Rahasia Santri Kalimasada Semangat Belajar: Gigi Sehat, Ibadah Kuat!

Sleman – Madrasah Diniyah Takmiliyah Kalimasada menggelar kegiatan pemeriksaan kesehatan gigi secara gratis bagi puluhan santri, pada Rabu (22/1/2026). Sebanyak delapan puluh santri terlihat sangat antusias mengikuti rangkaian pemeriksaan medis yang dilakukan oleh para calon dokter gigi.

Kegiatan yang berlangsung di lingkungan madrasah tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran seluruh santri akan pentingnya menjaga kebersihan mulut. Para pengajar menyambut baik inisiatif ini karena memberikan dampak positif bagi kesehatan fisik sekaligus menambah semangat belajar anak.

Kepala Madrasah Kalimasada, Saviera Ajeng F.N, menyatakan bahwa ia ingin suasana belajar di madrasah menjadi lebih variatif. Ajeng pun berharap agar kegiatan di madrasah tidak monoton mengaji saja, tetapi diisi juga kegiatan menarik yang membangkitkan semangat.

“Kami sangat menginginkan agar para santri merasa senang saat berada di madrasah dengan adanya berbagai program edukasi kesehatan,” ujarnya.

Ajeng menambahkan bahwa pemeriksaan gigi ini adalah salah satu cara untuk membuat santri merasa lebih nyaman selama menuntut ilmu.

Sementara, salah satu pengajar Madrasah Kalimasada, Fatihul Abyan menyampaikan bahwa agenda ini diharapkan bisa memberikan edukasi kepada santri menjaga kebersihan gigi.

“Kesehatan gigi yang baik akan mendukung aktivitas ibadah serta proses belajar mengajar santri setiap harinya,” tandas Fatihul.

Pihak panitia penyelenggara bekerja sama dengan mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada untuk memberikan pelayanan medis secara profesional. Para mahasiswa tersebut memberikan penjelasan mendalam mengenai teknik menyikat gigi yang benar kepada anak-anak usia sekolah dasar tersebut.

Salah satu mahasiswa FKG UGM, Clarisa menjelaskan bahwa program ini merupakan sebuah hubungan timbal balik yang sangat menguntungkan kedua belah pihak. Kegiatan tersebut adalah upaya kegiatan sosial dari mahasiswa untuk terjun ke masyarakat terutama bagi santri usia dini di wilayah.

“Kami merasa sangat bahagia dapat berbagi ilmu kesehatan gigi secara langsung kepada anak-anak yang menjadi generasi penerus bangsa,” ungkapnya.

Iaberharap agar pemeriksaan rutin seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkala di berbagai lembaga pendidikan agama.

Seluruh santri yang hadir mengikuti prosedur pemeriksaan dengan tertib sambil mendengarkan penjelasan dari tim medis yang bertugas saat itu. Mereka juga diberikan motivasi agar tidak merasa takut untuk berkunjung ke dokter gigi demi menjaga kesehatan mulut mereka.

Kehadiran tim medis dari Universitas Gadjah Mada memberikan suasana baru yang menyegarkan bagi rutinitas harian di Madrasah Diniyah Kalimasada. Program ini membuktikan bahwa sinergi antara akademisi dan lembaga pendidikan agama dapat menciptakan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.

Para orang tua santri yang mendampingi anak-anak mereka juga menyatakan rasa terima kasih atas terselenggaranya program pemeriksaan gigi gratis tersebut. Mereka berharap agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan kembali di masa mendatang untuk memantau perkembangan kesehatan gigi anak secara rutin.

Acara ditutup dengan sesi foto bersama antara para santri, pengajar, serta tim medis sebagai kenang-kenangan atas suksesnya kegiatan. Semangat kolaborasi ini menjadi bukti nyata bahwa kepedulian terhadap kesehatan anak merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. (Ajeng KIM DSN)




Teater Singa Jazirah, Potret Kecil Negeri yang Riuh

Sleman – Merayakan 40 tahun Program Studi S1 Teater ISl Yogyakarta, Teater KQ menyelenggarakan pementasan teater berjudul Singa Jazirah karya Sutradara Purwanto atau lebih dikenal dengan nama Lephen Purwaraharja yang juga merupakan anggota PASBUJA Kawi berlangsung di Gelanggang Teater Eska UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu (21/1/2026).

Lephen Purwaraharja yang merupakan pengajar, periset dan pengabdi di Prodi S1 Teater Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta, menyampaikan bahwa pementasan tidak hanya mengangkat cerita. Tetapi juga berfungsi sebagai liturgi sosial, sebuah ritual kolektif dan berfungsi sebagai ruang sakral untuk merenungkan serta memperbaiki hubungan antara manusia dengan alam dan hal yang transendental.

Teater profetik adalah sebuah praktek seni yang membawa misi kenabian. Dengan melakukan transformasi sosial berdasarkan nilai-nilai ketuhanan yang diresmikan melalui tiga pilar yaitu humanisasi, literasi dan transendensi.

“Pesan dan kerja bermedia teater harus dilandasi oleh niat ibadah amar makruf nahi mungkar, serta ideologi profetik,” katanya.

Modal sebagai sarana dakwah berupa finansial, fasilitas, jaringan yang diperlukan untuk menciptakan ruang dan alat bagi pesan profetik untuk disampaikan kepada khalayak. Teater diniatkan untuk ibadah serta menularkan nilai-nilai transendental yang dibungkus idiom dan semiotik serta tanda tanda teater.

Panggung sebagai lantai suci atau altar peribadatan yang dapat menjadi ruang ekologis spritual guna menyucikan hal hal profan.

“Setiap elemen pementasan (cerita. gerak dan simbol) dapat diniatkan sebagai bentuk penghambaan dan upaya mendekatkan diri pada Tuhan,” ujar Lephen.

Ketidakadilan sosial yang bertentangan dengan kehendak Ilahi atau eksploitasi alah adalah bentuk pengkhianatan terhadap tanggung jawab manusia sebagai khalifah.

“Misi transendensi teater profetik secara aktif menularkan nilai transendental dengan mengikat isu isu yang mengingatkan penonton pada hakikat spiritual mereka,” pungkas Lephen.

Menurut Afandi salah satu penonton pertunjukan teater Singa Jazirah yang merupakan pemerhati desa wisata Kembang Arum, Kapanewon Turi, Sleman, seusai pertunjukan menyampaikan bahwa pertunjukan teater tersebut adalah penampilan kreatifitas anak muda yang tidak terbatas tanpa belenggu apapun. Hal itu menunjukkan sebuah proses pengabdian anak muda kepada negara.

“Sebuah upaya anak muda sedang berproses, belajar di tempat tak terbatas, ilmu tak terbatas, semangat tak terbatas,” ucap Afandi.

Dari pertunjukan yang berdurasi sekitar satu jam menampilkan kritik kepada tatanan sosial masyarakat yang besar, yang terjadi di suatu pemerintahan.

 “Pesan yang dapat diambil dari pertunjukan Singa Jazirah adalah dalam suatu pemerintah pastilah terjadi penyimpangan-penyimpangan maka dibutuhkan seorang pemimpin yang yang tegas dan konsekuen,” ujarnya. (Kusnadi KIM Berbah)




Artificial Intelligence dalam Konten Digital: Antara Inovasi dan Tantangan Kreativitas

Sleman – Workshop kebijakan standarisasi konten yang mengangkat tema “Artificial Intelligence: Sahabat atau Musuh Kreativitas?” dinilai penting sebagai upaya strategis pemerintah dalam merespons perkembangan teknologi kecerdasan buatan yang kian masif di ruang publik. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media di Auditorium Sekolah Tinggi Multi Media (STMM) “MMTC” Yogyakarta, Rabu (21/1/2026).

Forum yang dipandu oleh Yosh Aditya tersebut diikuti oleh berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pengelola media, kreator konten, akademisi, praktisi komunikasi publik, hingga kelompok informasi masyarakat. Forum ini menjadi ruang dialog untuk mempertemukan perspektif kebijakan pemerintah dengan dinamika praktik produksi konten digital yang semakin dipengaruhi oleh pemanfaatan teknologi artificial intelligence (AI).

Direktur Informasi Publik Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komdigi Republik Indonesia, Nursodik Gunarjo dalam sambutannya menegaskan bahwa kehadiran AI tidak dapat dihindari dan harus disikapi secara bijak. Pemerintah berkepentingan memastikan bahwa pemanfaatan AI dalam produksi konten tetap berada dalam koridor etika, hukum, dan nilai-nilai kebangsaan, tanpa mematikan kreativitas manusia sebagai inti dari komunikasi publik.

“Teknologi itu tidak pernah netral, ia selalu mengikuti nilai orang yang menggunakannya,” ujar Nursodik.

Menurutnya, hal ini penting untuk direnungkan bersama terutama saat ini ketika artificial intelligence hadir begitu dekat dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat harus mewaspadai sisi negatifnya, sekaligus mengambil sisi positifnya.

Standarisasi konten menjadi krusial untuk mencegah penyalahgunaan teknologi AI, seperti manipulasi informasi, disinformasi, dan degradasi kualitas konten. Melalui kebijakan yang jelas, pemerintah berharap ekosistem digital nasional dapat tumbuh secara sehat, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kepentingan publik.

Sementara itu, dalam sesi pemaparan materi, Ketua Program Studi Manajemen Produksi Berita Sekolah Tinggi Multi Media “MMTC” Yogyakarta, Diyah Ayu Karunianingsih selaku narasumber mengulas secara komprehensif peran AI sebagai alat bantu kreatif yang mampu meningkatkan efisiensi produksi konten, mulai dari penulisan, desain visual, hingga analisis audiens.

“Namun demikian, AI juga berpotensi menjadi ancaman apabila digunakan tanpa pengawasan, terutama ketika menggantikan proses berpikir kritis dan orisinalitas kreator,” lanjutnya.

Diskusi juga menyoroti pentingnya literasi digital bagi para pelaku industri kreatif dan komunikasi publik. Pemahaman yang memadai tentang cara kerja AI, keterbatasannya, serta implikasi etisnya dinilai sebagai prasyarat utama agar teknologi tersebut benar-benar menjadi sahabat kreativitas, bukan sebaliknya.

Kegiatan ini juga membuka ruang diskusi interaktif, di mana peserta menyampaikan pandangan, tantangan, serta praktik terbaik dalam penggunaan AI di masing-masing sektor. Masukan tersebut menjadi bagian penting bagi pemerintah dalam menyempurnakan kebijakan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi yang sangat cepat.

Melalui bimbingan teknis ini, Kementerian Komdigi Republik Indonesia berharap terbangun kesadaran kolektif bahwa AI adalah instrumen yang harus dikendalikan oleh nilai dan kreativitas manusia. Dengan kebijakan standarisasi konten yang tepat, AI diharapkan mampu menjadi mitra strategis dalam memperkuat kualitas komunikasi publik dan daya saing ekosistem digital Indonesia. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Tingkatkan Kualitas SDM, Warga Pringwulung Condongcatur Ikuti Pelatihan Multimedia

Sleman – Memanfaatkan program bantuan dana Rp40 juta per RW, Padukuhan Pringwulung, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Sleman menggelar pelatihan multimedia bagi warga RW 42 yang dilaksanakan di Kampung Batik Giriloyo, Wukirsari, Imogiri, Bantul, Rabu (21/1/2026).

Kegiatan ini merupakan program non fisik Pemerintah Kalurahan Condongcatur dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) masyarakat Condongcatur sesuai usulan program warga RW 42 Padukuhan Pringwulung pada musyawarah padukuhan (musduk) Tahun 2025 yang lalu.

Dukuh Pringwulung, Sahid Fahrudin saat ikut mendampingi kegiatan menjelaskan bahwa pelatihan multimedia ini diikuti sebanyak 25 peserta khususnya dari generasi muda dilaksanakan selama dua hari, dari tanggal 21 sampai 22 Januari 2026.

“Pelatihan multimedia ini merupakan realisasi hasil usulan program musyawarah padukuhan (musduk) untuk program prioritas tahun 2026 non fisik. Sedangkan tiga RW lainya yaitu RW 39, RW 40, dan RW 41 masih melaksanakan program fisik yaitu konblokisasi jalan kampung,” jelasnya.

Peserta mendapatkan materi terkait pembuatan konten dokumentasi kegiatan, konten edukatif dan hiburan, promosi event serta budaya, hingga pembuatan konten pemasaran sebagai bagian dari upaya penguatan kapasitas literasi digital masyarakat.

Instruktur Pelatihan Multimedia dari Tim @@, Irfan Nur Toufik, menyampaikan pelatihan ini sebagai upaya mendorong masyarakat agar lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi digital, serta mampu memanfaatkan media digital secara positif dan produktif.

“Selain penyampaian materi teori, kegiatan juga kami isi dengan praktik langsung mulai dari teknik pengambilan gambar, pengolahan konten sederhana, hingga penyusunan konten yang menarik untuk media sosial. Materi praktek kunjungan ke Makam Raja Raja Imogiri yang kebetulan dekat dengan tempat pelaksanaan pelatihan di Imogiri Bantul untuk membuat konten promosi tempat wisata atau informasi umum atau dokumenter pendek terkait Makam Raja Raja Imogiri,” jelasnya.

Sementara itu, Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji berharap melalui pelatihan multimedia ini kemampuan dan keterampilan digital masyarakat dapat meningkat, khususnya dalam mendukung dokumentasi kegiatan lingkungan, promosi potensi lokal, serta pengembangan ekonomi kreatif berbasis masyarakat. Ke depan, program non fisik semacam ini diharapkan dapat terus berkelanjutan guna menciptakan masyarakat Condongcatur yang kreatif, mandiri, dan berdaya saing di era digital.

“Dengan pelatihan multimedia ini, peserta diharapkan dapat mengembangkan kemampuan dalam membuat konten visual, audio, dan video yang sesuai dengan kebutuhan industri kreatif. Di samping itu, melalui pelatihan multimedia juga bisa membantu meningkatkan kemampuan storytelling, branding, dan pemasaran digital, sehingga individu bisa lebih efektif dalam menyampaikan pesan dan mencapai target audiens yang lebih luas dimasyarakat,” ungkapnya. (Wasana / KIM Depok)




Emping Melinjo Sari Murni Jumeneng Angkat Cita Rasa Sleman ke Mancanegara

Sleman – Berbicara tentang emping melinjo, nama Jumeneng seolah tak bisa dipisahkan. Padukuhan yang berada di wilayah Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Sleman Barat ini sejak lama dikenal sebagai sentra emping melinjo berkualitas. Meski jumlah perajin kini tak sebanyak dulu, kualitas Emping Melinjo Jumeneng tetap terjaga dan diakui hingga menjadi buah tangan yang pantas ke mancanegara.

Saat ini, hanya tersisa lima perajin emping melinjo yang masih bertahan. Tiga berada di Padukuhan Jumeneng, satu di Karang Dalem, dan satu lainnya di Mrincingan. Salah satu pengrajin emping ialah Sudarmi, yang telah menekuni usaha ini selama kurang lebih 30 tahun.

“Emping Melinjo Jumeneng itu sudah dikenal sejak dulu karena tipis, halus, dan rasanya enak. Itu yang selalu saya jaga sampai sekarang,” tutur Sudarmi saat ditemui di rumah produksinya, pada Rabu (21/1/2026).

Pengalaman panjang membuat Sudarmi paham akan pentingnya menjaga kualitas. Dari perajin, kini ia juga berperan sebagai pengepul emping melinjo. Sejauh ini, ada delapan orang pengrajin yang bermitra dengan Sudarmi sebagai pengepul. Dengan dibantu tiga orang karyawan, ia memproduksi emping melinjo dengan merek Sari Murni yang menghadirkan beragam varian rasa, seperti original, pedas manis, manis, dan asin.

“Sekarang konsumen suka yang bervariasi, jadi tidak hanya original saja. Tapi bahan dan prosesnya tetap sama,” jelas Sudarmi.

Produk Emping Melinjo Sari Murni telah dilengkapi dengan Nomor Induk Berusaha (NIB), izin PIRT, serta label halal, sehingga aman dipasarkan secara luas. Ukuran empingnya pun beragam, tergantung jumlah biji melinjo yang digunakan, mulai dari ukuran 1, 3, 5, 7, hingga 10.

Dalam proses produksi, Sudarmi masih mempertahankan cara tradisional. Ia menggunakan talenan dari kayu kelapa (blabak) dan gandik batu sebagai alat penumbuk.

“Alatnya masih manual seperti dulu. Justru dari situ emping bisa tipis dan halus,” ujarnya.

Sementara untuk bahan baku melinjo diperoleh dari wilayah Sleman dan Godean. Menurut Sudarmi, kualitas melinjo sangat menentukan hasil akhir emping.

“Kalau melinjonya bagus, empingnya bisa masuk grade A. Kalau kurang bagus ya grade B. Jadi pemilihan bahan itu penting sekali,” katanya.

Dengan proses pengeringan yang baik, Emping Melinjo Sari Murni dapat bertahan hingga enam bulan, bahkan bisa mencapai satu tahun bila pengeringan dilakukan secara maksimal. Produk ini juga rutin mengikuti berbagai pameran sebagai produk unggulan daerah, baik di Jakarta, Bantul, maupun Sleman.

Berkat konsistensi kualitasnya, Sudarmi pernah menerima hibah oven pengering untuk mendukung proses produksi. Meski demikian, tantangan tetap ada, terutama saat musim hujan.

“Kalau musim hujan itu pengeringan tidak bisa maksimal. Pengaruhnya ke daya tahan emping,” ungkapnya.

Meski menghadapi berbagai kendala, Emping Melinjo Sari Murni tetap diminati pasar. Selain dipasarkan di wilayah Sleman dan sekitarnya, produk ini juga telah merambah kawasan Kedu, Jawa Tengah. Sebagai oleh-oleh, Emping Melinjo Sari Murni pernah dikirim ke berbagai daerah seperti Jakarta, Kalimantan, Lampung, Bogor, dan Bali. Bahkan, emping melinjo khas Jumeneng ini telah dibawa wisatawan hingga ke Singapura, Belanda, Amerika Serikat, dan Australia.

“Saya tidak menyangka emping dari dusun kecil seperti Jumeneng bisa sampai ke luar negeri, yang penting bagi saya, kualitas tetap dijaga,” pungkas Sudarmi. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)