Ekskul Robotik SD Muhammadiyah Semoya Berbah Sonsong Generasi Emas Indonesia

Sleman – Dunia digital menjadi hal yang harus dipelajari bila tidak mau ketinggalan teknogi. Untuk itu, SD Muhammadiyah Semoya Berbah berkolaborasi dengan Codero menggelar kegiatan pengenalan teknologi robotik, pada Rabu (10/12/2025) di Aula SD Muhammadiyah Semoya, Tegaltirto, Berbah, Sleman.

Kepala SD Muhammadiyah Semoya, Rini Wiryastuti mengatakan meskipun SD Muhammadiyah Semoya terletak dipinggiran kampung dan berdekatan dengan kandang sapi. Tetapi sekolah ini selalu berinovasi membuat program baru, salah satunya dengan mengenalkan para peserta didik akan teknologi.

Terkait hal itu, pihak sekolah mendatangkan narasumber robotika, dengan tujuan memperkenalkan siswa memahami teknologi robotika. 

“Harapannya siswa memiliki pengetahuan tentang robot, mengetahui cara merangkai, membuat robot, merawat dan mengoperasikan,” ungkapnya.

Kegiatan tersebut merupakan tambahan pengetahuan dalam pembelajaran ekstrakurikuler dalam upaya mengembangkan bakat minat anak.

“Harapannya siswa siswi SD Muhammadiyah Semoya ke depan lebih bisa berkembang baik keterampilan, kemampuan bakat minatnya dengan berbagai macam kegiatan seperti robotika,” kata Rini.

Lebih jauh, menurut salah satu guru agama Islam, Karmain, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan peserta didik terkait digital. Dengan begitu, peserta didik bisa memiliki pengetahuan yang lebih luas.

“Sehingga anak bisa banyak pengetahuan yang di dapat ketika belajar di SD Muhammadiyah Semoya,” tandas Karmain. (Kusnadi KIM Berbah)




JFP Fashion Design Competition 2025 Angkat Wastra Batik dan Lurik

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan bersama Dekranasda Sleman menggelar Grand Final Jogja Fashion Parade (JFP) – Fashion Design Competition Batik dan Lurik Sleman 2025, Rabu (10/12/2025) di Gedung Atrium Sinta Sleman City Hall. Ini menjadi puncak dari rangkaian program Gerbang Baru Sleman: Gerakan Bangga Berbatik dan Lurik, yang bertujuan memperluas penggunaan wastra lokal serta memperkuat posisi Sleman sebagai barometer fashion berbasis batik dan lurik yang sudah dimulai sejak tanggal 11 Oktober 2025.

Sebanyak 15 semifinalis terbaik dari total 526 pendaftar dari seluruh Indonesia tampil membawakan rancangan busana kerja modest (modest office look) dengan bahan utama batik dan lurik sleman. Para peserta selain dari Sleman juga berasal dari berbagai daerah seperti Palembang, Malang, Jambi, Ngawi, Magelang, Surabaya, Purbalingga, dan Pati.

Ketua Dekranasda Kabupaten Sleman, Parmilah Harda Kiswaya menyampaikan apresiasi kepada para peserta yang telah berproses panjang hingga tahap final. Menurutnya, kompetisi ini bukan sekedar ajang lomba, namun wadah bagi generasi muda untuk berkarya dan mengembangkan kreativitas berbasis wastra lokal.

“JFP Fashion Desigh Competition tidak hanya menjadi kegiatan penutup akhir tahun, tetapi momentum penting untuk menghadirkan karya-karya inovatif yang memadukan kekayaan budaya Sleman dengan perkembangan mode modern,” ujar Parmilah dalam sambutannya. Parmilah juga menambahkan bahwa kehadiran Dekranasda dari berbagai kabupaten/kota, lembaga pemerintah, akademisi, pelaku industri kreatif, serta para perajin Sleman memperkuat komitmen bersama dalam menjaga keberlanjutan batik dan lurik Sleman.

Ketua Harian Dekranasda DIY Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati (GKBRAA) Paku Alam, turut hadir dan membuka secara resmi acara ini. Dalam sambutannya, GKBRAA Paku Alam menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan wastra sebagai identitas budaya daerah. “Monggo kita sama-sama untuk melakukan kegiatan mendunia, tingkatkan semangat. Jadikan acara ini menjadi langkah awal Yogyakarta kota fashion dunia,” ujar Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati (GKBRAA) Paku Alam.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Mae Rusmi dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Dekranasda Sleman dan Asmat Pro Group, serta didukung oleh Bank Indonesia Kanwil DIY dan Sleman City Hall. Mae Rusmi menjelaskan bahwa melalui program ini, pemanfaatan batik dan lurik Sleman diharapkan semakin meluas, terutama sebagai alternatif busana kerja modern di berbagai instansi.

Tahap penjurian dilakukan oleh 3 praktisi mode nasional yaitu Afif Syakur, Phillip Iswardono, dan Wiwid Hosanna. Ketiganya menilai kreativitas desain, teknik konstruksi, dan pemanfaatan batik dan lurik sebagai busana kerja yang aplikatif dan elegan.

Pada penutupan acara, panitia mengumumkan pemenang kompetisi. Predikat Harapan 3 diraih oleh Human Jasir asal Jambi, Harapan 2 oleh Lu’lu’ul Nabilah dari Purwakarta, dan Harapan 1 oleh Sauma Syaqiyyatul Jannah dari Semarang. Untuk kategori juara utama, Nabila Bunga dari Malang menjadi Juara 3, Tiara Yusita Wijayanti dari Sleman meraih Juara 2, dan Siswanti dari Purbalingga berhasil menjadi Juara 1.

JFP Fashion Design Competition diharapkan dapat terus memperkuat ekosistem industri fashion berbasis wastra nusantara, dan berharap batik dan lurik semakin dikenal secara nasional serta menjadi inspirasi bagi para desainer muda di Indonesia.




Pemkab Sleman Bersama KPK dan DPRD Sleman Gelar Bimtek Keluarga Berintegritas

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman bersama dengan KPK RI dan DPRD Kabupaten Sleman menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Keluarga Berintegritas bertempat di Hotel Ramada Sleman, Rabu (10/12).

Kegiatan bimtek ini dibuka secara langsung oleh Bupati Sleman Harda Kiswaya bersama Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa dan jajaran pimpinan KPK RI serta Pimpinan DPRD Kabupaten Sleman, ditandai dengan pemukulan gong.

Pada pelaksanaannya, bimtek ini dihadiri oleh seluruh anggota DPRD Kabupaten Sleman bersama dengan pasangan (istri/suami) dengan menghadirkan narasumber Deputi Bidang Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat KPK RI, Wawan Wardiana.

Bupati Sleman, Harda Kiswaya mengatakan bahwa kegiatan bimtek tersebut merupakan sebuah gerakan dan komitmen untuk menanamkan nilai-nilai integritas, kejujuran, tanggung jawab, dan transparansi, bukan hanya dalam tugas pelayanan publik, tetapi dalam lingkungan terkecil, yaitu keluarga.

“Program seperti ini (Bimtek Keluarga) menjadi sangat krusial, karena keluarga adalah pondasi pertama dan utama, tempat di mana karakter, sikap, dan moral terbentuk sejak awal,” katanya.

Harda juga mengatakan dukungan atas penyelenggaraan Bimtek tersebut terlebih, kegiatan Bimtek masih dalam momentum peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (HAKORDIA) yang menggaungkan komitmen bebas dari korupsi menuju Sleman berkualitas.

Ia berharap, kegiatan Bimtek ini dapat memberikan kontribusi pemahaman yang mendalam dari makna integritas.

“Integritas bukan sekadar kata atau dokumen formal, melainkan pilihan hidup, cerminan dari nilai kejujuran, tanggung jawab, transparansi yang harus kita jalankan dalam keseharian kita, baik di rumah, di masyarakat, maupun dalam tugas memberikan pelayanan publik. Yang paling penting juga, pimpinan harus menjadi teladan,” ujar Harda.

Hal yang sama juga disampaikan Ketua DPRD Kabupaten Sleman, Y Gustan Ganda. Ia menilai keluarga memiliki peran fundamental dalam pendidikan dan pencegahan korupsi.

“Membangun keluarga berintegritas merupakan investasi jangka panjang dalam menciptakan masyarakat yang berintegritas dan antikorupsi,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut Y Gustan Ganda menekankan pentingnya integritas terlebih, DPRD merupakan lembaga legislatif yang memiliki tanggung jawab moral sekaligus politik untuk turut memastikan terwujudnya tata kelola pemerintahan yang transparan dan akuntabel.

“DPRD Kabupaten Sleman juga mempunyai kewajiban menjadi bagian utama dalam membangun integritas, sehingga integritas menjadi kompas moral dalam menjalankan tugas dan fungsi anggota DPRD,” katanya.

Adapun materi yang disampaikan dalam bimtek tersebut yaitu pemberian pemahaman tentang tindak pidana korupsi dan permasalahannya serta upaya pemberantasan korupsi serta penguatan integritas keluarga dalam upaya memberantas korupsi.




Puncak HGN dan HUT Ke-80 PGRI se-DIY di Kabupaten Sleman

SLEMAN – Puncak peringatan Hari Guru Nasional (HGN) dan Hari Ulang Tahun ke-80 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dilaksanakan pada Rabu (12/10). Peringatan yang tahun ini dilaksanakan terpusat di pendopo Parasamya Kabupaten Sleman, dihadiri oleh Bupati Sleman Harda Kiswaya dan Ketua PGRI DIY Didik Wardaya beserta jajaran.

Sejalan dengan tema pada tahun ini, ”Guru Bermutu Indonesia Maju, Bersama PGRI Wujudkan Indonesia Emas”, Bupati Harda memberikan dukungan pada peringatan ini sebagai cambuk penguatan peran dan peningkatan kompetensi. Harda pun mengajak para tenaga pendidik untuk meningkatkan upaya dalam membentuk penerus bangsa yang berkualitas.

“Mari tingkatkan upaya kita dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan menciptakan generasi penerus bangsa yang cerdas, tangguh, berkarakter, berdaya saing, bermoral dan berakhlak mulia, mampu menghadapi tantangan global dan memiliki rasa nasionalisme yang tinggi,” jelas Harda.

Pada puncak peringatan HGN dan HUT PGRI 2025, Bupati Sleman sekaligus menyampaikan apresiasi kepada seluruh guru atas pengabdiannya dalam berbagai kondisi. Ia menilai bahwa guru tak hanya pemberi ilmu akan tetapi juga sebagai teladan moral dan karakter bagi murid-muridnya.

“Saya ndherek titip masa depan Sleman, masa depan DIY, kepada Bapak-Ibu Guru sekalian. Saudara adalah tonggak utama dalam mendidik anak-anak calon pemimpin bangsa yang akan membangun DIY bahkan Indonesia di masa mendatang,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua PGRI DIY Didik Wardaya menyampaikan, PGRI DIY berkomitmen memperkuat profesionalitas guru, memperluas kolaborasi, dan meneguhkan peran strategis pendidikan bagi kemajuan bangsa.

Didik menambahkan, PGRI DIY telah melaksanakan sejumlah rangkaian kegiatan peringatan HGN dan HUT PGRI. Kegiatan yang telah dilaksanakan di antaranya, workshop perempuan PGRI, Lomba Anugerah Guru Prima, Training of Trainers Robotik SLCC, Gelar Karya guru, hingga Seminar Internasional bersama Universitas PGRI Yogyakarta dan mitra dari Malaysia.

“Seluruh rangkaian kegiatan tersebut merupakan ikhtiar bersama PGRI DIY untuk memperkuat kompetensi, profesionalitas, dan solidaritas guru dalam memajukan pendidikan Yogyakarta,”papar Didik.




Fokom UMKM Moyudan Berkomitmen Tingkatkan Ekonomi dan Produksnya Go Publik

Sleman – Forum Komunikasi Usaha Mikro Kecil, dan Menengah (Forkom UMKM) Kapanewon Moyudan terbentuk pada bulan Juli 2024, berdasarkan SK Panewu Moyudan Nomor: 014/Kep Panewu/2024, tertanggal 2 Juli 2024.

Forkom UMKM Moyudan merupakan salah satu wadah atau platform yang bertujuan untuk memfasilitasi komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi antar pelaku UMKM di Moyudan.

Ketua Forkom UMKM Moyudan, Anton Sudarto menjelaskan bahwa dalam kepengurusannya mempunyai beberapa bidang antara lain, bidang pengembangan produksi, pengembangan usaha, pengembangan SDM, humas, kerja sama dan pemasaran.

“Kami selalu berkoordinasi dan berkolaborasi kepada semua bidang agar bisa menjalankan kegiatan dengan baik,” ujar Anton di rumahnya, Rabu (10/12/202).

Ia juga menambahkan bahwa Fokom UMKM Moyudan membawahi Forum UMKM Kalurahan (Forkal) yakni Forkal Sumber rahayu, Sumbersari, Sumberarum, dan Sumberagung.

Anton juga membeberkan bahwa kegiatan yang sudah dilakukan antara lain kunjungan industri, pelatihan penguatan kelembagaan, prmbinaan UMKM, sambang-sambung.

“Kegiatan lain yang sudah kami lakukan yaitu pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB), pengelolaan galeri UMKM baik kantin maupun showroon, pembuatan katalog UMKM, dan berpartisipasi dalam kegiatan stand dan pemeran,” sambungnya.

Ia juga berharap adanya Forkom UMKM tersebut dapat meningkatkan ekonomi bagi pelaku UMKM di Moyudan. “Kami juga berusaha untuk memperkenalkan produk UMKM Moyudan bisa, dikenal banyak publik,” pungkas Anton. (Giek / KIM Moyudan)