Padukuhan di Donoharjo Berlomba Promosikan Potensi Lokal Lewat Video Pendek

Sleman — Pemerintah Kalurahan Donoharjo terus berinovasi dalam memanfaatkan media digital sebagai sarana publikasi dan penguatan identitas wilayah. Hal ini diwujudkan melalui Lomba Video Pendek Profil Padukuhan yang diikuti oleh 16 padukuhan se-Kalurahan Donoharjo. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang kreativitas, tetapi juga langkah strategis membangun branding padukuhan dan kalurahan secara terpadu. Pengumuman pemenang sekaligus penyerahan hadiah berlangsung di Aula Kalurahan Donoharjo, Minggu (14/12/2025).

Lomba ini dirancang untuk mendorong setiap padukuhan mampu menyampaikan informasi secara tepat, aktual, dan menarik dengan mengangkat beragam aspek kehidupan masyarakat. Tema yang diusung mencakup sosial, budaya, lingkungan, ekonomi, kemasyarakatan, hingga karakter kewilayahan, sehingga video yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi potret utuh tentang dinamika dan kekayaan Donoharjo.

Melalui kegiatan tersebut, setiap padukuhan kini memiliki arsip profil digital yang informatif dan mudah diakses khalayak. Arsip ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan publikasi, promosi, maupun dokumentasi resmi yang menggambarkan kondisi riil padukuhan secara menyeluruh. Lebih jauh, video-video tersebut diharapkan menjadi media komunikasi efektif antara pemerintah kalurahan dengan masyarakat luas, sekaligus sebagai etalase potensi Donoharjo di ruang digital.

Tim juri memberikan apresiasi tinggi terhadap kualitas dan gagasan yang ditampilkan peserta. Krisna dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman menyatakan bahwa Donoharjo menjadi pionir di Sleman dalam menyelenggarakan lomba video profil padukuhan secara terstruktur. Menurutnya, kegiatan ini merupakan terobosan penting dalam penguatan identitas desa melalui media visual.

“Video merupakan media publikasi yang sangat intens dan saat ini paling digemari masyarakat. Selama ini kita hanya menjadi penikmat, bahkan pecandu konten, namun lupa bahwa di tingkat padukuhan pun bisa lahir generasi kreator yang memiliki potensi besar,” ujar Krisna.

Ia menambahkan, suasana pedesaan Donoharjo yang asri mulai dari kolam ikan, hamparan sawah, peternakan, hingga kehidupan sosial yang guyub sangat layak diangkat menjadi konten yang inspiratif dan berpotensi viral.

Sementara itu, juri lainnya, Anggi Setiadi, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta menjelaskan bahwa penilaian lomba dilakukan secara komprehensif. Aspek yang dinilai meliputi kreativitas isi video, relevansi dengan kondisi padukuhan, originalitas gagasan, teknik produksi, serta kesungguhan yang ditunjukkan oleh para peserta.

“Kami sangat mengapresiasi keterlibatan anak-anak muda Donoharjo. Dari karya yang ditampilkan terlihat bahwa mereka memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai kreator konten,” kata Anggi. Bahkan, ia menyatakan kesiapan untuk menjadi konsultan dan pendamping bagi generasi muda yang ingin mengembangkan bakat di bidang produksi video dan konten digital.

Apresiasi juga disampaikan oleh Lurah Donoharjo, Hadi Rintoko. Ia menyebut lomba video profil padukuhan sebagai langkah nyata pemerintah kalurahan dalam menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. “Kami merasa bangga dan bersyukur kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik. Video profil padukuhan menjadi media untuk menyampaikan informasi positif, sekaligus sarana memperkenalkan Donoharjo secara utuh kepada masyarakat luas,” ungkapnya.

Dalam ajang tersebut, Padukuhan Ngepas Kidul keluar sebagai juara pertama, Padukuhan Banteran meraih juara kedua, disusul Padukuhan Kayunan sebagai juara ketiga. Adapun Padukuhan Wonosari berhasil menyabet kategori favorit.

Melalui lomba ini, Pemerintah Kalurahan Donoharjo berharap semangat literasi digital dan kreativitas generasi muda terus tumbuh. Ke depan, video profil padukuhan diharapkan tidak hanya menjadi arsip, tetapi juga alat promosi, edukasi, dan inspirasi yang memperkuat identitas Donoharjo sebagai kalurahan yang adaptif, kreatif, dan berdaya saing di era digital. (Upik Wahyuni/KIM Donoharjo)




Psikolog Tekankan Kunci Pengelolaan Stres dan Kecemasan Bagi Kader Posyandu Donoharjo

Sleman — Pengelolaan stres dan kecemasan menjadi kunci penting dalam menjaga kesehatan mental masyarakat. Hal tersebut disampaikan oleh Ruth Romauli Damayanti, Psikolog dari PT Inspirasien Srikandi Indonesia, sebuah platform pendampingan kesehatan fisik dan mental, dalam kegiatan bertajuk Pengelolaan Stres dan Kecemasan yang dilaksanakan pada Minggu, (14/12/2025), di Aula Kalurahan Donoharjo.

Pada acara yang dihadiri oleh Kader Posyandu se-Kalurahan Donoharjo tersebut, Ruth menjelaskan bahwa stres merupakan respons otomatis tubuh terhadap berbagai tuntutan, tekanan, dan prioritas hidup yang saling bersaing. Ia menyebut bahwa tujuan utama bukanlah menghilangkan stres sepenuhnya, melainkan belajar merespons stres secara sehat dan efektif. Bahkan, pada tingkat tertentu, stres dapat bersifat positif sebagai pendorong motivasi.

Namun, ia mengingatkan bahwa stres yang berlebihan atau berlangsung dalam jangka waktu lama dapat mengaktifkan respons fight or flight (lawan atau lari) dalam tubuh. “Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini berpotensi menimbulkan kelelahan, rasa kewalahan, serta penurunan kemampuan seseorang dalam menjalani berbagai aspek kehidupan,” jelas Ruth.

Ruth memaparkan beberapa cara mengelola stres, antara lain dengan menetapkan prioritas melalui pembuatan daftar tugas dan menentukan hal yang paling penting untuk diselesaikan. Selain itu, individu juga perlu melatih diri menghadapi situasi stres dengan mempersiapkan solusi yang sesuai kemampuan, meninjau kembali harapan, serta menetapkan tujuan yang realistis.

“Gaya hidup sehat turut berperan besar dalam pengelolaan stres, seperti olahraga rutin, konsumsi makanan bergizi, istirahat cukup, serta meluangkan waktu untuk relaksasi dan aktivitas yang disukai,” tambahnya. Ia juga menekankan bahwa membangun hubungan sosial dan sistem dukungan yang baik dengan keluarga, teman, dan komunitas adalah faktor protektif bagi kesehatan mental.

Dalam sesi tersebut, Ruth juga membedakan antara kecemasan normal, respons wajar yang bersifat sementara, dan gangguan kecemasan dimana kondisi mental yang ditandai oleh kecemasan berlebihan, berlangsung lama, dan sulit dikendalikan.

Gejala gangguan kecemasan meliputi aspek mental seperti gugup, gelisah, dan perasaan bahaya akan datang; gejala fisik seperti jantung berdebar, keringat dingin, sesak napas, dan gangguan pencernaan; serta perubahan perilaku seperti sulit konsentrasi dan gangguan tidur.

Untuk mengelola kecemasan ringan, Ruth menyarankan pola hidup sehat, meditasi, menjaga asupan makanan, serta membatasi konsumsi kafein. “Namun apabila kecemasan berlanjut dan mengganggu aktivitas sehari-hari, pentingnya mencari bantuan profesional kesehatan mental seperti psikolog atau psikiater guna mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat,” tandas Ruth. (Endarwati / KIM Donoharjo)




Studi Sejarah Ungkap Dampak Perang Jawa: Populasi Yogyakarta Menyusut Hampir 40 Persen

Sleman — Perang Jawa (1825–1830) bukan sekadar catatan konflik bersenjata, namun juga meninggalkan luka mendalam bagi Kasultanan Yogyakarta. Dampak paling nyata dari perang terbesar di era kolonial itu adalah merosotnya jumlah penduduk secara drastis.

Pegiat sejarah, Yoga WR, mengungkapkan fakta tersebut dalam acara “Saresehan 200 Tahun Perang Jawa” yang digelar pada Minggu (14/12/2025), di Dalem Singodikaran, Kadisono, Margorejo, Tempel, Sleman.

Berdasarkan data demografi sebelum tahun 1825, Yoga menjelaskan, jumlah penduduk Kasultanan Yogyakarta diperkirakan mencapai sekitar jiwa. Namun, merujuk sumber yang sama, yakni “Algemeen Verslag” tahun 1831, setelah perang berakhir jumlah tersebut menyusut tajam menjadi jiwa.

“Artinya, hampir 40 persen penduduk Kasultanan Yogyakarta lenyap akibat perang,” tegas Yoga WR.

Yoga menegaskan bahwa Perang Jawa tidak meletus secara tiba-tiba. Akar konfliknya telah tumbuh jauh sebelumnya, sejak Raden Mas Ontowiryo diangkat sebagai Putra Mahkota bergelar Pangeran Diponegoro pada tahun 1812. Sejak 1817, berbagai gerakan massa telah tercatat, membentang dari Kedu bagian selatan di barat Yogyakarta hingga Madiun di sisi timur, melibatkan ribuan rakyat yang resah oleh penindasan, pajak berat, dan intervensi kolonial.

Menjelang pecahnya perang besar pada 1825, ketegangan berubah menjadi kerusuhan terbuka. Perlawanan rakyat pun menemukan simbol dan pemimpinnya pada sosok Pangeran Diponegoro.

Dalam menghadapi perlawanan yang meluas, pihak Belanda terpaksa mengerahkan kekuatan besar. Selain pasukan dari Batavia, Tegal, Semarang, dan Surabaya, bala bantuan juga didatangkan dari Sumatra, Kalimantan, Ambon, hingga Eropa. Bahkan, tentara bayaran dari Jerman dan Swiss turut diterjunkan, menunjukkan betapa seriusnya ancaman yang dihadapi kolonial Belanda.

Di sisi lain, Pangeran Diponegoro tidak berjuang sendirian. Yoga mencatat adanya dukungan dari sejumlah Pangeran Yogyakarta, 56 pondok pesantren, 14 korps reguler Keraton Yogyakarta, para loyalis, serta mantan prajurit Sultan Hamengku Buwono II yang diberhentikan oleh Raffles. Perang ini menjadi perpaduan antara perlawanan bangsawan, ulama, dan rakyat jelata yang bersatu dalam semangat melawan ketidakadilan.

Menariknya, dari hasil penelitian Yoga WR, tidak ditemukan bukti adanya instruktur militer asing yang melatih pasukan Diponegoro. Hal ini menegaskan bahwa kekuatan perlawanan Jawa lahir dari pengalaman tempur lokal, pengetahuan medan, serta keyakinan ideologis dan spiritual yang mengakar kuat di tengah masyarakat. Perang Jawa dengan demikian bukan hanya perang senjata, melainkan perang harga diri dan kedaulatan, yang meninggalkan jejak perlawanan dan pengorbanan luar biasa dalam sejarah bangsa. (Sadhono Hadi / KIM Senyum Tempel Sleman)




Edukasi Digital Healthy Space UGM Tarik Perhatian, Hadirkan Content Creator dengan Gaya Berbeda

Sleman — Komite Perilaku Profesional (KPP) berkolaborasi dengan Health Promoting University (HPU) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM sukses menggelar talk show bertajuk “Creating a Healthy Digital Space: No Bullying, No Harassment, Yes to Mental Well-Being.”

Acara yang berlangsung di Auditorium Tahir Lt.1 pada Jumat, 12 Desember 2025, pukul WIB ini bertujuan menciptakan interaksi digital yang aman, beretika, dan suportif bagi kesehatan mental.

Talk show ini menghadirkan tiga pembicara utama, yaitu Tirta Mandira Hudhi, yang membahas pencegahan perundungan dan pelecehan di ruang digital serta edukasi etika bermedia sosial. Kemudian, Saviera Zulykha Ajeng Fauqii Nuura yang membawa pendekatan kreatif kaum muda dalam mengampanyekan ruang digital yang bebas perundungan. Serta Yayi Suryo Prabandari, yang fokus pada penguatan mekanisme pelaporan dan kebijakan institusi untuk membangun ekosistem digital yang inklusif.

Moderator acara, Hanggoro Tri Rinonce, menyampaikan bahwa talk show kali ini memiliki keunikan tersendiri.

“Acara ini spesial karena kami menghadirkan dua content creator dengan gaya konten yang berbeda dan seimbang. Dokter Tirta terkenal dengan edukasi kesehatan yang sangat fenomenal dan gaya bicaranya yang ‘ngegas’, sementara Saviera Ajeng menyampaikan edukasi berbahasa Jawa dengan gaya bahasa yang sangat soft,” ujar Hanggoro.

“Keduanya sangat balance untuk menyampaikan edukasi bermedia sosial, masing-masing membawa gaya dan personal branding yang kuat,” tambahnya.

Antusiasme peserta terlihat jelas dari interaksi yang hidup selama sesi tanya jawab, menunjukkan kepedulian tinggi terhadap isu etika digital dan kesehatan mental.

Sebagai penutup yang istimewa, talk show ini juga menjadi panggung pengumuman pemenang karya kompetisi Professionalism Month 2025, mempertegas komitmen institusi dalam menanamkan nilai-nilai profesionalisme di kalangan civitas akademika. (Ajeng / KIM DSN)




Pasbuja Kawi Merapi Akhiri Program Sastrawan Masuk Sekolah, Siap Lanjutkan Inovasi Literasi Sastra Jawa

Sleman — Program Sastrawan Masuk Sekolah (SMS) dengan tema “Mengukir Imajinasi, Merangkai Kata” yang diinisiasi Paguyuban Sastra Budaya Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi Kabupaten Sleman resmi ditutup pada Minggu (14/12/2025). Penutupan kegiatan tersebut dilaksanakan di Joglo Resto Puri Mataram Sleman dan dipimpin langsung oleh Ketua Pasbuja Kawi Merapi, Sutopo Sugihartono.

Dalam sambutannya, Sutopo menyampaikan bahwa program SMS yang terbagi menjadi tiga koordinator—Erlina (Tim Timur), Eti Daniastuti (Tim Tengah), dan Achyadi (Tim Barat)—merupakan ikhtiar strategis untuk menanamkan kecintaan terhadap sastra dan budaya Jawa kepada generasi muda sejak dini.

“Melalui interaksi langsung antara sastrawan dan pelajar, diharapkan terjadi transfer nilai, pengetahuan, serta semangat pelestarian budaya lokal,” ucapnya.

Menurut Sutopo, sastra tidak hanya berfungsi sebagai media ekspresi seni, namun juga sarana pembentukan karakter. Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam sastra Jawa, seperti unggah-ungguh, tepa salira, dan kebijaksanaan hidup, dinilai relevan untuk memperkuat pendidikan karakter di lingkungan sekolah dasar (SD) maupun sekolah menengah pertama (SMP).

Program SMS selama pelaksanaannya dari tanggal 3 hingga 28 November 2025 telah menjangkau 18 SD dan 7 SMP di Kabupaten Sleman. Sebanyak 25 sastrawan yang tergabung dalam Pasbuja Kawi Merapi terlibat aktif memberikan materi, diskusi sastra, pembacaan karya, hingga pendampingan kreatif kepada para siswa.

Sutopo menegaskan bahwa antusiasme pihak sekolah dan peserta didik menjadi indikator keberhasilan program tersebut. Banyak siswa yang mulai berani menulis geguritan, cerita cekak, hingga mengekspresikan gagasan mereka menggunakan bahasa dan sastra Jawa dengan lebih percaya diri.

Penutupan secara resmi ditandai dengan penyerahan buku laporan kegiatan oleh Eti Daniastuti selaku Koordinator program SMS kepada Ketua Pasbuja Kawi Merapi Sleman, Sutopo Sugihartono, disaksikan puluhan relawan.

Sutopo menyebut Pasbuja Kawi Merapi berkomitmen untuk melakukan pengembangan sastra Jawa di kalangan pelajar lewat program-program serupa dengan konsep yang lebih inovatif dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Kegiatan juga diisi dengan diskusi serta refleksi bersama sebagai bentuk evaluasi dan penguatan komitmen dalam melestarikan sastra dan budaya Jawa di Kabupaten Sleman. Ke depan, Pasbuja Kawi Merapi berencana memperluas jangkauan kegiatan pembelajaran sastra Jawa agar mampu menjangkau lebih banyak generasi muda sekaligus menjaga eksistensi sastra tradisi di era modern. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)