Perkuat Kesiapsiagaan Cuaca Ekstrem, BPBD Sleman Latih Satlinmas Trihanggo Teknik Evakuasi Pohon Tumbang

Sleman – Pemerintah Kapanewon Gamping bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman menggelar pelatihan khusus bagi Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas) Kalurahan Trihanggo untuk menghadapi potensi cuaca ekstrem. Kegiatan yang berfokus pada teknik penggunaan gergaji mesin atau chainsaw ini dilaksanakan di Boyong Resto, Pakem, Sleman, pada Minggu (21/12/2025) sebagai langkah strategis memperkuat kesiapsiagaan di tingkat paling dasar.

Kepala Jawatan Keamanan Kapanewon Gamping, Bambang Nurdianto, selaku pengampu kegiatan menjelaskan bahwa pelatihan ini bertujuan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di tingkat kalurahan agar memiliki kemampuan teknis yang mumpuni. Menurutnya, anggota Satlinmas tidak hanya dituntut memiliki keberanian, tetapi juga kecakapan dalam mengoperasikan alat berat untuk merespons kejadian pohon tumbang secara cepat, tepat, dan terkoordinasi.

“Satlinmas Trihanggo diposisikan sebagai garda terdepan dalam penanganan awal bencana sebelum bantuan lanjutan dari pemerintah daerah tiba di lokasi terdampak. Dengan adanya keterampilan menggunakan chainsaw, mereka bisa langsung membuka akses jalan yang tertutup tanpa harus menunggu lama, sehingga mobilitas warga tidak terganggu,” ujar Bambang Nurdianto saat memberikan arahan.

Dalam sesi teknis, narasumber dari Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Sleman, Taufik, memaparkan materi mengenai penanganan pohon tumbang yang sering terjadi saat hujan deras disertai angin kencang. Ia menekankan bahwa penguasaan alat menjadi syarat mutlak agar proses evakuasi dilakukan secara aman. Kesalahan dalam menentukan arah potong atau mengoperasikan mesin dapat berakibat fatal, baik bagi petugas maupun lingkungan sekitar.

Taufik yang sehari-hari bertugas di Posko Utama Pakem juga memberikan instruksi ketat mengenai standar keselamatan kerja dan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD). Ia mengajarkan tahapan sistematis mulai dari analisis beban pohon, penentuan titik potong, hingga teknik pemotongan bertahap untuk menghindari kayu yang terjepit atau melenting. Simulasi dilakukan secara interaktif agar para peserta benar-benar memahami dinamika lapangan yang sering kali berbahaya.

“Kejadian pohon tumbang berpotensi mengganggu akses jalan, merusak fasilitas umum, hingga membahayakan keselamatan warga apabila tidak ditangani secara tepat. Oleh karena itu, kita tidak hanya belajar memotong, tetapi juga belajar membaca situasi agar evakuasi berjalan efisien dan tidak menimbulkan kecelakaan kerja,” kata Taufik di sela-sela simulasi praktis.

Mewakili Pemerintah Kalurahan Trihanggo, Jagabaya Suyana WH menyambut baik inisiatif pelatihan ini sebagai bagian dari upaya membangun sistem penanggulangan bencana berbasis masyarakat. Ia menilai, memiliki relawan yang terlatih di tingkat desa akan mempercepat waktu respons darurat secara signifikan. Dengan pembekalan ini, Kalurahan Trihanggo diharapkan menjadi wilayah yang lebih tangguh dan siap siaga menghadapi segala potensi bencana di masa mendatang.

Salah satu peserta pelatihan, Ahmad, mengaku bahwa pembekalan ini sangat bermanfaat karena selama ini banyak anggota yang ragu menggunakan alat tersebut.

“Sebelumnya kami hanya melihat, sekarang kami tahu prosedur yang benar, mulai dari cara menyalakan mesin hingga teknik memotong dahan yang melintang di jalan. Kami menjadi lebih percaya diri untuk membantu warga jika sewaktu-waktu terjadi bencana angin kencang,” ungkapnya dengan optimis. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Perkuat Akses Desa Wisata Kaliklangsi, Pembangunan Jalan Cor Blok di Jamblangan Resmi Dimulai

Sleman – Infrastruktur pedesaan di wilayah Kalurahan Margomulyo, Seyegan, kini terus bersolek demi mendukung sektor pertanian dan pariwisata lokal. Pembangunan jalan cor blok di kawasan Babrik, Padukuhan Jamblangan, resmi dimulai pada Minggu (21/12/2025). Proyek strategis ini dirancang untuk meningkatkan kualitas akses menuju Desa Wisata Kaliklangsi sekaligus menaikkan status jalur tersebut menjadi jalan usaha tani yang lebih representatif.

Pekerjaan fisik jalan ini mencakup panjang 90 meter dengan lebar 2,5 meter dan ketebalan mencapai 12 sentimeter. Proyek yang direncanakan rampung dalam waktu enam hari ini mengusung konsep pemberdayaan dengan melibatkan tenaga kerja sepenuhnya dari masyarakat sekitar. Langkah ini diambil agar dampak ekonomi dari pembangunan infrastruktur tersebut dapat langsung dirasakan oleh warga lokal sejak masa pengerjaan dimulai.

Pembangunan jalan cor blok tersebut dibiayai melalui dana Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Pokok Pikiran Dewan dengan total anggaran sebesar Rp30 juta. Kegiatan ini difasilitasi oleh Sukamto selaku anggota DPRD Kabupaten Sleman sebagai bentuk dukungan nyata terhadap penguatan infrastruktur di tingkat pedesaan. Pada hari pertama pelaksanaan, para kader dan tokoh masyarakat di wilayah Margomulyo turut hadir menyaksikan dimulainya pengerjaan jalan tersebut.

Sukamto dalam keterangannya menekankan bahwa pembangunan jalan cor blok ini bukan sekadar perbaikan fisik, melainkan instrumen penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi warga. Ia menilai akses jalan yang layak akan mempermudah mobilitas hasil bumi dan meningkatkan kenyamanan para pelancong yang berkunjung ke Desa Wisata Kaliklangsi. Menurutnya, dampak jangka panjang dari proyek ini adalah terjadinya peningkatan pendapatan masyarakat secara berkelanjutan melalui sektor tani dan wisata.

“Akses jalan yang baik akan mempermudah mobilitas hasil pertanian dan mendukung aktivitas desa wisata. Dampaknya bukan hanya pada infrastruktur, tetapi juga pada peningkatan pendapatan masyarakat secara nyata. Kami ingin warga memiliki sarana yang memadai untuk memasarkan potensi desanya ke luar,” ujar Sukamto saat memberikan keterangan terkait dimulainya proyek tersebut.

Senada dengan itu, Suyanto sebagai salah satu warga Padukuhan Jamblangan mengungkapkan rasa syukurnya atas dimulainya pembangunan ini. Ia menyebut selama ini warga mendambakan jalur yang lebih kuat agar proses pengangkutan hasil panen tidak terkendala, terutama saat musim hujan. Dengan kondisi jalan yang lebih kokoh, warga optimistis biaya distribusi hasil pertanian dapat ditekan dan kerusakan hasil panen selama perjalanan bisa diminimalisir.

“Dengan jalan yang lebih bagus, kami lebih mudah membawa hasil tani dan tamu wisata juga lebih nyaman datang. Ini sangat membantu ekonomi warga karena kendaraan angkut kini bisa masuk lebih dekat ke lahan. Harapan kami, pembangunan seperti ini bisa terus berlanjut ke titik-titik lain yang membutuhkan,” kata Suyanto dengan penuh apresiasi.

Keberadaan jalan cor blok ini memang memiliki fungsi ganda yang sangat strategis. Sebagai jalan usaha tani, jalur ini memudahkan masuknya sarana produksi seperti pupuk dan alat mesin pertanian ke area persawahan. Sementara di sisi pariwisata, jalan ini memperkuat konektivitas kawasan yang pada akhirnya membuka peluang usaha baru bagi warga, mulai dari jasa transportasi lokal, kuliner, hingga usaha pendukung pariwisata lainnya. Pembangunan ini menjadi bukti nyata sinergi antara aspirasi masyarakat dan dukungan pemerintah dalam membangun desa yang lebih berdaya. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Peringati Hari Ibu ke-97, PKK Blendung Sleman Gelar Refleksi Peran Perempuan di Karangtalun dan Ziarah Religi

Sleman – Puluhan ibu yang tergabung dalam PKK Padukuhan Blendung, Sumbersari, Moyudan, Sleman, memilih cara lain untuk memperingati Hari Ibu ke-97 tahun 2025. Sebanyak 65 peserta yang terdiri dari pengurus dan anggota mengadakan pertemuan refleksi di Bendung Karangtalun, Ngluwar, Magelang, pada Minggu (21/12/2025). Kegiatan ini bertujuan untuk mempererat silaturahmi sekaligus menguatkan peran perempuan dalam pembangunan di tingkat padukuhan.

Ketua PKK Padukuhan Blendung, Sri Windari, mengungkapkan bahwa pemilihan lokasi di luar daerah ini dilakukan untuk memberikan suasana baru dan menyegarkan semangat para anggota. Menurutnya, momentum Hari Ibu harus dimaknai sebagai titik balik untuk meningkatkan rasa persatuan antaranggota dan merefleksikan kembali besarnya tanggung jawab seorang ibu dalam keluarga maupun masyarakat. Ia menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pengurus yang telah bahu-membahu menyukseskan acara ini.

Dukuh Blendung, Rizky Anas Ikhwanudin, yang turut mendampingi rombongan, memberikan apresiasi tinggi terhadap keaktifan para kader PKK dalam mendukung berbagai program pemerintah kalurahan. Rizky menekankan bahwa PKK adalah mitra strategis pemerintah dalam menyentuh lapisan masyarakat yang paling dasar. Ia berharap kelompok ini terus berkembang dan mampu merangkul lebih banyak perempuan di wilayahnya untuk terlibat aktif dalam kegiatan sosial.

“Saya mengajak ibu-ibu yang belum masuk PKK untuk segera bergabung. Melalui wadah ini, kita bisa menjalin silaturahmi sekaligus bersama-sama memajukan masyarakat lewat peran serta nyata sebagai ibu. Keaktifan PKK adalah motor penggerak bagi kemajuan pembangunan di Padukuhan Blendung,” ujar Rizky Anas Ikhwanudin dalam sambutannya di hadapan para jamaah.

Sesi refleksi kemudian dilanjutkan dengan pemaparan hikmah Hari Ibu oleh penasihat PKK, Djumanah. Ia mengupas tuntas sejarah lahirnya Hari Ibu pada 22 Desember 1928 sebagai tonggak perjuangan perempuan Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, Djumanah juga mengingatkan kembali tentang 10 Program Pokok PKK yang meliputi penghayatan Pancasila hingga perencanaan sehat. Ia menekankan bahwa pendidikan karakter anak di rumah merupakan tugas utama yang tidak boleh diabaikan demi melahirkan generasi mandiri.

“Mari kita tingkatkan peran kita sebagai ibu dalam mendidik anak-anak. Sejak kecil, anak-anak harus dilatih untuk mandiri, seperti mengatur tempat tidur hingga menjaga kebersihan sendiri. Hal-hal sederhana ini akan membentuk mereka menjadi pribadi yang bertanggung jawab di masa depan,” kata Djumanah menjelaskan pentingnya kemandirian anak.

Suasana haru menyelimuti acara saat Sri Windari memberikan kado kejutan kepada Djumanah sebagai bentuk penghormatan atas dedikasinya memajukan Padukuhan Blendung hingga ke tingkat nasional melalui Bina Keluarga Lansia Mugi Warasan. Menanggapi penghargaan tersebut, Djumanah dengan rendah hati menyebut bahwa prestasi yang diraih adalah buah dari kerja keras kolektif. Tidak ketinggalan, Dukuh Blendung juga memberikan kado kepada Sri Windari sebagai bentuk penghargaan atas kepemimpinannya yang dinilai sangat baik dalam menggerakkan organisasi.

Rangkaian peringatan Hari Ibu ini ditutup dengan keceriaan pembagian doorprize yang menambah hangat suasana kekeluargaan. Sebelum kembali ke Sleman, rombongan melanjutkan perjalanan dengan melakukan ziarah religi ke Makam Gunung Pring, Muntilan. Kegiatan ini diharapkan tidak hanya meninggalkan kesan secara fisik, tetapi juga memperkuat spiritualitas dan solidaritas para kader perempuan di Padukuhan Blendung. (Eny Ms/KIM Biwara Moyudan)




Perkuat Ekosistem Halal, HUT ke-78 Tegaltirto Buka Layanan Sertifikasi Halal Gratis bagi UMKM

Sleman – Pemerintah Kalurahan Tegaltirto melalui Forum Kalurahan (Forkal) UMKM menyediakan fasilitas pendampingan pengurusan sertifikat halal secara cuma-cuma dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-78 Kalurahan Tegaltirto. Kegiatan yang berlangsung di Lapangan Kadisono, Berbah, Sleman, pada Sabtu, 20 Desember 2025 tersebut menjadi magnet bagi para pelaku usaha kecil yang ingin meningkatkan nilai jual dan kepercayaan konsumen terhadap produk mereka.

Ketua Forkal Tegaltirto, Bawono, atau yang akrab disapa Pak Bhe, menjelaskan bahwa pihaknya mendapatkan kepercayaan penuh untuk mengelola bazar UMKM dalam peringatan tahun ini. Puluhan tenda kerucut telah disiapkan untuk menampung berbagai produk mulai dari kuliner, fesyen, kerajinan, hingga wahana permainan anak. Selain menjadi ajang jual beli, bazar ini dimanfaatkan sebagai pusat edukasi legalitas usaha melalui kehadiran pojok layanan konsultasi perizinan.

“Kami menyiapkan pojok layanan ini secara khusus untuk membantu para pelaku usaha atau masyarakat yang ingin berkonsultasi mengenai perizinan usaha. Di sini mereka bisa mengurus Nomor Induk Berusaha atau NIB hingga mendapatkan pendampingan langsung untuk pengurusan sertifikat halal. Harapannya, setelah acara ini selesai, produk-produk warga Tegaltirto sudah memiliki legalitas yang lengkap,” ujar Bawono saat meninjau lokasi bazar.

Pendamping Proses Produk Halal (PPH) asal Sompilan, Siti Hanifah, turut hadir memberikan edukasi langsung kepada para pedagang. Ia menjelaskan bahwa PPH merupakan tenaga profesional yang bertugas membantu Usaha Mikro Kecil (UMK) mendapatkan sertifikat halal melalui skema self declare. Proses pendampingan ini mencakup verifikasi bahan, peninjauan proses produksi, hingga pendaftaran secara digital melalui sistem SiHalal yang dikelola oleh Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).

Siti Hanifah menekankan bahwa sertifikat halal kini bukan lagi sekadar label, melainkan kebutuhan pokok bagi pelaku usaha untuk membangun kepercayaan konsumen, terutama di bidang kuliner. Menurutnya, kepemilikan sertifikat ini akan memperkuat ekosistem halal di Indonesia dan meningkatkan daya saing produk lokal di pasar yang lebih luas. Ia juga menambahkan bahwa produk non-makanan seperti aksesori fesyen yang bersentuhan langsung dengan kulit juga sebaiknya memiliki jaminan kehalalan.

“Pelaku usaha yang sudah memiliki sertifikat halal akan mendapatkan kepercayaan penuh dari konsumen, terutama untuk usaha kuliner. Namun, jenis usaha lain juga sebaiknya mulai mengurus sertifikat ini, seperti produk fesyen dan aksesori yang bersinggungan dengan anggota badan. Kami ingin memastikan produk UMK kita tidak hanya laku, tetapi juga memberikan rasa aman bagi pembelinya,” kata Siti Hanifah menjelaskan pentingnya sertifikasi tersebut.

Lebih lanjut, Siti Hanifah memaparkan bahwa untuk menjadi seorang pendamping halal, seseorang harus memenuhi kualifikasi ketat, termasuk memiliki Sertifikat Pelatihan Pendamping yang diakui oleh BPJPH. Saat ini, Kalurahan Tegaltirto telah memiliki lima orang tenaga pendamping yang siap melayani warga. Ia menegaskan bahwa layanan ini tidak terbatas hanya pada saat perayaan hari jadi saja, melainkan tersedia setiap saat bagi warga yang membutuhkan bantuan legalitas usaha.

“Di Kalurahan Tegaltirto kami memiliki lima orang pendamping yang selalu siap sedia. Tugas kami tidak hanya mendampingi pengurusan sertifikat halal hari ini saja, tetapi juga legalitas usaha lainnya seperti NIB secara berkelanjutan. Jadi, masyarakat jangan ragu untuk datang dan berkonsultasi kapan saja demi kemajuan usahanya,” pungkas Siti Hanifah menutup pembicaraan. (Kusnadi/KIM Berbah)




Peringati Hari Ibu, Kelompok Perempuan Padukuhan Seyegan Pentaskan Fragmen Ande-Ande Lumuten

Sleman – Suasana pertigaan RT 01 dan RT 03 Padukuhan Seyegan tampak meriah saat puluhan warga memadati lokasi untuk menyaksikan pertunjukan fragmen “Ande-Ande Lumuten”. Kegiatan yang digelar oleh Sanggar Seni dan Budaya Maton pada Sabtu, 20 Desember 2025 ini merupakan bentuk perayaan kreatif dalam rangka memperingati Hari Ibu tahun 2025. Uniknya, seluruh pemain fragmen hingga pengrawit musik gamelan yang mengiringi pertunjukan tersebut merupakan kaum perempuan di wilayah setempat.

Acara seni dan budaya ini turut mendapatkan perhatian serius dari pemerintah daerah dengan hadirnya perwakilan dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, Dinas P3AP2KB Kabupaten Sleman, jajaran Pemerintah Kapanewon Seyegan, hingga Lurah Margokaton. Kehadiran para pejabat ini menjadi bentuk dukungan terhadap inisiatif warga dalam melestarikan budaya tradisional Jawa melalui penguatan peran perempuan di tingkat akar rumput.

Dukuh Seyegan, Fajariyanto, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam kepada ibu-ibu di wilayahnya yang tetap produktif menjaga warisan leluhur di tengah kesibukan domestik. Menurutnya, seni tradisi seperti fragmen Ande-Ande Lumuten harus terus dihidupkan agar tidak tergerus zaman. Ia menilai keterlibatan ibu-ibu dalam pementasan ini merupakan wujud keteladanan nyata yang akan diwariskan secara langsung kepada generasi muda di Padukuhan Seyegan.

“Seni tradisi seperti fragmen Ande-Ande Lumuten harus terus kita hidupkan. Melalui keterlibatan ibu-ibu, budaya tidak hanya dipertahankan, tetapi juga diwariskan dengan penuh keteladanan kepada anak cucu kita. Saya sangat bangga melihat semangat para ibu yang berlatih keras di sela waktu mereka demi menyukseskan acara ini,” ujar Fajariyanto.

Senada dengan hal tersebut, Panewu Seyegan, Agung Endarta, menekankan bahwa keterlibatan perempuan dalam ranah seni dan budaya merupakan fondasi kuat untuk membangun karakter bangsa. Hal ini sejalan dengan tema besar Peringatan Hari Ibu tahun 2025 yakni “Perempuan Berdaya dan Berkarya Menuju Indonesia Emas 2045”. Agung menilai bahwa perempuan yang berdaya secara sosial dan budaya akan memberikan dampak positif pada pola asuh anak yang berujung pada terciptanya generasi yang berkarakter di masa depan.

“Perempuan yang berdaya dalam seni dan budaya adalah fondasi kuat untuk membangun karakter bangsa menuju Indonesia Emas 2045. Kami melihat di Seyegan ini, perempuan tidak hanya menjadi penonton, tetapi pelaku aktif yang mampu mengharmonisasikan nilai-nilai tradisional dengan semangat zaman,” kata Agung Endarta saat memberikan arahannya.

Pertunjukan fragmen yang disutradarai oleh Supardiyono ini berhasil mengocok perut sekaligus memberikan pesan moral yang mendalam kepada penonton. Cerita rakyat Ande-Ande Lumuten yang sarat dengan nilai kesetiaan dan kejujuran dibawakan dengan penuh penghayatan oleh para ibu-ibu Sanggar Maton. Salah satu pemain, Sumini, mengaku sangat puas bisa ikut terlibat dalam pentas ini karena selain sebagai hiburan, kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi yang efektif antarwarga.

“Kami berlatih secara rutin setiap malam setelah pekerjaan rumah tangga selesai. Rasanya sangat bangga bisa tampil di depan warga dan menunjukkan bahwa ibu-ibu juga bisa berkarya di bidang seni. Kami ingin anak-anak muda di sini tertarik untuk ikut belajar gamelan dan sandiwara jawa setelah melihat pementasan kami,” ungkap Sumini dengan penuh semangat.

Kegiatan ini menjadi bukti nyata komitmen masyarakat Padukuhan Seyegan dalam melestarikan budaya tradisional secara mandiri. Melalui pementasan ini, perempuan Seyegan tidak hanya memperingati hari besar nasional, tetapi juga memposisikan diri sebagai penjaga benteng budaya sekaligus penggerak edukasi bagi generasi muda agar tetap mengenal dan mencintai identitas lokal mereka. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)