Menguak Jejak Sejarah di Dalem Singodikaran: Kisah Pelarian Putri Sekar Kedaton Pasca-Perang Jawa

Sleman — Dalem Singodikaran, Kadisono, Kapanewon Tempel, Sleman, menyimpan kisah penting terkait dinamika politik Kasultanan Yogyakarta pasca Perang Jawa (1825–1830). Fakta ini diungkap oleh R. Chaerul Wardana di sela acara “Saresehan 200 Tahun Perang Jawa”, Minggu, 14 Desember 2025.

“Putri Sekar Kedaton, garwa Sultan Hamengkubuwono V, pernah bersembunyi di rumah ini,” tutur R. Chaerul Wardana.

Pernyataan tersebut merujuk pada sebuah episode penting dalam sejarah Kesultanan Yogyakarta yang dikenal sebagai “Peristiwa Suryangelagan”. Peristiwa ini berakar dari wafatnya Sultan Hamengkubuwono V pada usia muda (34 tahun). Saat Sultan wafat, salah satu istrinya, Sekar Kedaton, tengah mengandung tua.

Empat belas hari setelah wafatnya Sultan, lahirlah seorang putra bernama “Pangeran Timur”, yang kelak bergelar “Pangeran Surya ing Ngalaga”. Keberadaan putra Sultan ini memicu ketegangan politik di lingkungan keraton. Pada tahun 1833, ketika Pangeran Timur mulai beranjak remaja, pecah keributan di Istana Yogyakarta yang memaksa Sekar Kedaton dan putranya melarikan diri dari keraton.

“Dalam peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Peristiwa Suryangelagan itu, keduanya dikejar oleh tentara Belanda di bawah pimpinan Letnan Kohn hingga ke sebuah dusun kecil di wilayah Tempel,” jelas R. Chaerul Wardana.

Dalam pengejaran tersebut sempat terjadi perkelahian kecil antara pengawal keraton dan pasukan Belanda. Kuda yang ditunggangi Pangeran Timur terperosok, dan peristiwa itu meninggalkan jejak toponimi: dusun tersebut kemudian dikenal dengan nama “Jlegongan”.

Pelarian berlanjut hingga keduanya berhasil menemui Ki Lurah Singodikoro, seorang kerabat yang masih memiliki garis keturunan Sultan Hamengkubuwono II. Di rumah Ki Lurah inilah, yang kini dikenal sebagai “Dalem Singodikaran”, Putri Sekar Kedaton dan Pangeran Surya ing Ngalaga sempat bersembunyi untuk menghindari kejaran kolonial.

Namun persembunyian itu tak berlangsung lama. Putri Sekar Kedaton akhirnya tertangkap di tepi Kali Krasak, saat berusaha menyeberang untuk menemui kerabatnya, Adipati Jayaningrat di Muntilan. Sementara itu, Pangeran Timur melarikan diri ke arah utara, tetapi akhirnya tertangkap di dusun Gondosuli, yang kini dikenal sebagai “Balerante”, menandai berakhirnya pelarian Pangeran Surya ing Ngalaga.

“Keduanya kemudian diasingkan ke Manado dan wafat di sana,” pungkas R. Chaerul Wardana.

Kisah ini menegaskan bahwa Dalem Singodikaran bukan sekadar bangunan tua, melainkan saksi bisu konflik internal, intervensi kolonial, dan dinamika politik Jawa abad ke-19, yang juga menjadi bagian penting dari rentetan peristiwa besar di sekitar masa Perang Jawa. (Sadhono Hadi / KIM Senyum Tempel)




Tur Edukasi Omah Petroek Pakem: Belajar Sejarah, Budaya, dan Toleransi Beragama di Kompleks Seni

Sleman — Komunitas Tukar Akar bekerja sama dengan Gramedia Pustaka Utama dan Omah Petroek menyelenggarakan diskusi buku sastra dan tur edukasi Omah Petroek pada Minggu (14/12/2025). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian acara “Ngomongin Buku Sastra” di Sleman.

Acara diawali dengan sesi baca hening bersama seluruh peserta dari buku sastra yang telah disediakan oleh panitia selama 30 menit, dilanjutkan dengan sesi berbagi (sharing) mengenai isi buku oleh peserta.

Tepat pukul WIB, Romo Sindhunata selaku pendiri Omah Petroek hadir dan langsung mengajak para peserta berkeliling kompleks rumah budaya dan destinasi wisata yang terletak di Karang, Kletak, Wonorejo, Hargobinangun, Pakem, Sleman tersebut.

Kompleks Omah Petroek memamerkan banyak patung unik karya seniman, seperti patung banteng dan topeng dari lempengan besi, patung Ganesha dari batu Merapi, serta patung tokoh nasional seperti Gus Dur dan Jacob Oetama.

Memasuki Omah Jakob, peserta dikenalkan dengan tokoh pendiri harian Kompas dan Kompas Gramedia, Jacob Oetama, melalui kisah lengkap perjalanannya di dunia pers Indonesia. Di halaman terdapat Sumur Jacob, yang melambangkan gagasan “menimba ilmu” sebagai sumber mata air pengetahuan dan inspirasi kebudayaan. Di sana juga terdapat Patung Rajakaya karya Budi Ubruk dan patung menangkap celeng karya Djoko Pekik.

Di Galeri Yakopan, pengunjung dapat melihat pameran karya-karya patung dan lukisan seniman Yogyakarta dan sekitarnya. Sementara di area tengah, terdapat Museum Anak Bajang. Nama museum ini diambil dari novel “Anak Bajang Menggiring Angin” karya Sindhunata.

Museum Anak Bajang mengajak pengunjung belajar tentang kearifan kehidupan. Anak Bajang yang digambarkan buruk rupa dijadikan simbol ketidaksempurnaan yang berusaha mencapai kesempurnaan, sementara mereka yang memiliki kesempurnaan justru sering berbuat sombong.

Romo Sindhunata mengungkapkan bahwa kompleks ini sengaja dirancang untuk merangkum berbagai nilai luhur.

“Omah Petroek seluas 1,5 hektar ditanami pohon-pohon besar dan bambu-bambu yang menjulang tinggi, menambah kesejukan dan kedamaian, tepat untuk wisata sekaligus belajar tentang sejarah, kebudayaan, dan toleransi beragama,” ujarnya.

Di sisi selatan kompleks, terdapat Sanggar Pamujan yang unik, berisi tempat ibadah sejumlah agama di Indonesia, termasuk kapel, candi, patung Budha, dan musala kuno bernama Tombo Ati yang didatangkan dari Pati, berpagar piring (bukan pecahan kaca) dan menyimpan sajadah Gus Dur.

Selain itu, di Omah Kapujanggan tersimpan koleksi benda-benda dari tiga tokoh penting dalam perkembangan majalah Basis, yakni PJ Zoetmuldet, Nicolaus Driyarkara, dan Dick Hartoko.

Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya mendapatkan insight dari diskusi buku sastra, tetapi juga pengalaman langsung belajar sejarah dan kebudayaan Indonesia di Omah Petroek. (Sulistiyono/KIM Seyegan)




Tingkatkan Kualitas Generasi Emas, Komunitas Seroja Banyuraden Ikuti Edukasi Tumbuh Kembang Anak

Sleman — Pentingnya pemantauan tumbuh kembang anak menjadi fokus utama dalam kegiatan edukasi kesehatan yang disampaikan oleh Bambang Edi Susyanto, seorang dokter spesialis anak, di hadapan anggota Komunitas Sehat Rohani Jasmani (Seroja) Banyuraden. Acara ini berlangsung di Pendhapa Kekandhangan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Minggu (14/12/2025).

Dalam paparannya, Bambang menegaskan bahwa tumbuh kembang anak merupakan proses berkelanjutan yang mencakup aspek fisik, kognitif, emosional, dan sosial. Seluruh aspek tersebut harus diperhatikan secara seimbang sejak usia dini agar anak dapat mencapai potensi optimalnya di masa depan.

Ia menjelaskan bahwa masa emas atau golden period pada anak, khususnya pada hari pertama kehidupan, menjadi fase krusial yang sangat menentukan kualitas kesehatan dan kecerdasan anak.

“Kekeliruan dalam pola asuh, asupan gizi, maupun stimulasi pada periode ini berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang,” tandas Bambang.

Bambang juga menekankan pentingnya peran keluarga, terutama orang tua, dalam memantau pertumbuhan berat badan, tinggi badan, serta perkembangan kemampuan motorik dan bahasa anak. “Deteksi dini terhadap gangguan tumbuh kembang dinilai penting agar intervensi dapat dilakukan sedini mungkin,” ujarnya.

Selain faktor gizi, lingkungan yang sehat dan pola hidup bersih juga menjadi penentu utama tumbuh kembang anak. Menurutnya, kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan, menjaga kebersihan lingkungan, serta memastikan imunisasi lengkap merupakan investasi kesehatan jangka panjang bagi anak.

Di hadapan anggota komunitas Seroja, Bambang turut mengingatkan bahwa kesehatan mental anak tidak kalah penting dibandingkan kesehatan fisik. Pola komunikasi yang positif, rasa aman, serta dukungan emosional dari keluarga akan membentuk karakter dan kepercayaan diri anak sejak dini.

Kegiatan ini mendapat respons positif dari peserta yang sebagian besar merupakan orang tua. Diskusi berlangsung interaktif, dengan berbagai pertanyaan seputar pola makan sehat, gangguan tumbuh kembang, hingga cara memberikan stimulasi yang tepat sesuai usia anak.

Sementara itu, Sekretaris Kekandhangan Banyuraden, Adnan Iman Nurtjahjo, mengungkapkan bahwa kegiatan edukasi semacam ini sangat dibutuhkan masyarakat, terutama untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya peran keluarga dalam menjaga kesehatan anak secara holistik.

Melalui kegiatan tersebut, diharapkan anggota komunitas Seroja dapat menjadi agen edukasi di lingkungan masing-masing, sehingga pemahaman tentang pentingnya tumbuh kembang anak dapat diterapkan secara luas demi terwujudnya generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing di masa depan. (Adnan Nurtjahjo / KIM Pararta Guna Gamping)




Peringati Hari Ibu, PKK Sendangtirto Gelar Senam Kebersamaan Sekaligus Resmikan Warung dan Pojok Baca

Sleman — Kelompok Kerja (Pokja) 2 PKK Kalurahan Sendangtirto mengadakan peringatan Hari Ibu dengan menyelenggarakan senam bersama anggota PKK pada Minggu (14/12/2025). Kegiatan ini bertempat di halaman Kantor Kalurahan Sendangtirto, Sribit.

Peringatan hari ibu tersebut dihadiri oleh Lurah dan Ketua TP PKK Kalurahan Sendangtirto, Pamong, LPPM, Dukuh, ibu-ibu Kader, Ketua Pokja 1, 2, 3, dan 4, beserta ibu-ibu anggota PKK Kalurahan Sendangtirto.

Ketua Pokja 2 PKK Kalurahan Sendangtirto, Endang Prihandayani, menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu berlangsungnya kegiatan dalam rangka memperingati Hari Ibu tahun 2025 ini. Meskipun Hari Ibu ditetapkan secara nasional pada 22 Desember melalui Keputusan Presiden Sukarno Nomor 316 tahun 1956, PKK memilih merayakannya lebih awal dengan senam kebersamaan.

Selain senam, Endang juga mengumumkan peresmian warung PKK dan launching Pojok Baca, yang menempati sebuah bus cantik perpustakaan keliling. “Harapannya dengan dibukanya warung PKK dan pojok baca memberikan semangat anggota PKK untuk berkarya dan menambah wawasan,” ujarnya.

Lurah Sendangtirto, Amir Junawan, memberikan apresiasi tinggi kepada semua ibu-ibu PKK, baik Pokja 1, 2, 3, maupun 4. Ia menilai PKK dalam berkegiatan sangat membantu program pembangunan Kalurahan Sendangtirto.

“Semua kegiatan PKK melalui Pokja sangat mendasar pada setiap kegiatan pembangunan, baik fisik ataupun non fisik. Seperti UMKM, KWT, lingkungan, pengelolaan sampah, keragaman, kesehatan, pendidikan, sosial kemasyarakatan, semua ada sentuhan dari PKK,” jelas Amir.

 Ia berharap kegiatan ini memberikan banyak manfaat bagi anggota PKK dan warga Sendangtirto. “Semoga bisa menambah kesejahteraan warga masyarakat,” imbuhnya.

Ketua Tim Penggerak PKK Kalurahan Sendangtirto, Listiana Rahmawati, memaparkan makna peringatan Hari Ibu sebagai momen kebangkitan perempuan Indonesia. Hari Ibu secara nasional diperingati pada 22 Desember setiap tahunnya, sebagai pengingat berlangsungnya Kongres Perempuan Indonesia yang pertama pada 22–25 Desember 1928 di Yogyakarta.

“Kongres tersebut sebagai tonggak sejarah bagi gerakan perempuan Indonesia akan persamaan hak dan kewajiban sejalan dengan cita-cita RA Kartini,” pungkasnya. (Kusnadi / KIM Berbah)




Pendampingan Kesehatan Mental Jadi Kunci Dukungan Pasien Penyakit Kronis

Sleman — Penguatan kesehatan mental menjadi kunci penting dalam pendampingan pasien penyakit kronis. Di tengah proses pengobatan medis yang sering berlangsung lama dan melelahkan, pasien tidak hanya berjuang melawan penyakit secara fisik, tetapi juga menghadapi tekanan psikologis yang berat. Tanpa dukungan mental yang memadai, kondisi tersebut berpotensi menurunkan kualitas hidup pasien dan menghambat proses pemulihan.

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Pelatihan Pendamping Kesehatan Non Profesional (Lay Patient Advocate) yang diselenggarakan oleh Inspirasien Srikandi Indonesia di Aula Kelurahan Donoharjo, Minggu (14/12/2025). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat peran komunitas dalam mendukung kesehatan fisik dan mental pasien penyakit kronis di tingkat masyarakat.

Pemateri kegiatan, Astriani Dwi Aryaningtyas, menyampaikan bahwa saat seseorang terdiagnosis penyakit kronis, dampak yang dirasakan tidak hanya bersifat medis. Perubahan fisik, keterbatasan aktivitas, serta ketidakpastian kondisi kesehatan kerap memicu gangguan psikologis seperti kecemasan, depresi, dan stres berkepanjangan.

“Pasien penyakit kronis sering mengalami keterpurukan mental. Mereka merasa kehilangan kendali atas tubuh dan kehidupannya. Di sinilah pendampingan kesehatan mental menjadi sangat penting agar pasien tetap memiliki harapan dan motivasi,” ujar Astri.

Menurutnya, perubahan fisik akibat penyakit kronis juga berdampak pada hubungan sosial pasien. Tidak sedikit pasien yang menarik diri dari lingkungan sekitar, merasa minder, dan kehilangan rasa percaya diri. Jika kondisi ini tidak tertangani, tekanan mental dapat memperburuk kondisi kesehatan secara keseluruhan.

Astri menjelaskan bahwa pendamping kesehatan berfungsi sebagai penghubung antara pasien, keluarga, dan penyedia layanan kesehatan. Pendamping membantu pasien menjalani pemeriksaan, memahami diagnosis, mengikuti pengobatan, hingga memastikan keberlanjutan perawatan, sekaligus memberikan dukungan emosional di ranah psikologi.

Pendamping kesehatan sendiri terbagi menjadi dua jenis, yakni pendamping profesional (tenaga medis) dan pendamping non profesional. Pendamping non profesional dapat berasal dari kader kesehatan, relawan komunitas, atau pasien yang memiliki pengalaman pengobatan dan telah mendapatkan pelatihan pendampingan.

Meski demikian, Astri menegaskan bahwa pendamping non profesional tidak berwenang menetapkan diagnosis medis maupun psikologis. Tugas utama mereka adalah mengenali perubahan fisik, kognitif, emosional, dan perilaku pasien sebagai respons terhadap tekanan yang dihadapi, kemudian mengarahkan pasien ke tenaga profesional yang sesuai.

Pendekatan berbasis komunitas dinilai efektif dalam memperluas jangkauan layanan kesehatan mental. Melalui keterlibatan kader, relawan, dan jejaring komunitas, pasien penyakit kronis dapat memperoleh dukungan awal yang lebih mudah diakses, sekaligus merasa tidak sendirian dalam menghadapi penyakitnya.

Sementara itu, Lurah Donoharjo, Hadi Rintoko, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, menekankan pentingnya pendampingan kesehatan mental bagi pasien dan keluarga. Ia mengaku pernah merasakan langsung kebingungan dan kesedihan saat mendampingi anggota keluarga yang menderita penyakit kronis.

“Dengan adanya pendampingan, pasien dan keluarga merasa lebih tenang. Ada yang mendengarkan, mengarahkan, dan memberi motivasi. Ini menjadi penguat mental agar pasien bisa tertangani dengan lebih baik,” ujarnya.

Melalui pelatihan ini, diharapkan lahir pendamping kesehatan berbasis komunitas yang mampu menjadi penguat mental bagi pasien penyakit kronis. Ke depan, model pendampingan ini diharapkan dapat memperkuat sistem layanan kesehatan mental yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berpihak pada kebutuhan masyarakat. (Upik Wahyuni/KIM Donoharjo)