Sleman Gelontorkan Rp11,6 Miliar Bonus, Apresiasi Atlet Peraih Juara Umum PORDA dan PEPARDA DIY 2025

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman memberikan penghargaan berupa bonus apresiasi bagi para pelatih dan atlet berprestasi pada ajang Pekan Olahraga Daerah (PORDA) dan Pekan Paralimpik Daerah (PEPARDA) DIY tahun 2025.

Berlangsung di Pendopo Parasamya, apresiasi tersebut diserahkan secara simbolis oleh Bupati Sleman Harda Kiswaya, didampingi Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa, beserta jajaran Forkopimda Sleman, pada Senin (1/12).

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sleman, Heru Saptono, mengatakan pemberian penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi kepada para atlet berprestasi di ajang PORDA dan PEPARDA tahun 2025.

“Penghargaan ini juga sebagai motivasi kepada insan olahraga khususnya atlet dan insan olahraga di Kabupaten Sleman untuk pencapaian prestasi yang lebih baik,” jelasnya.

Diketahui, dalam ajang PORDA dan PEPARDA DIY tahun 2025, Kabupaten Sleman kembali berhasil menjadi juara umum. Kontingen Sleman meraih total 170 emas, 278 perak, dan 203 perunggu pada PORDA, serta 65 emas, 85 perak, dan 72 perunggu pada PEPARDA.

Atas prestasi tersebut, Pemkab Sleman menggelontorkan bonus melalui dana hibah dan alokasi anggaran sebesar Rp11,6 miliar. Rinciannya, sebesar Rp9,5 miliar dialokasikan untuk kontingen PORDA dan Rp2,1 miliar untuk kontingen NPC (National Paralympic Committee).

Sementara itu, Bupati Sleman Harda Kiswaya dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya atas hasil perjuangan dan prestasi atlet. Ia mengungkapkan Kabupaten Sleman tercatat empat kali berturut-turut menjadi juara umum dalam ajang tersebut.

“Saya yakin prestasi tersebut merupakan hasil jerih payah, kerja keras dan doa dari para atlet dan pelatih,” ujarnya.

Harda juga berharap prestasi tersebut dapat terus dipertahankan di waktu yang akan datang dengan melakukan evaluasi dan disiplin dalam latihan. Ia menegaskan, pemberian penghargaan ini merupakan bentuk perhatian dan perwujudan apresiasi Pemkab Sleman atas perjuangan dan prestasi yang telah diraih.

“Saya berharap tali asih ini dapat memotivasi para atlet Sleman untuk berprestasi lebih baik lagi di waktu-waktu yang akan datang. Teruslah fokus dan berlatih dengan giat serta disiplin,” pungkas Harda.




Wakil Bupati Sleman Wisuda 474 Peserta Sekolah Lansia, Dorong Lansia Tetap Berdaya

Sleman – Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa mewisuda 474 peserta Sekolah Lansia di Prima SR Hotel & Convention, pada Senin (1/12). Danang didampingi oleh Ketua DPRD Sleman Y. Gustan Ganda, Kepala Perwakilan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) DIY Mohammad Iqbal Apriansyah, dan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Novita Krisnaeni.

Pada periode ini, jumlah wisudawan Sekolah Lansia terdiri dari 256 wisudawan Standar 1 (S1) dan 218 wisudawan Standar 2 (S2). Melihat tingginya jumlah wisudawan, Danang Maharsa menyampaikan apresiasi atas ketekunan seluruh peserta yang telah berhasil menyelesaikan seluruh kegiatan Sekolah Lansia.

“Sekolah Lansia menjadi wujud nyata bahwa proses belajar tidak mengenal usia. Bahwa di usia berapa pun, manusia tetap memiliki hak untuk berkembang, berdaya dan berkontribusi bagi keluarga serta masyarakat,” jelas Danang.

Danang menyambut baik sinergi antara BKKBN DIY dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman yang telah membangun Sekolah Lansia. Keberadaan Sekolah Lansia diharapkan dapat membawa lansia Sleman menjalani masa tua yang sehat, mandiri, aktif, produktif, dan bermartabat (SMART).

“Ke depan, Pemerintah Kabupaten Sleman berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan Sekolah Lansia, meningkatkan kualitas kurikulum serta memastikan keberlanjutan program. Kita ingin lebih banyak dusun, lebih banyak kalurahan, lebih banyak keluarga yang mendapatkan manfaat nyata dari program ini,” ujar Wakil Bupati Sleman.

Kepala Dinas P3AP2KB Sleman, Novita Krisnaeni, menerangkan bahwa pelaksanaan Sekolah Lansia merupakan pengembangan dari program Bina Keluarga Lansia (BKL). Program ini adalah pendidikan nonformal bagi lansia untuk mewujudkan Lansia yang SMART dalam Tujuh Dimensi Lansia Tangguh secara utuh, yang berguna bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan Negara.

Novita memaparkan bahwa Pemkab Sleman bersama Kemendukbangga DIY dan Indonesia Ramah Lansia pada tahun 2025 berhasil mencanangkan sebanyak 16 Sekolah Lansia, terdiri dari 7 Standar 1, 8 Standar 2, dan 1 Standar 3. “Ini terbanyak dibandingkan kabupaten/kota lain di D.I. Yogyakarta,” tambahnya.

Pembelajaran sekolah lansia dilaksanakan menggunakan kurikulum yang disesuaikan dalam delapan kali pertemuan. Para lansia tidak hanya hadir sebagai penerima manfaat, namun juga menjadi teladan bagi keluarga dan masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan, terus belajar, serta tetap berperan aktif meskipun berada pada usia lanjut.

Menanggapi prosesi wisuda ini, Kepala Perwakilan Kemendukbangga DIY, Mohammad Iqbal Apriansyah, mengaku bangga terhadap seluruh wisudawan Sekolah Lansia. Ia pun mendukung keberadaan Sekolah Lansia sebagai media untuk meningkatkan kesehatan dan kebahagiaan bagi lansia di Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Kami ucapkan selamat kepada bapak ibu yang telah selesai diwisuda pada hari ini. Mari kita wujudkan lansia di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Sleman agar bahagia, produktif, sehat, dan memberikan manfaat yang besar bagi lingkungannya,” jelasnya.




HUT Ke-54 KORPRI, Sekda Sleman Dorong ASN Tingkatkan Kapasitas dan Percepat Transformasi Digital

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman melaksanakan upacara dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-54 KORPRI di lapangan Pemda Sleman pada Senin (1/12). Upacara ini dihadiri oleh Bupati dan Wakil Bupati Sleman, jajaran Forkompimda Kabupaten Sleman, serta Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkab Sleman.

Bertindak selaku inspektur upacara, Sekretaris Daerah (Sekda) Sleman, Susmiarto, menyampaikan bahwa kini saatnya KORPRI memperkuat kapasitas diri, memperbaiki budaya kerja, dan mempercepat transformasi digital agar dapat menjawab ekspektasi publik. Ia menekankan bahwa seiring perkembangan zaman, masyarakat semakin cerdas, kritis, dan menuntut pelayanan publik yang cepat, transparan, mudah diakses, dan akuntabel.

“Kita tidak boleh terjebak pada rutinitas administratif yang kaku. Kita harus terus berinovasi, menciptakan terobosan, serta mempercepat penyelesaian berbagai persoalan pelayanan masyarakat,” ucapnya dalam amanat.

Lebih lanjut, Susmiarto menyampaikan bahwa peran KORPRI tidak hanya sekadar menjalankan administrasi pemerintahan. Lebih dari itu, KORPRI harus menjadi kekuatan pemersatu bangsa di tengah dinamika sosial, ekonomi, dan politik yang semakin kompleks. Ia menjabarkan cara untuk mewujudkan peran tersebut.

“Caranya dengan memberikan pelayanan yang adil tanpa diskriminasi, menetapkan kebijakan berdasarkan data dan kebutuhan masyarakat, serta menjunjung tinggi etika profesi dan sumpah jabatan,” katanya.

Peringatan HUT ke-54 KORPRI tahun 2025 ini mengusung tema “Bersatu, Berdaulat, Bersama KORPRI, Dalam Mewujudkan Indonesia Maju”. Susmiarto menyebut tema ini merupakan penegasan bahwa ASN memiliki peran luar biasa penting dalam menjaga persatuan bangsa, memperkuat kedaulatan negara, serta menghadirkan pelayanan yang semakin berkualitas demi terwujudnya Indonesia Maju.

“Persatuan menjadi landasan utama dalam menjalankan birokrasi yang bersih dan profesional, sedangkan kedaulatan menjadi simbol bahwa setiap kebijakan dan langkah pelayanan harus berorientasi pada kepentingan publik, bukan kepentingan pribadi, kelompok, apalagi politik,” tutup Susmiarto.




Donoharjo Salurkan Bantuan Pangan untuk 650 Penerima

Sleman – Penyaluran bantuan pangan untuk warga Kalurahan Donoharjo kembali dilakukan pada Selasa (2/12/2025). Sebanyak 650 penerima manfaat hadir memenuhi Aula Kalurahan untuk menerima bantuan berupa 20 kilogram beras dan 4 liter minyak goreng. Bantuan ini merupakan alokasi untuk bulan Oktober dan November tahun 2025 yang disalurkan sekaligus.

Kamituwa Donoharjo, Dani Prasetyo, menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari Paket Kebijakan Ekonomi dan Penyerapan Tenaga Kerja Pemerintah.

Dalam proses pengambilan bantuan, setiap calon penerima manfaat diwajibkan membawa undangan. Mereka yang mengambil sendiri harus menunjukkan KTP asli, sedangkan pengambilan yang diwakilkan memiliki ketentuan tersendiri. Jika diwakilkan oleh anggota keluarga dalam satu KK, harus membawa KTP wakil, fotokopi KTP penerima, dan KK. Apabila diwakilkan oleh orang di luar KK, wajib membawa KTP yang mewakili dan melampirkan fotokopi KTP penerima manfaat. Setiap penerima bantuan juga akan didokumentasikan melalui foto geotagging oleh petugas.

Dani menegaskan pentingnya mengambil bantuan tepat waktu. Bila dalam lima hari bantuan tidak diambil tanpa keterangan, maka penerima akan digantikan dengan Penerima Bantuan Pangan (PBP) lain. Penggantian dilakukan untuk warga yang telah meninggal, pindah domisili, tercatat ganda, tidak ditemukan alamatnya, berstatus ASN/TNI/Polri atau perangkat daerah, tergolong warga mampu, menolak bantuan, atau tidak mengambil bantuan sesuai batas waktu.

Penggantian dilakukan melalui data DTSEN Cadangan, dan jika tidak tersedia, dialihkan kepada calon PBP lain yang memenuhi kriteria, seperti lansia tunggal, perempuan kepala keluarga miskin, penyandang disabilitas, anggota keluarga satu KK dengan PBP yang meninggal, atau keluarga miskin yang belum pernah menerima bantuan.

Di tengah proses penyaluran, rasa syukur disampaikan oleh para penerima. Kun Maryatin, warga Padukuhan Gondang Lutung, tampak lega menerima bantuan karena kebutuhan rumah tangganya cukup berat. Ia tinggal bersama kakaknya yang mengalami gangguan mental dan tidak bekerja, sementara dirinya sehari-hari bekerja sebagai buruh di tempat pembuatan tahu bakso dengan upah yang tidak seberapa.

“Bantuan ini sangat membantu kami untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujar Wati, ibu rumah tangga dari Maron, yang juga menyampaikan hal serupa. Suaminya bekerja sebagai tukang bangunan dengan pekerjaan yang tidak menentu. Sementara anak laki-lakinya yang sebelumnya bekerja di sebuah pabrik harus berhenti akibat peristiwa kebakaran, dan saat ini ikut bekerja serabutan bersama ayahnya.

Dani berharap seluruh warga dapat memahami bahwa perbedaan jumlah penerima tahun ini disebabkan penggunaan data DTSEN yang dianggap lebih tepat sasaran. Ia meyakini bantuan pemerintah ke depan akan semakin fokus kepada warga yang benar-benar membutuhkan. (Endarwati/KIM Donoharjo)




Kajian AKRAB di Sleman Kupas Pesan QS Ar-Rum Ayat 41

Sleman — Kajian AKRAB (Aqidah Kokoh Relasi Aman, Batin Tenang) kembali digelar di Omah Katentreman, Ayam Goreng Kremes Sehati, Garongan, Kembang, Wonokerto, Turi, Sleman, pada Selasa (2/12/25). Puluhan jamaah ikhwan dari berbagai wilayah menghadiri kajian bertema “Ketika Bumi Mengeluh: Renungan Sunyi dari QS Ar-Rum 41” bersama pemateri Ade Wijaya.

Kajian ini mengajak peserta merenungi pesan QS Ar-Rum ayat 41, yang secara jelas menggambarkan kerusakan di darat dan laut sebagai akibat perbuatan manusia. Ade Wijaya menjelaskan bahwa ayat tersebut merefleksikan kondisi nyata di era modern, ketika bencana alam semakin sering terjadi. Menurutnya, kerusakan itu bukan sekadar gejala alam, melainkan akibat kesalahan sistemik yang lahir dari perilaku manusia.

“Bencana-bencana yang terjadi akhir-akhir ini adalah akibat ulah manusia sendiri. Ini tidak lepas dari sistem kapitalisme yang berpondasikan asas sekulerisme,” ujar Ade Wijaya.

Ia menilai bahwa sistem tersebut mendorong manusia bertindak hanya berdasarkan manfaat pribadi, sementara ukuran kebahagiaan direduksi menjadi pemuasan lahir dan batin semata.

Ia kemudian membandingkannya dengan nilai-nilai dalam sistem Islam. “Berbeda ketika yang dijalankan adalah sistem Islam. Fondasinya adalah akidah, setiap tindakan diukur dari halal atau haram, dan ukuran kebahagiaan tertinggi adalah mendapatkan rida Allah,” jelasnya. Menurutnya, perspektif inilah yang dapat mengembalikan manusia pada peran sebagai penjaga, bukan perusak bumi.

Perwakilan panitia, Nanda, mengatakan tema ini dipilih agar jamaah lebih peka terhadap tanda-tanda kerusakan alam yang kian tampak. “Ada suara lirih dari bumi yang jarang kita dengar,” ujarnya.

Ade Wijaya menutup kajian dengan dorongan agar jamaah menjadikan pesan ayat ini sebagai bahan refleksi dan perbaikan diri. “Semoga setiap langkah menuju majelis ilmu ini menjadi wujud kepulangan hati kita kepada-Nya,” tutupnya. (SBD/KIM Senyum Tempel)