Pemerintah Kapanewon Depok Dorong Penanganan Terpadu Anak Putus Sekolah

Sleman – Pemerintah Kapanewon Depok menyelenggarakan rapat koordinasi penanganan anak putus sekolah di Kalurahan Maguwoharjo, pada Rabu (14/1/2026), di ruang rapat kalurahan setempat.

Panewu Depok, Djoko Muljanto menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam upaya penanganan anak putus sekolah. Ia menegaskan bahwa persoalan anak putus sekolah merupakan isu kompleks yang tidak dapat diselesaikan secara parsial.

Menurutnya, dibutuhkan kerja bersama antara pemerintah kapanewon, pemerintah kalurahan, satuan pendidikan, serta unsur sosial kemasyarakatan agar setiap anak tetap memperoleh hak dasar pendidikan secara berkelanjutan.

“Anak putus sekolah bukan hanya persoalan pendidikan, tetapi juga persoalan sosial dan keluarga. Oleh karena itu, penanganannya harus dilakukan secara terpadu, mulai dari pendataan yang akurat, pendampingan keluarga, hingga pengawalan agar anak dapat kembali mengakses pendidikan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa langkah awal yang krusial adalah penyamaan data di tingkat kalurahan. Data yang valid dan mutakhir akan menjadi dasar dalam merumuskan intervensi yang tepat, baik melalui jalur pendidikan formal, nonformal, maupun dukungan sosial lainnya.

Djoko juga mendorong agar setiap temuan di lapangan segera dilaporkan dan ditindaklanjuti melalui mekanisme koordinasi yang telah disepakati.

Selain penanganan, Djoko menaruh perhatian besar pada aspek pencegahan. Ia meminta seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan pemantauan rutin terhadap anak-anak yang berpotensi putus sekolah, khususnya yang berasal dari keluarga rentan secara ekonomi maupun sosial.

“Upaya pencegahan dini dinilai lebih efektif dibandingkan penanganan ketika anak sudah terlanjur meninggalkan sekolah,” ungkap Djoko.

Ia menegaskan peran strategis kalurahan sebagai garda terdepan. Kalurahan diharapkan mampu menjadi simpul koordinasi antara sekolah, keluarga, dan layanan sosial, sehingga setiap permasalahan dapat ditangani secara cepat dan tepat sasaran.

“Ke depan, saya berharap terbangun komitmen bersama yang kuat untuk menekan angka anak putus sekolah di wilayah Kapanewon Depok. Saya yakin bahwa pendidikan anak merupakan investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia dan masa depan Kabupaten Sleman,” tandasnya. (Athiful/KIM Depok)




Komisi B DPRD DIY Tinjau KDMP Banyuraden sebagai Bahan Penyusunan Raperda

Sleman – Kunjungan kerja dalam daerah yang dilakukan Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ke Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, pada Selasa (13/1/2026), menjadi langkah strategis dalam meninjau langsung potensi pengembangan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) sebagai penggerak ekonomi kerakyatan berbasis desa.

Kegiatan ini sekaligus menunjukkan komitmen legislatif daerah dalam memastikan kebijakan penguatan koperasi berjalan sesuai dengan kondisi riil di lapangan. Peninjauan lapangan tersebut difokuskan pada pemetaan potensi usaha koperasi yang dimiliki Kalurahan Banyuraden, mulai dari sektor perdagangan, jasa, hingga pengelolaan potensi lokal berbasis pemberdayaan masyarakat.

Ketua Komisi B DPRD DIY, Ardriana Wulandari menyampaikan bahwa Koperasi Desa Merah Putih Banyuraden memiliki peluang besar untuk berkembang apabila didukung dengan tata kelola yang profesional, manajemen yang transparan, serta akses permodalan yang memadai. Menurutnya, koperasi desa harus mampu menjadi instrumen pemerataan ekonomi yang berpihak pada kesejahteraan anggota dan masyarakat sekitar.

“Melalui kunjungan ini, Komisi B DPRD DIY memperoleh gambaran utuh mengenai tantangan dan peluang pengembangan koperasi desa di wilayah pinggiran perkotaan,” tandas Ardriana.

Dalam dialog bersama pengurus Koperasi Desa Merah Putih, perangkat kalurahan, dan perwakilan anggota koperasi, sejumlah persoalan mengemuka, mulai dari keterbatasan permodalan, kapasitas manajerial, hingga akses pasar yang belum optimal. Aspirasi tersebut dicatat sebagai masukan strategis dalam perumusan kebijakan daerah yang lebih aplikatif.

Ardriana menegaskan bahwa penyusunan Raperda tentang koperasi dan penguatan ekonomi kerakyatan harus berbasis pada pengalaman lapangan. Oleh karena itu, kunjungan kerja ini menjadi sarana penting untuk mendengar langsung suara pelaku koperasi, sekaligus memahami kompleksitas tantangan yang mereka hadapi dalam menjalankan usaha.

Lebih lanjut, salah satu anggota Komisi B DPRD DIY, Listiana Lestari menyebutkan kunjungan kerja ini menjadi bagian dari fungsi pengawasan lembaganya terhadap implementasi kebijakan pengembangan koperasi dan usaha mikro kecil menengah (UMKM) di tingkat desa. Lewat peninjauan langsung maka anggota legislatif dapat memastikan bahwa program-program yang telah dirumuskan benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Sementara itu, Lurah Banyuraden, Sudarisman menyampaikan apresiasi atas perhatian DPRD DIY terhadap keberadaan Koperasi Desa Merah Putih di wilayahnya. Menurutnya, keterlibatan anggota dewan sangat dibutuhkan agar koperasi desa memperoleh kepastian hukum, dukungan program, serta ruang pengembangan usaha yang lebih luas.

Dengan menjaring aspirasi secara langsung, para legislator dapat memastikan bahwa Raperda yang disusun tidak hanya memenuhi aspek yuridis, namun juga memiliki keberterimaan sosial dan dampak ekonomi yang nyata.

Ketua Komisi B DPRD DIY, Ardriana berharap Koperasi Desa Merah Putih Banyuraden dapat menjadi contoh praktik baik pengelolaan koperasi desa yang berkelanjutan di Kabupaten Sleman.

“Keberhasilan koperasi ini diharapkan mampu direplikasi di kalurahan lain sebagai upaya memperkuat ekonomi berbasis komunitas,” pungkasnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




BS Bestari Dorong Gerakan Nyata Menuju Lingkungan Bebas Sampah

Sleman – Lingkungan bebas sampah adalah impian banyak orang. Sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan polisi udara, air, dan tanah, serta berdampak negatif pada kesehatan manusia dan lingkungan.

Sebagai langkah prefentif untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat, masyarakat Pucanganom, Sumberagung, Moyudan, berinisiatif membentuk kelompok pengelola sampah. Langkah tersebut mendapat respon yang baik, dari masyarakat dan Dukuh Pucanganom, Muhammad Syaifudin.

Maka pada tanggal 5 November 2018 ditetapkanlah Bank Sampah Bestari sebagai pengelola sampah, dengan Winarni sebagai ketuanya. Sejak terbentuknya Bank Sampah (BS), masyarakat setempat mulai aktif mengelola sampah dengan efektif dan ramah lingkungan melalui metode BESTARI (Bank Edukasi Sampah Terpadu Aktif Ramah lIngkungan).

Salah satu pengurus BS Bestari, Farmawati Ningsih mengungkapkan bahwa selain mengumpulkan Sampah, kelompok ini juga memberikan pelatihan kepada masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah yang baik dan ramah lingkungan.

“Kami berikan edukasi pemilihan sampah dari rumah tangga, sampah anorganik bisa dikumpulkan di BS. Sedangkan sampah organik dikelola sendiri dengan cara yang baik dan benar,” tutur Farmawati saat ditemui di rumahnya, Selasa (13/1/2026).

Farmawati mengungkapkan bahwa BS Bestari baru bisa menerima sampah anorganik seperti botol, kertas, plastik, dan sebagainya. Pengumpulan dari 30 nasabah yang ada di padukuhannya dilaksanakan pada hari Minggu setiap bulannya.

“Karena keterbatasan tenaga, dan waktu maka kami baru bisa mengumpulkan sampah satu bulan sekali,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua BS Bestari, Winarni mengungkapkan manfaat yang diperoleh atas dibentuknya BS Bestari. Adapun manfaatnya yaitu membantu terciptanya terwujudnya lingkungan yang bersih dan sehat dengan mengurangi sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.

Kedua, BS Bestari juga bermanfaat untuk menungkatkan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan dampah yang baik.

“Manfaat lainnya masyakat mendapat nilai ekonomi dari penjualan sampah anorganik tersebut,” kata Winarni.

Ia pun menambahkan bahwa visi BS Bestari ialah  mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat melalui pengelolaan sampah yang efektif dan ramah lingkungan.

“Sedangkan misi kami yaitu memberikan edukasi dan pelatihan kepada masyarakat tentang pengelolaan sampah yang baik dan ramah lingkungan,  serta menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat,” tandasnya.

(Giek / KIM Moyudan)




Posyandu Lansia dan Edukasi Kesehatan Sendi Dorong Warga Peduli Kualitas Hidup di Usia Senja

Sleman – Upaya memperkuat kualitas hidup warga lanjut usia terus digalakkan di tingkat komunitas. Seperti yang berlangsung pada Selasa (13/1/2026), ketika kader Bina Keluarga Lansia (BKL) RT 03 bersama para lansia setempat mengikuti kegiatan BKL Cemara Ngentak dengan agenda posyandu lansia dan penyuluhan kesehatan.

Kegiatan tersebut digelar di Sekretariat BKL Cemara RT 02, Padukuhan Ngentak, Kalurahan Pondokrejo, Kapanewon Tempel, Sleman. Meski berangkat dari lingkup lokal, model layanan yang menggabungkan pemeriksaan kesehatan, edukasi medis, dan penguatan peran komunitas ini mencerminkan praktik baik yang relevan diterapkan di berbagai daerah.

Materi utama disampaikan oleh salah satu dokter RS At Taurots Al Islamy, Badrul Munir Jauhari, yang mengulas dua persoalan sendi pada lansia, yakni osteoarthritis dan gout arthritis. Dalam paparannya, Badrul menekankan bahwa gangguan sendi bukan semata akibat penuaan, melainkan dapat dikelola melalui pola hidup sehat dan deteksi dini.

“Osteoarthritis terjadi akibat keausan sendi, sementara gout arthritis dipicu oleh penumpukan asam urat. Keduanya bisa dikendalikan jika masyarakat memahami gejala awal, menjaga berat badan, mengatur pola makan, dan tetap aktif sesuai kemampuan,” ujar Badrul di hadapan peserta.

Ia juga menyoroti pentingnya dukungan keluarga dan lingkungan sekitar dalam menjaga kemandirian lansia. Menurutnya, pendekatan promotif dan preventif di tingkat komunitas menjadi kunci untuk menekan risiko kecacatan dan mempertahankan kualitas hidup di usia lanjut.

Ketua BKL Cemara, Jamiatun Mufidah, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan wujud komitmen kader untuk menghadirkan layanan yang menyentuh kebutuhan nyata warga.

“Kami ingin para lansia merasa diperhatikan dan didampingi. Posyandu Lansia dan penyuluhan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan ruang belajar bersama agar warga tetap sehat, mandiri, dan produktif di usia senja,” tuturnya.

Ia menambahkan, kolaborasi dengan tenaga medis dari rumah sakit diharapkan dapat memperkaya wawasan masyarakat sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pencegahan penyakit sejak dini.

“Ketika warga memahami kondisi tubuhnya, mereka akan lebih siap menjaga kesehatan dan kualitas hidupnya,” imbuh Jamiatun.

Kegiatan berlangsung interaktif. Selain pemeriksaan kesehatan dasar, para lansia aktif berdialog dengan narasumber mengenai keluhan sendi yang kerap mengganggu aktivitas harian. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa edukasi kesehatan berbasis komunitas masih menjadi kebutuhan penting, terutama di tengah meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia secara nasional.

Melalui kegiatan sederhana namun konsisten, BKL Cemara di Padukuhan Ngentak memperlihatkan bahwa peningkatan kualitas hidup lansia tidak selalu harus dimulai dari program berskala besar. Dari ruang-ruang komunitas yang peduli dan kolaboratif, praktik baik dapat tumbuh dan menginspirasi daerah lain untuk membangun masyarakat yang lebih sehat, inklusif, dan berdaya. (SBD KIM SENYUM TEMPEL)




Warga Tempel Sleman Kembangkan Budidaya Lele Tanpa Bau

Sleman – Seorang peternak lele di Dusun Domban, Kalurahan Mororejo, Kapanewon Tempel, Sleman, berhasil mengembangkan sistem budidaya lele dengan air bersih dan minim bau. Menariknya, usaha ternak lele ini dilakukan tepat di depan teras rumah tanpa mengganggu lingkungan sekitar.

Peternak tersebut adalah Tri Supatno, yang memanfaatkan enam drum plastik sebagai media budidaya. Drum-drum tersebut berjajar rapi, masing-masing diisi sekitar 100 ekor lele. Sistem yang digunakan terbilang sederhana namun efektif, yakni dengan mengalirkan air bersih secara terus-menerus menggunakan pompa air akuarium berkapasitas kecil.

“Saya menggunakan pompa air akuarium berkapasitas kecil, hanya untuk mengalirkan air bersih dari atas ke dalam drum,” jelas Tri Supatno saat ditemui, Selasa (13/1/2026).

Air bersih dialirkan melalui pipa paralon yang diberi lubang-lubang kecil sehingga mengucur merata ke dalam drum. Sementara itu, air kotor dan sisa limbah yang mengendap di bagian bawah drum dialirkan keluar. Menurut Tri, sistem aliran air ini mampu menjaga kejernihan air dan menghilangkan bau tidak sedap yang biasanya muncul pada budidaya lele.

“Air diambil dari sumur, sedangkan limbahnya saya manfaatkan untuk menyiram kebun,” ujarnya sambil menunjukkan lele-lele yang tampak sehat dan lincah di dalam drum.

Bibit lele yang ditebar berukuran sekitar 4–6 sentimeter. Saat panen, lele dibersihkan secara mandiri dan dikemas dalam ukuran setengah kilogram per paket. Kemasan ini dinilai praktis dan diminati pedagang.

“Paket setengah kilo ini disukai pedagang. Ada yang dijual kembali, ada juga yang langsung digoreng oleh warung pecel lele kaki lima,” jelasnya.

Dalam pelatihan budidaya, Tri Supatno menargetkan nilai Food Conversion Ratio (FCR) sebesar 0,8. Artinya, setiap satu kilogram pertambahan bobot lele idealnya hanya membutuhkan 0,8 kilogram pakan.

“Kalau FCR satu pun, saya masih untung karena saya menjual sendiri hasil panennya. Selisih harga pakan dan harga jual lele masih menguntungkan,” katanya.

Selain memberikan nilai ekonomi, beternak lele juga menjadi aktivitas yang menyenangkan bagi Tri Supatno. “Bonusnya, selain jadi hiburan saat memberi pakan, kalau butuh lauk tinggal nyiduk,” ujarnya sambil tersenyum.

(Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)