Sleman – Ruang Literasi Kaliurang (RLK) milik Willy Aditya, yang berada di Bondosari, Harjobinangun, Pakem Sleman, menyelenggarakan kuliah umum dan diskusi bertema “Kota dan Krisis Ekologi”. Acara tersebut menghadirkan Anies Rasyid Baswedan sebagai pembicara pada Kamis sore, (11/12/2025).
Acara ini dihadiri ratusan mahasiswa Yogyakarta dan masyarakat umum, serta turut hadir Yustina Elistya Dewi, Kepala Pelayanan Kekayaan Intelektual Kanwil Kemenkumham DIY, bersama Analis Hukum dari Tim Biro Humas, Hukum, dan Kerjasama Sekjen Menkumham RI, Gita Novriani Amran dan Andika Riandito Kisworo.
Willy Aditya, selaku tuan rumah RLK, mengemukakan bahwa ruang literasi tersebut dapat digunakan secara gratis sebagai ajang silaturahmi dan berbagi pengetahuan. Ia bercerita bahwa ketika sedang mengisi acara inisiasi revisi Undang-Undang perbukuan Nasional, Anies menelepon untuk memberikan dukungan 100% terhadap revisi tersebut. Akhirnya Anies diajak menjadi pembicara dalam kesempatan kali ini untuk membicarakan kota dan krisis ekologi.
M. Taufik selaku moderator membuka pembahasan dengan mengemukakan bahwa bencana yang terjadi di tiga provinsi tersebut tersangka utamanya adalah orang-orang kota, padahal kota dan penghuninya adalah simbol kemajuan suatu peradaban.
Anies Rasyid Baswedan membuka paparannya dengan mengapresiasi Ruang Literasi Kaliurang (RLK) yang memiliki lebih dari buku. Menurutnya, ini menunjukkan contoh nyata dari seorang Willy Aditya, karena melalui RLK benih-benih gagasan tumbuh berkembang untuk Indonesia.
Mengenai krisis ekologi, Anies menyebut perilaku perusak ekologi sudah sangat ekstrem. Banyak orang hanya mengejar angka ekonomi dan melupakan nafas ekologi, padahal alam adalah rumah kehidupan.
“Kita harus buat ekosistem yang bukan melawan alam, tapi bersahabat dengan alam. Bersama-sama menyelamatkan makhluk penghuni bumi,” tegasnya.
Ia juga menyoroti isu urbanisasi. Tahun 2000, penduduk Indonesia yang tinggal di perkotaan 42%. Angka ini melewati 50% pada tahun 2009. Kini, pada tahun 2023, angkanya mencapai 64%. Anies memprediksi penduduk kota akan mencapai 75% sekitar tahun 2030-2035.
“Jika sebuah kota tidak dirancang secara ekologi, maka akan makin bermasalah,” ujarnya.
Anies menekankan tata ruang kota harus diubah sehingga lebih ramah pada lingkungan. Ia mencontohkan, di Singapura, 75% adalah kawasan hijau dan 25% bangunan, sementara Kota Shanghai memiliki 80% kawasan hijau dan 20% bangunan.
Menurutnya, perlu ada pandangan terhadap kota sebagai kehidupan, mengoreksi atas kejadian kemarin, sembari menata yang baru dengan benar. Caranya antara lain dengan mencontoh dari kota-kota terbaik dunia, mengambil praktik-praktik baik yang sudah teruji, mengoreksi, mengadopsi, dan beradaptasi pada pendekatan yang baru.
Untuk itu, diperlukan seorang pemimpin yang memiliki gagasan dan narasi terbuka yang tidak anti kritik. Anies menyebut ada empat prinsip yang ia pegang dalam mengambil keputusan yaitu prinsip memenuhi rasa keadilan atau kesetaraan, prinsip kepentingan publik, prinsip menggunakan ilmu, data, dan metode ilmiah, serta terakhir adalag prinsip sesuai dengan Undang-undang.
Menjawab pertanyaan tentang banyaknya pemegang jabatan yang tidak sesuai dengan keahliannya, Anies mengatakan, “Jika suatu urusan diserahkan pada yang bukan ahlinya, maka tunggu bencananya.” Menurutnya, dalam menugaskan seseorang harus memiliki kriteria kompetensi, relevansi, integritas, dan rekam jejak. (Sulistiyono/KIM Seyegan)