3.513 PPPK Paruh Waktu di Sleman Terima SK, Bupati Sleman Himbau Agar Memberikan Kinerja Terbaik

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman menyerahkan Surat Keputusan (SK) Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu, Rabu (3/12).

Berlangsung di Stadion Maguwoharjo, SK PPPK Paruh Waktu diserahkan langsung oleh Bupati Sleman Harda Kiswaya dan Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa.

Dalam sambutannya, Bupati Sleman menyampaikan ucapan selamatnya dan mengungkapkan rasa bangganya kepada seluruh PPPK Paruh Waktu Kabupaten Sleman.

Menurutnya, penyerahan SK ini menjadi momen yang sangat penting, tidak hanya seremonial melainkan juga awal dari tanggung jawab dan pengabdian kepada masyarakat Sleman.

“Pada kesempatan ini saya menyampaikan kebanggaan dan bahagia atas kebijakan Pemerintah Pusat yang ditindaklanjuti Pemkab Sleman sehingga panjenengan semua segera mendapat SK (PPPK Paruh Waktu). Saya juga nyuwun kepada panjenengan semua untuk bekerja dengan baik, dengan pikiran bersih untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat Sleman,” ujar Harda Kiswaya.

Dalam kesempatan yang sama, Harda juga menyampaikan harapannya kepada seluruh penerima SK agar maksimal dalam memberikan pelayanan di masing – masing instansi tempatnya bekerja.

“Malulah dan merasa tidak puaslah kita semua apabila tidak bekerja dengan baik dalam memberikan layanan bagi masyarakat Sleman,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala BKPP Sleman Wildan Solichin menuturkan bahwa penetapan SK bagi PPPK Paruh Waktu Pemkab Sleman telah melalui berbagai prosedur mulai dari pengusulan ke Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi hingga verifikasi dan persetujuan Badan Kepegawaian Negara (BKN).

Lebih lanjut, Ia juga menjelaskan bahwa berdasarkan penempatan, PPPK Paruh Waktu Pemkab Sleman tersebar di 31 Instansi.




Aqua Yoga Jadi Alternatif Terapi Sendi di Turi, Peserta Rasakan Manfaat Nyata

Sleman – Berbagai cara dilakukan masyarakat dalam peningkatan kesehatan melalui aktivitas olahraga. Sebagaimana terlihat di Kapanewon Turi, kini telah dibuka kelompok Aquatik Senin yang secara khusus memberikan layanan terapi sendi melalui metode Aqua Yoga atau senam hidroterapi. Program ini menyasar kelompok ibu-ibu yang mengalami keluhan pengapuran sendi lutut serta tulang belakang.

Kelompok ini melakukan senam setiap hari Senin dan telah mulai pada Senin, 12 September 2025 dengan instruktur Ibu Yayah dan pada awalnya diikuti oleh 20 peserta dengan kompensasi Rp per anggota dan kini peserta terus meningkat hingga mencapai 40 orang.

Kegiatan dilaksanakan di Kolam Renang Tirta Kusuma, Kembang Arum, Kalurahan Donokerto, Kapanewon Turi setiap hari Senin pagi pukul – WIB. Suasana yang tenang dan air yang bersih menjadi nilai tambah dalam menjalankan terapi yang fokus pada penguatan otot dan perbaikan struktur sendi.

Menurut Sri Sumiyati salah satu pengurus, banyak peserta datang karena keluhan nyeri pada daerah pinggang atau lumbal yang di masyarakat dikenal sebagai sakit “boyok”, serta pengapuran sendi lutut. Istilah medis untuk gangguan ini adalah Hernia Nucleus Pulposus (HNP) atau kondisi saraf terjepit.

“Banyak peserta yang sebelumnya susah bergerak dan mengeluh nyeri. Karena keterbatasan terapi medis yang hanya mengandalkan obat, mereka kemudian mencari alternatif yang aman dan efektif,” ujarnya.

Menurut Yayah selaku instruktur bahwa terapi dalam air membantu mengurangi beban tubuh sehingga gerakan dapat dilakukan dengan lebih nyaman. “Air memberikan support terhadap tubuh sehingga sendi tidak terbebani. Fokus kami memperkuat otot-otot jaringan, terutama area lutut dan tulang belakang,” tuturnya.

Masih menurut salah satu peserta, Sumiyati manfaat yang signifikan setelah mengikuti Aqua Yoga yaitu bisa merasakan enak di badan dan bisa beraktivitas seperti sebelum sakit.

Menurut dokter rehabilitasi medis, pengobatan utama untuk pasien HNP dan pengapuran sendi adalah renang, karena aktivitas air dapat menguatkan otot tanpa memberikan tekanan berlebih pada sendi. Oleh karena itu, pelaksanaan Aqua Yoga atau hidroterapi bertujuan untuk memperkuat otot-otot jaringan tubuh, terutama di area lutut dan tulang belakang.

Kelas Aqua Yoga diharapkan dapat terus berkembang sebagai sarana olahraga sekaligus terapi kesehatan alternatif yang terjangkau dan aman.

Penyelenggara membuka peluang bagi masyarakat luas yang ingin bergabung, dengan harapan kegiatan ini dapat memperluas manfaat dalam membangun kualitas kesehatan masyarakat Turi, khususnya bagi penderita gangguan persendian dan tulang belakang.

(Arief Hartanto KIM Kertomandiri Turi)




Kandang Ayam Telur Sehat Pandansari Diresmikan, Wukirsari Mantapkan Langkah Menuju Desa Mandiri

Sleman — Pemerintah Kalurahan Wukirsari kembali memperkuat ekonomi desa melalui sektor peternakan. Pada Rabu (3/12/2025), bertempat di Aula Utama Balai Kalurahan Wukirsari, digelar acara peresmian kandang ayam telur sehat BUMKal “Pandansari”, sebuah inovasi usaha yang digadang-gadang menjadi motor baru perekonomian lokal.

Acara dibuka dengan sambutan Lurah Wukirsari, Handung Tri Rahmawan yang menegaskan bahwa pendirian kandang ayam sehat ini merupakan bagian dari upaya kemandirian ekonomi desa dan ketahanan pangan di Wukirsari. Ia menjelaskan sesuai dengan Peraturan Menteri Desa (Permendes) Nomor 2 Tahun 2024, bahwa 20% dari Dana Desa (DD) wajib dialokasikan untuk program ketahanan pangan.

Alokasi ini ditujukan untuk mendukung peningkatan produksi pangan lokal, pengembangan sektor peternakan dan perikanan, serta penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) atau lembaga ekonomi lain untuk mengelola dana ini sebagai penyertaan modal.

 “Pembangunan kandang ayam ini bukan hanya soal produksi telur, tapi tentang keberanian Wukirsari untuk mengambil langkah maju dalam kemandirian ekonomi. Kami ingin BUMKal menjadi motor penggerak kesejahteraan masyarakat,” jelas Handung.

Selanjutnya, Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa memberikan sambutan sekaligus meresmikan kandang ayam tersebut melalui pemukulan gong. Ia menyampaikan apresiasinya terhadap langkah Kalurahan Wukirsari.

“Wukirsari kembali menunjukkan prestasi dan inovasi. Kandang ayam sehat ini adalah contoh bagaimana desa bisa berdaya dengan memanfaatkan potensi yang ada. Saat ini kebutuhan telur di Sleman semakin meningkat, dan untuk memenuhinya Pemkab Sleman masih mengambil pasokan telur dari wilayah lain,” ungkap Danang.

Pada kesempatan itu, Direktur BUMKal Pandansari, Ahmad Zamzami Nur memaparkan proses produksi telur sehat mulai dari manajemen kandang, pemeliharaan ayam, hingga mekanisme pemasaran produk yang berbasis kualitas.

Peresmian ini semakin istimewa dengan kehadiran tokoh nasional dan internasional di bidang peternakan, antara lain Tenaga Ahli Menteri Pertanian RI, Ali Agus dan Honorary Consul of the Republic of Indonesia in New Zealand, Brian Rhodes Thorrington. Hadir pula Muspika Kapanewon Cangkringan, lembaga desa, dan tamu undangan lainnya.

Sebagai rangkaian akhir kegiatan, para tamu dipersilakan berkunjung langsung ke lokasi Kandang Ayam Telur Sehat Pandansari di Padukuhan Tanjung untuk melihat fasilitas kandang, sistem pemeliharaan, serta standar produksi telur sehat yang diterapkan.

Pemerintah Kalurahan Wukirsari berharap peresmian ini menjadi titik awal berkembangnya unit usaha produktif yang mampu meningkatkan pendapatan desa sekaligus memperkuat ketahanan pangan lokal. Dengan sinergi antara pemerintah, ahli peternakan, dan masyarakat, BUMKal Pandansari diyakini mampu menjadi model usaha peternakan desa yang modern, sehat, dan berkelanjutan.

(Lilik Rudi/KIM “Wara Aji” Cangkringan)




Sumbersari Menyimpan Banyak Potensi Budaya Warisan Leluhur

Sleman – Dalam rangka penyusunan profil budaya kalurahan, Pemerintah Kalurahan Sumbersari, Moyudan menerjunkan dua orang petugas untuk mendata budaya di 13 padukuhan di Sumbersari.

Petugas tersebut melakukan pendataan sejak Sabtu (29/11/2025) hingga Senin (1/12/2025). Mereka mendata sejumlah warisan budaya yang selama ini tersimpan dan belum dikenal publik, di antaranya cerita rakyat, dan peninggalan budaya.

Salah satu petugas, Eny yang bertugas di Padukuhan Tumut, Menulis, Blendung, Tiwir, dan Nasri menuturkan bahwa di sejumlah padukuhan tersebut banyak meyimpan warisan budaya.

Di wilayah Tumut misalnya, daerah tersebut memiliki tabir Mbah Wali Buka, Wali Budaya, Mbah Tumut. “Ternyata di Tumut juga ada bekas candi yang selama ini masyarakat umum tidak mengetahui,” ungkapnya, Selasa (2/12/2025).

Eny juga menyampaikan bahwa Padukuhan Menulis ada kaitannya dengan Keraton Mataram kuno.

“Nama Padukuhan Menulis adalah untuk mengabadikan nama tokoh Sastra Wilogo seorang punggawa Keraton, sebagai cikal bakal padukuhan tersebut,” tandasnya.

“Di Padukuhan Blendung masih kami temukan manuskrip yang tersimpan rapi, disimpan oleh almarhum Bapak Sukiyat,” tambah Eny.

Sedangkan Sugiyanto yang bertugas di Padukuhan Tegalrejo, Klisat, Semingin, Bendosari, Ngaglik, Gesikan, Nglahar, dan Sombangan juga bisa mengungkap sejarah asal usul nama padukuhan.

“Dari yang kami gali ternyata sejarah berdirinya padukuhan, ada kaitannya dengan   perjalanan dakwah Sunan Kalijogo, dan perjuangan Pangeran Diponegoro,” ujarnya.

Sugiyanto menyampaikan bahwa dari sejumlah padukuhan itu, masih banyak menyimpan bangunan warisan leluhur. Ia juga mengatakan di wilayah tersebut masih banyak ditemui makam leluhur.

“Selain itu juga peninggalan bangunan rumah joglo dan limasan yang sudah berusia lebih dari 100 tahun. Bahkan dari bangunan rumah tersebut juga menyimpan sejarah perjuangan rakyat untuk melawan penjajah,” ujar Sugiyanto. (Giek / KIM Moyudan)




Ishari NU Sleman Hidupkan Tradisi Seni Islami Lewat Festival Hadroh

Sleman – Lantunan shalawat nabi berpadu dengan dentuman rebana menggema di Pondok Pesantren Al-Falahiyyah, Mlangi, Sleman, Selasa (2/12/2025) sore. Ratusan peserta dari berbagai kelompok hadroh se-Kabupaten Sleman memadati halaman pesantren yang menjadi arena festival, menandai dibukanya festival hadroh yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Ikatan Seni Hadrah Indonesia (Ishari) Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Sleman.

Belasan grup hadroh dari 12 kapanewon di Kabupaten Sleman hadir dengan seragam kebesaran masing-masing. Mereka mengikuti festival hadroh sebagai wadah untuk mengasah kemampuan sekaligus menjalin silaturahmi dengan sesama pecinta seni hadrah, serta upaya untuk melestarikan tradisi seni Islami yang telah mengakar kuat di bumi Nusantara.

Kompetisi diikuti oleh grup hadroh Muslimat Gamping, Ikhwatus Sholihah Depok, Rijalul Musthofa Ngaglik, Hidayatul Muttaqien Tempel, Al-Mukhtar Seyegan, Asy-syafi’iyah Turi, Dewi Masyithoh Kalasan, Pesona Hadroh Rijalul Ansor Gamping, Al-Qodir Cangkringan, Daarul Hidayah Sleman, Zidan Al Barkah Godean, serta Ashwatul Qolbi Minggir.

Ketua Panitia Festival Hadroh Ishari NU Kabupaten Sleman, Ahmad Nurcahya dalam sambutannya menegaskan bahwa festival dilaksanakan dalam rangka Haflah At-Tasyakur Lil Ikhtitam ke-52 dan Haul Al-Maghfurlah KH. R. Zamruddin ke-29 dan Haul K. Misbahus Sudur ke-3 Pondok Pesantren Al-Falahiyyah Mlangi sebagai wujud nyata komitmen organisasi dalam menjaga warisan budaya Islam Nusantara.

“Festival hadroh bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan ikhtiar kolektif untuk memperkenalkan dan menanamkan kecintaan generasi muda terhadap seni hadrah. Di tengah derasnya arus globalisasi, kami ingin anak-anak muda tidak hanya mengenal, namun juga menyintai dan meneruskan tradisi ini kepada generasi mendatang,” ujarnya di hadapan ratusan peserta.

Menurut Nurcahya, pemilihan lokasi di kawasan Mlangi yang dihuni oleh puluhan pondok pesantren ini memiliki akar historis yang kuat dalam perkembangan Islam di Kabupaten Sleman dan sekitarnya. Keberadaan komunitas santri yang masih menjaga tradisi menjadikannya representasi ideal bagi ajang pelestarian seni Islami, sekaligus meneguhkan peran pesantren sebagai benteng kebudayaan Islam Nusantara yang harus terus dijaga.

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falahiyyah Mlangi sekaligus Steering Committee, KH. Fahmi Basya menyampaikan kebanggaan mendalam atas kepercayaan yang diberikan kepada pesantrennya untuk menjadi tuan rumah festival bergengsi ini.

“Pesantren dan hadrah memiliki ikatan yang sangat erat, keduanya adalah bagian tak terpisahkan dari tradisi keislaman Nusantara. Mlangi sebagai kampung santri merasa terhormat dapat menjadi saksi sekaligus bagian dari upaya pelestarian seni hadrah yang penuh berkah ini,” ucapnya dengan penuh haru.

KH. Fahmi sangat bangga kepada anak-anak muda yang aktif dalam kegiatan hadrah karena memiliki akhlak yang lebih terjaga, memiliki lingkungan pergaulan yang positif serta wadah untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus memperdalam kecintaan kepada agama. Inilah nilai-nilai yang harus terus dijaga dan dikembangkan.

“Keberadaan seni hadrah bukan untuk menolak perkembangan zaman, melainkan untuk memberikan alternatif yang lebih bermakna. Selain menghibur tetapi juga mendidik demi mendekatkan diri kepada sang Pencipta,” tandasnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)