Jaga Rasa Tradisional, Jenang Lot dan Krasikan Bu Rokhimah Tetap Eksis di Tengah Arus Kuliner Kekinian

Sleman – Di tengah maraknya kuliner kekinian, jenang lot dan krasikan buatan Rokhimah tetap bertahan dan memiliki tempat tersendiri di hati para penikmat makanan tradisional. Lebih dari 20 tahun, warga Padukuhan Gerjen, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman ini setia menekuni usaha jenang lot dan krasikan, kuliner jadul yang kini kian jarang dijumpai.

Perjalanan Rokhimah menggeluti usaha ini bermula dari pelatihan yang diselenggarakan oleh Disperindag Kabupaten Sleman. Dari situlah ia mulai memberanikan diri menekuni usaha kuliner tradisional.

“Awalnya ikut pelatihan dari dinas, dari situ saya jadi tertarik dan mencoba serius menekuni jenang lot,” ujar Rokhimah saat ditemui di rumahnya, Selasa (20/1/2026).

Pada masa keemasannya, jenang lot begitu melekat dengan sosoknya. Menyebut jenang lot, warga sekitar langsung teringat “Rokhimah Gerjen”, merujuk pada padukuhan tempat tinggalnya. Sementara itu, jenang krasikan justru ia pelajari secara mandiri.

“Kalau jenang krasikan saya belajar sendiri, coba-coba sampai ketemu rasanya,” katanya.

Meski menggunakan bahan baku yang sama yaitu beras ketan, gula Jawa, dan kelapa, jenang lot dan krasikan memiliki perbedaan proses. Untuk jenang lot, beras ketan hanya direndam, sedangkan pada jenang krasikan, beras ketan direndam sekaligus disangrai.

“Bedanya di situ, proses sangrai itu yang bikin krasikan punya rasa dan aroma khas. Sedangkan pembuatannya pun lebih cepat yaitu empat jam saja. Kalau dihitung dari awal sampai matang, bisa sampai delapan jam,” ujarnya.

Selain bahan pokok, Rokhimah juga menerima pesanan dengan variasi rasa seperti nangka, sirsak, dan durian. Wijen pun kerap ditambahkan sesuai permintaan konsumen. Dalam seminggu, ia memproduksi jenang lot dan krasikan dua kali dengan total hasil setiap produksi sekitar 30 kilogram yang dikemas dalam potongan kecil.

Jenang buatannya pun dipasarkan di sekitar 20 toko dan warung di wilayah Seyegan dan Sleman, khususnya di Caturharjo. Berkat cita rasanya yang khas, Rokhimah juga mendapatkan berbagai dukungan alat produksi.

“Alhamdulillah, waktu ikut pameran saya dapat bantuan mesin pengaduk jenang dari STIEBANK Yogyakarta,” tuturnya. 

Pesanan jenang lot dan krasikan pun kerap datang untuk berbagai keperluan, mulai dari hantaran, suguhan acara, hingga oleh-oleh yang dikirim ke luar Pulau Jawa. Tanpa bahan pengawet, jenang buatannya mampu bertahan hingga 15 sampai 20 hari.

“Saya tidak pakai pengawet, jadi benar-benar mengandalkan proses dan bahan yang bagus,” katanya.

Meski tak semua orang menyukai jenang lot dan krasikan, Rokhimah tetap optimis kuliner tradisional ini akan terus bertahan.

“Sekarang anak muda juga banyak yang suka, itu yang bikin saya yakin jenang ini masih punya masa depan,” ujarnya optimis.

Hingga kini, Rokhimah masih memiliki kelompok pengrajin jenang yang beranggotakan empat orang. Harapannya sederhana, agar jenang lot dan krasikan tetap diminati masyarakat luas.

“Saya siap menularkan ilmu dan praktek langsung, seperti yang pernah saya lakukan dengan kelompok Desa Prima Margomulyo,” pungkasnya. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Pusbinaan Kring I Condongcatur Perkuat Komitmen Dukung Program KB dan Cegah Pernikahan Dini

Sleman – Dalam rangka memperkuat peran kader dalam mendukung program Keluarga Berencana, Pusbinaan Kring I Kalurahan Condongcatur menggelar pertemuan rutin pada Selasa (20/1/2026). Pertemuan yang berlangsung di Angkringan Anggajaya tersebut digelar dalam suasana hangat, akrab, dan penuh kebersamaan.

Ketua Pusbinaan Kring I, Suhartini dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh anggota pusbinaan yang tetap aktif mengikuti kegiatan.

“Seluruh kader penting untuk menjaga kekompakan, meningkatkan partisipasi, serta saling berbagi pengetahuan agar setiap kegiatan yang dilaksanakan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam mendukung program kependudukan dan keluarga berencana,” ujarnya.

Sementara, PKB Kapanewon Depok, Siti Juwariyah dalam paparannya menyampaikan berbagai informasi terkait pelayanan Keluarga Berencana (KB) Gratis, yakni pelayanan KB metode IUD dan Implant yang akan dilaksanakan pada 27 Januari 2026 di RS Sadewa.

Ia juga menyoroti tingginya angka pernikahan dini di sejumlah wilayah di Kabupaten Sleman. Hal ini berpotensi menimbulkan berbagai permasalahan sosial, antara lain KDRT, perceraian, serta kerentanan ekonomi keluarga, terutama pada pasangan yang belum siap secara usia dan mental.

“Di sinilah pentingnya peran kader dan pusbinaan sebagai ujung tombak dalam memberikan edukasi kepada masyarakat, khususnya terkait pendewasaan usia perkawinan serta mendorong keterlibatan masyarakat dalam kegiatan-kegiatan positif di lingkungannya,” tandasnya.

Melalui pertemuan ini, diharapkan sinergi dan peran aktif Pusbinaan Kring I Kalurahan Condongcatur semakin kuat dalam mendukung keberhasilan program kependudukan dan keluarga berencana.

(Tri Suhartati / KIM Depok)




Tertib Arsip, Sosialisasi Perbup Kode Klasifikasi Arsip Dilaksanakan di Caturtunggal

Sleman – Pemerintah Kalurahan Caturtunggal bekerja sama dengan Kapanewon Depok menggelar kegiatan sosialisasi Peraturan Bupati (Perbup) terkait Kode Klasifikasi Arsip, pada Selasa (20/1/2026) di Ruang Wisnubrata, Kantor Kalurahan Caturtunggal.

Kegiatan ini dihadiri oleh Panewu Depok beserta jajaran, Kaur Tata Laksana Kalurahan Caturtunggal bersama staf Kalurahan Caturtunggal, serta seorang narasumber yang berasal dari Kapanewon Depok.

Dalam sambutannya, Kaur Tata Laksana Kalurahan Caturtunggal, Bambang Harjati Susetyo menyampaikan bahwa pengelolaan arsip yang tertib dan sesuai regulasi merupakan bagian penting dari tata kelola pemerintahan yang baik.

“Arsip tidak hanya berfungsi sebagai dokumen administrasi, tetapi juga sebagai sumber informasi, bukti hukum, dan memori organisasi yang harus dikelola secara sistematis,” ungkap Bambang.

Adapun materi sosialisasi menitikberatkan tentang pemahaman klasifikasi arsip, baik arsip aktif maupun inaktif, termasuk penjelasan mengenai kode klasifikasi, jangka waktu penyimpanan arsip, serta perbedaan pengelolaan arsip umum dan arsip keuangan. Pada kesempatan itu, peserta diberikan penjelasan mengenai pentingnya ketelitian dalam pengarsipan agar dokumen mudah ditemukan dan aman secara hukum.

Salah satu staf Kalurahan Caturtunggal, Nia Astuti menyampaikan bahwa masih terdapat perbedaan pemahaman di lapangan terkait kode klasifikasi surat. Sehingga kegiatan sosialisasi ini diharapkan dapat menyamakan persepsi dan meningkatkan kapasitas aparatur kalurahan dalam tata kelola kearsipan.

Panewu Depok, Djoko Muljanto dalam keterangannya menyampaikan bahwa tertib arsip merupakan fondasi penting dalam administrasi pemerintahan.

“Arsip mendukung terwujudnya good government, meningkatkan transparansi dan akuntabilitas publik, serta harus dikelola dengan benar agar dapat dimanfaatkan secara optimal,” ujarnya.

Dengan adanya sosialisasi ini, diharapkan pengelolaan arsip di Kalurahan Caturtunggal dapat semakin tertib, rapi, dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Melalui kegiatan ini, Kalurahan Caturtunggal berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas administrasi pemerintahan, khususnya dalam bidang kearsipan, sebagai bagian dari pelayanan publik yang profesional dan akuntabel. (Oktaviana / KIM Depok)




Outing Class Jadi Sarana Efektif Pembentukan Karakter Anak Sejak Dini

Sleman – Kegiatan outing class atau pembelajaran di luar kelas dinilai memiliki peran penting dalam mendukung tumbuh kembang anak usia dini. Melalui kegiatan ini, anak-anak tidak hanya belajar secara teori di ruang kelas, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung mengenal lingkungan sosial dan layanan publik di sekitarnya.

Hal tersebut terlihat dalam kegiatan outing yang dilaksanakan oleh siswa PG TK Islam Al-Azhar Cairo Yogyakarta di wilayah Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Selasa (20/1/2026). Kegiatan yang didampingi oleh Jawatan Sosial Kapanewon Ngaglik, Rimurhani tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap program pendidikan berbasis pengalaman nyata.

Kepala Sekolah PG TK Islam Al-Azhar Cairo Yogyakarta, Restu Widya Ratna Ningsih menyampaikan bahwa outing class bertujuan mengenalkan anak-anak pada lingkungan kecamatan, profesi, dan pelayanan publik sejak dini.

“Anak-anak diajak belajar langsung di lapangan agar mereka lebih memahami kehidupan bermasyarakat, mengenal profesi, serta menumbuhkan rasa percaya diri dan kepedulian sosial,” ujarnya.

Di samping itu, siswa juga diajarkan praktik kedisiplinan sederhana seperti cara mengantre dengan tertib, serta mencuci tangan yang baik dan benar. Edukasi ini bertujuan menanamkan kebiasaan hidup bersih dan sehat, sekaligus melatih kesabaran serta sikap saling menghargai sejak usia dini.

Sementara, pendampingan dari Jawatan Sosial Kapanewon Ngaglik, Rimurhani menuturkan bahwa keterlibatan instansi pemerintah dalam kegiatan pendidikan nonformal seperti outing class sangat penting untuk memberikan pemahaman sejak dini tentang fungsi layanan sosial dan pemerintahan.

“Kami ingin anak-anak mengenal bahwa pemerintah hadir untuk melayani masyarakat, sekaligus menanamkan nilai disiplin, sopan santun, dan kebersamaan,” katanya.

Para pendidik menilai bahwa outing class mampu meningkatkan kemampuan motorik, komunikasi, dan rasa ingin tahu anak. Selain itu, interaksi langsung dengan lingkungan luar sekolah dapat memperkuat karakter anak, seperti kemandirian, tanggung jawab, dan sikap menghargai orang lain.

Dengan dukungan berbagai pihak, Rimurhani mengharap kegiatan outing class diharapkan terus menjadi bagian penting dalam metode pembelajaran anak usia dini.

“Program ini tidak hanya memperkaya pengalaman belajar, tetapi juga membentuk generasi yang berkarakter, berwawasan luas, dan siap beradaptasi dengan lingkungan sosialnya,” tandasnya. (ESK – KIM DSN)




SLB Balong Donoharjo Torehkan Prestasi Nasional, Pengawas Dikpora DIY Dorong Digitalisasi Administrasi

Sleman — Sekolah Luar Biasa (SLB) Balong di Donoharjo, Ngaglik, Sleman, membuktikan bahwa status sekolah swasta bukan menjadi penghalang untuk bersaing di level tertinggi. Hal ini terungkap dalam kegiatan Penilaian Kinerja Kepala Sekolah yang berlangsung di Aula SLB Balong pada Senin (19/1/2026). Prestasi gemilang sekolah ini mendapat apresiasi khusus dari Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) DIY yang menilai semangat juang warga sekolah melampaui keterbatasan sarana dan prasarana yang ada.

Pengawas Dikpora DIY, Sarwiasih, menyatakan kekagumannya terhadap capaian SLB Balong yang mampu berbicara banyak di tingkat nasional. Ia melihat adanya pergeseran paradigma di mana SLB swasta kini tidak lagi tertinggal dari SLB negeri. Menurutnya, keberhasilan ini adalah buah dari dedikasi tinggi para pendidik dalam menggali potensi siswa berkebutuhan khusus secara optimal. Selain prestasi, Sarwiasih juga menekankan pentingnya sekolah untuk segera beralih ke tata kelola administrasi berbasis digital melalui optimalisasi website sekolah.

“Dulu SLB swasta sering kalah dari SLB negeri karena keterbatasan dari sisi sarana, prasarana, kemampuan, maupun waktu. Namun semangat SLB Balong justru bisa melampaui hal tersebut. Ke depan, administrasi sekolah harus dikelola secara digital agar lebih tertib dan efektif. Dokumen sebaiknya dalam bentuk softfile yang dikirim secara berjenjang dari guru ke kepala sekolah hingga pengawas agar data dapat segera disajikan kapan pun diperlukan,” ujar Sarwiasih memberikan arahan.

Kepala Sekolah SLB Balong, Muh Usup, menjelaskan bahwa dalam proses penilaian kinerja ini, ia sengaja melibatkan para guru secara aktif sebagai bentuk kaderisasi kepemimpinan. Saat ini, sekolah tersebut mendampingi 62 siswa yang terdiri dari penyandang tunagrahita, tunarungu, tunadaksa, dan autis dengan didukung oleh 15 tenaga pendidik. Muh Usup menegaskan bahwa dukungan dari yayasan dan orang tua menjadi pilar utama di balik kesuksesan siswa dalam meraih berbagai kejuaraan.

Sepanjang tahun 2025, SLB Balong mencatatkan tinta emas dengan meraih juara satu nasional bidang Teknologi Informasi (Excel) yang diraih oleh Asni. Selain itu, sekolah ini juga menyabet juara satu nasional Papernas cabang tenis meja, serta juara satu dan dua tingkat nasional pada ajang internasional Young Coder World Cup 2025. Prestasi ini dianggap sebagai pembuktian bahwa talenta anak-anak disabilitas sangat luas jika diberikan wadah dan bimbingan yang tepat.

“Semua prestasi ini dapat kami raih berkat dukungan dinas, yayasan, serta peran orang tua yang sangat luar biasa. Kami rutin mengadakan pertemuan wali murid setiap bulan melalui forum komunikasi internal untuk memastikan sinergi antara sekolah dan rumah tetap terjaga. Saya berharap keterlibatan guru dalam menyiapkan administrasi ini menjadi pembelajaran bagi mereka karena suatu saat nanti merekalah yang akan menjadi pemimpin di sekolah ini,” ungkap Muh Usup.

Senada dengan hal tersebut, perwakilan Yayasan Kesejahteraan Bina Remaja (YPKBR) Donoharjo, Endarwati, mengapresiasi keterbukaan pihak sekolah terhadap berbagai inovasi pelayanan. Sepanjang tahun lalu, yayasan dan sekolah sukses memfasilitasi layanan jemput bola perekaman KTP dan KIA bersama Dinas Dukcapil, serta pemeriksaan kesehatan rutin melalui Posbindu. Endarwati menilai sosok Muh Usup sebagai pemimpin yang tidak pernah keberatan untuk bekerja lebih keras demi terpenuhinya hak-hak dasar anak-anak disabilitas.

“Semua program untuk anak dapat berjalan lancar karena Bapak Usup selalu terbuka dan tidak pernah takut menjadi repot jika itu demi kepentingan anak-anak. Kesiapan data dan soliditas para guru menjadi kekuatan utama sekolah ini. Kami berkomitmen untuk terus mengangkat hak-hak anak disabilitas agar mereka mendapatkan pelayanan terbaik, baik dari sisi pendidikan maupun kesehatan,” pungkas Endarwati. (Endarwati/KIM Donoharjo)