Caturtunggal Lakukan Pemetaan Kemiskinan 2026 Berbasis Partisipasi dan Kolaborasi

Sleman – Pemerintah Kalurahan Caturtunggal menyelenggarakan kegiatan Pemetaan dan Analisis Kemiskinan Kalurahan Caturtunggal Tahun 2026, pada Rabu (28/1/2026) di Ruang Karang Tumaritis.

Kegiatan ini diikuti oleh 47 peserta yang terdiri dari para Dukuh dan Tim Penanggulangan Kemiskinan (TPK) padukuhan se-Kalurahan Caturtunggal. Acara tersebut bertujuan untuk memperkuat pemahaman bersama terkait kondisi kemiskinan di wilayah Caturtunggal.

Carik Caturtunggal, Aminudin Aziz menegaskan bahwa penanganan kemiskinan di Caturtunggal membutuhkan kolaborasi yang solid antara Pemerintah Kalurahan, Dukuh, dan TPK Padukuhan. Hal ini sejalan dengan tema pertemuan yang menekankan pemetaan dan analisis kemiskinan secara partisipatif.

“Setiap padukuhan di Caturtunggal memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Perbedaan ini bukan menjadi hambatan, melainkan keunikan yang harus dipahami agar penanganan kemiskinan dapat dilakukan secara tepat sasaran,” ungkapnya.

Materi pertama disampaikan oleh Kirwanto, yang memaparkan gambaran umum karakteristik wilayah Kalurahan Caturtunggal, data jumlah kepala keluarga dan jiwa, jumlah keluarga rentan miskin serta keluarga miskin berdasarkan hasil Musyawarah Kalurahan (Muskal) DTSen terakhir tahun 2025.

Selain itu, disampaikan pula berbagai program sosial yang telah dilaksanakan oleh Pemerintah Kalurahan Caturtunggal serta sejumlah pertanyaan yang kerap muncul dari masyarakat.

Selanjutnya, materi kedua disampaikan oleh Kabid Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial Kabupaten Sleman, Sarastomo Ari Saptoto, yang menjelaskan bahwa karakter wilayah Caturtunggal tidak dapat disamakan dengan kalurahan lain di Kabupaten Sleman.

“Secara sosial, Caturtunggal memiliki ciri wilayah perkotaan, namun secara administratif masih dikategorikan sebagai wilayah pedesaan, dengan masyarakat yang sangat heterogeny,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan Peraturan Daerah Kabupaten Sleman Nomor 5 tentang Penanggulangan Kemiskinan, termasuk berbagai program yang dapat dilaksanakan sebagai upaya penanganan kemiskinan, seperti KIP Kuliah, BPJS APBD, bantuan sosial, bantuan pangan, PKH, dan BPNT. Selain itu, dipaparkan pula data kemiskinan berdasarkan jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, status perkawinan, pekerjaan, disabilitas, serta penyakit kronis, termasuk isu kesenjangan sosial akibat dinamika pendatang di wilayah Caturtunggal.

Sesi tanya jawab menjadi ruang diskusi aktif antara peserta dan narasumber. Beberapa pertanyaan yang muncul antara lain terkait ketidaktepatan sasaran bantuan BLT Sosial serta dinamika pemutakhiran data kemiskinan yang masih memunculkan kembali data warga yang telah dicoret.

“Program BLT Sosial merupakan program Kementerian Sosial yang pada tahun 2025 masih menggunakan data tahun 2022, serta bantuan yang tidak diambil akan otomatis kembali ke kas negara. Terkait data, akan dilakukan pengecekan ulang bersama Pemerintah Kalurahan Caturtunggal,” kata Ari.  (Oktaviana/KIM Depok)




FORKOM UMKM Ngaglik Gandeng JogjaKita, Perkuat Pemasaran Digital Produk Lokal

Sleman – Upaya memperluas jaringan pemasaran dan meningkatkan daya saing pelaku usaha terus dilakukan oleh Forum Komunikasi UMKM (FORKOM UMKM) Ngaglik. Kali ini, FORKOM UMKM Ngaglik menggandeng JogjaKita, aplikasi pemasaran sekaligus marketplace lokal Yogyakarta, sebagai mitra strategis dalam pengembangan pemasaran digital.

Pertemuan dan sosialisasi kerja sama tersebut digelar di Pendopo Kapanewon Ngaglik pada Rabu (28/1/2026), dan diikuti oleh para pelaku UMKM, khususnya dari sektor usaha kuliner.

Kegiatan ini menjadi langkah konkret FORKOM UMKM Ngaglik dalam merespons perubahan pola konsumsi masyarakat yang semakin bergeser ke layanan digital dan berbasis aplikasi. Melalui kolaborasi ini, diharapkan UMKM Ngaglik mampu memperluas jangkauan pasar, meningkatkan volume transaksi, serta memperkuat eksistensi produk lokal di tengah persaingan dengan platform nasional.

Ketua FORKOM UMKM Ngaglik, Anifah Mei Khati, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pemasaran digital saat ini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan yang harus dijalani oleh setiap pelaku usaha.

“Pemasaran digital adalah keniscayaan. Pelaku usaha mau tidak mau harus belajar dan beradaptasi agar produknya tidak hanya dikenal di lingkungan sekitar, tetapi juga mampu menjangkau konsumen yang lebih luas,” ujar Anifah.

Ia menegaskan bahwa kerja sama dengan JogjaKita merupakan sebuah kehormatan sekaligus peluang besar bagi UMKM Ngaglik, mengingat aplikasi tersebut hadir dengan semangat keberpihakan terhadap ekonomi lokal.

“Kami bangga bisa bekerja sama dengan JogjaKita. Ini solusi pemasaran digital yang relevan bagi UMKM Ngaglik karena dibangun oleh anak bangsa dan berpihak pada pelaku usaha kecil,” lanjutnya.

Anifah juga menegaskan komitmen FORKOM UMKM Ngaglik untuk terus membuka akses, jejaring, dan peluang kolaborasi agar para pelaku usaha dapat naik kelas dan semakin mandiri secara ekonomi.

“Harapan kami, UMKM Ngaglik tidak hanya bertahan, tetapi terus berkembang. Dengan pemasaran digital yang tepat, usaha kecil bisa tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan,” imbuhnya.

Dalam kesempatan tersebut, Manager Marketing dan Partnership JogjaKita, Dina Fitri Astuti, memaparkan profil, visi, dan layanan yang dimiliki aplikasi JogjaKita. Ia menjelaskan bahwa JogjaKita merupakan platform digital yang dirancang untuk mendukung ekosistem ekonomi lokal Yogyakarta dan telah menjadi mitra Sibakul, program penguatan UMKM dari Dinas Koperasi dan UKM Provinsi DIY.

“JogjaKita adalah aplikasi yang dibangun oleh anak bangsa dengan semangat gotong royong. Kami hadir untuk ikut berkontribusi meningkatkan kesejahteraan masyarakat Yogyakarta,” jelas Dina.

Menurutnya, JogjaKita memiliki misi mendorong pertumbuhan industri pariwisata sekaligus menopang perkembangan usaha kecil, mikro, dan super mikro. Selain itu, aplikasi ini juga berperan dalam meningkatkan pendapatan daerah, mendorong transaksi non-tunai, serta membangun sinergi yang berkeadilan antara pelaku usaha, mitra pengemudi, dan konsumen.

Saat ini, JogjaKita mengembangkan berbagai layanan digital, antara lain JogjaRide dan JogjaCar untuk transportasi online, JogjaShop untuk pemasaran produk UMKM dan kuliner, serta JogjaSend untuk layanan pengiriman barang dan makanan. Tak hanya itu, JogjaKita juga menyediakan beragam metode pembayaran yang terintegrasi dalam satu aplikasi.

“Mulai dari pembayaran listrik, air, IndiHome, pembelian tiket pesawat dan kereta api, pulsa, paket data, game online, hingga pengisian saldo dompet digital seperti GoPay, OVO, DANA, dan lainnya, semuanya bisa diakses melalui smartphone,” paparnya.

“Kami ingin UMKM tidak sekadar hadir di aplikasi, tetapi juga bisa bercerita tentang produknya. Ini langkah nyata mendukung pertumbuhan ekonomi berbasis kreativitas lokal,” sambung Dina.

Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara JogjaKita dan FORKOM UMKM Ngaglik membawa manfaat tidak hanya bagi pelaku usaha, tetapi juga bagi masyarakat dan perekonomian daerah.

“Banyak aplikasi pesan makanan di Yogyakarta, namun JogjaKita menjadi alternatif terbaik karena ongkir gratis, banyak voucher, tarif lebih murah, lebih dekat dengan resto lokal, dan drivernya orang Jogja. Lebih cepat sekaligus mendukung ekonomi daerah,” pungkasnya.

Melalui sinergi ini, FORKOM UMKM Ngaglik berharap para pelaku usaha semakin siap menghadapi era digital, memperluas pasar, serta berkontribusi nyata dalam memperkuat ekonomi lokal berbasis kolaborasi dan gotong-royong. (Upik Wahyuni KIM Donoharjo Ngaglik)




Dari Padukuhan Ngentak, Laskar Sedekah Nyalakan Asa Kemanusiaan Lebih dari Satu Dekade

Sleman – Berangkat dari sebuah padukuhan sederhana di Kabupaten Sleman, tepatnya di Padukuhan Ngentak RT 3 RW 29, Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Seyegan, sebuah gerakan sosial tumbuh, mengakar, dan terus menyala hingga hari ini. Dari tempat inilah Laskar Sedekah, komunitas sosial independen, lahir dan mengabdikan diri sepenuhnya pada nilai kepedulian dan cinta kasih kepada sesama.

Laskar Sedekah resmi berdiri pada 30 Maret 2012, diprakarsai oleh Ma’ruf Fahrudin bersama enam orang pemuda. Dengan semangat kerelawanan, mereka mengibarkan “bendera” kemanusiaan melalui aksi nyata, khususnya membantu orang sakit dan anak yatim piatu non-panti yang kerap luput dari perhatian.

“Sejak awal kami ingin membantu dengan tindakan nyata, bukan sekadar wacana. Kami hadir untuk mereka yang sering tidak terlihat,” ujar Ma’ruf Fahrudin mengenang awal berdirinya Laskar Sedekah.

Seiring waktu, aktivitas Laskar Sedekah terus berkembang. Tidak hanya pendampingan sosial, para relawan juga sigap menangani home emergency, kecelakaan lalu lintas, pengantaran jenazah, hingga pengantaran pasien untuk keperluan check-up medis. Seluruh layanan dilakukan dengan satu prinsip utama hadir cepat dan tulus untuk masyarakat yang membutuhkan.

Khusus bagi anak yatim piatu non-panti, Laskar Sedekah tidak sekadar memberikan bantuan materi, tetapi juga memenuhi kebutuhan sekolah dan pangan dengan cara yang lebih manusiawi, yakni mengajak mereka berbelanja langsung ke toserba untuk memilih kebutuhannya sendiri.

Ditemui di Sekretariat Laskar Sedekah pada Rabu (28/1/2026), Ma’ruf menegaskan bahwa menjadi relawan bukanlah perkara ringan. Kerja tanpa bayaran, kesiapsiagaan selama 24 jam, serta tuntutan keikhlasan menjadi tantangan tersendiri.

“Kami selalu menekankan kepada relawan bahwa ini kerja kemanusiaan. Tidak dibayar, tapi penuh tanggung jawab. Karena itu yang paling penting adalah istiqomah,” tegasnya.

Dalam menjalankan misinya, Laskar Sedekah sepenuhnya bergantung pada sponsor dan donatur. Namun tidak jarang dana operasional tidak mencukupi. Dalam kondisi tersebut, para pengurus memilih menutup kekurangan dengan dana pribadi. Sikap ini sejalan dengan slogan mereka, “Jangan bayar kami, tapi doakanlah kami.”

Dengan tagline “Urip iku Urup (hidup itu harus menyala), Ma’ruf dan rekan-rekannya berkomitmen menjadikan hidup lebih bermakna dengan memberi manfaat bagi sesama.

Lebih dari satu dekade mengabdi, Laskar Sedekah kini telah memiliki 18 cabang yang tersebar di berbagai kota di Jawa maupun luar Jawa. Kiprah mereka bahkan mendapat perhatian nasional melalui liputan program televisi swasta seperti Kick Andy dan Hitam Putih.

Meski demikian, tantangan terbesar tetap berada pada pengelolaan sumber daya manusia. Menjaga semangat relawan agar tetap ikhlas dan konsisten membutuhkan motivasi berkelanjutan serta dukungan tim yang solid. Oleh karena itu, Laskar Sedekah terus membangun jejaring, baik dalam pendanaan operasional, penyaluran amanah sedekah, maupun penentuan sasaran bantuan sosial.

Menariknya, para sponsor tidak pernah menuntut laporan keuangan secara detail. Kendati demikian, Laskar Sedekah tetap menjaga transparansi dengan membagikan laporan kegiatan secara virtual melalui foto dan video di media sosial. Ma’ruf juga secara konsisten mengingatkan relawan untuk menjaga amanah dan nama baik organisasi.

Sejak awal berdiri, Laskar Sedekah tidak menggantungkan harapan besar pada bantuan pemerintah. Kemandirian menjadi prinsip utama. Bahkan dalam praktiknya, instansi pemerintah justru kerap meminta bantuan Laskar Sedekah, khususnya dalam layanan ambulans untuk berbagai kepentingan sosial. Tak jarang pula komunitas ini dipercaya menjadi narasumber kegiatan motivasi.

Tanpa janji muluk dan tanpa pamrih, Laskar Sedekah terus melangkah. Menyalakan hidup, satu aksi kemanusiaan pada satu waktu. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




KWT Lestari Gempol Perkuat Ketahanan Pangan di Tengah Tantangan Cuaca

Sleman – Kelompok Wanita Tani (KWT) Lestari Padukuhan Gempol terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat ketahanan pangan (Ketapang) di tengah kondisi cuaca yang kurang bersahabat. Hal tersebut diwujudkan melalui pengembangan aneka tanaman pangan yang disesuaikan dengan kondisi musim saat ini.

Upaya tersebut dibahas dalam pertemuan rutin KWT Lestari Gempol yang dilaksanakan pada Rabu (28/1/2026). Pertemuan ini dihadiri oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kapanewon Depok, Ari Indriyani, yang memberikan pendampingan serta arahan kepada para anggota KWT.

Dalam kesempatan tersebut, Ari Indriyani menyampaikan bahwa program ketahanan pangan perlu disesuaikan dengan kondisi iklim agar risiko gagal panen dapat diminimalkan. Ia menekankan pentingnya memilih jenis tanaman yang cocok dengan musim tanam saat ini.

“Melalui program Ketapang ini, diharapkan KWT Lestari dapat menanam tanaman yang sesuai dengan kondisi cuaca, sehingga hasil panen tetap optimal. Ibu-ibu juga harus tetap semangat untuk terus bertani guna meningkatkan ekonomi produktif keluarga,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua KWT Lestari Gempol, Sri Asmoroning, menjelaskan bahwa kondisi lahan pertanian di wilayah Gempol saat musim penghujan sering mengalami genangan air di area persawahan. Meski upaya perbaikan drainase telah dilakukan, hasilnya belum sepenuhnya maksimal.

“Oleh karena itu, kami memilih menanam jenis sayuran yang relatif mampu bertahan di musim penghujan, seperti kangkung,timun,tomat dan sebagainya. Untuk tanaman cabai, sementara waktu kami hindari karena berisiko mengalami busuk batang akibat tingginya curah hujan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Sri Asmoroning menambahkan bahwa dalam Program Ketahanan Pangan Kalurahan Condongcatur, KWT Lestari Gempol mengambil dua fokus kegiatan utama, yaitu budi daya jamur tiram dan penanaman berbagai jenis sayuran.

Melalui kegiatan ini, KWT Lestari Gempol berharap dapat berkontribusi nyata dalam mendukung ketahanan pangan keluarga sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi anggotanya secara berkelanjutan. (Tri Suhartati KIM Depok)




Rakor Pimpinan Kapanewon Ngaglik Tekankan Sinergi Lintas Sektor Hadapi Cuaca Ekstrem dan Isu Sosial

Sleman — Pemerintah Kapanewon Ngaglik menggelar Rapat Koordinasi Pimpinan (RAKORPIM) pada Rabu (28/1/2026), di Aula Kapanewon Ngaglik. Kegiatan ini menjadi forum strategis lintas sektor dalam menyikapi berbagai dinamika dan permasalahan di wilayah Ngaglik.

RAKORPIM dipimpin oleh Panewu Kapanewon Ngaglik, Wawan Widyantoro, dan dihadiri Kawat Keamanan Kapanewon Ngaglik, Wahyu Irawan, Kapolsek Ngaglik, AKP Yuliyanto, seluruh Lurah se-Kapanewon Ngaglik, Kepala Puskesmas Ngaglik, I dr. Novi Eka W.H., Kepala Puskesmas Ngaglik, II dr. Sri Mujianto, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Ngaglik, Handoyo, perwakilan Koramil Ngaglik, Kaur Dik UPT Pendidikan, serta pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Kapanewon Ngaglik.

Panewu Ngaglik, Wawan Widyantoro mengingatkan seluruh jajaran untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi curah hujan yang masih tinggi. Ia menekankan pentingnya konsentrasi dan perhatian serius terhadap kondisi drainase di masing-masing kalurahan guna mencegah terjadinya banjir dan genangan air.

“Koordinasi dan langkah antisipasi harus dilakukan bersama agar dampak cuaca ekstrem dapat diminimalisir,” ujarnya.

Kapolsek Ngaglik, AKP Yuliyanto dalam sambutannya menekankan pentingnya sinergitas dan kerja sama yang solid antara unsur kepolisian, pemerintah kapanewon, serta seluruh pemangku kepentingan. Menurutnya, kolaborasi yang baik merupakan kunci utama dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

“Dengan sinergi yang kuat, setiap permasalahan warga dapat ditangani secara cepat, tepat, dan humanis,” tegas Kapolsek Ngaglik.

Sementara itu, Lurah Sardonoharjo, Harjuno Wiwoho menyampaikan adanya kejadian banjir yang meluap hingga ke jalan akibat tidak tersedianya resapan air. Pihak kalurahan telah mengimbau masyarakat agar lebih memperhatikan aspek resapan air dalam setiap kegiatan perbaikan maupun pembangunan jalan di tingkat dusun.

Lurah Kalurahan Sariharjo, H. Sarbini menyampaikan komitmen pemerintah kalurahan untuk bekerja sama dengan Polsek Ngaglik dan Kawat Keamanan dalam menuntaskan permasalahan sampah visual. Upaya tersebut dilakukan bersama relawan sebagai bentuk kepedulian terhadap kebersihan dan keindahan lingkungan.

Di bidang keagamaan dan sosial, Kepala KUA Ngaglik, Handoyo menyampaikan bahwa angka perceraian pada tahun 2025 hingga 2026 mengalami penurunan.

“Hal ini merupakan hasil dari upaya mediasi yang dilakukan bersama Polsek Ngaglik, khususnya bagi keluarga muda yang menghadapi permasalahan rumah tangga,” ujarnya.

Melalui RAKORPIM ini, seluruh peserta sepakat bahwa rapat koordinasi bukan sekadar agenda rutin, namun harus menghasilkan solusi konkret, tindak lanjut yang jelas, serta membawa perubahan nyata terhadap berbagai permasalahan yang muncul di tengah masyarakat Kapanewon Ngaglik. (ESK – KIM DSN)