Tim Penggerak PKK Caturtunggal Gaungkan Gerakan Pilah Sampah dari Keluarga

Sleman- Caturtunggal kembali menggelar pertemuan rutin bulanan TP PKK, pada Kamis (8/1/2026) di Ruang Karang Tumaritis, Kalurahan Caturtunggal. Kegiatan yang dimulai pukul WIB ini diikuti oleh 64 ibu PKK dari total 70 undangan yang hadir dengan penuh antusias.

Pertemuan dipimpin langsung oleh Ketua TP PKK Kalurahan Caturtunggal, Siti Juwariyah. Dalam sambutannya, Ketua TP PKK Kalurahan Caturtunggal menyampaikan ucapan selamat datang kepada pemateri dan seluruh tamu undangan.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Kepala Jawatan Kemakmuran Kapanewon Depok, Isti Fajaroh yang telah berkenan hadir sebagai narasumber.

“Seluruh kader PKK mari bersama melangkah lebih maju dan aktif dalam mendukung program-program yang berdampak langsung pada keluarga dan lingkungan,” ungkapnya.

Pada sesi inti, Isti Fajaroh selaku narasumber menyampaikan materi bertema “Keluarga Bersih dan Sehat dengan Pilah Sampah”.

Ia menegaskan bahwa keluarga sebagai unit terkecil masyarakat memiliki peran strategis dalam membentuk budaya hidup bersih dan sehat.

“Keluarga tidak hanya menjadi tempat pertama pembentukan karakter, tetapi juga pusat pembelajaran nilai-nilai fisik, mental, emosional, dan sosial bagi anak,” ungkap Isti.

Lebih lanjut, Isti menjelaskan bahwa kebiasaan memilah sampah dari rumah merupakan langkah awal dalam menjaga lingkungan.

“Selain sebagai wujud kepedulian terhadap bumi, pemilahan sampah mempermudah proses daur ulang dan memberikan nilai ekonomis yang lebih tinggi,” imbuhnya.

Hal ini sejalan dengan Surat Edaran Bupati Sleman Nomor 30 Tahun 2022 tentang Gerakan Pilah Sampah dari Rumah, serta Surat Edaran Panewu Depok Nomor 660/582 tanggal 4 Agustus 2023 tentang Gerakan Depok Memilah Sampah (Gedhe Lampah).

Melalui kegiatan ini, TP PKK Kalurahan Caturtunggal kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung 10 Program Pokok PKK, khususnya dalam upaya mewujudkan keluarga yang beriman, sehat, sejahtera, dan berakhlak mulia, sekaligus berperan aktif dalam pembangunan dan pelestarian lingkungan.

Pertemuan rutin ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran dan peran aktif kader PKK dalam menciptakan lingkungan keluarga yang bersih, sehat, dan berkelanjutan di Kalurahan Caturtunggal. (Oktaviana /KIM Depok)




Panewu Ngaglik Dampingi Panen Perdana KWT Puri Lestari, Dorong Ketahanan Pangan Keluarga

Sleman – Panewu Ngaglik, Wawan Widiantoro, pada Kamis (8/1/2026) berkesempatan mendampingi Kelompok Wanita Tani (KWT) Puri Lestari Padukuhan Prujakan, Kalurahan Sinduharjo, Kapanewon Ngaglik, dalam kegiatan panen perdana sayuran. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Dukuh Prujakan, Gede Aji, serta anggota KWT dan warga setempat.

Panen perdana ini menjadi penanda awal keberhasilan KWT Puri Lestari dalam mengelola lahan pertanian produktif berbasis rumah tangga. Berbagai jenis sayuran berhasil dipanen, antara lain kenikir, bayam, sawi, kangkung, terong, cabai (lombok), singkong, dan sejumlah tanaman pangan lain yang menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Dalam sambutannya, Panewu Ngaglik menyampaikan apresiasi atas kiprah dan semangat KWT Puri Lestari. Menurutnya, kegiatan menanam aneka sayuran pangan tersebut merupakan wujud nyata partisipasi perempuan dalam mendukung ketahanan pangan keluarga sekaligus upaya mengurangi pengeluaran rumah tangga.

“Saya sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan KWT Puri Lestari dengan menanam berbagai jenis sayuran pangan sehari-hari. Ini adalah bentuk nyata peran perempuan di Ngaglik dalam mewujudkan ketahanan pangan keluarga,” ujar Wawan.

Ia menambahkan, meskipun KWT Puri Lestari tergolong masih baru, produktivitas serta inovasi yang ditunjukkan patut menjadi contoh bagi kelompok wanita tani lainnya.

“Walaupun usianya belum lama, KWT ini sudah menunjukkan produktivitas dan inovasi yang baik, sehingga dapat menjadi inspirasi bagi KWT lain di Ngaglik,” imbuhnya.

Dalam kesempatan tersebut, Wawan juga meninjau aktivitas Karang Taruna Padukuhan Prujakan yang mengelola rumah magot. Pengelolaan magot ini dinilai sebagai langkah cerdas dalam mengurangi sampah organik rumah tangga sekaligus mendukung konsep pertanian berkelanjutan.

Wawan berharap, ke depan seluruh padukuhan di wilayah Kapanewon Ngaglik dapat membentuk dan mendorong keberadaan Kelompok Wanita Tani. Dengan demikian, program ketahanan pangan tidak hanya menjadi program pemerintah, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama kaum perempuan di tingkat padukuhan.

“Saya berharap semua padukuhan di Kapanewon Ngaglik dapat membentuk dan mendorong KWT, sehingga ketahanan pangan benar-benar menjadi gerakan oleh kaum perempuan,” pungkasnya.

Kegiatan panen perdana ini sekaligus memperkuat komitmen KWT Puri Lestari untuk terus berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat melalui pemanfaatan lahan produktif serta pengelolaan pangan yang mandiri dan berkelanjutan. (Andy Ahmad – KIM DSN NGAGLIK)




Ngobrol Siang UMKM, Ilham Agus Prasetyo Bahas Peran AI untuk Pengusaha Pemula

Sleman — Ilham Agus Prasetyo dari Maswira (Masyarakat Wirausaha Kabupaten Sleman) hadir sebagai narasumber dalam program Ngobrol Siang UMKM di RRI Pro 2 Caturtunggal, Depok, Kabupaten Sleman. Dalam dialog santai tersebut, Ilham mengajak pelaku UMKM memahami kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) secara rasional tanpa mitos, tanpa jargon berlebihan.

Ilham mengawali penjelasannya dengan meluruskan makna AI. Menurutnya, AI bukan mesin yang “berniat” atau “berperasaan”, melainkan sistem komputasi yang sangat cepat dan konsisten dalam mengolah data, mengenali pola, memahami bahasa, serta membuat prediksi. Kekuatan AI ada pada kecepatan dan ketepatan. Sementara batasnya tertelak pada pada nilai dan kesadaran yang tetap milik manusia.

“Gagasan AI telah dibahas sejak 1950-an, mengalami pasang surut, lalu melonjak tajam sejak 2010 seiring hadirnya internet, big data, dan komputasi awan. Di Indonesia, AI mulai terasa dekat dengan pelaku usaha sekitar 2018–2019 dan benar-benar booming sejak 2022–2023. Ketika teknologi ini menjadi mudah dipakai oleh orang awam, termasuk pemilik warung dan UMKM,” ungkapnya.

Lebih lanjut, fokus utama diskusi tertuju pada manfaat praktis AI bagi pengusaha pemula. AI diposisikan sebagai asisten super yang membantu efisiensi waktu melalui pembuatan konten promosi, perapian administrasi, hingga balasan chat dasar. Dalam pengambilan keputusan, AI membantu membaca tren pasar dan perilaku konsumen, sehingga keputusan bisnis tidak semata mengandalkan intuisi.

“Di sisi operasional, AI dapat dimanfaatkan untuk pencatatan keuangan sederhana, estimasi stok, dan perhitungan harga pokok. Banyak usaha kecil, tumbang bukan karena produk buruk, melainkan karena angka-angka tidak pernah dikelola dengan rapi. Untuk layanan pelanggan, AI memungkinkan respon cepat dan terstruktur, membuat pelanggan merasa diperhatikan tanpa membebani pemilik usaha,” ungkap Ilham.

Ia juga menguraikan jenis-jenis AI dengan “bahasa manusia”, di antaranya AI teks untuk menulis dan merangkum, AI gambar untuk desain promosi dan kemasan, AI suara untuk customer service, AI analitik untuk membaca data, dan AI otomasi untuk pekerjaan berulang.

“Semua itu, bukan untuk menggantikan manusia, melainkan memperbesar kemampuan manusia, terutama ketika modal, waktu, dan tim masih terbatas,” katanya.

Menutup sesi, Ilham menekankan catatan penting seperti nilai halal, kejujuran, kualitas produk, dan empati pada pelanggan tidak boleh diserahkan ke mesin. AI adalah alat kerja hari ini, bukan masa depan yang jauh.

Usaha kecil yang memakainya dengan benar akan bergerak lebih cepat, lebih rapi, dan tampak profesional sejak hari pertama. Arah tetap ditentukan oleh manusia, sedangkan AI hanya mempercepat langkahnya. (Ilham Agus/KIM Seyegan)




Sandranan Agung Wotgaleh Kembali Digelar, Tahun Ini Jatuh pada 8 Februari

Sleman – Sandranan Agung yang berlangsung di Masjid Sulthoni Wotgaleh, Sendangtirto, Berbah, merupakan tradisi budaya Jawa yang dilaksanakan pada bulan Ruwah (Sya’ban). Sandranan merupakan wujud rasa syukur dan doa bagi arwah leluhur, khususnya ditujukan kepada Pangeran Purbaya yang dimakamkan di Masjid Sulthoni Wotgaleh.

 Menurut ketentuan dari pihak Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sadranan diadakan setelah tanggal 15 Ruwah.

“Berdasarkan ketentuan tersebut, maka Sadranan Agung Wotgaleh tahun ini diadakan bertepatan hari Ahad Legi tanggal 8 Februari 2026,” jelas Pengageng Abdi Dalem (juru kunci) Makam Pangeran Purbaya, Mas Lurah Asrori, saat rapat persiapan Sadranan Agung Wotgaleh, pada Rabu (7/1/2026) di Aula Kalurahan Sendangtirrto, Berbah, Sleman.

Lurah Sendangtirrto, Amir Junawan pun menyambut baik kegiatan Sadranan Agung Wotgaleh yang memang merupakan acara budaya tahunan.

“Meskipun Masjid Wotgaleh berada di wilayah Kalurahan Sendangtirrto, namun acara tersebut diharapkan akan menjadi kegiatan budaya milik bersama satu Kapanewon Berbah,” katanya.

“Seperti kegiatan Sadranan Agung tahun yang lalu pemerintah Kalurahan akan mendukung rangkaian kegiata yang akan dilaksanakan. Harapnya dukungan dari dari kalurahan yang lain akan maksimal, sehingga Sadranan Agung Wotgaleh akan lebih baik lagi,” sambung Amir.

Ketua Panitia Sadranan Agung Wotgaleh, Dwi Sulistyo menyampaikan kegiatan tersebut memerlukan dukungan dan partisipasi berbagai pihak baik pemerintah, masyarakat, relawan, kesehatan dan pengamanan.

“Selanjutnya perlu kordinasi yang baik untuk terlaksananya acara tersebut. Masih akan ada pertemuan pemantapan kegiatan,” tutur Dwi.

Sementara, Dukuh Noyokerten, Sri Widarto sebagai pemangku wilayah Masjid Wotgaleh menyampaikan bahwa kegiatan Sadranan Agung Wotgaleh tahun ini memiliki beberapa rangkaian kegiatan.

“Mengawali rangkaian kegiatan pertama Semaan Al Qur’an pada hari Kamis, 5 Februari 2026 dimulai habis Subuh sampai Isyak oleh tiga orang hafidz Qur’an dibantu jamaah. Dilanjutkan dengan pengajian umum disampaikan oleh Ustaz Kyai H. Imam Syafi’i, dari Kotagede, dengan iringan Hadroh Nur Mutiin dari Sembung,” jelasnya.

“Pada hari kedua, Jumat malam tanggal 6 Januari 2026, dulkodiran atau manakib di area makam Pengeran Purboyo. Puncak acara kirab budaya mengusung gunungan diiringi Bregodo pada hari Ahad Legi tanggal 8Februari 2026. Diakhiri dengan pembagian isi gunungan,” sambung Sri Widarto. (Kusnadi KIM Berbah)




SAH Banyu Bening Sleman Dorong Kemandirian Air Lewat Teras Bermakna

Sleman – Program pemberdayaan masyarakat bertajuk “Teras Bermakna” diperkenalkan oleh Sri Wahyuningsih selaku pendiri Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman di hadapan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Palu, Sulawesi Tengah. Kegiatan itu berlangsung beberapa hari lalu, sebagai upaya untuk mendorong kemandirian air di tingkat masyarakat.

Seperti yang diterangkan Wahyuningsih di kediamannya Tempursari, Sleman, Rabu (7/1/2026), program tersebut menekankan pada pemanfaatan air hujan sebagai sumber air alternatif yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Menurutnya, pemaparan program Teras Bermakna disampaikan dalam forum dialog dan pembelajaran lintas daerah yang bertujuan membuka wawasan legislatif daerah terhadap praktik-praktik baik pengelolaan sumber daya air berbasis komunitas.

“Teras Bermakna diposisikan sebagai model pemberdayaan yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga edukatif dan partisipatif,” tandas Wahyuningsih.

Dirinya menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk membangun kesadaran masyarakat perihal pentingnya kedaulatan air, khususnya di wilayah yang rentan terhadap krisis air bersih akibat perubahan iklim dan degradasi lingkungan.

Melalui pendekatan berbasis rumah tangga dan komunitas, Teras Bermakna mendorong warga untuk mengelola air hujan secara mandiri mulai dari proses penangkapan, penyaringan, penyimpanan, hingga pemanfaatannya untuk kebutuhan sehari-hari.

“Pendekatan ini dinilai efektif karena dapat diterapkan secara bertahap sesuai dengan kapasitas sosial dan ekonomi masyarakat,” ucap Wahyuningsih.

Konsep yang ditawarkan disambut baik oleh Mutmainah Korona selaku anggota DPRD Kota Palu. Ia menilai program Teras Bermakna relevan dengan kondisi sejumlah wilayah di Palu yang masih menghadapi tantangan ketersediaan air bersih, terutama pada musim kemarau khususnya di wilayah Kecamatan Tawaeli dan Palu Utara.

Sebagai bagian dari implementasi program, SAH Banyu Bening melakukan pemasangan Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan (ISLAH) yang berlangsung sejak 27 Desember 2025 hingga 31 Januari 2026. Pemasangan dilakukan di tiga titik Kota Palu yaitu Kelurahan Pantoloan Boya, Kelurahan Lambara, dan Kelurahan Mamboro.

Hal tersebut sebagai upaya mendorong kemandirian air dan ketahanan lingkungan warga. Pemasangan ISLAH ini menjadi langkah konkret dalam mendukung konservasi air hujan di tingkat rumah tangga dan lingkungan permukiman.

“Air hujan memiliki pH netral dan, apabila dikelola dengan baik melalui sistem penampungan yang tepat, dapat dimanfaatkan sebagai sumber air sehat sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap air tanah,” jelas Wahyuningsih bersemangat.

Selain itu, ia menegaskan bahwa kemandirian air merupakan fondasi penting bagi ketahanan pangan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat. Ketergantungan berlebihan pada sistem air terpusat dinilai berisiko, terutama di daerah yang memiliki tantangan geografis dan iklim tertentu.

Lewat pengenalan Teras Bermakna ini, diharapkan lahir komitmen bersama untuk mendorong inovasi pengelolaan air berbasis masyarakat. Sekaligus menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam membangun kemandirian air yang berkelanjutan, inklusif, dan berpihak pada kebutuhan riil warga. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)