Pamit dari Sedogan, Mahasiswa KKN UNY Wariskan Inovasi Rocket Stove dan Website Padukuhan

Sleman – Masa pengabdian mahasiswa Tim 23386 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) di Padukuhan Sedogan, Kalurahan Lumbungrejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, resmi berakhir. Sebagai penutup rangkaian pengabdian selama beberapa bulan terakhir, para mahasiswa menggelar acara perpisahan yang berlangsung meriah di Lapangan Voli Sedogan pada Jumat (19/12/2025).

Acara yang terbuka untuk seluruh lapisan masyarakat ini digelar sebagai bentuk apresiasi atas dukungan penuh warga selama pelaksanaan program. Sejak awal kedatangan hingga masa purna tugas, warga Sedogan dinilai telah menjadi mitra aktif dalam menyukseskan berbagai agenda pemberdayaan yang dibawa oleh mahasiswa.

Ketua KKN Mandiri UNY, Bima Febriansyah Dwi Nugroho, mengungkapkan bahwa Padukuhan Sedogan telah memberikan ruang belajar sosial yang sangat bermakna bagi timnya. Pengalaman berinteraksi langsung dengan warga memberikan pemahaman nyata tentang dinamika kehidupan bermasyarakat yang tidak ditemukan dalam buku teks di ruang kelas.

“Warga Sedogan sangat ramah dan memperlakukan kami layaknya keluarga sendiri. Pelajaran utama yang kami petik adalah bagaimana cara berbaur secara tulus serta belajar arti kebersamaan dan kekeluargaan yang sesungguhnya. Di akhir masa KKN ini, rasanya waktu berjalan sangat cepat,” ujar Bima Febriansyah Dwi Nugroho di sela-sela acara.

Ia juga berharap agar warga Sedogan selalu diberikan kesehatan dan keberkahan, serta kemajuan bagi wilayah tersebut di masa depan.

Selama masa pengabdian, para mahasiswa menjalankan berbagai program yang menyentuh berbagai aspek kebutuhan lokal. Selain memberikan pendampingan pada UMKM dan membantu proses belajar mengajar di PAUD Sedogan, tim mahasiswa juga melakukan digitalisasi informasi dengan membangun website resmi padukuhan. Program ini diharapkan dapat mempermudah akses informasi dan mempromosikan potensi desa ke khalayak luas.

Salah satu program unggulan yang menjadi ikon pengabdian kali ini adalah pembuatan rocket stove atau kompor roket. Inovasi ini merupakan alat pembakaran biomassa yang efisien dan ramah lingkungan, dirancang untuk memaksimalkan panas dengan bahan bakar hemat serta menghasilkan asap minimal.

Bima menjelaskan bahwa rocket stove tersebut dirancang bersama warga sebagai solusi praktis harian sekaligus upaya mendorong kesadaran lingkungan di tingkat rumah tangga. “Kami ingin memberikan sesuatu yang aplikatif. Kompor ini lebih hemat kayu bakar dan jauh lebih bersih dari segi polusi udara dibandingkan tungku tradisional,” tambahnya.

Dukuh Sedogan, Aisyah Putri Wulansari, dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi yang mendalam atas kontribusi nyata para mahasiswa. Ia menilai program-program yang dijalankan sangat relevan dengan kebutuhan warganya dan dilakukan dengan pendekatan yang sangat humanis sehingga mudah diterima oleh masyarakat.

“Kehadiran teman-teman mahasiswa telah membawa energi positif yang luar biasa. Program-program seperti digitalisasi informasi dan inovasi kompor hemat energi ini sangat bermanfaat bagi kami. Selain itu, kehadiran kalian juga memperkuat kembali semangat gotong royong di lingkungan Sedogan,” ungkap Aisyah Putri Wulansari.

Acara perpisahan tersebut juga diisi dengan senam massal dan pembagian hadiah menarik bagi warga, menciptakan suasana yang inklusif dan akrab. Melalui kegiatan ini, baik mahasiswa maupun warga berharap jalinan silaturahmi tetap terjaga meskipun tugas akademik telah usai. KKN ini pun ditegaskan bukan sekadar pemenuhan kurikulum, melainkan sebuah ruang perjumpaan untuk saling bertumbuh dan memberi manfaat antar sesama. (SBD/KIM Senyum Tempel)




Perkuat Wirausaha Muda, Pemerintah Kapanewon Depok Gelar Accounnect Incubator Bersama Sampoerna University

Sleman – Pemerintah Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, mengambil langkah strategis dalam memperkuat kapasitas ekonomi pemuda melalui penyelenggaraan Accounnect Incubator. Kegiatan yang dikhususkan bagi anggota Karang Taruna se-Kapanewon Depok ini terselenggara berkat kolaborasi dengan Sampoerna University serta YSEALI Accelerator Alumni Award, bertempat di Gedung Sasana Anglocita Tama, Jumat (19/12/2025).

Accounnect Incubator dirancang sebagai ruang edukasi sekaligus praktik bagi para pemuda untuk mendalami pengelolaan keuangan usaha, pengembangan model bisnis, hingga pemanfaatan teknologi digital. Upaya ini menjadi bagian dari misi besar pengembangan UMKM berbasis komunitas guna meningkatkan daya saing usaha lokal di tengah dinamika pasar yang kian kompetitif.

Panewu Depok, Djoko Muljanto, menegaskan bahwa inkubasi bisnis saat ini telah menjadi kebutuhan mendesak bagi pemuda di wilayahnya. Mengingat karakter Kapanewon Depok yang dikelilingi oleh berbagai institusi pendidikan tinggi baik negeri maupun swasta, potensi sumber daya manusia dan kreativitas pemuda di wilayah ini sangatlah besar. Menurutnya, potensi tersebut harus diarahkan secara profesional agar memiliki dampak ekonomi yang nyata.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin memastikan para pemuda tidak hanya memiliki semangat berbisnis, tetapi juga mampu mengelola keuangan secara tertib dan berkelanjutan. Kami berharap mereka tumbuh menjadi wirausaha yang tangguh, ulet, dan memiliki daya saing yang kuat, baik di tingkat nasional maupun internasional,” ujar Djoko Muljanto saat memberikan pengarahan kepada para peserta.

Djoko juga mendorong para peserta untuk memanfaatkan sesi inkubasi ini secara optimal, terutama dalam menguasai strategi pemasaran digital. Ia menekankan bahwa media sosial dan berbagai platform digital bukan sekadar sarana komunikasi, melainkan alat vital untuk memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan nilai tambah produk lokal Sleman.

Senada dengan hal tersebut, Dekan Fakultas Bisnis Sampoerna University, Antonius Torang P. Siahaan, menyampaikan bahwa keterlibatan akademisi dalam program ini merupakan wujud nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Melalui konsep triple helix yaitu kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan dunia usaha, diharapkan tercipta ekosistem inovasi yang mendukung pertumbuhan ekonomi berbasis pengetahuan di tingkat lokal.

“Kolaborasi strategis ini adalah kunci untuk mendorong inovasi. Kami berperan aktif mendukung pembangunan ekonomi masyarakat dengan memberikan pendampingan yang berbasis pada riset dan praktik bisnis terkini. Kami yakin sinergi ini akan menciptakan dampak berkelanjutan bagi lingkungan sekitar para peserta,” jelas Antonius Torang P. Siahaan.

Ia menambahkan bahwa penguatan kewirausahaan pemuda akan berkontribusi langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat serta terciptanya ekosistem ekonomi yang lebih inklusif. Antonius pun berharap program ini dapat melahirkan inovator-inovator muda yang adaptif terhadap perubahan zaman.

“Semoga Accounnect Incubator ini mampu melahirkan wirausaha muda yang inovatif dan memperkuat peran pemuda sebagai penggerak utama pembangunan ekonomi di Kapanewon Depok. Kami berkomitmen agar hasil dari kegiatan ini dapat diimplementasikan secara nyata di lapangan,” pungkasnya. (Athiful/KIM Depok)




Sinergi Hari Bela Negara dan Hari Ibu di Berbah: Meneguhkan Peran Perempuan untuk Indonesia Emas 2045

Sleman – Kapanewon Berbah menyelenggarakan Upacara Pengibaran Bendera dalam rangka memperingati Hari Bela Negara ke-77 sekaligus Hari Ibu ke-97 di halaman Kantor Kapanewon Berbah, Jumat (19/12/2025). Momentum ganda ini ditegaskan bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan refleksi mendalam untuk memperkuat kecintaan terhadap tanah air serta mengapresiasi peran strategis perempuan dalam pembangunan bangsa.

Bertindak sebagai inspektur upacara, Danramil 10 Berbah, Siswanto, membacakan amanat tertulis Bupati Sleman di hadapan peserta yang terdiri dari jajaran Panewu beserta staf, Forkopimcam, unsur TNI, Polri, ASN, instansi lintas sektoral, hingga Lurah dan pamong se-Kapanewon Berbah. Dalam amanat tersebut, Bupati menekankan bahwa peringatan Hari Bela Negara harus menjadi titik balik tindakan nyata melalui kedisiplinan, tanggung jawab, dan komitmen menjaga persatuan di tengah dinamika global yang berubah cepat.

Siswanto menyampaikan bahwa tantangan di era transformasi digital dan derasnya arus informasi dapat menjadi peluang sekaligus ancaman bagi ketahanan negara. Oleh karena itu, seluruh komponen masyarakat diajak untuk memperkuat semangat bela negara guna memenuhi tuntutan zaman. Sejalan dengan tema Hari Bela Negara ke-77, yakni Teguhkan Bela Negara Untuk Indonesia Maju, kekuatan batin dan fisik bangsa dianggap sebagai kunci utama untuk mewujudkan Indonesia yang berdaya saing dan tahan terhadap segala ancaman.

“Laksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab, profesional, dan penuh dedikasi. Bela negara yang kuat merupakan fondasi utama untuk mewujudkan Indonesia maju yang tahan terhadap segala gangguan, baik dari dalam maupun luar,” tegas Siswanto saat membacakan pesan Bupati Sleman.

Selain aspek pertahanan, upacara ini juga menyoroti makna Hari Ibu ke-97 sebagai wujud apresiasi atas perjuangan kaum perempuan Indonesia dalam meraih kesetaraan, pendidikan, dan ruang partisipasi pembangunan. Bupati Sleman melalui sambutannya menyatakan bahwa kaum perempuan bukan sekadar pendamping, melainkan mitra sejajar dalam kehidupan keluarga, masyarakat, dan negara. Kiprah perempuan di Sleman terbukti semakin kuat, tidak hanya dalam membangun ketahanan keluarga, tetapi juga menyokong ketahanan sosial dan ekonomi daerah.

Melalui tema Perempuan Berdaya dan Berkarya Menuju Indonesia Emas 2045, ditekankan bahwa perempuan memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan dan penggerak ekonomi. Bupati menilai ada benang merah yang kuat antara Hari Bela Negara dan Hari Ibu, yakni keduanya berbicara tentang pengorbanan, keteguhan, keberanian, serta cinta tanpa batas terhadap tanah air. Dari sosok ibu, bangsa belajar tentang keikhlasan dan keteguhan, sementara dari bela negara, masyarakat belajar tentang loyalitas tanpa syarat kepada bangsa.

“Melalui momentum ini, saya mengajak seluruh masyarakat untuk memperkuat kolaborasi dan sinergi. Mari kita tumbuhkan solidaritas sosial serta perkuat gerakan bersama untuk menjaga wilayah agar tetap aman, damai, produktif, dan sejahtera demi menyongsong visi besar Indonesia Emas,” ujar Siswanto menutup amanat Bupati. (Kusnadi/KIM Berbah)




Antisipasi Risiko Bencana, Pemerintah Kalurahan Sumbersari Perkuat Mitigasi Gempa Bumi bagi Pamong dan Satlinmas

Sleman – Sebagai langkah nyata dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana alam, Pemerintah Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman, menggelar agenda Sosialisasi dan Koordinasi Bencana Gempa Bumi. Kegiatan yang menyasar pembekalan bagi Pamong Kalurahan serta anggota Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas) ini dilaksanakan di Pendopo Kalurahan Sumbersari pada Jumat (19/12/2025).

Acara ini dihadiri oleh jajaran Babinkamtibmas, Babinsa Sumbersari, seluruh perangkat kalurahan, hingga puluhan anggota Satlinmas.

Carik Sumbersari, Junaidi, dalam sambutannya menekankan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mitigasi struktural dan non-struktural. Ia berharap seluruh peserta yang hadir dapat menjadi agen informasi bagi warga di lingkungan masing-masing mengenai cara menyikapi bencana secara tepat.

“Kami berharap melalui sosialisasi ini, para peserta dapat mengedukasi warga tentang bagaimana cara menyikapi dan menghindari jatuhnya korban jiwa saat terjadi gempa. Meskipun kita selalu berdoa agar Sumbersari terhindar dari bencana apa pun, kesiapsiagaan tetap menjadi kunci utama. Kalaupun terjadi gempa, mudah-mudahan kita bisa mencapai target nihil korban jiwa maupun kerugian material,” ujar Junaidi saat membuka acara tersebut.

Materi inti sosialisasi disampaikan oleh Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Agaton Sulistyanto. Dalam pemaparannya, Agaton menjelaskan bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007, mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana melalui pembangunan fisik maupun peningkatan kemampuan dalam menghadapi ancaman bencana. Ia merinci bahwa mitigasi gempa bumi tektonik terbagi dalam tiga fase utama, yakni sebelum, saat, dan sesudah kejadian.

Menurut Agaton, langkah awal sebelum bencana meliputi pembangunan infrastruktur tahan gempa, penataan perabotan berat agar menempel kuat di dinding, serta pemeriksaan rutin instalasi listrik dan gas. Selain itu, setiap keluarga diharapkan memiliki rencana darurat dan mencatat nomor-nomor penting seperti BPBD dan rumah sakit terdekat.

“Edukasi dan simulasi rutin sangat krusial agar masyarakat mengenali jalur evakuasi dan tahu di mana titik kumpul yang aman di lingkungan mereka,” jelas Agaton.

Lebih lanjut, ia memberikan panduan ketika guncangan gempa mulai terjadi. Masyarakat diminta untuk tetap tenang dan tidak terburu-buru keluar ruangan saat guncangan masih berlangsung kuat. Langkah yang disarankan adalah merunduk dan melindungi kepala dengan tangan atau benda keras, serta menjauhi jendela kaca, cermin, dan rak buku yang berpotensi roboh. Jika sedang berada di luar ruangan, warga diimbau menjauhi tiang listrik, pohon besar, dan area retakan tanah, sementara bagi pengendara diwajibkan segera menepi di tempat terbuka.

Sebagai penutup, Agaton mengingatkan langkah-langkah pemulihan awal setelah gempa berhenti. Warga diminta tetap waspada terhadap potensi gempa susulan dan segera keluar dari bangunan yang rusak melalui jalur evakuasi menuju titik kumpul. Sebelum meninggalkan rumah, penting untuk memeriksa kebocoran gas dan potensi arus pendek listrik guna menghindari kebakaran. Ia menegaskan agar masyarakat tidak mudah termakan hoaks dan selalu memantau informasi resmi dari BMKG atau sumber otoritas terkait demi menjaga situasi tetap kondusif. (Giek/KIM Moyudan)




Rawat Tradisi Keagamaan, Muslimat NU Sedogan–Kopen Perkuat Harmoni Sosial Lewat Pengajian Lapanan

Sleman – Tradisi pengajian lapanan terus menjadi pilar penting dalam penguatan nilai spiritual sekaligus perekat ikatan sosial bagi warga Nahdlatul Ulama di tingkat akar rumput. Semangat ini terlihat nyata dalam kegiatan Pengajian Lapanan Muslimat NU Sedogan–Kopen yang diselenggarakan di Musala Nurul Ummah, Padukuhan Kopen, Kalurahan Lumbungrejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, pada Jumat (19/12/2025).

Acara yang dimulai pada siang hari tersebut dihadiri oleh ratusan jamaah Muslimat NU dan warga sekitar yang memadati area musala dalam suasana penuh kekeluargaan. Selain menjadi agenda rutin keagamaan, pertemuan ini berfungsi sebagai sarana silaturahmi untuk memperkokoh ajaran Ahlussunnah wal Jamaah yang telah menjadi identitas budaya masyarakat setempat. Kehadiran jamaah yang antusias menunjukkan bahwa ruang-ruang pengajian tradisional masih menjadi magnet utama dalam menjaga kerukunan di tingkat desa.

Dukuh Kopen, Rahmad Budiana, memberikan apresiasi tinggi atas konsistensi para kader Muslimat NU dalam menghidupkan kegiatan keagamaan di wilayahnya. Ia menekankan bahwa pengajian lapanan memiliki peran strategis, bukan sekadar sebagai forum ibadah, tetapi juga sebagai wadah untuk membangun ketenangan batin masyarakat di tengah hiruk-pikuk perkembangan zaman. Menurutnya, kerukunan warga sering kali bermula dari pertemuan-pertemuan sederhana namun rutin seperti ini.

“Pengajian lapanan bukan hanya soal ibadah secara personal, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan yang mempererat hubungan antarwarga. Ini sangat penting untuk menjaga kerukunan dan harmoni sosial di Padukuhan Kopen agar tetap kondusif,” ujar Rahmad Budiana dalam sambutannya.

Ia juga berharap agar tradisi ini dapat terus diwariskan kepada generasi muda sebagai fondasi moral dalam menghadapi dinamika sosial yang semakin kompleks.

Puncak acara diisi dengan tausiah oleh Abdul Wachid atau yang akrab disapa Gus Wachid dari Lodoyong, Tempel. Dalam ceramahnya, Gus Wachid membedah makna mendalam tentang kedudukan doa dalam kehidupan seorang muslim. Ia menegaskan bahwa segala bentuk amal perbuatan manusia akan menjadi hampa tanpa dibarengi dengan kerendahan hati untuk memohon kepada Sang Pencipta.

“Doa adalah inti dan sumber dari segala ibadah. Dari doa inilah lahir kekuatan batin, keikhlasan, dan kesadaran penuh untuk menjalankan perintah Allah dalam berbagai bentuk ibadah lainnya,” tutur Gus Wachid di hadapan para jamaah.

Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa doa merupakan bentuk sikap hati yang senantiasa menggantungkan harapan kepada Allah, sehingga setiap aktivitas, baik yang bersifat ritual maupun sosial, akan memiliki nilai spiritual yang jauh lebih mendalam.

Gus Wachid juga mengajak para jamaah untuk mengintegrasikan doa dalam setiap helaan napas dan aktivitas keseharian. Dengan cara ini, ibadah tidak lagi dipandang sebagai rutinitas yang terpisah dari urusan dunia, melainkan menjadi satu kesatuan dalam perilaku dan hubungan sosial antarmanusia. Pengajian ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan dan keberkahan seluruh warga Padukuhan Kopen, sekaligus menjadi bukti nyata ikhtiar kolektif dalam merawat iman serta harmoni di tingkat komunitas. (SBD/KIM Senyum Tempel)