Sinergi Dakwah dan Kemanusiaan, PRM Sidoharjo Turi Bahas Donasi Banjir hingga Persiapan Ramadan

Sleman – Pengurus Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Sidoharjo bersama Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Bangunkerto 1 menggelar rapat koordinasi strategis guna mematangkan agenda keumatan dan aksi sosial. Pertemuan yang berlangsung di Rumah Makan Mbak Mpok, Lungguhrejo, Donokerto, Kapanewon Turi, Sleman, pada Minggu, 21 Desember 2025 tersebut menjadi momentum penting dalam menyatukan langkah organisasi menjelang akhir tahun dan menyongsong awal tahun 1447 Hijriah.

Ketua PRM Sidoharjo, Gesang Subagyo, menegaskan bahwa rapat koordinasi ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan forum strategis untuk memastikan seluruh program sosial dan dakwah dapat menyentuh masyarakat secara langsung. Ia menilai kolaborasi antara Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di tingkat ranting merupakan mesin penggerak utama dalam menjaga ritme organisasi agar tetap responsif terhadap kebutuhan jamaah dan isu kemanusiaan.

“Rapat ini kami selenggarakan untuk menyatukan langkah antara PRM dan PRA Sidoharjo, khususnya dalam menyukseskan kegiatan pengajian rutin, aksi kemanusiaan, serta persiapan menyambut bulan suci Ramadan. Kami ingin setiap agenda yang direncanakan memiliki persiapan yang matang agar kemanfaatannya benar-benar dirasakan oleh jamaah dan warga secara luas,” ujar Gesang Subagyo saat memberikan keterangan resmi.

Fokus utama rapat diawali dengan pembahasan teknis penyelenggaraan pengajian rutin malam Jumat Pahing yang dijadwalkan pada 25 Desember 2025 mendatang dengan menghadirkan Darussalam sebagai penceramah utama. Selain urusan dakwah mimbar, organisasi ini juga menunjukkan komitmen sosialnya melalui penggalangan donasi untuk korban bencana banjir di Sumatera. PRM dan PRA Sidoharjo sepakat untuk menggerakkan seluruh potensi jamaah dan simpatisan guna menghimpun dana bantuan sebagai wujud nyata dari nilai filantropi Islam.

“Kami ingin memastikan bahwa kehadiran Muhammadiyah benar-benar dirasakan oleh masyarakat, terutama saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah di Sumatera. Penggalangan donasi ini merupakan wujud nyata dakwah bil hal atau dakwah melalui perbuatan nyata, yang menjadi identitas gerakan kami,” tegas Gesang Subagyo menambahkan.

Selain isu tanggap bencana, rapat juga mulai mematangkan perencanaan menyambut bulan suci Ramadan serta pelaksanaan Salat Idulfitri 1447 Hijriah. Penentuan lokasi salat, kesiapan imam dan khatib, hingga koordinasi keamanan menjadi poin krusial yang dibahas lebih awal agar pelaksanaan ibadah umat Islam di wilayah Sidoharjo dapat berjalan dengan tertib dan khidmat. Bersamaan dengan itu, dilakukan pula sosialisasi program SatuMu atau Satu Muhammadiyah yang bertujuan mengintegrasikan data administrasi organisasi secara digital agar lebih efektif dalam memberikan pelayanan kepada jamaah.

Pertemuan yang berlangsung selama dua jam ini ditutup dengan suasana hangat dan semangat kebersamaan yang kuat. Upaya konsolidasi ini sejalan dengan pedoman Persyarikatan Muhammadiyah dalam memperkuat dakwah komunitas dan gerakan kemanusiaan di tingkat akar rumput. Melalui hasil rapat ini, seluruh pengurus berkomitmen untuk segera menindaklanjuti rencana kerja secara konkret demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat di wilayah Turi. (Arief Hartanto/KIM Kertomandiri Turi)




Perkuat Tata Kelola dan Digitalisasi, BUMKal Oerip Soemohardjo Sleman Gandeng Kemenaker dalam Program MagangHub

Sleman – Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) Oerip Soemohardjo (BOS) yang berlokasi di Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, terus melakukan terobosan strategis untuk meningkatkan kualitas layanan dan profesionalisme lembaga. Langkah terbaru yang diambil adalah menjalin kolaborasi dengan Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia (Kemenaker RI) melalui program MagangHub. Kerja sama ini dirancang untuk memperkuat fondasi usaha desa melalui keterlibatan tenaga muda terampil dari kalangan akademisi.

Program magang yang dijadwalkan berlangsung selama enam bulan, mulai Desember 2025 hingga Juni 2026 ini, menjadi ruang bagi mahasiswa untuk merasakan pengalaman kerja nyata di sektor ekonomi desa. Di sisi lain, BUMKal Oerip Soemohardjo memanfaatkan momentum ini untuk melakukan percepatan pada dua lini vital, yakni komunikasi digital dan transparansi keuangan. Dalam pelaksanaannya, BUMKal membuka dua posisi spesifik yang diisi oleh mahasiswa dari berbagai universitas ternama.

Pada posisi pembuat konten atau content creator, terdapat Devi Putri Trisnanida dan Mifta Dayung Anggraeni yang merupakan mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta. Keduanya memiliki tanggung jawab besar dalam memoles citra BUMKal di ruang siber melalui produksi foto, video, hingga pengelolaan situs web resmi. Kehadiran mereka diharapkan mampu mengubah cara penyampaian informasi program dan unit usaha desa agar lebih menarik bagi generasi milenial serta memperluas jangkauan promosi potensi lokal Sardonoharjo ke tingkat nasional.

Selain fokus pada pemasaran, aspek akuntabilitas juga menjadi prioritas dengan dibukanya posisi akuntansi yang diisi oleh Wendysstilla dari Universitas Islam Indonesia dan Muthia Rera dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi SBI. Para peserta magang di bidang ini berperan aktif dalam melakukan pencatatan transaksi secara sistematis, membantu penyusunan laporan keuangan, serta memantau arus kas unit usaha. Keterlibatan mereka menjadi sangat penting untuk memastikan tata kelola administrasi keuangan BUMKal berjalan lebih akuntabel dan transparan.

Direktur BUMKal Oerip Soemohardjo, Cahyo Binarto, menegaskan bahwa partisipasi dalam Program MagangHub merupakan bentuk komitmen lembaga untuk terus berinovasi dan membuka diri terhadap kolaborasi lintas sektoral. Menurutnya, sinergi antara semangat akademis mahasiswa dan pengalaman praktis pengelola usaha desa akan menciptakan ekosistem kerja yang lebih dinamis dan profesional. Ia meyakini bahwa sentuhan anak muda akan membawa perspektif baru yang lebih segar bagi kemajuan badan usaha milik desa tersebut.

“Program ini memberikan manfaat timbal balik yang sangat besar. Bagi mahasiswa, ini adalah laboratorium nyata untuk mengasah keahlian mereka. Sementara bagi BUMKal, kehadiran mereka sangat berdampak positif dalam meningkatkan kinerja dan profesionalisme pengelolaan usaha desa menuju standar yang lebih tinggi,” ujar Cahyo Binarto saat menjelaskan urgensi program tersebut.

Keberhasilan BUMKal Oerip Soemohardjo dalam mengakses program kementerian ini diharapkan menjadi inspirasi bagi badan usaha desa lainnya di Kabupaten Sleman. Cahyo Binarto menambahkan bahwa ke depan pihaknya akan terus mencari peluang kerja sama serupa untuk meningkatkan daya saing usaha desa. Langkah ini sejalan dengan visi besar pemerintah dalam menyiapkan tenaga kerja yang siap pakai sekaligus memperkuat ekonomi kerakyatan melalui inovasi digital dan ketertiban administrasi yang berkelanjutan. (Andy Ahmad/KIM DSN Ngaglik)




Perkuat Ketahanan Nasional dari Lingkup Terkecil, Pemberdayaan Perempuan Jadi Kunci Keluarga Sejahtera

Sleman – Pemberdayaan perempuan kini menjadi fondasi krusial dalam membangun keluarga yang harmonis, kuat, dan sejahtera. Tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas hidup individu, penguatan kapasitas perempuan terbukti berpengaruh langsung terhadap ketahanan keluarga secara sosial, ekonomi, hingga psikologis. Hal ini menjadi bahasan utama dalam pertemuan kader PKK yang diselenggarakan oleh Pokja 1 Tim Penggerak PKK Kelurahan Donoharjo di Aula Kelurahan Donoharjo, Sleman, pada Sabtu, 20 Desember 2025.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kabupaten Sleman, Novita Krisaeni, menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan bukan sekadar soal meningkatkan kemampuan individu, melainkan investasi besar bagi kualitas generasi mendatang. Menurutnya, ketika perempuan diberikan akses terhadap pengetahuan, ruang untuk berpendapat, serta dukungan emosional dan ekonomi, maka stabilitas keluarga akan terjaga secara otomatis.

“Pemberdayaan perempuan memiliki dampak sistemik pada kualitas keluarga. Perempuan yang berdaya mampu menjadi mitra sejajar bagi pasangannya dalam pengambilan keputusan strategis, mulai dari perencanaan keuangan, penentuan jenjang pendidikan anak, hingga menjaga kesehatan anggota keluarga secara kolektif,” ujar Novita Krisaeni saat memaparkan materi bertajuk pemberdayaan perempuan dalam mewujudkan keluarga harmonis.

Selain peran domestik, Novita menyoroti posisi strategis perempuan sebagai pendidik utama atau madrasatul ula bagi anak-anak. Nilai-nilai dasar seperti empati, kejujuran, disiplin, hingga pemahaman moral dan agama pertama kali ditanamkan melalui teladan seorang ibu dalam keseharian. Di sisi ekonomi, perempuan masa kini juga telah bertransformasi menjadi penggerak kesejahteraan keluarga melalui kontribusi di sektor formal maupun pengembangan UMKM yang mampu menopang pendapatan rumah tangga.

Dari aspek psikologis, perempuan sering kali berperan sebagai pengatur emosi dalam rumah tangga. Cara perempuan berkomunikasi dan mengelola konflik sangat menentukan sehat atau tidaknya suasana di dalam rumah. Novita menekankan pentingnya strategi komunikasi terbuka di mana setiap persoalan didiskusikan tanpa harus memendam konflik. Ia juga mengajak para keluarga untuk mulai meninggalkan stereotip lama dan beralih ke pembagian peran yang adil antara suami dan istri berdasarkan kesepakatan bersama.

“Masalah keluarga harus didiskusikan dengan bahasa yang baik dan empati. Kita juga perlu berbagi peran secara adil dalam urusan domestik, disesuaikan dengan kemampuan masing-masing pasangan. Kerja sama tim di dalam rumah tangga adalah kunci keharmonisan yang nyata,” tegas Novita.

Dalam hal manajemen ekonomi, Novita mengingatkan agar setiap keluarga memiliki perencanaan anggaran yang bijak dengan memprioritaskan kebutuhan utama dan menghindari utang konsumtif. Kestabilan ekonomi yang dibarengi dengan kesehatan jasmani serta rohani akan menciptakan ketahanan yang paripurna. Ia juga mendorong para kader PKK untuk terus aktif dalam program pemberdayaan masyarakat guna memperluas jejaring sosial dan meningkatkan kapasitas diri.

Indikator keluarga harmonis menurut Novita dicirikan dengan terpenuhinya kebutuhan dasar fisik dan spiritual, adanya rasa saling menghargai tanpa diskriminasi, serta nihilnya tindakan kekerasan dalam rumah tangga. Dengan ekonomi yang stabil dan peran suami-istri yang setara, anak-anak diharapkan dapat tumbuh menjadi pribadi yang sehat, cerdas, dan berakhlak mulia. Visi inilah yang diharapkan dapat diwujudkan oleh setiap kader PKK di Donoharjo sebagai motor penggerak di lingkungan masing-masing. (Upik Wahyuni/KIM Donoharjo)




Refleksi Akhir Tahun, KIM Senyum Tempel Perkuat Strategi Informasi dan Tangkal Hoaks

Sleman – Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Senyum Tempel menyelenggarakan agenda konsolidasi sekaligus refleksi akhir tahun guna memperkuat peran strategisnya sebagai jembatan informasi bagi warga. Kegiatan yang berlangsung di Joglo Ndalem Singodikaran, Kadisono, Margorejo, Tempel, pada Minggu, 21 Desember 2025 ini menjadi ruang evaluasi menyeluruh terhadap kinerja media KIM sepanjang tahun berjalan sekaligus mematangkan rencana kerja untuk tahun 2026.

Pertemuan penting tersebut dihadiri oleh jajaran pimpinan daerah, di antaranya Panewu Tempel Dakiri, Panewu Anom Eni Yuliani, serta perwakilan dari Polsek dan Koramil Tempel. Kehadiran para pemangku kepentingan ini menegaskan dukungan penuh pemerintah terhadap eksistensi KIM sebagai mitra diseminasi informasi di tingkat kapanewon atau kecamatan.

Ketua KIM Senyum Tempel, Muryana, dalam laporannya menyampaikan rasa bangga atas pencapaian kolektif timnya selama setahun terakhir. Salah satu prestasi yang paling menonjol adalah keberhasilan KIM Senyum Tempel meraih juara kedua dalam lomba video pendek Pertunjukan Rakyat (PETUNRA) 2025 tingkat Kabupaten Sleman. Prestasi ini dinilai sebagai bukti bahwa komunitas informasi di tingkat lokal mampu bersaing secara kreatif dalam mengemas pesan-pesan edukatif.

“Prestasi yang kita raih ini patut disyukuri bersama karena merupakan hasil kerja keras kolektif seluruh anggota. Namun, evaluasi tidak boleh berhenti di sini. Koordinasi internal harus terus diperkuat agar program-program media yang kita kelola ke depan semakin memberikan dampak nyata dan menyentuh kebutuhan informasi masyarakat di bawah,” ujar Muryana penuh semangat.

Panewu Tempel, Dakiri, memberikan apresiasi tinggi terhadap dedikasi para relawan informasi ini. Ia mendorong agar prestasi yang sudah diraih tidak membuat anggota KIM cepat puas. Dakiri menekankan bahwa selain kreativitas dalam konten, tertib administrasi dan rutinnya pertemuan koordinasi menjadi fondasi utama agar organisasi tetap sehat dan solid. Menurutnya, komunikasi yang terjalin baik dengan seluruh elemen masyarakat adalah kunci utama kemajuan sebuah lembaga informasi.

“Tahun ini kita sudah meraih juara dua, tentu harapannya tahun depan bisa menjadi juara satu. Namun lebih dari itu, saya mengingatkan agar seluruh aktivitas penyebaran informasi ini diniatkan sebagai amal kebaikan. Teruslah menjalin kolaborasi dengan semua pihak agar informasi yang disampaikan benar-benar membawa manfaat luas bagi warga di wilayah Tempel,” kata Dakiri saat memberikan arahan kepada pengurus.

Senada dengan hal tersebut, Panewu Anom Tempel, Eni Yuliani, menyoroti tantangan berat di era digital, terutama terkait derasnya arus informasi yang tidak jarang disisipi oleh kabar bohong. Ia menilai peran KIM sangat krusial dalam menjadi penyaring informasi di tingkat akar rumput sekaligus menjadi garda terdepan dalam menangkal penyebaran hoaks yang dapat memicu keresahan sosial.

“Peran KIM sangat penting dalam mengantisipasi penyebaran hoaks di tengah masyarakat. Meski tahun depan ada tantangan berupa keterbatasan anggaran akibat kebijakan pusat, semangat pengabdian harus tetap membara. Sesuai namanya, KIM Senyum Tempel harus tetap tersenyum dan optimis dalam melayani kebutuhan informasi warga meskipun dalam kondisi yang serba terbatas,” tutur Eni Yuliani memberikan motivasi.

Refleksi akhir tahun ini akhirnya menjadi momentum penting bagi seluruh pengurus untuk kembali meneguhkan komitmen mereka sebagai agen informasi yang akurat, edukatif, dan bertanggung jawab. Dengan semangat kemitraan yang kuat, KIM Senyum Tempel optimis dapat terus menjadi pelita informasi yang tepercaya bagi seluruh lapisan masyarakat di Kabupaten Sleman. (SBD/KIM Senyum Tempel)




Studi Banding Lintas Daerah, Relawan Lumbungrejo Sleman Timba Ilmu Mitigasi di FPRB Kemadang Gunungkidul

Sleman – Penguatan kapasitas relawan kebencanaan berbasis masyarakat di Kalurahan Lumbungrejo tidak hanya berhenti pada penguasaan teori di ruang pertemuan. Sebagai tindak lanjut dari pelatihan intensif yang digelar sebelumnya, para relawan kebencanaan Kalurahan Lumbungrejo melakukan kunjungan kerja strategis ke Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kalurahan Kemadang, Kapanewon Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, pada Minggu, 21 Desember 2025.

Rombongan yang dipimpin langsung oleh Lurah Lumbungrejo, Misbah Al Hakim, diterima dengan hangat oleh Lurah Kemadang, Sutono, beserta jajaran pengurus FPRB dan relawan setempat. Kunjungan ini bertujuan untuk memperluas wawasan praktis serta memperkuat jejaring antarkomunitas relawan lintas daerah. Pembelajaran lapangan ini dinilai krusial bagi relawan Lumbungrejo untuk melihat langsung bagaimana manajemen risiko bencana diterapkan di wilayah yang memiliki karakteristik geografis berbeda.

Misbah Al Hakim menjelaskan bahwa pemilihan FPRB Kemadang sebagai lokasi rujukan didasari oleh pengalaman panjang lembaga tersebut dalam mengelola kesiapsiagaan warga secara mandiri. Meskipun ancaman bencana di pesisir selatan Gunungkidul berbeda dengan wilayah Sleman, prinsip-prinsip penguatan kapasitas masyarakat dinilai tetap relevan untuk diadaptasi. Ia memandang bahwa setelah mendapatkan materi dari BPBD Sleman, para relawan memerlukan potret nyata keberhasilan sebuah organisasi desa dalam menangani isu kebencanaan.

“Setelah peningkatan kapasitas di aula kalurahan, kami ingin melihat langsung praktik pengurangan risiko bencana yang sudah berjalan secara efektif. FPRB Kemadang memiliki rekam jejak yang sangat baik, terutama dalam hal partisipasi aktif masyarakat. Kami ingin membawa pulang pembelajaran praktis ini untuk memperkuat kesiapsiagaan di wilayah Lumbungrejo agar masyarakat tidak gagap saat situasi darurat terjadi,” ujar Misbah Al Hakim di sela-sela pertemuan.

Dalam sesi diskusi, pengurus FPRB Kemadang memaparkan struktur kelembagaan mereka yang sudah mapan, mulai dari pemetaan wilayah rawan secara partisipatif hingga penyusunan jalur evakuasi yang detail. Mengingat Kemadang berada di kawasan pesisir dengan potensi ancaman gelombang tinggi dan tsunami, mereka secara rutin menggelar simulasi dan latihan evakuasi mandiri. Penggunaan alat komunikasi berbasis masyarakat dan keterlibatan tokoh lokal menjadi kunci utama kesuksesan mitigasi di sana.

Lurah Kemadang, Sutono, menekankan bahwa bencana tidak mengenal batas administrasi, sehingga kolaborasi antarwilayah merupakan kebutuhan mutlak di masa sekarang. Ia menilai keberadaan FPRB di tingkat kalurahan sebagai jembatan penting yang menghubungkan kebijakan pemerintah dengan aksi nyata di masyarakat. Sutono juga mengingatkan bahwa relawan tidak hanya bertugas saat masa tanggap darurat, tetapi juga berperan sebagai agen edukasi harian yang bertugas mengubah pola pikir masyarakat menjadi lebih sadar risiko.

“Bencana bisa datang kapan saja, dan sinergi antarwilayah sangat penting agar pengalaman satu daerah bisa menjadi pelajaran berharga bagi daerah lain. Relawan adalah ujung tombak yang pertama kali bergerak, maka kematangan organisasi dan kesiapan mental mereka harus selalu dijaga melalui kegiatan seperti ini,” tutur Sutono memberikan motivasi kepada para tamu.

Melalui rangkaian kegiatan peningkatan kapasitas yang disambung dengan kunjungan kerja ini, para relawan Lumbungrejo diharapkan mampu mengimplementasikan sistem mitigasi yang lebih terstruktur di wilayah mereka. Sinergi lintas daerah ini menjadi fondasi penting dalam membangun ketangguhan masyarakat Sleman agar lebih sigap dan mandiri dalam menghadapi potensi ancaman bencana di masa depan. (SBD/KIM Senyum Tempel)