Bupati Sleman Kukuhkan Pengurus LPTQ dan Rois Kabupaten Sleman Masa Bakti 2025-2030

Sleman – Bupati Sleman, Harda Kiswaya mengukuhkan pengurus Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) dan Rois Kabupaten Sleman Masa Bakti 2025-2030, Rabu (31/12) di Pendopo Parasamya Kabupaten Sleman.

Harda menyampaikan selamat sekaligus berharap kedepan LPTQ memiliki peran strategis dalam pembinaan tilawah, tahfiz, tafsir dan pemahaman Al Quran. Sedangkan Forum Rois mampu menjadi garda terdepan dalam membimbing umat, menjaga harmoni kehidupan keagamaan di masyarakat serta menanamkan keislaman yang sejuk dan rahmatan lil ’alamin.

“Melalui Pengukuhan ini saya berharap agar kedepan peran penting dalam membentuk dan memelihara sosial umat Islam di Kabupaten Sleman serta mengambil meningkatkan ketakwaan dan kerukunan umat,” tutur Harda

Sementara itu, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Sleman, Wiyato Widodo melaporkan Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Kabupaten Sleman dilaksanakan melalui mekanisme seleksi bagi 9 pengurus inti yakni ketua, sekretaris, bendahara, dan 6 kepala bidang.

Seleksi tersebut melibatkan 5 (lima) orang akademisi yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Bupati Sleman Nomor 88/ tentang Tim Seleksi Pengurus LPTQ Kabupaten Sleman Masa Bakti Tahun 2025-2030.

“Diharapkan melalui mekanisme tersebut dapat memperoleh pengurus yang kompeten, berintegritas, serta mampu menjalankan amanah organisasi dan mampu menjalin komunikasi antar anggota maupun instansi terkait dengan baik sekaligus membantu menjaga kerukunan dan solidaritas,” ujar Wiyato




PMI Kalasan Sosialisasikan Program Ladamanis dalam Penyuluhan Donor Darah

Sleman – Palang Merah Indonesia (PMI) Kapanewon menjelenggarakan penyuluhan donor darah sekaligus sosialisasi program Ladamanis, dengan menghadirkan narasumber dari PMI Kabupaten Sleman. Penyuluhan berlangsung pada Selasa (30/12/2025), di Aula Kapanewon Setempat.

Ketua PMI Kapanewon Kalasan, Sidi Nugroho menuturkan penyuluhan tentang donor darah bertujuan untuk memberikan edukasi kepada peserta tentang manfaat mengikuti donor darah bagi diri sendiri dan bagi penerima transfusi.

Sementara terkait dengan sosialisasi Ladamanis (Layanan Darah Sleman Gratis), bertujuan penyebar luasan program tersebut bagi peserta. Setelah mendapatkan penyuluhan dan sosialisasi, para peserta yang berasal dari unsur penggerak dari perangkat kalurahan, takmir, instansi setingkat kapanewon, sekolah dan lembaga itu. Kemudian meneruskan kepada masyarakat dilingkungan masing-masing dan keluarga.

“Setelahnya diharapkan kesedaran masyarakat untuk berdonor makin tinggi. Dengan demikian Kapanewon Kalasan dapat menyuplay darah hingga stok darah di PMI Sleman tercukupi,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris PMI Kabupaten Sleman, Jazim Sumirat dalam pengantar penyampaian sosialisasi, memberikan apresiasi kepada PMI Kapanewon yang telah sering melakukan edukasi kepada masyarakat. Hal itu menunjukkan komitmen untuk turut membesarkan dan mendukung PMI Kabupaten Sleman menuju pelayanan yang prima.

Dalam hal donor darah, Staf Unit Donor Darah (UDD) PMI Sleman, Suraji menjelaskan tentang manfaat donor darah bagi pendonor adalah menjaga kesehatan. Sedangkan bagi penerima transfusi untuk membantu proses penyembuhan serta secara sosial memumpuk solidaritas dan jiwa kemanusiaan.

“Syarat bagi pendonor adalah usia 17-60 tahun. Berat badan minimal 45 kg. Kadar Hemoglobin 12,5 g/dl. Tekanan darah 120/140/80-100 mmHg. Denyut nadi 50 sampai 100 per menit teratur. Tidak berpenyakit jantung, hati, paru-paru, kencing manis, penyakit perdarahan, kejang, kanker dan penyakit kulit kronis. Bagi wanita, tidak sedang hamil dan menyusui,” jelasnya.

Lebih lanjut, Suraji menjelaskan manfaat donor darah. “Bagi pendonor dapat mengurangi risiko terkana penyakit jantung, membantu menurunkan kadar kolesterol, menurunkan berat badan, mengurangi resiko terkana penyakit kanker, regenerasi sel darah merah serta keuntungan lainya,” ungkapnya. (Tri Joko S – KIM Kalasan Bersahabat)




Pemkal Sardonoharjo Ajak Warga Sambut Tahun 2026 dengan Kesederhanaan dan Solidaritas Sosial

Sleman – Menjelang pergantian tahun, Lurah Sardonoharjo, Harjuno Wiwoho mengimbau masyarakat agar menyambut tahun baru dengan cara yang lebih bermakna, sederhana, dan sarat kepedulian sosial, khususnya terhadap masyarakat yang tengah terdampak bencana di wilayah Sumatera.

Dalam pernyataannya, Harjuno menegaskan bahwa euforia pergantian tahun tidak seharusnya mengikis rasa empati. Menurutnya, momentum tahun baru justru menjadi saat yang tepat untuk memperkuat solidaritas dan kepedulian antarsesama.

“Kita patut bersyukur dapat menyambut tahun baru, namun di saat yang sama jangan melupakan saudara-saudara kita yang sedang berjuang menghadapi musibah,” ujarnya, pada Selasa (30/12).

Ia mengajak masyarakat untuk mematuhi imbauan aparat kepolisian dengan tidak menyalakan petasan maupun kembang api. Selain demi keselamatan dan ketertiban lingkungan, langkah tersebut dinilai sebagai bentuk kepekaan sosial. Dana yang biasanya digunakan untuk perayaan dinilai lebih bermanfaat apabila dialihkan untuk bantuan kemanusiaan.

Harjuno juga mengingatkan pentingnya menjaga ketenangan lingkungan saat malam pergantian tahun, termasuk dengan tidak menggunakan knalpot bising serta menghindari perayaan yang berlebihan.

Menurutnya, ketertiban adalah wujud kepedulian bersama. Tidak hanya bagi lingkungan sekitar, tetapi juga sebagai refleksi rasa hormat kepada para korban bencana.

Lebih lanjut, ia mendorong masyarakat untuk mengisi pergantian tahun dengan kegiatan positif, seperti doa bersama dan penggalangan bantuan berupa kebutuhan pokok, perlengkapan tidur, serta obat-obatan bagi warga terdampak bencana.

“Perayaan sederhana, doa yang tulus, dan aksi nyata jauh lebih berarti dibandingkan hura-hura sesaat,” tuturnya.

Menutup pesannya, Harjuno mengajak seluruh pemangku kepentingan dan aparatur pemerintahan di Sleman untuk terus menumbuhkan semangat melayani dan berbuat kebaikan tanpa pamrih.

Ia meyakini bahwa konsistensi dalam hal kecil akan membawa dampak besar bagi kesejahteraan masyarakat di tahun mendatang. (ESK – KIM DSN)




Bentuk Kalurahan Berkarakter Sembada Melalui Penyusunan Toponimi Padukuhan

Sleman – Upaya membentuk Kalurahan berkarakter Sembada melalui penyusunan toponimi padukuhan digelar pada Selasa (30/12/2025) di Gedung Serba Guna Margomulyo. Kegiatan ini diikuti oleh para dukuh, Babinsa/Bhabinkamtibmas, dan ketua RW se-Kalurahan Margomulyo.

Acara dibuka secara resmi oleh Kamituwo Margomulyo, Prasetyo Sujanarko yang dalam sambutannya menekankan pentingnya penguatan karakter masyarakat berbasis nilai budaya dan sejarah lokal.

“Toponimi bukan sekadar nama wilayah, tetapi identitas dan jati diri masyarakat yang harus dijaga dan diwariskan,” ujarnya.

Narasumber utama kegiatan ini adalah seorang sastrawan Jawa dan penulis buku dari Pasbuja (Paguyuban Sastra Budaya Jawa) Kabupaten Sleman, Budi Sarjono atau yang akrab dipanggil Budsar adalah. Dalam paparannya, ia menjelaskan makna Sêmbada baik secara bahasa maupun sebagai falsafah hidup.

Budsar mengawali paparannya dengan menyampaikan makna Sembada sebagai slogan Sleman. Sleman Sembada adalah slogan Pemerintah Kabupaten Sleman yang bermakna filosofis mendalam, gabungan dari singkatan huruf yang mewakili visi pembangunan dan kepribadian masyarakat Jawa yang tangguh, pantang menyerah, bertanggung jawab, serta bertekad kuat demi kesejahteraan bersama, digerakkan oleh, dari, dan untuk rakyat.

“Arti secara filosofi, Sembada, dalam Bahasa Jawa, berarti karakter yang kuat, pantang menyerah, tidak mudah mengeluh, menepati janji, taat asas, bertekad bulat, serta rela berkorban dan bertanggung jawab untuk mengatasi tantangan demi kesejahteraan,” jelas Budsar.

Sedangkan arti secara singkatan (visi pembangunan), SEMBADA berarti Sehat, Elok dan Edi (Indah), Makmur dan Merata, Bersih dan Berbudaya, Aman dan Adil, Damai dan Dinamis, serta Agamis.

Adapun inti dari Sleman Sembada ialah sebuah gerakan pembangunan terpadu yang digerakkan dari, oleh, dan untuk masyarakat Sleman. Gerakan ini bertujuan agar hasil pembangunan dapat dirasakan langsung oleh warga secara adil dan berkelanjutan.

“Sembada itu menggambarkan manusia Jawa yang utuh, mampu berdiri sendiri, beretika, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sosial maupun budayanya,” jelasnya.

Ia juga menerangkan makna slogan Sembada sebagai simbol semangat untuk terus bergerak menjaga nilai-nilai tersebut dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.

Budsar pun mengajak Pemerintah Kalurahan Margomulyo untuk menyusun dan memiliki buku toponimi padukuhan, yang berisi cerita lokal dan asal-usul wilayah yang ditulis oleh warga setempat.

“Cerita lokal sebaiknya ditulis oleh orang Margomulyo sendiri, karena merekalah pemilik sejarah itu,” tegasnya.

Kegiatan diakhiri dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung aktif, menunjukkan antusiasme peserta terhadap pelestarian sejarah dan budaya lokal di Kalurahan Margomulyo. (Sutarto Agus/KIM Seyegan).




Bimtek Kalurahan Ramah Anak, Jaga Masa Depan Margomulyo

Sleman – Pemerintah Kalurahan Margomulyo menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Kalurahan Ramah Anak, pada Selasa (30/12/2025) di Gedung Serba Guna Margomulyo. Kegiatan ini menjadi upaya konkret kalurahan dalam membangun lingkungan yang aman dan berpihak pada tumbuh kembang anak.

Acara secara resmi dibuka oleh Kamituwo Margomulyo, Prasetyo Sujanarko. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa perlindungan anak harus dimulai dari lingkungan terdekat.

“Kalurahan adalah rumah pertama bagi anak-anak kita. Jika anak merasa aman dan dihargai di lingkungan sendiri, maka masa depan Margomulyo akan lebih kuat,” ujarnya

Bimtek diikuti oleh para dukuh, ketua RW, Babinsa, Babinkamtibmas, dan unsur masyarakat lainnya. Tema yang diangkat ialah “Anak Hari Ini adalah Wajah Margomulyo Masa Depan”. Tema tersebut menekankan kualitas masa depan kalurahan sangat ditentukan oleh cara masyarakat memperlakukan anak saat ini.

Hadir sebagai narasumber Nyadi Kasmo Redjo, yang akrab disapa Ki Jenggot Kucir, selaku Ketua Forum Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) DIY, Ketua II Yayasan Lembaga Perlindungan Anak (YPLA) DIY, sekaligus wartawan dan sastrawan Jawa serta masih banyak lagi aktivitas dan pengalamannya di bidang sosial.

Dalam paparannya, Ki Jenggot Kucir menjelaskan bahwa kalurahan ramah anak adalah kalurahan yang mampu ngemong (mengasuh) anak.

“Kalurahan ramah anak bukan hanya soal program, tapi sikap. Anak harus didengar, dilindungi, dan dibimbing agar tumbuh aman, sehat, dan berkarakter,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa keterlibatan kalurahan merupakan bagian dari arah kebijakan dan tanggung jawab pemerintah kalurahan. Hal itu dikarenakan negara mewajibkan perlindungan terhadap anak, dan Sleman berkomitmen sebagai Kabupaten Layak Anak.

“Kalurahan adalah garda terdepan. Kalau di tingkat kalurahan sudah aman untuk anak, maka negara ini sedang menyiapkan masa depan yang kuat,” katanya.

Konsep Kalurahan Ramah Anak juga dinilai sejalan dengan nilai Sleman Sembada, seperti gotong-royong, unggah-ungguh, musyawarah, serta dolanan tradisional. Nilai-nilai tersebut penting untuk memperkuat pengawasan sosial, pendidikan karakter, serta menciptakan anak yang sehat, bahagia, dan merasa dihargai.

Namun demikian, Ki Jenggot Kucir menyoroti sejumlah tantangan nyata, mulai dari anak yang semakin dekat dengan gawai namun jauh dari lingkungan sosial, melemahnya pengawasan masyarakat, kekerasan terhadap anak yang sering tersembunyi, hingga minimnya pelibatan anak dalam proses sosial di kalurahan. Ia menekankan peran tokoh masyarakat sebagai kunci terwujudnya kalurahan ramah anak.

“Tokoh masyarakat harus menjadi teladan, penjaga nilai, pelindung anak yang rentan, sekaligus penguat kebijakan kalurahan yang berpihak pada anak,” ungkapnya.

Bimtek ditutup dengan diskusi dan tanya jawab yang berlangsung aktif. Para peserta menyampaikan pengalaman, tantangan, serta gagasan untuk membangun lingkungan Margomulyo yang lebih ramah anak.

Melalui kegiatan ini, Kalurahan Margomulyo meneguhkan komitmen bahwa anak yang aman akan melahirkan kalurahan yang kuat, menuju Margomulyo Sembada—berdaya, berbudaya, dan ramah bagi masa depan anak-anaknya. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)