini dibuka dengan khidmat serta diikuti oleh 100 guru dan 100 siswa. Para peserta merupakan perwakilan sekolah dasar yang ditunjuk langsung oleh Dinas Pendidikan Sleman. Mereka hadir untuk memberikan penilaian terhadap lima buku bacaan literasi yang akan segera terbit.

Kasubag Umum Balai Bahasa Provinsi DIY, Linda dalam sambutannya menjelaskan bahwa uji keterbacaan ini sengaja melibatkan siswa SD sebagai pembaca sasaran. Tujuannya sangat spesifik, yaitu mendapatkan masukan langsung dari anak-anak mengenai konten yang disukai, komposisi gambar dan teks, serta tema yang paling relevan, demi menghasilkan luaran buku yang berkualitas.

“Peserta diminta untuk menilai buku, memberikan alasan suka atau tidak suka, dan menilai apakah komposisi teks dan gambar pada buku bergambar tersebut sudah optimal,” jelasnya.

Sementara, Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Imam Budi Utomo mempertegas skala proyek ini. Ia mengumumkan bahwa Badan Bahasa berencana mendistribusikan hingga 26 juta eksemplar buku literasi pada tahun 2025.

Imam juga menyampaikan bahwa upaya memasifkan Gerakan Literasi Nasional (GLN) akan dilakukan dengan memastikan setiap desa menerima eksemplar buku, baik melalui jalur sekolah maupun Taman Bacaan Masyarakat (TBM).

“Sebagai upaya digitalisasi, setiap sekolah direncanakan akan menerima papan digital dari Presiden untuk mengunduh buku-buku digital,” ungkapnya.

Acara kemudian secara resmi dibuka oleh perwakilan Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Kepala Seksi Kurikulum SD, Ahmad Ritaudin dalam sambutannya menekankan bahwa kegiatan ini sangat sejalan dengan prioritas Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sleman untuk penguatan literasi dan numerasi berdasarkan Rapor Pendidikan.

“Dengan rata-rata literasi jenjang SD Sleman saat ini di angka 90, Disdik menargetkan peningkatan menjadi 95 di tahun mendatang,” tutur Ahmad.

Ia juga berpesan kepada peserta untuk memperhatikan struktur dan tata bahasa dalam bahan bacaan, serta mewajibkan para guru menyosialisasikan program hari ini dan menjalankan kegiatan parenting bersama orang tua siswa untuk memperkuat literasi di daerah Sleman.

Setelah sesi pembukaan, foto bersama dilaksanakan sebelum dilanjutkan dengan pengarahan teknis uji keterbacaan. Kegiatan yang menjadi sarana utama masukan bagi pengembangan buku bacaan ini ditutup sore harinya setelah seluruh proses penilaian selesai. (Ajeng KIM DSN)




Uji Pidato di PPKK UGM, Mengukur Kapasitas Komunikasi Calon Perangkat Kalurahan

Sleman – Di tengah dinamika pembangunan kalurahan yang menuntut perangkatnya semakin responsif dan komunikatif, seleksi calon perangkat kalurahan Merdikorejo di Gedung Pusat Pengembangan Kapasitas dan Kerja Sama (PPKK) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (25/11/2025) memunculkan satu penekanan penting terkait kemampuan berpidato.

Sebelas calon Kamituwa dan delapan calon Dukuh Kembang diuji bukan hanya pada aspek administratif dan teknis, tetapi juga pada kecakapan menyampaikan gagasan di depan publik. Dalam proses seleksi yang sarat persaingan ini, kemampuan berbicara secara terstruktur menjadi indikator wajib bagi siapa pun yang ingin mengemban amanah pelayanan masyarakat.

Sejak pagi, para peserta tampak mempersiapkan materi singkat yang harus disampaikan dalam sesi uji pidato. Ruang seleksi di Gedung PPKK UGM dipenuhi suasana serius namun penuh harapan. Tim penguji menilai bukan hanya isi pidato, tetapi juga ketenangan, artikulasi, serta kemampuan kandidat dalam mengelola pesan. Semua itu dilakukan untuk menggambarkan situasi nyata yang akan dihadapi perangkat kalurahan ketika berbicara di hadapan warga.

Ketua Panitia Seleksi yang juga menjabat sebagai Carik Merdikorejo, Yuni Adinurdiyanto mengatakan bahwa kemampuan berpidato menjadi penting karena perangkat kalurahan tidak hanya bekerja di balik meja. Mereka harus mampu menjelaskan program, menyosialisasikan kebijakan, hingga menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.

“Tanpa kemampuan komunikasi lisan yang baik, pesan yang disampaikan rawan tidak dipahami, atau bahkan menimbulkan kesalahpahaman yang berdampak pada pelayanan publik,” jelasnya.

Menurut Yuni, para kandidat yang tampil percaya diri dinilai lebih mampu membangun hubungan emosional dengan audiens. Pada sesi seleksi tersebut, beberapa kandidat menunjukkan kapasitas retorika yang matang, memadukan intonasi, bahasa tubuh, dan ketepatan pilihan kata. Situasi ini memperlihatkan bahwa berpidato bukan sekadar berbicara, tetapi seni menyampaikan pesan dengan efektif dan meyakinkan.

Di sisi lain, tim penguji juga menyoroti pentingnya kemampuan berpikir cepat ketika peserta diberi topik mendadak. Ketika calon perangkat mampu menyusun gagasan secara spontan namun terstruktur, hal itu menunjukkan kematangan berpikir serta kesiapan menghadapi situasi lapangan yang dinamis.

“Kemampuan ini sangat relevan, terutama saat perangkat kalurahan harus merespons isu-isu mendadak yang muncul di tengah masyarakat,” kata Yuni.

Sementara itu, Agus Prasetyo selaku Lurah Merdikorejo menuturkan bahwa kemampuan berpidato juga mencerminkan kompetensi kepemimpinan. Menurutnya, perangkat kalurahan merupakan figur yang harus dapat mengarahkan, mengajak, dan memotivasi warga. Tanpa kecakapan berbicara, sulit bagi perangkat untuk memberikan pengaruh positif dalam proses pembangunan sosial maupun administratif.

“Karena itu, seleksi ini menjadi sarana penting untuk memotret potensi kepemimpinan para kandidat,” tandasnya.

Uji pidato seperti ini memberikan pelajaran berharga bagi para peserta. Banyak dari mereka mengakui bahwa persiapan untuk tampil di depan panel penguji membantu meningkatkan rasa percaya diri serta kemampuan menyusun argumen. Selain itu, bagi sebagian peserta, sesi ini bahkan menjadi pengalaman pertama berbicara di forum formal.

Selain aspek teknis, pidato juga menguji karakter peserta apakah mereka memiliki ketulusan, visi yang jelas, serta orientasi pelayanan untuk menunjukkan kemampuan komunikasi yang adaptif. Harapannya, generasi perangkat Kalurahan Merdikorejo ke depan adalah para komunikator yang tangguh, cerdas, dan humanis. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Menakar Kesiapan Calon Perangkat Kalurahan Lewat Wawancara

Sleman -Seleksi perangkat Kalurahan Merdikorejo memasuki tahap krusial pada Selasa (25/11/2025) ketika sesi wawancara digelar di Gedung Pusat Pengembangan Kapasitas dan Kerja Sama (PPKK) UGM. Para calon Kamituwa dan Dukuh Kembang yang berjumlah 19 orang satu per satu memasuki ruang wawancara, menghadapi tim seleksi yang menekankan satu aspek fundamental yaitu pemahaman mendalam mengenai tugas pokok dan fungsi (tupoksi) perangkat kalurahan. Di era birokrasi modern seperti sekarang, kejelasan tupoksi menjadi ukuran utama kualitas pelayanan publik di level kalurahan.

Menurut Lurah Merdikorejo, Agus Prasetyo, wawancara bukan sekadar menilai kemampuan berbicara, melainkan menguji seberapa jauh calon perangkat memahami peran strategis yang akan mereka emban. Kalurahan sebagai unit pemerintahan terdekat dengan masyarakat membutuhkan aparatur yang tak hanya cakap administrasi, tetapi juga paham regulasi, responsif, dan mampu mengeksekusi tugas secara tepat.

“Pengetahuan mengenai tupoksi adalah fondasi,” ujarnya di ruang panitia.

Di sisi lain, transformasi digital di lingkungan kalurahan pun menjadi alasan kuat mengapa pemahaman tupoksi perlu diperkuat sejak awal. Banyak sistem kini berbasis aplikasi, mulai dari layanan surat-menyurat hingga pelaporan keuangan.

“Tanpa pemahaman tugas yang jelas, calon akan kesulitan mengikuti alur kerja digital yang menuntut kecepatan, akurasi, dan tanggung jawab yang lebih besar,” tegas Agus.

Hal senada diutarakan Ketua Panitia Seleksi sekaligus Carik Merdikorejo, Yuni Adinurdiyanto yang menekankan bahwa perangkat kalurahan adalah garda depan dalam penyelenggaraan asistensi administrasi kependudukan. Kesalahan kecil dalam pelayanan bisa berdampak langsung pada masyarakat. Karena itu, wawancara menjadi ruang untuk menilai ketelitian dan sikap profesional calon perangkat.

“Penguasaan tupoksi dianggap mampu meminimalkan risiko kesalahan sekaligus mempercepat proses pelayanan,” katanya.

Tak jarang, beberapa calon memberikan contoh pengalaman pribadi atau pengamatan mereka mengenai pelayanan publik di kalurahan. Dari cerita-cerita itu, terlihat bagaimana pemahaman tupoksi dapat memengaruhi kualitas kerja. Mereka yang mampu memberikan gambaran realistis dinilai memiliki potensi besar untuk beradaptasi dengan cepat setelah dilantik nanti.

Lingkungan gedung PPKK UGM yang kondusif dan disusun formal namun tetap ramah, mencerminkan harapan agar perangkat kalurahan nantinya dapat melayani warga dengan profesional sekaligus humanis. Atmosfer akademik kampus turut memperkuat nuansa bahwa seleksi ini bukan sekadar formalitas, melainkan proses pembelajaran bagi calon perangkat. Tahap wawancara ini menjadi ruang pembuktian kesiapan mental, wawasan, dan integritas calon perangkat Kalurahan Merdikorejo. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)