Pemkal Sardonoharjo Sediakan Ambulans Gratis, Wujud Nyata Misi Kemanusiaan untuk Warga

Sleman – Pemerintah Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, terus menunjukkan komitmen dalam pelayanan publik dengan menyediakan layanan ambulans gratis bagi masyarakat. Program ini menjadi langkah strategis untuk membantu warga yang membutuhkan akses transportasi medis secara cepat dan aman.

Pada Jumat (23/01/2026), layanan ambulans gratis tersebut dimanfaatkan untuk mengantar seorang warga melakukan kontrol kesehatan ke Rumah Sakit Dr. Sardjito, Yogyakarta. Proses pengantaran berjalan lancar berkat koordinasi cepat antara relawan dan pihak kalurahan.

Salah satu Relawan Destana, Didit sekaligus petugas siaga ambulans, menjelaskan bahwa dirinya menerima laporan dari masyarakat terkait kebutuhan pengantaran medis. Informasi tersebut kemudian segera dilaporkan kepada Lurah Sardonoharjo untuk mendapatkan persetujuan dan tindak lanjut.

“Setelah menerima informasi, saya langsung melapor ke Pak Lurah. Selanjutnya kami eksekusi pengantaran dan juga penjemputan warga dari rumah sakit. Program siaga ambulans ini memang menjadi salah satu program rutin yang kami jalankan,” ujar Didit.

Pasien yang diantar, Kuwadi, warga Plosorejo, mengaku sangat senang dan terbantu dengan pelayanan ambulans gratis yang diberikan oleh Pemerintah Kalurahan Sardonoharjo.

“Saya sangat senang dan berterima kasih atas pelayanan ini. Sangat membantu kami warga, terutama untuk kontrol ke rumah sakit,” ungkap Kuwadi.

Sementara itu, Lurah Sardonoharjo, Harjuno Wiwoho menegaskan bahwa layanan ambulans gratis merupakan bagian dari program kalurahan yang berorientasi pada misi kemanusiaan.

“Ini adalah program kalurahan sebagai bentuk pelayanan dan misi kemanusiaan. Kami ingin memastikan masyarakat mendapatkan akses layanan kesehatan tanpa terkendala transportasi,” tutur Harjuno.

Dengan adanya program ini, Pemerintah Kalurahan Sardonoharjo berharap dapat meringankan beban masyarakat, khususnya warga kurang mampu, sekaligus memperkuat sistem pelayanan kesehatan berbasis komunitas di tingkat desa. (ESK – KIM DSN)




FEB UGM Dalami Pengelolaan Air Hujan dari SAH Banyu Bening Sleman

Sleman – Pelatihan pengelolaan dan pemanfaatan air hujan yang diikuti 25 pegawai Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) berlangsung di Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening, Kabupaten Sleman, Kamis (22/1/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia kampus dalam mendukung pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Kepala Kantor Administrasi FEB Universitas Gadjah Mada, Nur Bakti Susilo mengatakan bahwa kegiatan ini diawali pihaknya dengan membuat sumur resapan yang merupakan bagian dari komitmen Fakultas Ekonomika dan Bisnis dalam mendukung upaya pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

Melalui pelatihan ini, Nur Bakti Susilo berharap para pegawai FEB UGM tidak hanya memperoleh pengetahuan teknis mengenai pengelolaan dan pemanfaatan air hujan. Namun juga menumbuhkan kesadaran dan kepedulian terhadap pentingnya perubahan perilaku dalam penggunaan sumber daya air.

“Kampus harus menjadi contoh dalam penerapan praktik-praktik ramah lingkungan yang berkelanjutan,” tandasnya.

Peserta pelatihan memperoleh penjelasan dari pendiri SAH Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih mengenai siklus hidrologi, teknik penangkapan air hujan, sistem penyaringan, hingga penyimpanan air yang memenuhi standar kesehatan. Materi tersebut disampaikan secara aplikatif agar dapat diterapkan di lingkungan kampus maupun rumah tangga masing-masing.

Selain aspek teknis, pelatihan juga mengangkat nilai-nilai edukatif dan perubahan perilaku. Peserta diajak melihat pengelolaan air hujan bukan semata sebagai solusi teknis, tetapi sebagai bagian dari gaya hidup sadar lingkungan yang perlu dikembangkan secara konsisten di lingkungan kerja kampus.

“Dengan meningkatnya pemahaman pegawai terhadap pengelolaan air hujan, diharapkan akan tumbuh kesadaran kolektif untuk mengurangi ketergantungan pada air tanah dan air perpipaan,” ujar Wahyuningsih.

Pengelolaan air hujan perlu dilakukan secara sadar yaitu menampung sesuai kebutuhan, menyaring dengan benar, menggunakan secukupnya, dan mengembalikan sisanya ke dalam tanah. Prinsip ini menjadi dasar pembelajaran bersama sebelum peserta memasuki pemahaman lanjutan mengenai konsep 5M (menampung, mengolah, minum, menabung, mandiri) dalam Sekolah Air Hujan.

Melalui pendekatan teoritis dan praktik langsung, peserta diajak memahami potensi air hujan dalam menjawab tantangan ketersediaan air bersih, khususnya di wilayah perkotaan dan kawasan dengan tekanan sumber daya air tanah.

Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat mendukung perumusan kebijakan internal kampus yang lebih responsif terhadap isu krisis air dan perubahan iklim. Sekaligus menegaskan komitmennya dalam mendukung pembangunan berkelanjutan melalui peningkatan kapasitas pegawai. Pengelolaan dan pemanfaatan air hujan diharapkan menjadi praktik nyata yang berkontribusi pada ketahanan air dan kelestarian lingkungan di masa depan. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Bupati Sleman Ajak Hidupkan Kembali Semangat Lumbung Pangan Mataram pada Panen Perdana Bawang Merah di Condongcatur

Sleman — Bupati Sleman, Harda Kiswaya, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kembali menghidupkan semangat Lumbung Pangan Mataram sebagai fondasi kemandirian dan ketahanan pangan daerah. Ajakan tersebut disampaikannya saat menghadiri Panen Perdana Bawang Merah di lahan Sugih Waras Farm, Padukuhan Tiyasan, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kamis (22/1/2026).

Kegiatan panen perdana ini dihadiri oleh jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Sleman, di antaranya Kepala BKAD Sleman, Dinas Pertanian, Kepala Dinas PMK Sleman, Panewu Depok beserta Forkompimcam, Lurah Condongcatur beserta pamong kalurahan, Ketua BPKal Condongcatur, Ketua KDMP Condongcatur, lembaga kalurahan, Kelompok Wanita Tani (KWT), serta perwakilan masyarakat setempat.

Sugih Waras Farm merupakan bagian dari inisiatif “Menghidupkan Kembali Lumbung Pangan Mataram”, yakni pemanfaatan tanah anggaduh yang dikelola secara mandiri sebagai bentuk tanggung jawab jabatan, pengabdian kepada masyarakat, sekaligus ikhtiar menjaga keberlanjutan pangan dan lingkungan. Lahan seluas kurang lebih 1,1 hektar ini merupakan Tanah Anggaduh atau Tanah Lungguh Carik Condongcatur yang kini dioptimalkan menjadi lahan pertanian produktif.

Dalam laporannya, Carik Condongcatur, Riska Dian Nur Lestari mengungkapkan bahwa sebelumnya lahan tersebut menghadapi tantangan berat karena kondisinya yang tidak produktif. Lokasinya yang berada di tepi sungai kerap disalahgunakan untuk pembuangan sampah sembarangan, sehingga menyebabkan pencemaran lingkungan dan penurunan kesuburan tanah secara drastis.

“Namun kami tidak menyerah. Melalui proses panjang, kami melakukan pembersihan total dan penyuburan kembali tanah dengan memaksimalkan pupuk organik serta perbaikan struktur tanah. Perjuangan ini merupakan investasi untuk lingkungan yang lebih sehat,” paparnya.

Ia menambahkan, manfaat dari pengelolaan lahan tersebut kini mulai dirasakan secara nyata. Selain mengoptimalkan aset kalurahan, Sugih Waras Farm mampu menjadi penyokong ekonomi bagi tenaga kerja lokal di Tiyasan serta membantu menjamin ketersediaan stok pangan segar bagi warga sekitar dengan rantai distribusi yang lebih pendek dan efisien.

Lebih lanjut, Riska menjelaskan bahwa bawang merah yang dipanen pada hari tersebut memiliki kualitas yang sangat memuaskan, dengan ukuran umbi rata-rata masuk kategori super dan minim serangan hama. Panen ini membuktikan bahwa wilayah Condongcatur, meskipun berada di kawasan yang semakin urban, tetap memiliki potensi pertanian yang besar apabila dikelola secara serius.

“Kami berharap dukungan pembinaan, bantuan teknologi pertanian modern, serta akses pasar yang lebih luas dari Pemerintah Kabupaten Sleman. Kami ingin lahan Tiyasan ini menjadi percontohan urban farming berkelanjutan di Sleman,” tutupnya.

Sementara itu, Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji, mengapresiasi hadirnya Sugih Waras Farm dan mendukung pemanfaatan tanah pelungguh sebagai lahan pertanian dalam rangka penguatan ketahanan pangan serta pemaknaan kembali nilai-nilai agraris berbasis kearifan lokal.

“Panen bawang merah ini memiliki makna simbolik sebagai keberhasilan menghidupkan kembali lahan tidur menjadi ruang produktif. Ini juga menjadi refleksi filosofi luhur Sri Sultan Agung Hanyokrokusumo, ‘Nandur opo sing dipangan, mangan opo sing ditandur’, yang menegaskan nilai kemandirian, ketekunan, dan keseimbangan kehidupan agraris,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa lahan tersebut dikembangkan dengan sistem tumpangsari yang memadukan tanaman tahunan dan semusim, seperti klengkeng, alpukat, tomat, kacang prol lokal, jagung, semangka, serta berbagai komoditas lainnya. Bawang merah dipilih sebagai sampel panen untuk menandai keberhasilan transformasi lahan marginal menjadi lahan pertanian yang produktif, terpadu, dan berkelanjutan.

Bupati Sleman, Harda Kiswaya menyampaikan rasa senangnya dapat membersamai masyarakat Tiyasan Condongcatur dalam panen perdana bawang merah di lahan pelungguh tersebut. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Sleman berkomitmen untuk terus mendampingi petani dalam memajukan sektor pertanian yang memiliki peran strategis dalam pembangunan daerah.

“Lumbung Pangan Mataram bukan sekadar tempat menyimpan hasil panen, tetapi simbol keberdayaan, kebersamaan, kemandirian, dan ketahanan wilayah dalam menghadapi berbagai tantangan global. Melalui panen bawang merah hari ini, saya percaya Sleman mampu berdaya sebagai sentra pangan dan memenuhi kebutuhannya sendiri,” ujarnya.

Bupati Sleman juga mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi muda, untuk bersama-sama menghidupkan kembali semangat Lumbung Pangan Mataram dengan memperkuat produksi lokal serta mengembangkan pertanian berbasis kearifan lokal yang adaptif terhadap teknologi.

“Saya berharap panen ini membawa keberkahan, meningkatkan kesejahteraan petani, serta memperkuat daya saing Sleman di bidang pangan. Inisiatif seperti ini diharapkan menjadi percontohan bagi wilayah lain dalam pemanfaatan lahan secara produktif dan mandiri,” pungkasnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan prosesi panen bawang merah secara simbolis oleh Bupati Sleman bersama jajaran OPD dan tamu undangan, serta peninjauan area Sugih Waras Farm yang ditanami berbagai komoditas dengan sistem tumpangsari. (Wasana / KIM Depok)




Batik Sri Huning Margodadi Teguh Jaga Identitas Lokal di Tengah Tantangan Pasar

Sleman – Batik Sri Huning Margodadi terus berjuang mempertahankan eksistensinya sebagai produk budaya sekaligus UMKM lokal dengan mengandalkan ciri khas wilayah. Di tengah gempuran batik printing dan selera pasar yang cenderung praktis, para pengrajin Batik Sri Huning memilih bertahan dengan identitas motif lokal sebagai kekuatan utama.

Batik yang berasal dari Kalurahan Margodadi ini telah melalui perjalanan panjang selama lebih dari dua dasawarsa. Batik ini awalnya dikenal dengan nama Batik Sekar Dadi, kemudian berubah menjadi Batik Sri Tanjung, hingga akhirnya menetap dengan nama Sri Huning. Pergantian nama tersebut menjadi bagian dari dinamika usaha sekaligus upaya mencari bentuk identitas yang paling merepresentasikan wilayah Margodadi.

Motif gunung-gunung, Tuk Si Bedug, dan tobong menjadi ciri khas Batik Sri Huning. Motif tersebut tidak hanya bernilai estetis, tetapi juga merepresentasikan lanskap alam dan aktivitas masyarakat setempat.

“Kami ingin batik ini kalau dilihat orang langsung ingat Margodadi, bukan sekadar kain bermotif,” ujar Koordinator Batik Sri Huning, Purnamawati yang ditemui di rumahnya yang dijadikan juga sebagai rumah produksi, Kamis (22/1/2026).

Titik balik perkembangan Batik Margodadi terjadi pada tahun 2024, saat Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman menyelenggarakan pelatihan batik yang didanai melalui Dana Keistimewaan (Danais). Sebanyak 20 pengrajin mengikuti pelatihan tersebut, yang menjadi momentum kebangkitan produksi dan semangat kolektif pengrajin.

“Pelatihan itu seperti memberi napas baru. Kami jadi lebih percaya diri, baik dari segi teknik maupun semangat untuk terus produksi,” kata Purnamawati.

Saat ditemui di rumahnya di Padukuhan Beran RT 3 RW 2, Kalurahan Margodadi, Purnamawati menjelaskan bahwa proses produksi batik dilakukan berdasarkan pesanan. Meski demikian, para pengrajin tetap mengadakan pertemuan rutin setiap Rabu untuk menjaga koordinasi dan keberlanjutan kelompok.

Produk Batik Sri Huning saat ini dapat dijumpai di outlet Dekranasda dan Rumah Jadah Tempe di Jalan Kaliurang. Pada tahun 2025, Batik Sri Huning melalui Asosiasi Pengrajin Batik Sleman “Mukti Manunggal” mendapat kepercayaan dari Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Sleman untuk memproduksi 81 potong seragam kantor.

Namun demikian, persoalan pemasaran masih menjadi tantangan utama. Batik tulis buatan rumahan kerap dinilai mahal oleh konsumen karena sering dibandingkan dengan batik printing.

“Masyarakat sering melihat harga dulu tanpa tahu prosesnya. Batik tulis itu dikerjakan berhari-hari, bukan dicetak mesin,” tutur Purnamawati.

Kondisi tersebut juga membuat Batik Sri Huning kini menggunakan pewarna alami hanya jika ada pesanan khusus. Sementara produksi reguler memakai pewarna sintetis. Meski bahan pewarna alami lebih murah, waktu pengerjaan yang lebih lama membuat biaya jasa pengrajin meningkat sehingga harga jual pun menjadi lebih tinggi.

Pada masa awal, Batik Sekar Dadi justru dikenal sebagai batik dengan pewarna alami. Bahan pewarna yang digunakan berasal dari jolawe, kayu mahoni, dan daun jati, dengan tawas dan kapur sebagai pengunci warna. Namun rendahnya permintaan pasar membuat para pengrajin harus beradaptasi.

“Kalau pewarna alami tidak ada yang pesan, ya tidak bisa diproduksi terus. Kami harus menyesuaikan supaya usaha tetap jalan,” ungkapnya.

Sebagai bagian dari upaya memperluas jangkauan pasar, Batik Sri Huning aktif mengikuti berbagai pameran UMKM, mulai dari gebyar UMKM tingkat kalurahan, bazar tingkat kapanewon, hingga pameran tingkat kabupaten seperti di Teras Dekranasda dan Sleman City Hall (SCH).

“Walaupun yang terjual tidak banyak, ikut pameran itu penting. Paling tidak masyarakat tahu bahwa Batik Margodadi masih ada dan masih berjuang,” pungkas Purnamawati. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Kalurahan Caturtunggal Gandeng Dukcapil Sleman Sosialisasikan Pelayanan Kependudukan dan Aktivasi IKD

Sleman — Kalurahan Caturtunggal menggelar kegiatan Sosialisasi Informasi Persyaratan Pelayanan Administrasi Kependudukan (Adminduk), pada Kamis (22/1/2026) di Ruang Karang Tumaritis, Kalurahan Caturtunggal.

Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Seksi Identitas Penduduk Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kabupaten Sleman, Kepala Jawatan Umum Kapanewon Depok, Kaur Tata Laksana Kalurahan Caturtunggal, Dukuh se-Kalurahan Caturtunggal, dan kader administrasi kependudukan (adminduk).

Sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang menyeluruh terkait persyaratan dan prosedur pelayanan administrasi kependudukan, sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat di tingkat kalurahan.

Dalam pemaparannya, Kasi Identitas Penduduk Dukcapil Kabupaten Sleman, Sriyanti Istipurnani menegaskan bahwa pelayanan administrasi kependudukan harus dilakukan berdasarkan data yang benar dan sesuai ketentuan.

“Setiap warga negara berhak mendapatkan dokumen kependudukan yang lengkap dan sah. Oleh karena itu, seluruh proses pelayanan adminduk harus berpedoman pada data yang valid dan tidak diperkenankan adanya manipulasi data,” ujar Isti.

Ia juga menekankan pentingnya peran dukuh dan kader adminduk sebagai ujung tombak pelayanan di wilayah, khususnya memberikan edukasi kepada masyarakat terkait persyaratan pengurusan dokumen kependudukan.

Sementara itu, Kepala Jawatan Umum Kapanewon Depok, Benyamin Dalung menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini.

“Kegiatan ini sangat penting untuk menyamakan pemahaman antara Dukcapil, kalurahan, dukuh, dan kader adminduk. Sehingga pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan lebih tertib, cepat, dan akuntabel,” ungkapnya.

Materi sosialisasi meliputi persyaratan layanan KTP-el, Kartu Keluarga, Kartu Identitas Anak (KIA), pindah datang penduduk, pisah Kartu Keluarga, perubahan data pekerjaan, pembuatan SKCK, serta pencatatan peristiwa penting seperti kelahiran, kematian, dan perkawinan.

Selain itu, Dukcapil Kabupaten Sleman juga menyediakan pelayanan khusus bagi kelompok rentan seperti penyandang disabilitas, ODGJ, dan lanjut usia.

Selama kegiatan sosialisasi, petugas Dinas Dukcapil Kabupaten Sleman juga membuka layanan aktivasi Identitas Kependudukan Digital (IKD). Layanan ini dimanfaatkan oleh masyarakat untuk melakukan aktivasi IKD sebagai upaya mendukung transformasi digital dalam pelayanan administrasi kependudukan.

Melalui kegiatan sosialisasi ini diharapkan koordinasi antara Dinas Dukcapil, kapanewon, kalurahan, dukuh dan kader adminduk dapat semakin kuat. Sehingga pelayanan administrasi kependudukan kepada masyarakat dapat berjalan lancar. (Oktaviana/KIM Depok)