Pesantren Baitul Qowwam Sleman Lepas 52 Santri Libur Semester, Tekankan Pentingnya Menjaga Akhlak di Rumah

Sleman – Pondok Pesantren Baitul Qowwam yang berlokasi di Plumbon, Mororejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, menyelenggarakan agenda pembekalan perpulangan bagi puluhan santri dan santriwati pada Sabtu, 20 Desember 2025. Kegiatan yang berlangsung di Aula Utama ini diikuti oleh 52 santri beserta pengurus dan orang tua wali murid sebagai tanda berakhirnya kegiatan belajar mengajar pada semester pertama tahun ajaran berjalan.

Acara pembekalan tersebut dibuka oleh Muhtarom dan dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan pimpinan pondok, Wahono. Dalam pesannya, ia menggarisbawahi bahwa perpulangan santri ke rumah masing-masing merupakan ujian sesungguhnya bagi sinergi antara pengurus pesantren, orang tua, dan santri itu sendiri. Ia berharap nilai-nilai kebaikan yang telah ditanamkan selama proses pembinaan di pesantren tidak luntur saat para santri berada di lingkungan luar. Pendidikan karakter menurutnya tidak boleh terhenti meskipun raga para santri sedang berada di luar pagar pesantren.

Aris Eko selaku pengurus pondok kemudian memberikan laporan komprehensif terkait perkembangan santri selama satu semester terakhir. Selain melakukan evaluasi program pembinaan, ia juga menjelaskan rincian masa liburan santri yang merujuk pada kalender pendidikan resmi dari Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman. Masa liburan santri dijadwalkan berlangsung cukup singkat, yakni mulai tanggal 20 Desember 2025 hingga 3 Januari 2026, dengan harapan para santri tetap memiliki ritme belajar yang terjaga.

Momen yang paling dinantikan adalah pembagian rapor pondok dan pengumuman santri terbaik sebagai bentuk apresiasi atas kedisiplinan serta prestasi akademik. Untuk kategori putra, Moh Mukhlis berhasil menduduki peringkat pertama, disusul oleh Faisal Shodikin dan Tsabit Qolbii Aladdien. Sementara itu, pada kategori putri, predikat santri terbaik diraih oleh Wulandari, diikuti oleh Ihda Alhusnayaini dan Anisa Wafa Hanifah pada posisi kedua dan ketiga.

Pimpinan Pondok Pesantren Baitul Qowwam, Agus Triyanta, memberikan wejangan khusus kepada para santri sebelum mereka melangkah pulang bersama orang tua. Ia menggunakan perumpamaan filosofis bahwa seorang santri jangan sampai menguraikan kembali tenunan benang yang telah menjadi kain saat masa libur tiba. Perumpamaan ini bermakna agar para santri tidak merusak kebiasaan ibadah dan amalan baik yang sudah susah payah dibangun selama berada di pondok hanya karena perubahan suasana lingkungan di rumah.

“Liburan ini adalah waktu untuk membuktikan kualitas diri kalian di hadapan keluarga. Saya berpesan agar kalian tetap menjaga salat lima waktu, teruskan hafalan Al-Qur’an, dan ringankan beban orang tua di rumah dengan membantu pekerjaan mereka. Jangan sampai kedisiplinan yang sudah terbentuk selama berbulan-bulan di sini hilang begitu saja hanya dalam waktu dua minggu liburan,” ujar Agus Triyanta saat memberikan motivasi kepada para santri.

Salah satu wali santri, Rahmad, menyambut baik arahan tersebut dan mengaku siap mendampingi putranya selama masa liburan agar tetap konsisten beribadah. Setelah rangkaian acara selesai, suasana haru sekaligus bahagia mewarnai momen kepulangan para santri yang dijemput langsung oleh keluarga. Pengurus berharap para santri dapat memanfaatkan waktu libur secara positif dan kembali ke pesantren dengan semangat yang lebih segar untuk melanjutkan pembinaan pada semester mendatang. (Arief Hartanto/KIM Kertomandiri)




Tumbuhkan Jiwa Gotong Royong, Sanggar Kinanti Minggir Gelar Jogja Mendongeng Seri Gugur Gunung

Sleman – Sanggar Kinanti yang berlokasi di Jetis, Sumbersari, Kapanewon Minggir, berkolaborasi dengan Komunitas Jogja Mendongeng menyelenggarakan festival cerita bertajuk Jogja Mendongeng: Gugur Gunung pada Sabtu, 20 Desember 2025. Perhelatan yang memasuki tahun ketiga ini menghadirkan deretan pendongeng berbakat seperti Sanggar Wiwitan, Kak Lita, Wayang Kebon, Kak Zahra, Kak Rangga, hingga Diaz Radityo untuk menghibur sekaligus mengedukasi ratusan anak-anak beserta orang tua mereka.

Rangkaian acara yang berlangsung sejak pagi hari ini diawali dengan sesi kreatif, di mana anak-anak diajak menggambar aneka hewan endemik Indonesia. Hasil karya tersebut kemudian diolah menjadi gantungan kunci untuk tas atau dompet sebagai bentuk kenang-kenangan personal. Suasana semakin semarak saat para pendongeng mulai naik ke atas panggung dengan gaya bercerita yang interaktif dan jenaka, sehingga menciptakan komunikasi dua arah yang hangat antara penampil dan audiens.

Penggagas Jogja Mendongeng, Diaz Radityo, menjelaskan bahwa pemilihan lokasi di Minggir merupakan langkah strategis untuk memperluas jangkauan edukasi literasi tutur di luar pusat kota Yogyakarta. Jika pada dua tahun sebelumnya acara ini didukung oleh Dinas Kebudayaan DIY di lokasi formal, kali ini kegiatan diselenggarakan secara mandiri agar bisa menyentuh masyarakat pedesaan secara lebih dekat. Tema Gugur Gunung sengaja diangkat sebagai respon terhadap situasi sosial saat ini, di mana nilai kebersamaan sangat dibutuhkan untuk menghadapi berbagai tantangan zaman.

“Kami mengangkat tema Gugur Gunung untuk menumbuhkan kembali budaya kebersamaan, gotong royong, dan sikap saling membantu sejak dini. Nilai-nilai ini sangat relevan untuk merespons kondisi beberapa wilayah di Indonesia yang sedang mengalami musibah, sehingga anak-anak belajar bahwa beban berat akan terasa ringan jika dipikul bersama,” ujar Diaz Radityo di sela-sela kegiatan.

Panggung dongeng dibuka oleh penampilan Sanggar Wiwitan yang membawakan kisah tiga ular dan pemburu, sebuah cerita sarat nilai persaudaraan lokal. Penampilan berikutnya oleh Kak Puan dari Jieun, Kak Lita, dan Wayang Kebon yang secara apik membedah kekayaan alam Indonesia melalui genre cerita yang berbeda-beda. Salah satu daya tarik utama acara ini adalah kehadiran Atika Zahra Ratifa, pendongeng cilik berprestasi juara nasional FLS3N 2025, yang membawakan kisah unik tentang dinamika kehidupan kampung.

Sebagai penutup, Kak Rangga dan Kak Diaz membawa imajinasi anak-anak bertualang ke hutan rimba untuk mengenal keanekaragaman fauna di tanah air. Salah satu orang tua peserta, Sari, mengaku sangat terkesan dengan kegiatan ini karena mampu menjauhkan anak-anak sejenak dari ketergantungan pada gawai. Menurutnya, anak-anak terlihat sangat antusias dan berani berinteraksi langsung dengan para pendongeng yang tampil dengan sangat atraktif.

“Acara seperti ini sangat langka namun sangat dibutuhkan. Anak-anak saya terlihat begitu bahagia dan pesan moral tentang membantu teman tadi benar-benar masuk ke ingatan mereka. Saya berharap kegiatan mendongeng seperti ini bisa lebih sering dilakukan di wilayah-wilayah pinggiran seperti Minggir agar akses edukasi anak semakin merata,” kata Sari dengan penuh semangat.

Meskipun dikemas dengan konsep yang sederhana dan mandiri, Jogja Mendongeng tahun ini sukses membawa keceriaan dan interaksi aktif hingga akhir acara. Keberhasilan ini membuktikan bahwa media dongeng masih menjadi instrumen paling efektif untuk menanamkan pendidikan karakter dan rasa cinta tanah air kepada generasi muda di tengah arus modernisasi. (Sulistiyono/KIM Seyegan)




Gerakan Suling Naga Ngaglik Resmi Dimulai, Ratusan Jamaah Muda Padati Masjid Nur Jihad

Sleman – Kapanewon Ngaglik resmi meluncurkan gerakan spiritual bertajuk “Suling Naga” atau Subuh Keliling Ngaglik Menjaga Aqidah seri perdana pada Minggu, 21 Desember 2025. Kegiatan yang dipusatkan di Masjid Nur Jihad Ledok Wareng, Padukuhan Dayakan, Kalurahan Sardonoharjo ini mendapatkan sambutan luar biasa dari masyarakat. Sejak sebelum azan subuh berkumandang, para jamaah sudah tampak memadati ruang utama masjid hingga meluber ke teras, dengan kehadiran generasi muda yang sangat mendominasi.

Panewu Ngaglik, Wawan Widiantoro, dalam keterangannya menyampaikan rasa syukur mendalam atas sinergi yang tercipta antara tokoh agama, organisasi kemasyarakatan Islam, Forkopimka, serta para lurah se-Kapanewon Ngaglik. Ia menilai bahwa kehadiran anak-anak muda dalam gerakan subuh berjamaah ini menjadi indikator positif bagi keberlanjutan pembinaan aqidah di wilayah tersebut. Baginya, antusiasme yang ditunjukkan jamaah adalah modal sosial yang sangat besar untuk memperkuat kerukunan warga.

“Saya sangat bersyukur dan berterima kasih atas dukungan semua pihak. Antusiasme jamaah benar-benar di luar dugaan, dan yang paling membanggakan adalah banyaknya anak-anak muda yang hadir secara sukarela. Ini menjadi energi positif sekaligus bahan bakar utama bagi gerakan Suling Naga agar terus konsisten di masa depan,” ujar Wawan Widiantoro di sela-sela kegiatan.

Gerakan Suling Naga ini diharapkan tidak hanya berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan berkembang menjadi budaya bersama umat Islam di seluruh Ngaglik. Wawan mengajak setiap keluarga untuk memulai pembiasaan memakmurkan masjid dari lingkungan terkecil, terutama sebagai persiapan spiritual menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Ia mendorong para takmir masjid untuk lebih proaktif dalam mensosialisasikan gerakan ini agar masjid kembali menjadi pusat peradaban dan pembinaan umat.

Ketua takmir Masjid Nur Jihad, Ahmad, turut memberikan apresiasi atas dipilihnya masjid tersebut sebagai lokasi peluncuran perdana. Ia menyebut bahwa gerakan seperti ini sangat dinantikan oleh masyarakat sebagai sarana silaturahmi antara pejabat pemerintah dengan warga biasa dalam suasana ibadah yang sejuk. “Kami merasa terhormat dan sangat mendukung. Semoga dengan gerakan Subuh Keliling ini, masjid-masjid di Ngaglik tidak pernah sepi dan ukhuwah antar warga semakin erat,” ungkap Ahmad saat memberikan sambutan selamat datang.

Wawan Widiantoro menegaskan bahwa program ini merupakan wujud nyata komitmen para pemimpin di Ngaglik dalam menyeimbangkan pembangunan fisik dan materi dengan pembangunan spiritual. Menurutnya, kesejahteraan masyarakat tidak akan tercapai secara utuh tanpa landasan aqidah yang kuat. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada perbaikan jalan atau infrastruktur, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral terhadap kondisi batiniah masyarakatnya.

“Ini adalah bukti komitmen kita bersama untuk membangun masyarakat tidak hanya secara lahiriah, tetapi juga batiniah. Melalui visi berjamaah dan bergerak menjaga aqidah, kita ingin mewujudkan masyarakat Ngaglik yang sejahtera lahir dan batin secara berkelanjutan. Suling Naga akan terus bergerak dari satu masjid ke masjid lainnya untuk menyebarkan semangat kebangkitan spiritual ini,” tegas Wawan menutup penjelasannya. (ESK/KIM DSN)




Perkuat Ketahanan Sosial, Bupati Sleman Harda Kiswaya Kukuhkan 365 Anggota Jagawarga Sardonoharjo

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman mengambil langkah strategis dalam memperkuat fungsi sosial masyarakat melalui pengukuhan 365 anggota Jagawarga se-Kalurahan Sardonoharjo. Prosesi pengukuhan yang berlangsung khidmat ini dipimpin langsung oleh Bupati Sleman, Harda Kiswaya, bertempat di Aula Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, pada Sabtu, 20 Desember 2025.

Kehadiran ratusan personel Jagawarga ini diharapkan menjadi jawaban atas tantangan keamanan dan ketertiban lingkungan di tingkat akar rumput. Dalam arahannya, Harda Kiswaya menegaskan bahwa Jagawarga memegang peran vital sebagai garda terdepan dalam menjaga kondusivitas wilayah melalui deteksi dini terhadap berbagai persoalan sosial. Keberadaan lembaga ini juga bertujuan untuk membangkitkan kembali semangat gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Sleman.

Bupati Sleman mengingatkan bahwa amanah yang diemban oleh para anggota Jagawarga bukan sekadar simbol semata, melainkan tanggung jawab nyata untuk menciptakan rasa aman bagi warga. Menurutnya, stabilitas lingkungan merupakan prasyarat utama agar pembangunan di tingkat kalurahan hingga kabupaten dapat berjalan dengan lancar dan berkelanjutan. Sinergi antara warga dan pemerintah daerah menjadi kunci utama dalam meminimalisir potensi konflik maupun gangguan keamanan di pemukiman.

“Jagawarga bukan sekadar simbol, tetapi wujud nyata partisipasi warga dalam menjaga keamanan dan ketentraman lingkungan. Peran sosial ini sangat strategis dalam mendukung pembangunan yang aman dan berkelanjutan. Saya berharap seluruh anggota dapat bekerja dengan tulus dan penuh tanggung jawab sebagai mitra pemerintah dalam mendeteksi dini setiap kerawanan sosial di wilayahnya,” ujar Harda Kiswaya saat memberikan sambutan.

Upacara tersebut turut dihadiri oleh jajaran pimpinan daerah mulai dari Panewu Ngaglik, Kapolsek Ngaglik, Danramil Ngaglik, hingga pamong kalurahan dan tokoh masyarakat setempat. Keanggotaan Jagawarga yang dikukuhkan ini mencerminkan inklusivitas karena melibatkan tokoh pemuda, tokoh agama, hingga tokoh perempuan yang memiliki pengaruh di wilayah masing-masing.

Lurah Sardonoharjo, Harjono, turut menyampaikan rasa bangganya atas kesediaan warga meluangkan waktu dan tenaga untuk menjaga ketertiban umum. Ia menilai keterlibatan aktif masyarakat adalah modal sosial yang paling kuat dalam membangun harmoni di tengah keberagaman penduduk. Harjono menekankan bahwa kehadiran Jagawarga akan sangat membantu tugas perangkat kalurahan dalam memantau dinamika keamanan di setiap padukuhan.

“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas peran serta seluruh warga yang bersedia menjadi anggota Jagawarga. Panjenengan semua adalah garda terdepan dalam menjaga ketentraman Kalurahan Sardonoharjo. Harapan kami, sinergi ini akan membuat lingkungan kita semakin solid dan terhindar dari segala bentuk gangguan ketertiban,” kata Harjono dengan penuh apresiasi.

Sebagai simbol dimulainya masa tugas, dilakukan penyerahan Surat Keputusan (SK) Jagawarga secara simbolis oleh Jagabaya Sardonoharjo, Cahyo Wening. Dengan dikukuhkannya ratusan relawan ini, Pemerintah Kalurahan Sardonoharjo optimistis akan tercipta stabilitas sosial yang lebih kuat melalui komunikasi intensif antara masyarakat, aparat keamanan, dan pemerintah desa. (ESK/KIM DSN)




Menjaga Eksistensi Turuk Bintul, Kuliner Tradisional Legendaris yang Tetap Menggoda di Era Modern

Sleman – Di tengah gempuran camilan kekinian dengan berbagai bahan modern dan penampilan menawan, kehadiran panganan tradisional tetap memiliki ruang tersendiri di hati masyarakat. Salah satu kuliner legendaris yang tetap eksis meski tampil sederhana adalah Turuk Bintul. Panganan berbahan dasar ketan, kacang tolo, santan, dan garam ini menjadi pusat perhatian dalam acara Gelar UMKM HUT Kalurahan Tegaltirto ke-78 di Lapangan Kadisono, Berbah, Sleman, Sabtu 20 Desember 2025.

Muji, seorang pelaku usaha kuliner tradisional asal Jagalan, Tegaltirto, terlihat sibuk melayani pembeli yang penasaran dengan kudapan tersebut. Ia menjelaskan bahwa proses pembuatan Turuk Bintul pada dasarnya mirip dengan memasak ketan pada umumnya, namun kehadiran kacang tolo menjadi ciri khas yang membedakan rasa dan teksturnya. Kudapan ini bisa disajikan dengan tekstur yang masih berupa butiran nasi ketan atau dihaluskan menyerupai jadah agar lebih kenyal saat disantap.

Secara historis, nama Turuk Bintul memang terkesan unik dan bagi sebagian orang terdengar vulgar, namun nama tersebut telah melekat secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Kuliner ini menambah daftar panjang panganan tradisional Jawa yang memiliki penamaan nyeleneh, seperti Rondho Royal, Adrem atau Tolpit, hingga Kupat Jembut. Muji menceritakan bahwa keputusannya memproduksi Turuk Bintul bermula dari permintaan pelanggan yang kemudian justru menjadi produk andalannya karena banyak diminati.

“Awalnya ada pelanggan yang menanyakan panganan Turuk Bintul ini kepada saya. Saya coba buatkan dengan resep tradisional, ternyata banyak sekali yang suka dan cocok dengan rasanya. Akhirnya saya keterusan memproduksi ini sebagai salah satu upaya nguri-uri atau melestarikan tradisi kuliner kita,” ujar Muji di sela kesibukannya menata dagangan.

Dalam penyajiannya, Muji tetap mempertahankan sentuhan tradisional dengan membungkus Turuk Bintul menggunakan daun pisang yang dilapisi kertas minyak demi menjaga kekuatan kemasan dan estetika. Selain Turuk Bintul, ia juga memperkenalkan produk lain melalui jenama “Teras Ndesa”, seperti Sego Wiwit lengkap dengan sambal gepeng, gereh pethek, urap, dan telur rebus. Nama Teras Ndesa sendiri diambil dari filosofi optimalisasi lahan rumah yang bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi ekonomi keluarga.

Muji menerapkan konsep integrasi dalam usahanya, di mana ia juga memanfaatkan kebun rumah untuk menanam sayur serta memelihara ikan lele untuk diolah menjadi abon lele. Menurutnya, sinergi antara peternakan skala kecil dan pengolahan kuliner tradisional adalah kunci keberlanjutan usahanya di tingkat desa.

“Teras atau emperan rumah saya gunakan untuk tempat berjualan, sedangkan halaman atau kebun untuk menanam sayur dan memelihara lele. Contohnya, dari lele yang saya pelihara sendiri, saya buat menjadi abon lele yang juga menjadi produk unggulan Teras Ndesa. Jadi semua bisa terintegrasi, saling mendukung dan berkesinambungan untuk kebutuhan produksi,” pungkas Muji menjelaskan visi usahanya. (Kusnadi/KIM Berbah)