Pemkal Condongcatur Sajikan 1000 Porsi Bakso Gratis pada Puncak Hari Jadi ke-79

Sleman – Puncak peringatan Hari Jadi ke-79 Kalurahan Condongcatur yang ditandai dengan Kirab dan Upacara Bregada Hadeging pada Jumat (26/12/2025) siang berlangsung sangat meriah. Ribuan warga masyarakat tampak memadati kompleks kalurahan untuk menyaksikan prosesi budaya tersebut dari awal hingga akhir. Antusiasme warga semakin memuncak saat memasuki sesi rebutan empat gunungan yang berisi aneka hasil bumi, sayuran, dan buah-buahan.

Setelah keseruan memperebutkan hasil bumi, Pemerintah Kalurahan Condongcatur memberikan kejutan bagi para pengunjung. Pihak pemerintah setempat secara konsisten menyuguhkan menu merakyat berupa bakso kuah hangat yang dibagikan secara cuma-cuma kepada siapa saja yang hadir di lokasi acara.

Humas Kalurahan Condongcatur, Wasana, menjelaskan bahwa penyediaan bakso gratis ini memang sudah menjadi tradisi dalam setiap agenda besar kalurahan. Sebanyak seribu porsi bakso disiapkan untuk menjamu masyarakat umum, tamu undangan, petugas lapangan dari Satlinmas, anggota RAPI Depok, relawan Destana, tim kesehatan, hingga awak media yang meliput acara.

“Pada event puncak Hari Jadi ke-79 ini, pihak kalurahan menyediakan seribu porsi bakso bagi siapa saja yang ikut menghadiri acara. Bakso adalah menu yang sangat merakyat dan disukai semua kalangan, mulai dari anak-anak, anak muda, hingga lansia. Penyajiannya pun simpel sehingga bisa melayani banyak orang dengan cepat,” ujar Wasana di sela-sela pembagian konsumsi.

Di dalam GOR Condongcatur, panitia telah menata rapi ratusan mangkuk berisi racikan bakso, pangsit, mi kuning, dan bihun. Tim dapur tinggal menyiramkan kuah panas sesaat sebelum disajikan kepada warga. Proses distribusi makanan berlangsung tertib tanpa ada desak-desakan karena jumlah porsi yang disediakan dianggap lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan warga dan personel yang bertugas.

Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji, menegaskan bahwa penyediaan bakso gratis ini bukan sekadar jamuan makan biasa. Menurutnya, momen makan bersama tersebut memiliki filosofi mendalam untuk meruntuhkan sekat antara perangkat desa dan warga masyarakat yang selama ini bersinergi membangun wilayah.

“Momen makan bakso gratis bersama ini bertujuan mempererat hubungan antarwarga serta menciptakan suasana yang hangat dan akrab. Kami ingin meningkatkan partisipasi masyarakat sehingga mereka lebih termotivasi untuk hadir dan merasa memiliki setiap acara yang diselenggarakan oleh kalurahan. Kebersamaan ini adalah modal utama kami untuk membangun Condongcatur yang lebih maju,” ungkap Reno Candra Sangaji.

Kemeriahan acara ini pun ditutup dengan suasana kekeluargaan yang kental, di mana warga duduk bersama menikmati hidangan sembari bercengkerama. Kegiatan ini membuktikan bahwa pendekatan budaya dan kuliner mampu menjadi sarana efektif dalam memperkuat solidaritas sosial di tingkat kalurahan. (Wasana/KIM Depok)




Peningkatan Kapasitas Satlinmas Lumbungrejo, Siap Hadapi Kerawanan Malam Tahun Baru

Sleman – Pemerintah Kalurahan Lumbungrejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, menggelar kegiatan Peningkatan Kapasitas Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas) di Taman Merdiko, Kalurahan Merdikorejo, Minggu (28/12/2025). Kegiatan ini diikuti oleh 60 anggota Satlinmas Lumbungrejo sebagai langkah strategis untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi kerawanan menjelang perayaan pergantian tahun.

Acara ini dihadiri oleh jajaran pimpinan wilayah, di antaranya Lurah Lumbungrejo Misbah Al Hakim, Danramil Tempel Edi Widodo, serta Kanit Lantas Polsek Tempel Darsono yang didampingi Ahmad Jubaidi. Hadir pula Kepala Jawatan Keamanan Kapanewon Tempel Heni Ristiawan beserta pamong kalurahan. Kehadiran lintas sektor ini menegaskan sinergi yang kuat antara pemerintah desa dengan TNI dan Polri dalam menjaga kondusivitas wilayah.

Lurah Lumbungrejo, Misbah Al Hakim, dalam arahannya menekankan bahwa Satlinmas Lumbungrejo memiliki tanggung jawab besar karena wilayahnya merupakan pusat instansi pemerintahan di Kapanewon Tempel. Ia menuntut para anggota untuk menjadi teladan bagi kalurahan lain dalam hal disiplin dan pelayanan kepada warga.

“Satlinmas Lumbungrejo harus lebih baik dari kalurahan lainnya karena di wilayah ini terdapat Koramil, Polsek, dan Kantor Kapanewon. Wajah pelayanan dan keamanan wilayah ada di Lumbungrejo. Untuk pengamanan syukuran Natal di GOR Lumbungrejo, saya minta anggota Linmas hadir tepat waktu agar jemaat merasa aman dan nyaman dalam beribadah,” tegas Misbah Al Hakim.

Selain pengamanan Nataru, Misbah memproyeksikan peran Linmas yang lebih luas pada tahun mendatang, termasuk membantu penyeberangan anak sekolah di titik-titik rawan kecelakaan. Ia memastikan bahwa alokasi Dana Desa untuk penguatan kelembagaan Satlinmas dilakukan secara transparan agar berdampak langsung pada ketenteraman masyarakat.

Senada dengan hal tersebut, Danramil Tempel, Edi Widodo, mengingatkan anggota Satlinmas bahwa mereka adalah ujung tombak informasi di tingkat bawah. Ia meminta setiap anggota menanamkan jiwa pengabdian yang tinggi tanpa pamrih demi keutuhan negara dan keamanan lingkungan.

“Linmas adalah mata dan telinga kalurahan. Jangan pernah bertanya apa yang sudah diberikan negara kepada kita, tetapi tanyakan apa yang sudah kita berikan kepada negara. Kalau ada masalah di masyarakat, Linmas harus tampil lebih dulu sebelum aparat lain untuk menyelesaikan persoalan secara humanis dan kekeluargaan,” ujar Edi Widodo.

Aspek teknis juga menjadi sorotan dalam kegiatan ini. Darsono memberikan pembekalan mengenai peraturan lalu lintas, sementara Ahmad Jubaidi melatih para anggota tentang teknis pengaturan arus kendaraan menggunakan peluit. Keterampilan ini dianggap vital mengingat mobilitas masyarakat diprediksi akan meningkat tajam pada malam tahun baru.

Menutup rangkaian arahan, Kepala Jawatan Keamanan Kapanewon Tempel, Heni Ristiawan, mengapresiasi kondisi wilayah Tempel yang tetap kondusif selama perayaan Natal berkat peran aktif Linmas. Namun, ia mengingatkan agar kewaspadaan tidak kendor saat memasuki malam pergantian tahun.

“Kondusivitas ini tidak lepas dari peran Linmas yang aktif bersinergi dengan TNI-Polri. Untuk malam Tahun Baru, kami mengimbau agar seluruh unsur pengamanan mematuhi instruksi Kapolri, termasuk larangan penggunaan kembang api yang membahayakan keselamatan publik,” pungkas Heni Ristiawan. (SBD/KIM Senyum Tempel)




Rakor Tuwanggana Kalurahan Margomulyo Bahas Program Kerja dan Prioritas Pembangunan

Sleman – Pengurus Tuwanggana Kalurahan Margomulyo bersama Ulu-ulu Kalurahan Margomulyo menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) strategis di RM Soto Tan Mriyan pada Sabtu (27/12/2025). Pertemuan ini dihadiri oleh jajaran pengurus Tuwanggana guna menyelaraskan peran lembaga tersebut sebagai mitra pemerintah kalurahan dalam menyusun program kerja serta mengawal berbagai kegiatan pembangunan di tingkat padukuhan.

Ulu-ulu Kalurahan Margomulyo, Agus Purwanto, dalam arahannya menekankan pentingnya efisiensi dan ketepatan dalam perencanaan program. Ia menjelaskan bahwa saat ini terdapat dinamika anggaran pusat, terutama Dana Desa, yang banyak dialokasikan untuk program ketahanan pangan sehingga menuntut perencanaan yang lebih matang dan tepat sasaran.

“Dana transfer dari pemerintah pusat saat ini banyak mengalami pemotongan karena dialokasikan untuk program ketahanan pangan. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan yang matang dan tepat sasaran. Pengurus Tuwanggana ke depan akan dilibatkan sebagai verifikator kegiatan sekaligus berperan menentukan skala prioritas di setiap padukuhan,” ujar Agus Purwanto saat memberikan sambutan.

Ia juga menambahkan bahwa keterlibatan pengurus tidak hanya di meja perencanaan, tetapi juga dalam pengecekan fisik atau opname pembangunan di lapangan. Langkah ini diambil untuk memastikan seluruh pelaksanaan kegiatan berjalan sesuai dengan spesifikasi dan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya.

Senada dengan hal tersebut, Pinituwo Tuwanggana Margomulyo, Surono, mengingatkan agar pengurus tidak terjebak dalam program yang terlalu ambisius. Ia menyarankan agar setiap rencana kerja disesuaikan dengan kebutuhan riil masyarakat dan kemampuan anggaran yang tersedia agar implementasinya berjalan efektif.

“Tuwanggana sebagai mitra pemerintah kalurahan memiliki peran strategis. Saya berharap program kerja yang disusun tidak bersifat muluk-muluk, melainkan benar-benar menjawab kebutuhan warga. Kita juga perlu melakukan pembinaan unit secara berjenjang mulai dari padukuhan yang paling siap, serta menjaga komunikasi melalui pertemuan rutin minimal dua bulan sekali,” tegas Surono.

Terkait aspek legalitas, Surono menjelaskan bahwa pembuatan Surat Keputusan (SK) Tuwanggana yang terbaru masih menunggu terbitnya Peraturan Bupati yang saat ini sedang dalam proses finalisasi di Bagian Hukum Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman. Sementara itu, Sutarto Agus, salah satu pengurus yang juga aktif di tingkat kabupaten dan provinsi, memberikan motivasi mengenai peluang inovasi bagi lembaga tersebut.

“Setiap tahun terdapat lomba inovasi pemberdayaan masyarakat tingkat Provinsi DIY, yaitu SUMUNAR Award, yang bisa diikuti oleh Tuwanggana di kalurahan. Ini menjadi peluang besar untuk menunjukkan praktik baik pemberdayaan kita. Selain itu, dengan nomenklatur keistimewaan, Tuwanggana diproyeksikan menjadi pengelola kegiatan yang didanai dari Dana Keistimewaan, sehingga kesiapan kelembagaan sangatlah mutlak,” pungkas Sutarto Agus.

Rakor ini diharapkan dapat memperkuat soliditas pengurus Tuwanggana Kalurahan Margomulyo dalam mendukung setiap tahapan pembangunan, mulai dari perencanaan hingga pengawasan, demi kemajuan wilayah Margomulyo. (Sutarto Agus/KIM Seyegan).




Melalui Sanggar Anjani, Generasi Muda Sleman Jaga Kelestarian Budaya Jawa Lewat Seni Tari

Sleman – Sanggar Tari Anjani Art Production kembali menegaskan eksistensinya dalam melestarikan budaya Jawa melalui penyelenggaraan Uji Kompetensi dan Pentas Laboratori bagi para siswanya. Kegiatan yang berlangsung di Kompleks Kalurahan Sumberharjo, Prambanan, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (27/12/2025) tersebut diikuti oleh puluhan siswa yang unjuk kebolehan dalam menarikan tarian klasik maupun kreasi baru.

Pemilik sekaligus Ketua Panitia penyelenggara, Danang Anikan Fajar Suryo Sukro Manis, mengungkapkan bahwa Sanggar Anjani bukan sekadar tempat untuk mencetak penari yang mahir secara teknis. Lebih dari itu, sanggar ini memiliki misi besar untuk membentuk karakter siswa agar memiliki budi pekerti luhur sesuai dengan norma budaya Jawa. Melalui semboyan “Jiwa Jawi”, sanggar ini berupaya menanamkan nilai unggah-ungguh dalam bersikap, berucap, dan berperilaku di tengah gempuran teknologi modern.

“Kami menyadari betapa beratnya melekatkan budaya Jawa di tengah gempuran budaya asing dan teknologi maju saat ini. Dengan semboyan Jiwa Jawi, kami berusaha menjaga rasa Jawa dalam kehidupan modern sehingga terbentuk manusia yang berbudi luhur. Landasan bakat dan sumber daya sudah kami miliki, tinggal bagaimana kita semua berkomitmen untuk menjaga kemanfaatan sanggar ini bagi masyarakat,” ujar Danang Anikan Fajar di sela acara.

Sanggar yang berlokasi di Karongan, Jogotirto, Berbah ini didirikan oleh Danang bersama istrinya, Ratih Dwi Anjani. Sejak mendapatkan Nomor Izin Kelompok Budaya (NIK) dari Dinas Kebudayaan Sleman pada akhir 2019, sanggar ini terus berkembang pesat. Di usianya yang menginjak lima tahun, Sanggar Anjani dinilai telah berhasil membuktikan eksistensinya sebagai wadah pengembangan minat dan bakat seni tari di wilayah Sleman.

Ratih Dwi Anjani menjelaskan bahwa uji kompetensi ini merupakan agenda rutin setiap akhir semester atau enam bulan sekali. Meskipun para siswa tampil secara berkelompok, penilaian dilakukan secara perseorangan untuk melihat sejauh mana serapan ilmu yang didapatkan selama proses latihan. Untuk menjaga objektivitas, pihak sanggar mendatangkan juri dari pihak luar yang kompeten di bidangnya, yakni Kartika Bayuwati dan Mega Pamungkas.

“Dalam upaya menjaga objektivitas, juri sengaja kami ambilkan dari pihak luar, bukan dari pelatih internal sanggar. Kami ingin melihat kualitas kepenarian seniman lokal ini secara jujur melalui pengujian praktik tari yang komprehensif. Nantinya, akan ada trofi apresiasi bagi para peserta di setiap kategori yang telah ditentukan,” jelas Ratih Dwi Anjani.

Kartika Bayuwati, salah satu juri yang merupakan mantan guru seni tari, memaparkan bahwa ada tiga elemen utama yang menjadi dasar penilaian, yakni Wiraga, Wirama, dan Wirasa. Wiraga berkaitan dengan olah tubuh dan penguasaan gerakan, Wirama menilai kesesuaian gerak dengan musik pengiring, sedangkan Wirasa mengacu pada pendalaman ekspresi dan suasana tarian yang dibawakan.

“Ketiga elemen tersebut yang menjadi dasar penilaian kami. Melihat penampilan anak-anak hari ini, mereka menunjukkan hasil latihan yang sangat disiplin dan matang,” tutur Kartika Bayuwati.

Apresiasi juga datang dari tokoh budaya senior Yogyakarta, Agus Sukina. Pemilik Sanggar Cikrak Kina yang telah melanglang buana ke Eropa dan Australia ini memuji kiprah Sanggar Anjani yang mampu menarik kepercayaan masyarakat dalam waktu singkat. Menurutnya, pertumbuhan jumlah murid dan prestasi di tingkat lokal menjadi bukti nyata kualitas pelatihan di sanggar tersebut.

“Kami hanya bisa mendorong dan berdoa agar Sanggar Anjani semakin maju dalam berkarya. Namun, dukungan penuh dari orang tua wali siswa tetap menjadi faktor utama yang paling diperlukan agar anak-anak terus bersemangat melestarikan budaya kita sendiri,” pungkas Agus Sukina (Kusnadi/KIM Berbah).




Fashion Show Batik dan Lurik PKK Sumberrejo Rayakan Hari Ibu, Dorong Perempuan Berdaya dan Berkarya

Sleman – Peringatan Hari Ibu di Kalurahan Sumberrejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, tahun ini berlangsung semarak dan sarat makna. Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kalurahan Sumberrejo menggelar peragaan busana atau fashion show batik dan lurik dengan tema “Perempuan Berdaya dan Berkarya” di ruang pertemuan kalurahan setempat pada Jumat (26/12/2025).

Kegiatan tersebut menampilkan para kader PKK dari berbagai padukuhan yang dengan penuh percaya diri memperagakan busana batik dan lurik khas Nusantara. Selain menjadi ajang peringatan Hari Ibu, acara ini juga dimaknai sebagai bentuk kampanye pelestarian budaya sekaligus penguatan peran perempuan di tingkat kalurahan dalam kehidupan sosial dan keluarga.

Ketua TP PKK Kalurahan Sumberrejo, Ika Puji Astuti, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang untuk memberikan ruang ekspresi bagi perempuan agar semakin percaya diri, kreatif, dan produktif dalam berbagai bidang kehidupan. Ia menekankan bahwa batik dan lurik dipilih karena memiliki nilai filosofi yang kuat serta merepresentasikan jati diri budaya Jawa yang perlu terus dilestarikan.

“Melalui fashion show batik dan lurik ini, kami ingin menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya berperan di ranah domestik, tetapi juga mampu berkarya, berdaya, dan menjadi penggerak pelestarian budaya lokal. Perempuan adalah tiang keluarga sekaligus agen perubahan di masyarakat. Ketika perempuan diberdayakan, maka keluarga dan lingkungan sekitarnya akan ikut kuat dan mandiri,” ujar Ika Puji Astuti dengan semangat.

Kegiatan ini mendapat apresiasi dari Panewu Anom Kapanewon Tempel, Eni Yuliani, yang hadir memberikan arahan kepada seluruh kader. Ia menilai peringatan Hari Ibu yang dikemas melalui kegiatan kreatif dan edukatif memiliki dampak positif bagi penguatan peran perempuan di tingkat lokal serta patut menjadi teladan bagi wilayah lainnya.

“Saya sangat mengapresiasi TP PKK Kalurahan Sumberrejo yang mampu mengemas peringatan Hari Ibu dengan kegiatan yang inspiratif, edukatif, dan kental akan nilai budaya. Ini menjadi contoh baik bagi kalurahan lain di wilayah Tempel dalam mengapresiasi peran perempuan secara nyata,” kata Eni Yuliani memuji inisiatif tersebut.

Dalam kompetisi fashion show tersebut, panitia menetapkan lima pemenang terbaik berdasarkan keserasian busana dan teknik peragaan. Juara pertama diraih oleh Widayati dari Padukuhan Gendol Wetan, disusul juara kedua Sri Budi Wahyuni dari Padukuhan Nglengkong Kidul, dan juara ketiga Wiwin Ika Nurcahyani dari Padukuhan Dowakan. Sementara juara keempat diraih Tiara Sonya Pitaloka dari Padukuhan Tegal, dan juara kelima diraih oleh Erma dari Padukuhan Pageran.

Selain peragaan busana, acara ini juga menjadi ajang silaturahmi antar kader PKK serta momentum refleksi atas peran penting perempuan dalam pembangunan sosial, budaya, dan ekonomi di Kalurahan Sumberrejo. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib dan penuh antusiasme dari para peserta serta tamu undangan yang hadir. (SBD/KIM Senyum Tempel).