Dorong Pemberdayaan Warga, Pemkal Condongcatur Gelar Pelatihan Multimedia dan Membatik di Kampung Batik Giriloyo

Sleman – Pemerintah Kalurahan Condongcatur terus menunjukkan komitmennya dalam memberdayakan masyarakat melalui pemanfaatan bantuan Rp40 juta per RW untuk kegiatan peningkatan kapasitas warga. Komitmen tersebut diwujudkan melalui pelatihan keterampilan bagi dua kelompok masyarakat yang digelar di Kampung Batik Giriloyo, Desa Wisata Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Rabu (21/1/2026).

Sebanyak 50 warga Kalurahan Condongcatur mengikuti kegiatan ini dengan penuh antusias. Peserta terbagi dalam dua kelompok, yakni 25 pemuda dari RW 42 Padukuhan Pringwulung yang mengikuti pelatihan multimedia, serta 25 warga yang terdiri dari bapak-bapak dan ibu-ibu RW 33 Padukuhan Kaliwaru yang mengikuti pelatihan membatik. Seluruh peserta berangkat bersama menggunakan bus dari halaman Kantor Kalurahan Condongcatur pada pukul WIB menuju lokasi pelatihan.

Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji menjelaskan bahwa pembagian fokus pelatihan disesuaikan dengan potensi dan kebutuhan masing-masing wilayah RW.

“Pemuda RW 42 Pringwulung didorong untuk menguasai konten digital guna memasarkan potensi wilayah. Sementara warga RW 33 Kaliwaru difokuskan pada keterampilan membatik untuk melestarikan tradisi sekaligus membuka peluang usaha baru,” ujarnya.

Ia menambahkan, pelatihan ini dilaksanakan selama dua hari, mulai 21 hingga 22 Januari 2026, dengan mengombinasikan materi teori dan praktik. Kegiatan mengusung tema “Sinergi Digital dan Budaya” sebagai upaya menyatukan kekuatan teknologi dan kearifan lokal dalam pemberdayaan masyarakat.

Reno menjelaskan bahwa pemilihan Kampung Batik Giriloyo sebagai lokasi pelatihan bertujuan agar peserta tidak hanya mendapatkan wawasan tentang seni batik. Tetapi juga memperoleh pengalaman praktik langsung di bawah bimbingan para pengrajin profesional.
“Peserta belajar langsung dari sumbernya, sehingga pemahaman tentang batik menjadi lebih utuh,” jelasnya.

Ia pun mengapresiasi semangat para peserta dan menekankan pentingnya pemanfaatan dana bantuan Rp40 juta per RW untuk kegiatan nonfisik seperti pelatihan keterampilan.
“Dari 64 RW di Kalurahan Condongcatur, sebagian besar dana bantuan masih digunakan untuk pembangunan fisik. Ke depan kami berharap semakin banyak RW yang memprioritaskan kegiatan pemberdayaan masyarakat seperti pelatihan multimedia dan membatik hari ini,” tandasnya.

Instruktur batik dari Sentra Batik Giriloyo Wukirsari Bantul, Nur Ahmadi, menjelaskan bahwa pelatihan membatik diawali dengan pengenalan filosofi motif batik yang sarat makna dan cerita. Peserta kemudian diajak menggambar pola pada kain putih menggunakan pensil, dilanjutkan proses mencanting dengan lilin panas menggunakan alat tradisional.
“Proses pewarnaan menjadi tahap yang paling menarik, karena kain dicelupkan ke pewarna alami yang menghasilkan warna-warna indah sesuai pola yang telah dibuat,” ungkapnya.

Menurut Nur Ahmadi, pengalaman tersebut tidak hanya mengajarkan teknik membatik, tetapi juga menumbuhkan apresiasi terhadap kompleksitas dan keindahan seni batik sebagai warisan budaya Jawa.

Selain menyenangkan, kegiatan belajar membatik memberikan pengalaman budaya yang mendalam bagi peserta. Melalui pelatihan intensif ini, Pemerintah Kalurahan Condongcatur berharap para peserta dapat mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di lingkungan masing-masing, sehingga mampu meningkatkan ekonomi keluarga sekaligus memperkuat kemandirian masyarakat. (Wasana / KIM Depok)




Dukung Digitalisasi Layanan, Pemerintah Kapanewon Berbah Gelar Sosialisasi Kebijakan Kependudukan

Sleman – Pemerintah Kapanewon Berbah melalui Kepala Jawatan Umum, Retno Sari Palupi Prihatin menyelenggarakan sosialisasi kebijakan kependudukan dengan materi pelayan pendataan penduduk non permanen dan layanan aktivasi Identitas Kependudukan Digital (IKD). Kegiatan ini berlangsung pada Rabu (21/1/2026) di Pendopo Kepanjen Kapanewon Berbah, Sleman, Yogyakarta.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Bidang Pendaftaran Penduduk Dispendukcapil Sleman, Basuki, Pengelola Sistem Informasi Kependudukan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kabupaten Sleman, Puri Eliviana, dan Djaka Sumarsono, Kepala Jawatan Umum, Retno Sari Palupi Prihatin, serta Lurah, Kaur Tata Laksana, dukuh, dan perwakilan tokoh masyarakat se-Kapanewon Berbah.

Panewu Berbah, Djaka Sumarsono mengatakan bahwa aktivasi IKD menjadi penting dalam upaya membantu pemerintah untuk digitalisasi kependudukan Kabupaten Sleman. Ia mengatakan bahwa Kapanewon Berbah baru mengaktivasi IKD sekitar 10%, sedangkan kabupaten sekitar 30%.

“Untuk itu perlu gerakan sosialisasi aktivasi IKD kepada warga Kapanewon Berbah. Upaya tersebut bisa dengan dukuh mengumpulkan warga kemudian mengundang petugas Dukcapil Sleman atau kapanewon untuk melakukan pendampingan aktivasi IKD,” katanya.

“Harapannya dengan kegiatan ini bisa memberikan motivasi semangat para pemangku wilayah mengajak warganya untuk aktivasi IKD,” sambung Djaka.

Kepala Bidang Pendaftaran Penduduk Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Sleman, Basuki menyampaikan pentingnya pencatatan administrasi kependudukan warga Indonesia untuk mencatat semua data setiap warga negara. Dari lahir harus mempunyai akta kelahiran, ketika dewasa ada KTP, menikah meninggal ada administrasi pencatatan.

“Adminduk menjadi penting selain untuk kepentingan pribadi juga sebagai dasar kebijakan pembangunan pemerintah,” tutur Basuki.

Pada kesempatan itu, Basuki menjelaskan pentingnya IKD meskipun masyarakat sudah memiliki KTP elektronik yang secara fisik dan biasa digunakan secara lansung. Dengan IKD data tersimpan secara digital tersimpan dalam smartphone.

“Fungsi keduanya adalah sama tetapi juga saling melengkapi. Misalkan KTP elektronik hilang masih punya dokumen digital. Artinya meskipun sudah aktivasi IKD tetap harus memiliki KTP elektronik secara fisik. Untuk dipergunakan seperti biasanya,” tandasnya. (Kusnadi KIM Berbah)




Lewat Pelatihan Ecoprint, Sekolah Rabu Tempel Ajak Siswa Peduli Lingkungan

Sleman – Upaya menumbuhkan kreativitas berbasis lingkungan terus digalakkan melalui berbagai ruang belajar masyarakat. Salah satunya ialah kegaitan ecoprint pounding yang dilakukan oleh Sekolah Rabu Tempel, Sleman, pada Rabu (21/1/2026). Kegiatan ini menjadi contoh praktik edukasi nonformal yang memadukan keterampilan seni, kesadaran ekologis, dan pemberdayaan masyarakat.

Pelatihan yang dimulai sejak pukul WIB tersebut diikuti puluhan peserta dengan antusias. Peserta berasal dari beragam latar belakang, namun dipersatukan oleh semangat belajar dan keinginan mengembangkan potensi diri melalui pendekatan ramah lingkungan yang aplikatif.

Panewu Anom Tempel, Eni Yuliani menegaskan bahwa Sekolah Rabu hadir sebagai ruang belajar bersama yang terbuka dan berkelanjutan bagi masyarakat. Menurutnya, konsistensi dan partisipasi aktif menjadi kunci keberhasilan program.

“Sekolah Rabu bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi ruang tumbuh bersama. Harapannya, seluruh anggota tetap semangat, terus belajar, dan aktif mengikuti setiap agenda yang diselenggarakan,” ujarnya.

Ketua Sekolah Rabu Kapanewon Tempel, H. Ida Ery Kurniawan pun mengapresiasi antusiasme peserta yang dinilai mencerminkan kebutuhan masyarakat terhadap kegiatan edukatif yang aplikatif. Ia juga menyampaikan rencana pemberian apresiasi bagi peserta aktif.

“Kehadiran dan semangat peserta hari ini sangat membanggakan. Ke depan, kami berkomitmen memberikan reward tahunan bagi anggota yang konsisten mengikuti kegiatan sebagai bentuk penghargaan,” tuturnya.

Dukungan juga datang dari unsur PKK. Ketua TP PKK Kalurahan Banyurejo, Susi Hartini, menyampaikan terima kasih kepada panitia dan peserta yang berperan aktif menyukseskan kegiatan.

“Kami mengapresiasi seluruh petugas dan anggota yang terlibat. Jika terdapat kekurangan, kami mohon maaf dan akan menjadi bahan evaluasi,” katanya.

Pelatihan ecoprint pounding dipandu oleh narasumber dari Kalurahan Banyurejo, Nur Hasni. Ia menjelaskan bahwa ecoprint merupakan metode cetak alami dengan memanfaatkan daun dan bunga sebagai motif tanpa bahan kimia berbahaya.

“Ecoprint pounding tidak hanya melatih kreativitas, tetapi juga menanamkan kepedulian terhadap lingkungan dan berpotensi bernilai ekonomi,” jelasnya.

Selama sesi praktik, peserta aktif mencoba setiap tahapan, mulai pengenalan bahan hingga pemindahan motif alami ke media kain. Suasana interaktif mewarnai kegiatan, mencerminkan model pembelajaran relevan dengan isu keberlanjutan. (Ratna Zuliastuti – KIM Tempel)




Persagi Sleman Gelar Edukasi Gizi Serentak di MAN 4 Sleman Peringati Hari Gizi Nasional ke-66

Sleman – Remaja usia SMA/SMK/MA perlu memiliki gizi seimbang sebagai bekal utama menuju masa dewasa. Hal tersebut disampaikan Cahyaningtyas dari Persatuan Ahli Gizi (Persagi) Sleman saat memberikan Edukasi Gizi bagi siswa-siswi MAN 4 Sleman pada Rabu (21/1/2026).

Menurutnya, terdapat beberapa alasan utama pentingnya gizi seimbang bagi remaja. Pertama, tubuh remaja sedang berada pada fase penyempurnaan pertumbuhan menuju dewasa. Kedua, otak membutuhkan asupan gizi yang cukup untuk mendukung kemampuan berpikir kritis dan fokus. Ketiga, aktivitas remaja yang padat menuntut energi yang stabil. Keempat, kebiasaan makan pada usia remaja akan menentukan kualitas kesehatan di usia produktif.
“Karena itu, remaja harus mulai bertanggung jawab atas pilihan hidupnya sendiri, termasuk dalam memilih makanan,” tegas Cahyaningtyas.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari edukasi gizi bagi pelajar dalam rangka memperingati Hari Gizi Nasional ke-66. Persagi menyelenggarakan edukasi gizi serentak di sekolah yang dilaksanakan secara nasional, baik luring maupun daring, dan diikuti oleh perwakilan siswa tingkat SD/MI hingga SMA/SMK/MA di seluruh Indonesia.

Salah satu panitia, Cahyaningsih, menjelaskan bahwa kegiatan ini dilaksanakan secara serentak dan terbagi dalam empat wilayah, yakni Regional Barat 1, Regional Barat 2, Regional Tengah, dan Regional Timur. Daerah Istimewa Yogyakarta termasuk dalam Regional Barat 2, dengan jumlah peserta dari 73 sekolah, terdiri atas 25 sekolah di Bantul, 24 sekolah di Kulon Progo, 11 sekolah di Kota Yogyakarta, 5 sekolah di Gunungkidul, dan 8 sekolah di Sleman.

“Secara nasional, kegiatan ini diikuti oleh sekolah dengan melibatkan sekitar ahli gizi serta lebih dari siswa dari berbagai jenjang pendidikan,” tandasnya.

Mengusung tema “Gizi Optimal Mewujudkan Generasi Emas 2025”, kegiatan ini menjadi wujud komitmen Persagi dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia di tengah kompleksnya permasalahan kesehatan. Cahyaningsih menegaskan bahwa setiap anak berhak mendapatkan gizi seimbang dan pola hidup sehat yang ditanamkan sejak usia dini dengan tetap mengedepankan muatan lokal.

Kegiatan ini juga mendapat perhatian dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Yusuf Ngadri dari MURI hadir untuk memantau secara langsung dan memberikan apresiasi tinggi atas pelaksanaan edukasi gizi serentak tersebut. Ia menyampaikan harapan agar kegiatan ini dapat tercatat sebagai rekor MURI.
“Asupan gizi sangat berpengaruh terhadap kualitas kesehatan dan prestasi siswa,” ujarnya.

Usai pembukaan resmi, para ahli gizi dari Persagi melakukan penyuluhan langsung di sekolah-sekolah yang telah ditunjuk. Para siswa tidak hanya menerima materi tentang gizi seimbang, tetapi juga dibekali edukasi pola hidup sehat, seperti cara mencuci tangan dengan sabun, mengonsumsi makanan matang, serta membawa bekal bersih dari rumah. Selain itu, siswa juga diajak untuk aktif berolahraga, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, bermain, dan membiasakan berjalan kaki.

Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan MAN 4 Sleman, Edy Suparyanto, menyambut baik penunjukan MAN 4 Sleman sebagai salah satu lokasi kegiatan edukasi gizi.
“Edukasi gizi ini sangat penting dan bermanfaat bagi siswa untuk menambah wawasan serta pengetahuan tentang pentingnya gizi seimbang,” ungkapnya.

Edy menambahkan, kegiatan tersebut sejalan dengan upaya penguatan madrasah ramah anak. Ia berharap para siswa yang mengikuti kegiatan ini dapat menularkan pengetahuan yang diperoleh kepada teman-teman di kelas maupun di lingkungan tempat tinggal mereka. (Edy – KIM Sumber Biwara Moyudan)




Perkuat Peran Kader, Puskesmas Depok II Tingkatkan Kapasitas PHBS dan KTR

Sleman – Puskesmas Depok II Kabupaten Sleman menyelenggarakan kegiatan koordinasi dan peningkatan kapasitas kader PHBS dan KTR, pada Rabu (21/1/2026), di Aula Puskesmas Depok II. Kegiatan diikuti oleh 40 kader PHBS dari 40 Posyandu yang ada di Kalurahan Condongcatur.

Pertemuan ini bertujuan untuk memperkuat koordinasi sekaligus meningkatkan peran kader dalam penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di masyarakat. Melalui kegiatan ini, diharapkan kader mampu menjadi agen perubahan dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan bebas dari paparan asap rokok.

Pengampu kegiatan, Pramija Ujiana memaparkan sejumlah materi terkait PHBS, meliputi PHBS Rumah Tangga, PHBS Rumah Tangga Balita, dan PHBS Tempat Ibadah. Pemaparan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang komprehensif agar kader mampu menerapkan serta menyosialisasikan PHBS di berbagai tatanan kehidupan masyarakat.

Kepala Puskesmas Depok II, dr. Trisni Nur Andayani dalam sambutannya menegaskan pentingnya peran kader sebagai ujung tombak pelayanan promotif dan preventif di masyarakat.

“Kader diharapkan dapat terus berkontribusi aktif dalam edukasi kesehatan serta pengawasan penerapan PHBS dan KTR di lingkungan masing-masing,” ujarnya.

Kegiatan berlangsung dengan lancar dan penuh antusiasme. Selain penyampaian materi, pertemuan ini juga dimanfaatkan sebagai sarana diskusi dan tukar pengalaman antar kader dalam menghadapi berbagai tantangan di lapangan.

Dengan adanya kegiatan koordinasi dan peningkatan kapasitas ini, Puskesmas Depok II berharap sinergi antara tenaga kesehatan dan kader semakin kuat dalam mendukung terwujudnya masyarakat Kalurahan Condongcatur yang sehat dan berdaya. (Tri Suhartati KIM Depok)