Temu Perdana Pengurus PERCASI Sleman Satukan Misi Lanjutkan Estafet Prestasi Catur

Sleman — Pertemuan perdana pengurus Persatuan Catur Seluruh Indonesia (PERCASI) Kabupaten Sleman masa bakti 2025–2029 berlangsung di Sekolah Catur Mata Aksara, Jalan Kaliurang Km 14, Umbulmartani, Ngemplak, Sleman, pada Minggu (30/11/2025). Kegiatan ini dihadiri oleh dewan penasihat Eko Suhargono serta dewan penyantun Anton Yusufi, yang juga merupakan wasit nasional, beserta seluruh pengurus PERCASI Sleman.

Sekretaris PERCASI Kabupaten Sleman, Achmad Ridlo, menyampaikan bahwa pertemuan kali ini merupakan yang pertama bagi pengurus periode 2025–2029. Agenda pertemuan bertujuan untuk merekatkan silaturahmi antar pengurus sehingga terjalin kebersamaan dan kekeluargaan. Selain itu, pertemuan ini juga dalam rangka persiapan pelantikan pengurus PERCASI Kabupaten Sleman, yang rencananya akan diselenggarakan pada hari Minggu, 7 Desember 2025, di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman.

Ketua PERCASI Kabupaten Sleman, Nuradi Indrawijaya, menuturkan bahwa PERCASI Sleman mendapatkan sorotan luar biasa atas prestasi yang didapatkan dari tingkat lokal, nasional, bahkan internasional. Untuk melanjutkan tongkat estafet kepengurusan dari periode sebelumnya, diperlukan sebuah kepengurusan yang solid, komunikatif, dan kompak, sehingga pada perjalanan kedepan selama empat tahun dapat menjadi organisasi dengan visi dan misi yang sama.

“Kepengurusan kita harus mempunyai satu semangat yang sama dalam rangka membina, menguatkan, dan menumbuhkembangkan organisasi kita ini,” tutur Nuradi.

Ia melanjutkan, semangat tersebut nantinya akan menghantarkan organisasi dan atlet catur Sleman menjadi lebih baik dan lebih maju.

Terkait pembinaan atlet, Nuradi menyatakan pihaknya akan fokus memunculkan dan menggali potensi atlet yang ada di Kabupaten Sleman yang dinilai sangat besar dan potensial. Hal ini mengingat Kabupaten Sleman memiliki banyak SD negeri ataupun swasta dan SMP yang menjadi ranah kewenangan Kabupaten Sleman. “Karena untuk atlet tingkat sekolah SMA menjadi kewenangan DIY,” jelasnya.

“Sehingga kemudian potensi yang ada bisa kita munculkan, kita asah, kita kilapkan. Harapannya kita temukan atlet potensial yang masih terpendam di dalam sana yang masih banyak sekali,” pungkas Nuradi, seraya berharap perwakilan pengurus dari masing-masing kapanewon dapat menggali potensi di daerah masing-masing. (Kusnadi/KIM Berbah)




Forum TBM Sleman Gelar Rapat Rutin, Perkuat Sinergi dan Jaring Aspirasi Literasi Daerah

Sleman — Forum Taman Bacaan Masyarakat (Forum TBM) Kabupaten Sleman kembali melaksanakan rapat rutin dua bulanan yang dirangkaikan dengan kegiatan Arisan Buku serta sesi Jaring Aspirasi bersama para pemangku kebijakan daerah. Kegiatan ini berlangsung pada Minggu (30/11/2025) bertempat di Literasi Desa Tumbuh, Betakan, Sumberrahayu, Moyudan, Sleman.

Acara tersebut dihadiri oleh seluruh anggota Forum TBM dari berbagai Taman Bacaan Masyarakat di Kabupaten Sleman. Selain itu, turut hadir perwakilan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman, serta Dewan Pendidikan Kabupaten Sleman, yang memberikan ruang dialog terbuka terkait perkembangan dan kebutuhan gerakan literasi masyarakat.

Rapat dua bulanan ini membahas agenda strategis Forum TBM, mulai dari evaluasi kegiatan, pengelolaan program, hingga penguatan sinergi antar-TBM. Pada kesempatan yang sama, sesi Arisan Buku kembali digelar dan menjadi momen penting dalam memperkaya koleksi bahan bacaan TBM secara bergiliran.

Agenda Jaring Aspirasi juga menjadi sorotan utama, di mana pengurus dan anggota Forum TBM dapat menyampaikan tantangan, kebutuhan, serta masukan langsung kepada perwakilan dinas dan Dewan Pendidikan untuk peningkatan layanan dan pengembangan kegiatan literasi di Sleman.

Ketua Forum TBM Sleman, Imam Syaiful Wicaksono, menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang hadir dan terus mendukung keberlangsungan kegiatan Forum.

“Kami sangat berterima kasih atas dukungan semua pihak sehingga Forum TBM Sleman bisa konsisten menyelenggarakan rapat rutin dua bulanan dan berhasil menyelesaikan satu putaran Arisan Buku. Semoga kolaborasi ini terus berlanjut untuk memperkuat gerakan literasi di Kabupaten Sleman,” ujarnya.

Kegiatan ditutup dengan sesi ramah tamah antar peserta dan foto bersama. Forum TBM Sleman berharap semangat kebersamaan ini semakin menguatkan peran TBM sebagai ruang belajar masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan. (Imam Syaiful/KIM DSN Ngaglik)




HIPPI Sleman Perkenalkan Wisata Wadas Mili Lewat Senam Massal dan Lomba Mewarnai Layang-layang

Sleman — Masih dalam rangkaian kegiatan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Nasional yang telah diselenggarakan di The Rich Jogja Hotel pada 10-11 November lalu, DPC HIPPI Sleman menyelenggarakan senam massal dan lomba mewarnai layang-layang. Acara ini digelar di Desa Wisata Wadas Mili, Klaci 1, Margoluwih, Seyegan, Sleman pada Minggu (30/11/2025).

Kegiatan ini dihadiri oleh Ketua DPD HIPPI DIY Ariyanto, Ketua DPC HIPPI Sleman Sri Rahayu beserta pengurus, Panewu Anom Seyegan Ageng Wijaya, Kapolsek Seyegan, Danramil Seyegan, serta masyarakat umum.

Menurut Ketua DPC HIPPI Sleman, Sri Rahayu, tujuan penyelenggaraan acara ini adalah untuk meningkatkan peran HIPPI agar lebih bermanfaat bagi masyarakat. Pihaknya berkolaborasi dengan berbagai lembaga untuk mengembangkan objek wisata Wadas Mili agar lebih dikenal dan maju. Kegiatan ini diikuti sekitar orang peserta senam dari wilayah Margoluwih dan sekitarnya, 80 peserta lomba mewarnai layang-layang, dan 40 lapak UMKM dari warga setempat, UGM, sponsor, dan anggota HIPPI Sleman.

Acara ini merupakan kelanjutan dari program sosial HIPPI Sleman yang telah dilaksanakan di Masjid setempat pada Sabtu, 15 November 2025 lalu. Program tersebut berupa bakti sosial pemberian layanan kesehatan masyarakat secara gratis yang diikuti 400 peserta, serta penyaluran 150 paket sembako bagi warga yang membutuhkan, bekerja sama dengan Warung SS.

Dukuh Klaci 1 sekaligus pengelola desa wisata Wadas Mili, Muladi, mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada HIPPI Sleman yang telah menjadikan wilayahnya untuk kegiatan sosial. Ia juga berterima kasih karena HIPPI telah membantu warga dan mempromosikan desa wisata agro, tubing, outbound, dan camping ini. Wisata Wadas Mili dirintis sejak dua tahun lalu menggunakan tanah kas desa seluas meter dengan sistem sewa 3 juta per tahun. Pengelolaannya melibatkan dan memberdayakan seluruh elemen masyarakat, baik RT, RW, KWT, Jaga Warga, dan lainnya.

“Harapannya, kesejahteraan bisa dirasakan kembali oleh seluruh masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan Wadas Mili,” kata Muladi.

Agus Nuryanto, koordinator bidang kemitraan dan promosi DPC HIPPI Sleman, menyatakan penyelenggaraan lomba anak selalu diikuti banyak peserta dan efektif untuk ajang promosi serta edukasi. Dipilihnya media layang-layang merupakan alternatif kreatif dari bentuk konvensional pada umumnya, sebab layang-layang adalah salah satu permainan tradisional yang tetap disukai anak sampai saat ini. Mewarnai dengan tidak menambahi gambar menjadi salah satu tantangan kreatif agar keluar dari pola-pola mewarnai kebanyakan.

Kejuaraan diambil 6 pemenang untuk masing-masing kelompok A (TK) dan kelompok B (1-2 SD). Pemenang dinilai berdasarkan dua kriteria utama, yaitu kreativitas yang meliputi komposisi warna dan kerapian, serta artistik atau teknik yang menghasilkan warna unik baru. (Sulistiyono/KIM Seyegan)




GP Ansor DIY Perkuat Benteng Digital: Kader Dilatih Kuasai AI dan Tangkal Disinformasi

Sleman — Gerakan Pemuda (GP) Ansor se-DIY meliputi Pimpinan Cabang (PC) dari Sleman, Bantul, Kulon Progo, Gunung Kidul, dan Kota Yogyakarta mengikuti pelatihan strategis pengelolaan media dan penguatan Cyber Ansor. Kegiatan ini juga mencakup program upskilling berbasis Artificial Intelligence (AI) dan fokus pada penangkalan disinformasi holistik. Pelatihan ini digelar di Gedung Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia Perwakilan DIY pada Minggu (30/11/2025).

Sekretaris Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda Ansor DIY, Lilik Budi Hartanto, menegaskan bahwa penguasaan teknologi adalah manifestasi dari “Satu Komando” dalam konteks zaman baru. Menurutnya, kader Ansor hari ini harus memiliki kemampuan hibrida, yaitu tangguh secara fisik dan mental di dunia nyata, serta cerdas dan bijaksana di dunia maya.

“Gerakan pemuda memiliki peran strategis dalam mengawal kebijakan publik dan kebangsaan, yang kini sangat dipengaruhi oleh opini di media sosial,” ucap Lilik saat membuka acara.

Ia menambahkan, pelatihan ini bukan sekadar teknis pengelolaan media sosial, melainkan upaya membangun “imunitas kolektif” organisasi terhadap ancaman disinformasi yang dapat memecah belah umat dan bangsa. “Di era sekarang, hoax dan deepfake bukan lagi sekadar konten viral, tapi sudah menjadi senjata politik dan ideologi. Kalau kader Ansor tidak siap, kita bisa jadi korban sekaligus penyebar tanpa sadar,” ujarnya.

Pelatihan yang terselenggara atas kerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia ini merupakan respons strategis terhadap maraknya penyebaran disinformasi dan teknologi deepfake yang semakin mengancam stabilitas informasi. Materi mengenai tantangan dan strategi baru gerakan diberikan oleh Wahyudi Djafar, Wakil Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat GP Ansor sekaligus Sekretaris Badan Siber Ansor.

Wahyudi menjelaskan tentang ancaman proliferasi deepfake, propaganda, dan beragam tekniknya. Ia menekankan pentingnya literasi informasi dan literasi digital.

“Di dunia maya, informasi palsu bisa menyebar lebih cepat dari kebenaran. Deepfake bahkan mampu memanipulasi video dan audio tokoh-tokoh penting hingga tampak sangat meyakinkan,” ungkap Wahyudi.

Ia menegaskan, sebagai garda terdepan pemuda Nahdlatul Ulama, kader Ansor harus memiliki kapasitas untuk mendeteksi, menangkal, dan melawan hoaks serta disinformasi.

Materi pelatihan disusun komprehensif. Peserta dibekali keterampilan menggunakan berbagai tools verifikasi seperti reverse image search dan metadata analysis, serta diberi pemahaman tentang cara kerja AI dalam menciptakan konten sintetis. Peserta juga diajarkan strategi Counter-Narrative, yaitu melatih kader menyusun konten positif untuk melawan hoaks, bukan sekadar membantah.

Anggota DPD RI, Hilmy Muhammad, berharap pelatihan ini mampu melahirkan kader-kader yang tidak hanya melek teknologi, namun juga memiliki kemampuan memproduksi konten positif yang menyebarkan nilai-nilai moderasi beragama, kebangsaan, dan kemanusiaan.

Antusiasme peserta terlihat jelas, di mana mereka menyadari bahwa counter-narrative yang dibangun harus berbasis data dan dikemas dengan estetika visual yang kuat, kini dipermudah dengan bantuan AI. Selain aspek teknis, pelatihan ini juga menanamkan etika digital yang kuat. Kader didorong untuk tidak sekadar menjadi pasukan siber yang reaktif, melainkan menjadi “polisi moral” di internet yang mengedepankan tabayyun (klarifikasi) dan kesantunan.

“Dengan kemampuan pengelolaan media yang mumpuni, setiap kegiatan sosial kemasyarakatan yang dilakukan Ansor dapat teramplifikasi dengan baik, sehingga manfaatnya dapat dirasakan dan menginspirasi masyarakat luas,” tutup Hilmy. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Workshop Eco-Enzyme pada Sustaniverse 2025 Edukasi Pengelolaan Sampah dari Dapur

Sleman — Workshop pembuatan Eco-Enzyme oleh relawan Eco-Enzyme Nusantara (EEN) pada kegiatan Sustaniverse berlangsung di Gedung Inovasi dan Kreatif UGM, Depok, Sleman, Yogyakarta, pada hari Sabtu (29/11/2025). Workshop ini diikuti oleh pengunjung proyek Sustaniverse 2025 yang antusias.

Ketua Eco-Enzyme Nusantara (EEN) Provinsi DIY, Lusia Anggraeni, yang didampingi beberapa anggota EEN DIY, menjelaskan pentingnya pengelolaan sampah langsung dari sumbernya. Sumber sampah adalah dari rumah tangga, dan sumber utama sampah rumah tangga adalah dapur. Oleh karena itu, menjadi sangat penting melakukan pengelolaan sampah langsung dari sumbernya atau dari dapur.

Lusia menekankan, hal utama dalam pemilihan sampah adalah memisahkan sampah basah dan sampah kering. Sampah basah merupakan sampah organik yang bila tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan bau yang tidak sedap, mengganggu lingkungan dan kesehatan. Bila sampah organik terkonsentrasi tertumpuk pada gunungan sampah, ia akan mengeluarkan gas metan yang membantu terbentuknya emisi rumah kaca. Gas metan juga mudah terbakar pada kondisi tertentu dan bisa menimbulkan ledakan.

Penanganan sampah basah bisa langsung dikomposkan di tempat masing-masing. Berbagai macam metode pengomposan tersedia, mulai dari yang sederhana hingga yang memerlukan mesin dalam proses pembuatan.

“Namun, ada satu cara yang efektif untuk mengelola sampah organik, yaitu dengan membuatnya menjadi eco-enzyme,” ucap Lusia.

Eco-enzyme sendiri merupakan cairan serbaguna yang dibuat dari fermentasi sampah organik berupa kulit buah dan sayuran, dengan tambahan gula dan air selama tiga bulan. Cairan ini kaya akan mikrobabsik yang bermanfaat sebagai pembersih alami, pupuk tanaman, pembersih lantai, penangkal serangga, dan dapat membantu kualitas udara dan air.

“Karena manfaatnya begitu banyak, eco-enzyme disebut cairan sejuta manfaat,” tambahnya.

Bahan untuk membuat eco-enzyme adalah kulit buah yang bersih tidak busuk, gula (atau bisa memakai molase), dan air. Perbandingannya adalah 1 bagian gula atau molase, 3 bagian bahan organik, dan 10 bagian air sumur yang tidak mengandung kaporit. Ketiga bahan tersebut dicampur dan dimasukkan dalam wadah yang bisa tertutup rapat. Perlu diingat bahwa wadah tidak boleh dari beling atau besi.

“Fermentasi memakan waktu selama tiga bulan, dan wadah tidak boleh dibuka dan terpapar sinar matahari serta bau menyengat,” jelas Lusia. (Kusnadi/KIM Berbah)