Agus Wiranto Kembali Terpilih Pimpin DPD PPY Paguyuban Panatacara Yogyakarta Sleman Periode 2026-2030

Sleman — Musyawarah Daerah (Musda) ke-3 Dewan Pimpinan Daerah Paguyuban Panatacara Yogyakarta (DPD PPY) Kabupaten Sleman yang digelar di Aula Pertemuan Dinas PMK Sleman pada Selasa (23/12/2025) berlangsung demokratis dan kondusif. Melalui mekanisme pemungutan suara tertutup, Agus Wiranto kembali terpilih sebagai Ketua DPD PPY Sleman untuk periode tahun 2026-2030.

Pemungutan suara dilakukan karena terdapat dua kandidat yang maju sebagai calon ketua, yakni Agus Wiranto dan Yuwana Agus Dirgantara. Dari hasil penghitungan suara, Agus Wiranto meraih 32 suara, sementara Yuwana Agus Dirgantara memperoleh 26 suara. Total suara sah yang digunakan sebanyak 58 suara yang terdiri dari pengurus DPD sebelumnya ditambah ketua DPC PPY se-Kabupaten Sleman.

Proses pemilihan mendapat apresiasi dari peserta Musda karena berlangsung tertib dan menjunjung tinggi nilai demokrasi organisasi, sejalan dengan semangat PPY sebagai paguyuban yang berakar pada etika, tata krama, dan budaya Jawa.

Setelah ditetapkan sebagai ketua terpilih, Agus Wiranto menegaskan bahwa PPY merupakan wadah bersama bagi para panatacara di Sleman.

“PPY Sleman adalah rumah kita bersama. Perbedaan pilihan adalah bagian dari dinamika organisasi, tetapi setelah Musda ini kita harus kembali bersatu untuk menguatkan peran panatacara di tengah masyarakat,” ujar Agus Wiranto.

Ia juga menegaskan komitmen PPY Sleman untuk terus menjaga nilai-nilai budaya dan filosofi Jawa dengan mengusung semboyan “PPY HANJAYENG BAWANA”, sebagai refleksi peran panatacara dalam menciptakan harmoni dan ketenteraman sosial.

Musda ke-3 DPD PPY Sleman turut menghasilkan sejumlah keputusan penting. Salah satunya, ketua terpilih bersama tim formatur terdiri dari 5 orang diberikan waktu satu minggu untuk menyusun dan menetapkan struktur kepengurusan DPD PPY Sleman periode selanjutnya.

Selain itu, forum Musda menyepakati bahwa biaya registrasi peserta sebesar akan dikembalikan kepada anggota dalam bentuk program pembinaan organisasi, seperti pengadaan seragam PPY, peningkatan kapasitas panatacara, serta perlengkapan pendukung kegiatan.

Sambutan penutupan Musda disampaikan oleh salah satu pengurus DPP PPY DIY, Jack Haryanto. Ia menyampaikan apresiasi atas jalannya Musda yang dinilai demokratis dan mencerminkan kedewasaan berorganisasi.

“Kami mengapresiasi Musda ke-3 DPD PPY Sleman yang berjalan secara demokratis dan terbuka. Ini menunjukkan bahwa PPY semakin matang sebagai paguyuban budaya. Harapannya, ke depan PPY Sleman semakin jaya dan solid,” kata Jack.

Ia juga mengajak seluruh anggota untuk mendukung kepemimpinan ketua terpilih serta menyukseskan agenda besar organisasi di tingkat daerah maupun wilayah.

“Mari bersama-sama menyukseskan Musda PPY DIY dan menguatkan peran Paguyuban Panatacara Yogyakarta sebagai penjaga tradisi dan etika budaya Jawa,” ujarnya.

Dengan berakhirnya Musda, DPD Paguyuban Panatacara Yogyakarta Sleman diharapkan mampu memperkuat konsolidasi internal, meningkatkan kualitas panatacara, serta berkontribusi aktif dalam pelestarian adat, tradisi, dan tata upacara budaya di Kabupaten Sleman.

(SBD KIM SENYUM TEMPEL)




Pelatihan Kesehatan Jiwa bagi Penyandang Disabilitas, Banyuraden Menuju Kalurahan Inklusif

Sleman – Pemerintah Kalurahan Banyuraden terus memperkuat komitmen dalam mewujudkan kalurahan inklusif melalui pelatihan dan penyuluhan kesehatan jiwa bagi masyarakat penyandang disabilitas. Kegiatan ini diselenggarakan atas koordinasi Kamituwa bersama Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Banyuraden.

Pelatihan yang digelar di Waroeng Omah Sawah, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Selasa (23/12/2025) tersebut diikuti oleh penyandang disabilitas, keluarga pendamping, serta perwakilan unsur masyarakat. Kegiatan ini menjadi ruang edukasi sekaligus dialog terbuka mengenai pentingnya kesehatan jiwa sebagai bagian tak terpisahkan dari kesejahteraan sosial.

Kamituwa Banyuraden, Agus Nurdalmadi dalam sambutannya menegaskan bahwa penyandang disabilitas memiliki hak yang sama untuk memperoleh layanan kesehatan, termasuk kesehatan mental.

“Pemahaman yang tepat di tingkat keluarga dan lingkungan sangat menentukan kualitas hidup penyandang disabilitas,” ujarnya.

Narasumber utama, perwakilan Puskesmas Gamping II, Yuni Murniati menyampaikan materi tentang pengenalan gangguan kesehatan jiwa, cara deteksi dini, serta pola pendampingan yang tepat bagi penyandang disabilitas. Ia menekankan pentingnya pendekatan empatik dan berkelanjutan dalam penanganan kesehatan mental.

Menurut Yuni, stigma dan kurangnya informasi masih menjadi tantangan utama dalam upaya pemenuhan kesehatan jiwa penyandang disabilitas.

“Edukasi kepada masyarakat luas perlu terus dilakukan agar tercipta lingkungan yang ramah, aman, dan mendukung proses pemulihan,” ujarnya.

Sementara itu, Bhabinkamtibmas Banyuraden, Aipda Suyanto menyoroti peran keamanan dan ketertiban masyarakat dalam mendukung kesehatan jiwa. Ia menyampaikan bahwa lingkungan yang kondusif, bebas dari perundungan dan diskriminasi, sangat berpengaruh terhadap stabilitas psikologis penyandang disabilitas.

Dirinya mengajak masyarakat untuk lebih peduli dan berani melaporkan apabila terjadi kekerasan, penelantaran, atau perlakuan tidak manusiawi terhadap kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas.

“Sinergi antara masyarakat, pemerintah kalurahan, dan aparat keamanan menjadi kunci pencegahan masalah sosial,” tandas Aipda Suyanto.

Senada hal tersebut, Ketua Satgas PPA Banyuraden, Sayekti Rahayu pun menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan dalam memperkuat sistem perlindungan bagi perempuan, anak, dan penyandang disabilitas. Satgas berkomitmen untuk terus menghadirkan program edukatif yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Melalui forum ini, Pemerintah Kalurahan Banyuraden berupaya meningkatkan kualitas hidup, kemandirian, dan partisipasi penuh penyandang disabilitas. Jangka panjangnya, terbangun kesadaran kolektif tentang pentingnya kesehatan jiwa serta terwujudnya kalurahan yang inklusif, ramah disabilitas, dan berkeadilan sosial bagi seluruh warganya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




300 Marbot Terima Bantuan dari Fakultas Kedokteran UII Yogyakarta

Sleman – Sebanyak 300 marbot se-Kabupaten Sleman bagian timur, yaitu Kapanewon Cangkringan, Pakem, Ngemplak, dan Ngaglik menerima bantuan sosal dari Fakultas Kedokteran UII Yogyakarta, Selasa (23/12/2025).

Acara yang berlangsung di Lantai Dasar Rusunawa FK UII Yogyakarta ini, dihadiri Ketua PD DMI Kabupaten Sleman, Masuko Haryono didampingi Basuki Rahmat dan jajarannya, Panewu Ngaglik, Wawan Widiantoro, Dekan Fakultas Kedokteran UII Yogyakarta, Isnatin Miladiyah, dan Dr. Zaenuri beserta jajaran Civitas Akademika FK UII Yogyakarta.

Ketua Pengurus Daerah DMI Kabupaten Sleman, Masuko Haryono menyampaikan terima kasih kepada FK UII Yogyakarta yang telah peduli dan memperhatikan 300 marbot diempat kapanewon sekitar Kampus UII Yogyakarta, dalam rangka milad ke-24 tahun 2025.

“Harapanya bakti sosial seperti ini bisa dilaksanakan setiap tahun pintanya. Selanjutnya kami juga berharap para marbot diikutkan dalam program BPJS Ketenagakerjaan Sleman, sehingga para marbot terlindungi atas tugasnya sebagai marbot masjid. Semoga bakti sosial ini mendapatkan pahala dari Allah SWT dan FK UII bertambah maju dan berkembang pesat jumlah mahasiswanya,” papar Masuko.

Panewu Ngaglik, Wawan Widiantoro pun ikut menyampaikan kebanggaanya atas perhatian yang diberikan kepada warganya.

“Karena warga kami sebagai marbot telah diperhatikan keberadaannya, karena marbot mempunyai tugas yang berat tapi sangat mulya. Wawan mangatakan bahwa marbot selama ini dianggap pekerja yang biasa padahal pekerjaannya berat mulai dari kebersihan masjid sampai toilet bahkan serba bisa. Maka tidak salah kalau marbot harus dibantu dan mendapatkan penghargaan dengan cara dibantu kehidupannya,” kata Wawan

“Para marbot sudah banyak yang peduli seperti yang dilakukan oleh FK UII Yogyakarta sekarang ini. Saya ucapkan selamat milad ke-24 semoga FK UII Yogyakarta lebih maju dan meningkat jumlah mahasiswanya,” pungkasnya.

Selanjutnya penyerahan simbolis kepada empat perwakilan dari empat kapanewon yang hadir. Sebagai penutup, semua yang hadir menyerahkan undangan dan kupon tanda untuk pengambilan bingkisan untuk semua marbot yang hadir didampingi panitia. (SRP / KIM Ngaglik)




Roro Mendut Legenda Kecantikan dan Kesetiaan Kini Makamnya Kumuh Tak Terawat

Sleman – Rara Mendut merupakan wanita cantik yang hidup pada zaman Pemerintahan Sultan Agung, Raja Mataram Islam, pada tahun 1612- 1645. Sebenarnya Rara Mendut tinggal di pesisir Kadipaten Pati dan diambil Adipati Pragolapati ll penguasa kadipaten Pati untuk dijadikan selir.

Ketika Adipati Pragolapati menginginkan Rara Mendut saat itu Kadipaten Pati baru mengadakan persiapan perang melawan Sultan Agung, raja Kerajaan Mataram. Ketika terjadi perang Adipati Pragolapati gugur, Mataram membawa rampasan perang termasuk para selir dan para gadis, salah satunya Rara Mendut yang dibawa ke Mataram. Oleh Sultan Agung Rara Mendut diberikan kepada Tumenggung Wiraguna sebagai hadiah atas jasanya mengalahkan Kadipaten Pati.

” Inilah awal mula cerita kisah Rara Mendut sampai meninggal di makamkan di Dusun Gandu, Sendangtirrto, Berbah,” ungkap Lurah Sendangtirrto, Amir Junawan, Selasa (23/12/2025) di Kantor Kalurahan Sendangtirrto, Berbah.

Amin pun melanjutkan ceritanya. Ketika sampai di Mataram, Tumenggung Wiraguna bermaksud memperistri Rara Mendut. Namun Rara Mendut menolak karena cintanya pada sang kekasih, Pranacitra. Penolakan itu membuat Tumenggung Wiraguna marah dan menghukum dengan denda yang banyak.

Atas keteguhan cintanya, Rara Mendut menerima denda tersebut. Ia mengumpulkan uang dengan berjualan rokok klobot di Pasar Prawiramantren dengan modal yang diberikan Nyai Tumenggung Wiraguna. Dengan bahan tembakau Siluk, klobot dan bumbu rempah pilihan, Rara Mendut mampu meraup keuntungan yang banyak untuk memenuhi denda dari Tumenggung Wiraguna.

 Cara berjualan Rokok yang unik dengan menjual rokok yang sudah dihisap oleh bibir cantik Rara Mendut. Semakin lama dihisap rokok semakin pendek harga semakin mahal. Dalam berjualan rokok memang untuk menutup denda tapi pada intinya dia mengharap akan bertemu dengan Pranacitra, karena Mendut yakin Pranacitra akan mencarinya.

“Benar saja suatu hari Pranacitra datang menemui Roro Mendut dan berencana untuk melarikan diri dari Mataram,” jelas Amir.

Pada hari yang disepakati, mereka berdua melarikan diri meninggalkan Katemenggungan. Namun pelarian mereka diketahui oleh Tumenggung Wiraguna, mereka pun dikejar hingga ke hutan Ceporan.

Pranacitra tewas saat terjadi perkelahian. Melihat kekasihnya meninggal Rara Mendut bunuh diri dengan keris milik Tumenggungan Wiraguna.

“Sebagai rasa penyesalan dan penghormatan atas kesetiaan serta cinta abadi keduanya Tumenggung Wiraguna memerintahkan prajurit untuk mengubur jasadnya berdampingan. dengan dua liang lahat yang berbeda sebagaimana pada umumnya,” kata Amir.

Makam keduanya yang sekarang masuk wilayah Dukuh Gandu, dan dikenal sebagai makam Rara Mendut Pranacitra. Sebagai kenangan akan cinta abadi di atasnya dibuatkan nisan yang juga dibuatkan bangunan kecil untuk melindungi makam.

Sekitar tahun 70-an makam ramai dikunjungi untuk ziarah dan berdoa. Namun dari puluhan tahun yang lalu peziarah sepi, hingga menyisakan bangunan kecil yang kumuh tidak terawat karena juru kunci meninggal dan tidak ada penerusnya.

“Memang pernah ada sekelompok orang yang berupaya membangun makam tersebut sekitar tahun 2020 an. Namun pemimpin kelompok tersebut meninggal. Sehingga perbaikan makam tidak terlaksana,” ungkap Amir.

Sebagai lurah, dirinya berkeinginan untuk memperbaiki makam tersebut sebagai warisan budaya Kerajaan Mataram Kotagede. Ia mempunyai gambaran untuk mengelola makam dan memperbaiki narasi yang kurang baik dari keberadaan makam tersebut.

“Sebenarnya makam tersebut diakui oleh pihak kraton terbukti makam berada pada tanah Sultan Ground seluas 300 meter persegi dan sekelilingnya adalah Tanah Kas Desa (TKD) seluas seribuan meter persegi, yang di atasnya berdiri pepohonan besar yang rapat. Seperti hutan kecil yang melindungi keberadaan makam Mendut Pranacitra. Pelan-pelan akan kita tata lingkungan aset budaya yang nantinya akan mengajak masyarakat untuk menjaga makakam tersebut,” tutur Amir. (Kusnadi KIM Berbah)




Pemuda Berdaya Tanpa Narkoba, Mahasiswa Psikologi UMBY Bekali Karang Taruna Tegal Domban Margorejo

Sleman — Upaya membangun pemuda berdaya tanpa narkoba dilakukan melalui pendekatan edukatif dan pemberdayaan ekonomi. Salah satunya melalui kegiatan psikoedukasi dan pelatihan bagi Karang Taruna Tegal Domban yang digelar mahasiswa Program Pendidikan Profesi Psikologi (P3U) Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY), di Balai Desa Margorejo, pada Selasa (23/12/2025).

Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka pembekalan Karang Taruna Tegal Domban yang tengah memasuki masa pergantian pengurus. Program tersebut dirancang untuk memperkuat kapasitas generasi muda, baik dari sisi pemahaman bahaya narkoba maupun pengembangan kegiatan produktif berbasis sociopreneur.

Salah satu mahasiswa P3U UMBY, Thareq Rafi Al Fath menjelaskan bahwa kegiatan ini dibagi ke dalam dua sesi utama. Sesi pertama berfokus pada edukasi narkoba, sementara sesi kedua menitikberatkan pada penguatan kemandirian pemuda melalui kegiatan sociopreneur.

“Karang Taruna Tegal Domban saat ini sedang melakukan pergantian pengurus, sehingga kami memandang perlu adanya pembekalan awal. Di sesi pertama, kami memberikan edukasi tentang narkoba, mulai dari jenis, bahaya, hingga kerugian yang ditimbulkan, baik bagi individu maupun lingkungan sosial,” ujar Thareq.

Pada sesi kedua, peserta diajak untuk melihat potensi ekonomi kreatif berbasis masalah lingkungan dan perkembangan teknologi digital. Salah satu materi yang disampaikan adalah pemanfaatan sampah sebagai peluang usaha ramah lingkungan.

“Di sesi sociopreneur, kami mendorong pemuda untuk melihat persoalan pencemaran lingkungan sebagai peluang. Misalnya, mengolah sampah organik menjadi pupuk, membuka jasa pengantaran barang untuk penjualan online, hingga memanfaatkan media sosial dengan membuat konten yang produktif dan bernilai ekonomi,” jelasnya.

Pemerintah Kalurahan Margorejo menyambut positif kegiatan tersebut. Kamituwa Margorejo, Anwar Insani menilai kegiatan ini sejalan dengan upaya pembinaan generasi muda di tingkat kalurahan.

“Pendekatan yang menggabungkan edukasi narkoba dan pemberdayaan ekonomi seperti ini sangat relevan. Pemuda yang memiliki aktivitas positif dan produktif akan lebih kuat dalam menolak pengaruh narkoba,” kata Anwar Insani.

Ia menambahkan, sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah kalurahan menjadi langkah strategis dalam membangun ketahanan sosial berbasis komunitas.

“Kami berharap Karang Taruna Tegal Domban mampu menjadi motor penggerak kegiatan positif di lingkungannya, sekaligus menjadi contoh pemuda berdaya tanpa narkoba,” imbuhnya.

Melalui kegiatan ini, Universitas Mercu Buana Yogyakarta kembali menegaskan komitmennya dalam pengabdian kepada masyarakat dengan menghadirkan program edukasi yang aplikatif dan berkelanjutan. (SBD / Kim Senyum Tempel)