Perkuat Ketahanan Informasi, Kader Ansor Berbah Sleman Dibekali Kecakapan Literasi Digital

Sleman — Kesadaran akan pentingnya literasi digital di tengah masyarakat kini menjadi kebutuhan mendesak guna menghadapi dinamika transformasi teknologi yang semakin masif. Memahami urgensi tersebut, Gerakan Pemuda (GP) Ansor Pimpinan Anak Cabang (PAC) Berbah menjadikan literasi digital sebagai materi inti dalam Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) dan Dirosah Ula yang diselenggarakan di Gedung SD Negeri Jagamangsan 3, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman, pada Minggu (18/1/2026). Pembekalan ini bertujuan agar para kader tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga memiliki ketahanan moral dan etika dalam mengarungi kompleksitas ruang siber.
Pemanfaatan ruang digital membawa manfaat besar bagi masyarakat sebagai sarana dakwah, edukasi, serta penguatan ekonomi kreatif. Namun, di sisi lain, tantangan besar turut membayangi berupa maraknya hoaks, disinformasi, hingga upaya adu domba melalui ujaran kebencian. Kecakapan literasi digital dipandang sebagai instrumen utama untuk memilah informasi yang kredibel sekaligus membentengi diri dari pengaruh radikalisme yang sering menyusup melalui platform digital.
Pemateri literasi digital, Adnan Iman Nurtjahjo, menegaskan bahwa kecakapan di era digital bukan sekadar tentang kemampuan mengoperasikan gawai atau perangkat lunak. Menurutnya, literasi digital mencakup pemahaman mendalam mengenai keamanan data pribadi dan etika berkomunikasi. Kader Ansor diharapkan mampu menjadi produsen konten positif yang menyebarkan pesan toleransi dan nasionalisme, guna mengimbangi narasi negatif yang berpotensi memecah belah persatuan bangsa di dunia maya.
“Literasi digital adalah kemampuan kita untuk bersikap kritis di tengah arus informasi yang tak terbendung. Kader Ansor dituntut memiliki saring sebelum sharing agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi palsu atau provokasi. Kita memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan narasi yang menyejukkan di ruang digital dan menjadikan media sosial sebagai sarana dakwah serta edukasi yang mencerminkan nilai-nilai keislaman moderat,” ujar Adnan Iman Nurtjahjo di hadapan puluhan peserta pelatihan.
Lebih lanjut, Adnan menyoroti bahwa peran kader di tengah masyarakat kini harus hadir secara ganda, yakni aktif secara fisik maupun bertanggung jawab di ruang digital. Tantangan terberat saat ini adalah bagaimana masyarakat bisa tetap menjaga adab dan etika bermedia di tengah anonimitas internet. Kader Ansor diproyeksikan menjadi contoh atau role model dalam berkomunikasi secara santun dan bijak, sejalan dengan tradisi akhlakul karimah yang menjadi landasan organisasi.
“Tantangan kita bukan hanya melawan berita bohong, tetapi juga menjaga etika dan adab bermedia digital. Saya berharap kader Ansor mampu melakukan verifikasi informasi secara mendalam sebelum menyebarkannya dan menjadi rujukan bagi masyarakat dalam memperoleh informasi yang benar. Ruang digital harus kita kuasai dengan konten edukatif untuk membentengi lingkungan dari paham ekstremisme dan ideologi yang bertentangan dengan Pancasila,” imbuh Adnan memberikan penekanan.
Dengan penguatan literasi digital ini, para kader diharapkan dapat menjadi pemimpin yang adaptif dalam mendukung kerja organisasi, mulai dari pengelolaan data hingga penguatan jejaring kemitraan secara efektif. Literasi digital yang mumpuni pada akhirnya akan menciptakan masyarakat yang lebih berdaya, tidak mudah terprovokasi, dan mampu memanfaatkan teknologi untuk kesejahteraan bersama. Melalui langkah ini, GP Ansor Berbah berupaya memastikan bahwa kemajuan teknologi tetap berada dalam koridor nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)



